Wednesday, October 28, 2015

Kewong

Banyak banget hal yang pengin saya tulis di sini tentang persiapan pernikahan saya. Karena memang sepertinya agak sayang kalau hal-hal yang semula terlihat enggak ribet, ternyata ribet. Misalnya, soal bagi-bagi undangan dan ngasih kebaya seragaman. Juga hal yang semula terkesan ribet, ternyata enggak segitunya. Misalnya, ngurus seserahan dan ngurus pernikahan dari jarak jauh. Someday, mungkin saya akan tulis per tema. Ya siapa tau membantu siapa pun yang enggak sengaja kesasar di sini hehe..

Ah tapi ya begitulah. Saat ini saya lagi di kereta, dalam perjalanan pulang ke Semarang. H-3, dan errrr saya baru merasa tegang sekarang. Mau merem aja sampai enggak bisa karena ingat mau kawin, herrrghhh.. Hepi juga ding tapi, karena saya akhirnya ngerasain juga tegangnya hahahaa.. Soalnya banyak teman saya yang heran banget dengan sikap saya yang tetap selo dan "seolah enggak setres".

Anyway makasih buat semua teman yang datang maupun enggak bisa hadir di Semarang. Enggak ngerti harus bilang gimana euy buat kebaikan kalian dan kesabaran kalian (apalagi undangan fisik cuma ada 100 lembar yang rada serbasalah ngebaginya). Makasih juga buat doa-doa yang enggak berhenti saya terima sampai malam ini. Semangaaat!!

Saturday, October 10, 2015

Julie’s Biscuit: Creamy dan Renyah, tapi Rendah Kalori


Saya dan cemilan itu ibarat kucing dengan ikan. Enggak bisa dipisahin. Halah. Ngendus dan ngelihat cemilan dikit aja dari jarak lima meter, saya pasti akan memburunya. Oke yang terakhir itu lebay, wkwk. Tapi ya gitu deh, saya emang doyan banget ngemil. Mulai dari keripik, biskuit, kerupuk, rujak, bahkan nasi goreng, juga saya cemil.

Persoalan pelik belakangan adalah, bagaimana caranya tetap bisa “ngunyah” dan memamah biak tanpa HARUS menjadi gendut? Well, ini memang enggak adil. Ibaratnya kita pengin tetap wangi tanpa harus mandi dan pakai parfum. Tapi ternyata bisa, lho.. AHAHAHAHAHAHA... *tawa kemenangan*

Ini setelah saya jatuh cinta pada gigitan pertama pada Julie’s Biscuit.

Mungkin udah banyak yang tau dan juga suka biskuit legendaris asal Negeri Jiran ini. Apalagi kalau ingat logonya, cewek muda yang sedang terenyum, dengan rambut pirang dikuncir duanya yang khas. Iya lah, Julie’s Biscuit yang diproduksi Perfect Food Manufacturing (M) Sdn Bhd Malaysia ini memang terkenal banget. Sejak dikenalkan ke publik pada 1981, Julie’s Biscuit kini udah dijual di 70 negara. Aje gileeee...

Nah, Julie’s ini akhirnya tahun ini masuk Indonesia. Hoho.. Saya akhir bulan lalu datang ke acara Media & Blogger Gathering: A Day with Julie’s yang digelar di Djakarta Theater. Tentu dong ya saya girang diundang ke sana. Ya eyalah bok, kucing mana yang enggak bahagia disodorin sepiring ikan. Nyahahahahaha..

Julie's Peanut Butter Sandwich topped with extra cream
Martin Ang, Director of Perfect Food Manufacturing Malaysia
Rianti Cartwright, Julie's Biscuit Brand Ambassador
Di sana, kami boleh nyicipin (khusus saya bukan nyicipin, tapi nadahin) varian terpopulernya Julie’s, yakni Julie’s Peanut Butter Sandwich. Secara tampilan, biskuit berselai kacang ini sudah bikin deg-degan karena menggoda dan seksi. Warna biskuitnya cokelat mengkilat, yang secara implisit menunjukkan kegurihan rasanya. Dua biskuit itu mengapit  selai kacang warna cokelat muda keemasan, yang wanginya sungguh tega menyundul-nyundul hidung saya.

