Tuesday, July 31, 2012

(Tidak) Sengaja Jatuh Cinta

Sahabat saya sedang jatuh cinta. Binar bahagia tak pernah surut dari matanya. Senyum ceria tak pernah luput dari bibirnya. Entah saat menceritakan lelaki yang ditaksirnya, ataupun saat bertemu langsung dengan lelaki itu.

Hari-harinya tak pernah alpa dari "kehadiran" sang lelaki. Pagi, siang, senja, dan malam, lelaki itu selalu jadi nafasnya. Ia jatuh cinta. Secara tidak sengaja. Padahal jemari lelaki itu sudah terlilit cincin polos di sebelah kanannya.

Tapi, peduli apa dia?

"Aku cuma jatuh cinta. Apa itu salah?" kata sahabat saya. Dan dia melanjutkan perasaannya.

Kata orang bijak, ada kata "asa" dalam kata "rasa". Dan ada "rasa" dalam kata "perasaan". Lalu, kata sahabat saya, mengapa dia tidak boleh menyimpan asa dalam perasaannya?

Dan dia melanjutkan rasanya. Karena, katanya, dia cuma tidak sengaja jatuh cinta. Tidak sengaja pula menyimpan harapan untuk saling berbalas pesan, ataupun melempar senyum dan sapaan. Tidak sengaja pula bersemangat karena berharap pada sebuah pertemuan.

"Aku padanya cuma jatuh cinta yang tidak sengaja. Jatuh cinta yang tidak memilih. Jatuh cinta yang tidak berharap lebih," katanya. "Aku cuma jatuh cinta. Apa itu salah?"

Beha Baru

Saya nggak sabar pengin ke PGC lagi untuk beli beha. Hahahaha.. Simpel aja sih, beha yang saya beli di sana beberapa waktu lalu, enak banget dipakai. Nyaman, nggak gatel, dan kawatnya nggak menyiksa. Saya juga suka warna dan bentuknya. Ungu tua, dengan aksen renda di tepinya.

Pertama kali pake beha itu, saya jadi ingat teman saya Ririn. Dia pernah menganalogikan lelaki dengan beha. Samber-samberan di Twitter sama teman saya Nindy, akhirnya kami nemu sejumlah penganalogian unik soal lelaki.

Balik lagi ke beha ungu baru saya. Emm.. Saya jadi merasa lucu juga kalau pasangan saya nanti kayak si beha. Wujudnya menarik, nggak membosankan, nyaman, nggak bikin sakit, dan membuat saya merasa pede. Hahahaha..

Btw, saya nemu beha saya itu nggak sengaja saat menyusuri lorong PGC mencari baju. Jadi apakah nanti saya.....

Sunday, July 29, 2012

Sajaknya

Otakku kembali jatuh ke dalam saku celanamu,
seperti pada suatu malam penuh belati.
Di saat aku sembunyi di bawah karpet hitam nafasku sendiri.
Menutup lubang dengkur,
menghindari terowongan panjang tak berpenghuni.

Seperti ucapmu hendaklah kita menikam bayang sendiri.
Sebab tak ada setia meski itu bayangan tubuhmu.
Mereka tetap mengalah oleh waktu nan bernafsu..

Maka tak salah aku membenci waktu.
Sama seperti membenci kaki langit yang menggagahi matahari.
Begitu benci hingga otakku tanggal dari kepalaku.
Pergi bersama bayangmu yang cedera oleh belatiku..

Dia,
18 Juli 2012

(saya terima dalam perjalanan malam di sebuah metromini)

Intermezzo #6

Ternyata tak perlu mencari rindu
dia sudah ada di ujung jendela itu...

Saturday, July 21, 2012

Dark Knight Rises: Penutup yang Lezat dari Trilogi Batman


Gotham City dalam bahaya. Gara-garanya, seorang antikapitalis sinting bernama Bane (Tom Hardy) mengaktifkan alat pemusnah massal di salah satu sudut kota itu. Parahnya, Batman (Christian Bale) yang digadang-gadang warga kota itu untuk berhadapan vis a vis dengan Bane, malah ditawan di tempat nun jauh di sana. Bisakah Batman meringkus Bane dan menyelamatkan kotanya?

Sesuai kesepakatan dengan partner in crime saya, Nindy, saya memutuskan enggak menyuguhkan spoiler dalam resensi. Soalnya memang film garapan Christopher Nolan ini lumayan suprising sepanjang film. Nonton film pamungkas dari trilogi Batman, kita seperti jalan di sebuah tempat tanpa cahaya. Penuh kejutan!

Well, setengah jam pertama film berdurasi 2 jam 45 menit memang agak membosankan. Penuturan Nolan kurang taktis dan cenderung lamban. Untung saja (ehm) Christian Bale di film ini tambah ganteng. Nggak heran kalau saya sepanjang film beberapa kali menahan nafas demi menikmati karisma dan keseksiannya.