Jadi mari kita coba rasanya.

Renyah dan gurih, itu rasa yang ditangkap lidah saya begitu gigitan pertama Julie’s Peanut Butter Sandwich. Aaaaah, betul-betul deh jadi paham kenapa banyak orang begitu tergila-gila pada varian ini. Memang enak dan lezat banget! Cocok banget dengan tagline-nya, smiles in every bite. Yes, this instant addiction makes me feel sooooo good with the peanut butter explode in my mouth.

Artinya? Saya ambil lagi biskuit kedua, ketiga, daaaan seterusnya. HAHA!

Julie's Peanut Butter Sandwich = Simple Pleasure
Yang bikin tambah hepi adalah karena Julie’s Biscuit disebut rendah kalori. It means you can indulge without guilt. Yeah! Kata Direktur Perfect Food Manufacturing (M) Sdn Bhd, Martin Ang, kandungan nutrisi dan bahan berkualitas terbaik (plus tanpa bahan pengawet maupun pewarna buatan) memang jadi keunggulan Julie’s. Itu juga yang membuat produk-produk Julie’s Biscuit tak hanya lezat, tapi juga sehat dan aman dikonsumsi.

Pun filosofi dan motto perusahaan, sudah menunjukkan bahwa keamanan dan kualitas adalah standar yang tak bisa dikompromikan dalam produksi biskuit Julie’s. “Kami percaya pada filosofi dan motto perusahaan, ‘Apa yang kami tidak makan, tidak akan pernah kami biarkan pelanggan untuk memakannya’,” kata Martin. Kualitas itulah yang membikin artis Rianti Cartwright akhirnya mau menjadi brand ambassador Julie’s Biscuit.

Tak hanya itu, Julie’s Biscuit juga terus bikin inovasi dengan memproduksi varian baru yang enggak kalah lezatnya. Salah satu caranya adalah dengan menggandeng perusahaan penganan lain untuk menggarap produk baru. Dan coba tebak siapa yang diajak kerjasama oleh Julie’s Biscuit? Cokelat Hershey’s! (woooh, perfect marriage of two big food company *lovelove*)

Dengan perusahaan cokelat tersohor dari Amerika Serikat itu, Julie’s Biscuit berkolaborasi memproduksi enam varian biskuit cokelat. Yakni Chocolate Waffles, Chocolate Chip Cookies, Chocolate Fudge Cookies, Chocolate Chip Hazelnut Cookies, Chocolate Fudge Vanilla Flavoured Cookies, dan Chocolate Chip Oat Cookies.Biskuit itu sendiri termasuk yang akhirnya dipasarkan di Indonesia oleh DIMA Group. Sukur alhamdulillah ye...

Yang saya cicipi kali pertama dari enam varian itu adalah Chocolate Chip Hazelnut Cookies. Sukaaa banget dengan rasa hazelnut di chocolate chip cookie-nya. Manis khas cokelatnya berpadu dengan biskuit Julie’s yang renyah dan gurih. Hmmmm.. Asli deh, satu-dua biskuit coklat aja enggak bakal bikin puas!
Chocolate Chip Hazelnut Cookies, biskuit coklat yang lezat
Setelah icip-icip gretong dan dibekali satu tas gede berisi empat kemasan Julie’s Biscuit, saya merasakan ketagihan yang teramat sangat, hakhakhak.. Begitu pun temen-temen sekos yang jadi ikut kecanduan (contoh: “Eh itu biskuitnya beli di manaaaa? Mau lagi, ih...”. dan “Asli rasa biskuitnya gurih banget, bikin terus inget dan pengin beli lagi..”).

So, begitulah. Kayaknya memang Julie’s Biscuit ini bisa bikin orang jatuh cinta, yah? Hihi.. Untung aja sekarang makin banyak tempat yang jual. Hypermart, Lottermart, Carrefour, Food Hall, Indomaret, Alfamart, dan banyak supermarket lainnya. Hoho... Kayaknya bakal nyetok banyak nih eike *winkwink*

Thursday, October 8, 2015

Pada Akhirnya Memaafkan, Mendoakan

Sebentar lagi saya menikah. Dan malam ini, saya memberanikan diri untuk stalking sejumlah orang yang akhirnya malah membuat saya menangis. Bukan karena saya sedih, tapi karena saya merasa bersyukur dan teringat banyak hal yang terjadi di masa lalu, baik saat SMA maupun kuliah.