Ya ya ya, saya akui kalau saya salah fokus menonton film ini. Bale benar-benar cocok memerankan miliarder Bruce Wayne yang punya segalanya kecuali cinta. Kalau istilah teman saya Gusti, Bruce Wayne-nya galau akut. Gimana enggak galau kalau dia ditinggal mati bininya, Rachel, dan sampai delapan tahun kemudian, masih murung melulu tampangnya.

Nah dalam film ini, kegalauan Bruce diuji oleh dua perempuan misterius: Miranda Tate (Marion Cotillard) dan Selina Kyle alias Cat Woman (Anne Hathaway). Mengenai siapa Miranda dan Selina, dan perannya dalam film ini, lihat sendiri aja lah, ya. Ntar dikira saya nyodorin spoiler, lagi.

Intinya saya suka plot yang dibangun Nolan dalam film ini. Kombinasi antara action dan dramanya pas banget. Yang disayangkan adalah adegan gebuk-gebukan di film ini, terutama antara Batman lawan Bane, sama sekali enggak seru! Jauh lah, dibanding The Raid (ya iyalaaah..). Udah gitu, suara gebukannya sering muncul telat. Annoying gitu jadinya :’(



Oh ya, soal acting, banyak yang nggak suka dengan cara Hathaway membawakan peran Cat Woman. Tapi entah kenapa saya suka. Walau dia tampak kurang licik, ya. Hathaway sedikit lebih baik dibandingkan Marion Cottilard yang terlalu datar memerankan Miranda. Sayang banget, lho. Padahal peran Miranda kan penting banget di film ini.

Untuk peran Bane yang dibawakan Tom Hardy, umm, frankly i said, dia masih jauh di bawah kebengisan Joker (almarhum Heath Ledger). Apalagi mukanya Bane ditutupin alat apalah gitu, yang bikin wajah gantengnya Tom Hardy nggak bisa terlalu main ekspresi. Meski begitu, Hardy tetap sukses membawakan karakter Bane yang tanpa ampun, penuh amarah, dan menakutkan. Suaranya itu lho, bikin keder banget..

Christian Bale sendiri tampil baik. Dia bisa menunjukkan perasaannya yang kompleks, lewat tatapan mata dan mimik wajah. Joseph Gordon Levitt juga sama okenya. Di sini dia memerankan John Blake, polisi baik hati yang percaya banget pada Batman. Saking okenya gaya JGL di film ini, saya sempat lupa dia sempat jadi cowok galau di 500 Days of Summer. Hehehe

Tapi apapun itu, itikad Nolan untuk membungkus trilogi ini dengan manis, patut diacungi jempol. Bisa dibilang dia tahu cara meningkatkan ketegangan dari perempat pertama film, dan menjaga ritmenya sampai hampir rampung.

Cuma yaaaah –spoiler dikit ya- adegan baku hantamnya Batman dengan Bane di penghujung film sangat antiklimaks. Kentang! Hahaha.. Kendaraan dan senjata Batman juga biasa aja. Nggak sampai bikin terkagum-kagum. Mungkin Nolan sengaja enggak bikin alat yang terlalu futuristik karena bakal bikin filmnya nggak rasional.

Salah satu adegan favorit saya –oke spoiler satu lagi- dari film ini adalah saat ada pertandingan rugby di Gotham City, yang jadi titik tolak invasi geng jahatnya Bane ke kota yang mirip Manhattan tersebut. Anjir, paduan antara shoot dan musiknya pas banget. Beneran membuat saya nggak bergerak di kursi bioskop, dan gigit kuku saking deg-degannya.

Cara Nolan mengakhiri film lumayan. Happy endinglah, mirip adegan penutupnya Mission Impossible 4. Pada akhir film kita sekaligus dibisiki Nolan soal siapa sosok Robin, duet mautnya si Batman. Jreng jreng jreeeeng..

Wednesday, July 18, 2012

Kabar

Saya merasa bahagia dengan diri saya yang sekarang, saat akhirnya saya bisa bilang ke kamu, bahwa saya memilih meninggalkan kamu. Mudah saja alasannya. Karena ada gejala kamu tidak respek atau memperlakukan saya dengan baik.

Saya dengan teramat sadar mengatakan, saya baik-baik saja, dengan atau tanpa kamu.

Ya, adanya kamu memang bikin hari saya lebih berwarna. Setidaknya kita bisa saling melempar tawa dan goda. Atau mungkin saling berbagi peluk dan kata-kata.

Tapi sekarang saya mengerti. Kamu akan lebih baik tanpa saya. Demikian pula sebaliknya. Jadi kenapa harus terluka?