Ya, ada momen kita pernah demikian sedihnya karena perlakuan orang-orang tertentu. Ada momen saya sampai demikian jatuhnya, sakit (dan sempat berpikir ini karma karena pernah melukai hati yang lain juga), sedikit gila, tidak berdaya, dan pasrah. Yang terakhir saya anggap sebagai titik paling kritis karena mempertaruhkan akal sehat.

Ketika dalam kondisi itu, dalam hati kadang saya mempertanyakan kenapa ada orang yang sedemikian jahatnya. Kenapa ada orang yang di muka umum terlihat begitu baik (saya menghindari kata religius haha), tapi pikiran dan bicaranya menyakiti orang lain. Kenapa saya juga pernah begitu tolol pada diri sendiri karena bla bla bla..

Begitulah. Tapi, jauh di dalam hati saya yang bermuka sadis dan resek ini, saya paling enggak mau bermusuhan dengan orang. Kalau yah, sudah kasep alias sudah telanjur dimusuhi, saya selalu ingat kata seseorang. Jangan tanggapi upaya permusuhan dan sikap buruk orang lain. Biarkan saja, dan kalau tidak kuat menanganinya, maka jauhi. Kalau sanggup, doakan dia.

Doakan. Ya, sinting sih dipikir-pikir. Ngapain juga mendoakan kebahagiaan bagi orang yang mungkin malah berdoa buruk buat kita. Tapi entahlah, anggap saja ini ketololan ala saya lagi. Buat kalian mas dan mbak yang mungkin benci saya, dulu pernah menggoreskan luka (ini yang ngomong Isma Pisesha), dan itu saya SADARI, tenang saja. Saya selalu berdoa agar kalian bahagia dengan cara-Nya.

Edun, enggak pantes banget gue yang galak dan enggak bisa nata mulut bisa ngomong sok iye begini ahahaha.. Bodo amat dah, emang lagi pengin nulis kok. Dan yah, percayalah, bahwa mendoakan orang-orang yang bikin kita sakit hati itu adalah detoks luar biasa buat kontainer kenangan di otak. Memaafkan, seperti kata banyak orang, memang bukan berarti melupakan. Its ok, enggak ada yang bisa nyuruh kita buat lupa hal buruk, kecuali pada akhirnya waktu yang bantu menyembuhkannya.

Mengerti bahwa memaafkan itu proses yang menyakitkan. Mengerti, walau menyakitkan itu harus dilalui agar langkah kita menjadi jauh lebih ringan. [Tere Liye]



Saturday, October 3, 2015

Review Bio Oil: Ampuh Menghilangkan Bekas Luka (Pengalaman Pribadi)

Judulnya promosi banget yak? Emberrr.. Saya memang pengin nulis ini sebagai tribute untuk "mereka" yang telah berjasa menghilangkan bekas luka di hati eh tubuh saya. Oke, karena kata "menghilangkan" terlalu bombastis, maka sebaiknya saya pakai diksi menyamarkan saja, ya.

Jadi ceritanya, tiga bulan terakhir ini nyamuk di kosan makin beringas dan haus darah. Pasukan mereka makin gigih menjajah kos-kosan kami, yang sebelumnya aman damai tanpa ada bau Baygon maupun Autan. Dan sialnya, di antara anak kos lain, saya adalah primadona idola para nyamuk. Makasih lho, muk.

Mereka pun mulai nandain daerah kekuasaan dengan meninggalkan bekas berupa bentol-bentol yang tak sedikit di kulit saya. Ah enggak kece banget pokoknya kemarin itu betis dan paha saya. Jadi susah aja gitu kalau mau pake celana gemets *huek sorrr*

Langkah preventif pun saya ambil, dengan beli HIT semprot aroma lily (wanginya enggak bikin risih hidung, cocok buat saya yang enggak tahan bau obat nyamuk), soffell spray cologne warna pink, dan HIT elektrik aroma floral. Oh ya, saya juga beli raket nyamuk pink saking parnonya ngelawan nyamuk -____-

Sukurlah, setelah itu nyamuk jarang ada yang mau ngapelin saya. Alhamdulillah saya udah enggak laku di kalangan mereka. Problem berikutnya adalah: bagimanakah cara menghilangkan bekas cipokan nyamuk di kaki saya yang gendut dan lebar?

Setelah riset di sejumlah forum emak-emak di Internet, saya mendapat informasi bahwa salep yang mengandung mometasone bisa membantu menyamarkan bekas nyamuk dan luka. Saya lalu ke sejumlah apotek Century mencari salep LocasalenTM (karena merek itu terkenal dan recommended), tapi hasilnya nihil.

Nah, namanya juga jodoh, saya lalu kesasar (baca: menyesatkan diri) di Lazada dan nemu Bio Oil. Produk itu ternyata terkenaaaaaal banget dan diklaim sakti karena punya banyak manfaat. Antara lain menghilangkan selulit atau stretch marks karena kehamilan atau setelah melahirkan, memudarkan bekas luka atau scars, menyamakan warna kulit yang tak merata, bikin kulit cerah, mengurangi pigmentasi, dan menyembuhkan kulit kering.

Wow, keren banget bok khasiatnya! Saya lalu lihat review banyak blogger soal Bio Oil, dan sekitar 80 persen menyebut produk itu memang punya khasiat menyamarkan bekas luka dan gigitan nyamuk. Awalnya jujur saja saya enggak percaya, karena mikirnya para blogger itu sengaja bagusin reviewnya karena memang dibayar *suuzon amat gue ye* sampai akhirnya saya nemu blog yang "terlihat jujur" dan akhirnya memutuskan beli Bio Oil di Lazada seharga Rp 105 ribu untuk yang 60 ml.


Buat yang enggak pengin beli online, bisa beli on the spot di Guardian. Harganya Rp 120 ribu untuk yang 60 ml, sedangkan yang 125 ml lebih murah, yakni Rp 169 ribu (kadang ada diskon 20 persen juga, lho). Mahal? Ya gitu, deh. Tapi mau gimana lagi, haha -__-"

Dari namanya saja kita sudah tau Bio Oil ini adalah minyak. Kandungannya adalah chamomile oil, lavender oil, calendula oil, dan rosemary oil, yang dikenal punya manfaat seperti saya sebut di atas. Tapi tidak seperti baby oil maupun minyak zaitun, Bio Oil yang warnanya oranye lembut ini tidak lengket. Teksturnya ringan dan mudah meresap di kulit. Adalah kandungan PurCellin Oil yang membuatnya begitu.

Apa itu Purcellin Oil? Konon, PurCellin Oil adalah minyak yang dikeluarkan oleh....... bebek (WHAAAAAAT?? «---- itu reaksi pertama saya pas kali pertama tau). Minyak bebek dikenal punya banyak manfaat untuk kulit sih memang,  Ya udah deh, ya. Sekali lagi, ya mau piye meneh, ndes. 

Bio Oil tidak menjanjikan hasil secara instan, melainkan sekitar 6-8 bulan setelah pemakaian rutin dua kali sehari. Nah cara memakainya pun sebaiknya enggak serampangan. Cukup mengambil 1-2 tetes Bio Oil untuk dipijat secara lembut di daerah yang hendak disembuhkan (bekas luka, bekas nyamuk, area kulit yang kering, stretch marks, ataukah perasaan).

Atas inisiatif sendiri, sekitar 10 menit setelah mengoleskan Bio Oil, saya akan mengaplikasikan aloe vera di kulit. Kenapa? Karena lidah buaya dikenal bisa membantu menyembuhkan bekas luka. Sementara saat pagi saya memakai Vaseline Aloe Vera yang mengandung SPF 24 dan PA++, saat malam saya pakai gel aloe vera Jeju Island 99% dari The Saem.

Modifikasi penyembuhan ala Vitri juga disokong pengobatan dari dalam. Halah. Sehari sekali saya minum 1 kapsul Natur-E (mestinya sih 2-3 kapsul, tapi gue ngirit aja gitu ceritanya heheh), ViCee 500 mg, dan membikin air jeruk nipis panas untuk diminum menjelang bobok malam.

aloe vera Vaseline dan The Saem

Hasilnya ternyata lumayan bingit. Uwuwuwuu.. Baru mempraktekkannya selama sekitar tiga pekan, bekas gigitan nyamuk di kulit sudah mulai tersamarkan! Ada yang betul-betul hilang juga, lho. Pun area kulit dengkul yang agak kering, jadi lebih mendingan. Karena itu, saya jadi makin semangat untuk rutin  memakainya. Sekarang sih saya sudah menghabiskan setengah botol Bio Oil yang125 ml itu.

Misi berikutnya adalah fokus menyembuhkan kulit punggung kaki yang kering banget hoho... Doakan saya, ya!!

Thursday, October 1, 2015

Review Everest: Naik Gunung, Bagi yang Mampu #bukanRukunIslam


Ketika menonton Everest pekan lalu, saya seolah menghayati susah payahnya para pendaki dalam menggapai puncak tertinggi di dunia itu. Wkwkwk. Gimana enggak, kaki saya sedang lempoh alias kram gara-gara cidera usai lari sore harinya. Walhasil, saya menaiki tangga bioskop Hollywood dengan dipapah si pacar, macem nenek-nenek yang udah kesusahan jalan *cry*

Pun saat menonton, kaki saya sempat nyeri banget dan enggak mau digerakin lurus. Duuuh untung banget deh bioskop gelap jadi pada enggak tau kalo saya meringis kesakitan dan tetep pacaran. Hihihi.. Pit plis, deh.

Seperti trailernya, Everest mempesona. Enggak mengecewakan dari apa yang saya bayangkan. Dari segi sinematografi ciamik banget lah. Kita diajak turut mendaki Everest, tegang, dan bahkan kedinginan akut (entah deh tapi saya bener-bener merasa sedang ada di sana dan diterpa badai *maklum makhluk visual*). Soal akting, abaikan lah kali ini.

Yang membuat saya -juga penonton lain pastinya- terkesan sekali adalah bagaimana film yang diangkat dari kisah nyata ini seolah TIDAK mengajak kita mendaki secara emosional maupun sekadar mengagumi keanggunan Everest. Melainkan jadi lebih bijaksana dan rendah hati dalam memperlakukan alam, atau lebih spesifiknya lagi, gunung.


Scott Fischer
Ya, dengan memilih setting tahun 1996, sutradara Baltasar Kormakur sebenarnya sudah punya sudut pandang yang bisa ditebak: refleksi akan komersialisasi gunung dan nafsu penaklukan khas manusia. Pada tahun itu, Everest diselimuti duka. Ada delapan pendaki meninggal dalam pendakian, di antaranya Rob Hall, Doug Hansen, Yasuko Namba, dan Scott Fischer.

Kendati meninggal dalam pendakian yang sama, bisa dibilang cara mereka meninggal berbeda-beda. Rob meninggal karena "terjebak" di dekat puncak Everest. Tak ada yang bisa (dan mau) menolong Rob ketika itu, karena cuaca sedang amat buruk. Padahal, ini yang tragis, Rob terjebak di sana lantaran menolong Doug memenuhi hasratnya menyentuh puncak Everest.

Tragisnya lagi, pendaki yang menolong Rob juga meninggal karena hipotermia dan akhirnya tergelincir. Ada juga Scott yang meninggal karena kelelahan akut. Adapun Yasuko meninggal lantaran kedinginan dan membeku, sementara bekal oksigen sudah habis. Ah, sedih pokoknya :((

Adalah dua pendaki selamat, yakni Jon Krakauer yang mengisahkan ulang perjalanannya dalam buku Into Thin Air, dan Anatoli Boukreev lewat The Climb. Dua pendaki itu tentu punya versi masing-masing yang tertuang di buku mereka. Namun oleh dua sutradara, kedua buku itu sama-sama dijadikan referensi, kok.

Saya tak hendak membandingkannya dengan film 5 cm *ya keles* karena jomplang. Tapi dengan pengalaman saya sendiri (lebih jomplang lagi, ye.. Hakhak). Saya baru sekali mendaki gunung, yakni pada 2013 lalu. Rombongan ke Gunung Gede ketika itu adalah saya, si pacar, Alfiyah, Mpri, Mas Amir yang bukan bapak saya, Dika, dan Angga.

Alasan saya naik gunung adalah karena penasaran. Iya itu saja sudah gimana gitu alasannya. Sedangkan si pacar entah gimana malah "kabur" dari acara kantor di Kepulauan Seribu dan ikut ke Gede. Ya udah lah ya, saya sih belakangan malah bersyukur doi ikut karena pada akhirnya saya amat sangat merepotkannya sekali *bodo amat boros diksi*

Naik gunung itu teman, percayalah, sama sekali tidak mudah. Sungguh. Jangan berangkat mendaki dengan asumsi bahwa kita akan pergi piknik dan lihat pemandangan indah di kanan-kiri. No. Jangan pula berangkat dengan harapan tinggi bahwa semua dan alam akan berkonspirasi membantumu mencapai puncak.



Buat yang belum pernah dan ingin naik gunung, ini saran saya. Lebih baik kita berangkat dengan kerendahhatian, dan saya akui, saya sedikit (ah mungkin juga banyak) sombong ketika itu. Persiapkan fisik dan mentalmu sebaik mungkin, pun kendati gunung yang kita daki tak setinggi Everest.

Kenapa saya bilang gini, karena kaki saya kram di gunung. Ya, dan itu membuat saya kesulitan jalan, yang ujung-ujungnya membuat waktu pendakian jadi molor. Saya sudah setengah mati berusaha tetap berjalan, mengabaikan nyeri yang luar biasa menyiksanya, karena emoh makin merepotkan teman serombongan yang sudah begitu baik hati dan sabar membantu saya. Tapi nyatanya, yah, saya tetap merepotkan semuanya. Semuanya.



Gunung Gede
Pada akhirnya saya tau, saya tak boleh berangkat naik gunung tanpa restu mami saya. Saya tak sebaiknya mendaki tanpa persiapan fisik yang baik, dan tanpa mengukur kemampuan diri. Seperti halnya Doug, yang terlalu ambisius mencapai puncak Everest, dan akhirnya ia tumbang.

Seperti dibilang Anatoli, pada akhirnya gununglah yang akan menang. Itu betul, karena di gunung, kita akan menjadi bukan siapa-siapa. Kita hanya seupil pendatang yang kadang tidak tahu diri menghormati si tuan rumah..

Everest, lewat adegan-adegannya yang mencekat saking tegangnya, bisa membuat kita belajar banyak. Tidak semata soal kebijaksanaan dalam pendakian gunung, tapi juga mengajarkan kita agar mengukur kemampuan, dan (ada kalanya) tidak memaksakan ego kita untuk mencapai hal yang sekiranya memberatkan.

Seperti halnya saya yang sore pekan lalu memaksa lari minimal 11 putaran lapangan sepak bola seperti sebelumnya. Di tengah lari putaran ke-8, kaki saya cidera dan salah gerak. Tapi saya memaksakan diri lari, lari, dan lari, yang akhirnya, malah membuat cideranya tambah berat. Padahal coba, kalau saya enggak menuruti ego, mungkin cidera kaki tak akan separah itu.

Tapi ya begitu lah, kadang memang kita penginnya berusaha dan berjuang sampai akhir. Sampai akhirnya tenaga kita habis, dan kita tak sanggup lagi berlari, walau kita masih bisa tersenyum. Seperti halnya para pendaki Everest tersebut. Karena paling tidak, kita puas karena sudah berusaha sekuat mungkin. Dan apapun hasilnya, kita tau itu adalah hasil optimal dari apa yang sudah kita perjuangkan sampai akhir.

Termasuk soal cinta? Iya mungkin (Semoga seorang teman tau yang saya maksud). Semangat!!



muka Pak Dika.. Masya Allah... wkwkwk