Periksa Kandungan

Semua bermula dari blog Gusti, gustidha.blogspot.com, yang saya baca Minggu malam, 8 Juli lalu. Saya membaca tulisan kawan sekantor saya itu sambil asyik ngobrol hal-hal nggak jelas dengan si mas di sebuah warung sembari ngemil pisang bakar coklat keju.

Awalnya saya masih asyik aja ketawa-ketawa dengannya, sampai akhirnya tegang sendiri gara-gara baca tulisan berjudul "Kista dan Saya". Tulisan itu menjelaskan pengalaman Gusti saat kuliah, yang mendadak divonis memiliki kista berdiameter lebih dari 5 cm di rahimnya.

Dalam blognya, Gusti bilang kalau dia semula tidak merasakan apa-apa hingga akhirnya pada 2006, dia merasakan nyeri teramat hebat saat menstruasi. Bahkan sampai pingsan. Dia juga mengeluh selama ini siklus mensnya tidak teratur. Saya pun terdiam. Dua gejala itu, jelas-jelas saya alami.

Saya mens pertama kali saat kelas 1 SMP, pada 13 Juni 1998 lalu. Sejak itu pula setiap mens adalah neraka dunia bagi saya. Tak cuma lemas, nyeri, dan muntah-muntah, saya juga beberapa kali pingsan saking sakitnya. Siklus mens saya juga tak teratur. Pernah tuh, dalam enam bulan, saya hanya mens sekali.

Saya pun gelisah. Pikiran itu secara langsung menyelinap: Kalau ternyata saya juga punya kista gimana? Kalau ternyata sakit yang saya rasakan itu karena ada sesuatu di rahim saya gimana?

Dia sepertinya menangkap kegelisahan dari roman wajah saya. "Udah periksa aja. Nggak apa-apa. Ntar kalau kamu susah punya anak gimana?" katanya.

Pertanyaan itu mungkin sederhana. Tapi saya akhirnya bertekad selekasnya periksa. Sebelumnya, saya juga nanya-nanya ke Gusti soal penyakit itu. Periksanya gimana, Gus? Ribet nggak, Gus? Diapain aja sama dokternya? Kalau operasi sakit banget ya, Gus? Dan sederet pertanyaan panik nggak jelas lainnya.

Sampai akhirnya hari ini, saya memutuskan datang ke Rumah Sakit Agung, Manggarai. Saya ditemani teman sekantor saya, Pingit, yang sama-sama libur hari ini. Sempat menunggu sekitar 20 menit, giliran saya diperiksa tiba.

Dokter kebidanan (ya, istilahnya dokter kebidanan di situ, bukan dokter kandungan.. Berasa udah hamil aja gue) di RS itu baik. Dia berusia sekitar 35 tahun, perempuan, gendut, dan ramah. Dia semula sudah akan pulang, sampai akhirnya menemukan saya menunggu di depan ruang periksanya.

Dan terjadilah komunikasi seperti ini: *seingat saya ya*

Dokter: Masih nona? (Entah artinya perawan atau belum merit)
Saya: Iya..
Dokter: Jadi ada apa?
Saya: Mau periksa, saya ada kista atau enggak.. Karena saya merasa mengalami gejala yang sama dengan teman yang punya kista.
Dokter: Kayak apa tuh gejalanya?
Saya: Mens nggak tiap bulan dapet. Kalau mens juga sakit banget. Kadang sampai pingsan.
Dokter: Minum obat apa kalau lagi nyeri?
Saya: Paling Feminax. Sebutir aja tiap satu siklus mens.
Dokter: Serius? Satu pil aja? Saya tuh kalau mens bisa minum tiga butir sehari selama tiga hari (lhah kok malah dokternya curhat).

Dan setelah dicek tensi darah, saya disuruh berbaring untuk di-USG perutnya. Berhubung baru kali ini di-USG perut, saya masih malu-malu gitu. Hahahaha.. Ya iyalah.. Gimana nggak malu kalau di dekat vagina kamu dikasih cairan apa gitu oleh si suster, dan kemudian dokternya nyetrika area tersebut dengan alat USG. Geli, euy. Dan pembicaraan pun kembali berlanjut.

Saya: Jadi minum feminax gitu nggak papa, Dok?
Dokter: Nggak papa sih.. Kalau memang nyerinya nggak tertahan mau gimana lagi?
Saya: Nyeri saya yang selama ini itu apa, Dok?
Dokter: Nyeri mens itu ada dua tipe. Satu, karena kista. Dua, karena memang ada syaraf yang cenderung bereaksi saat mens. Kamu itu yang kedua.
Saya: Kok bisa saya yang tipe kedua? (Pasien bawel dan resek nih, batin si dokter)
Dokter: Biasanya kalau nyeri karena kista itu baru dirasain belakangan. Kalau kamu kan nyerinya udah sejak awal mens.. Kayak saya juga gitu.. (Yah curhat lagi si ibu..). Kamu jarang jerawatan juga kan?
Saya: Iya bener.. Jadi bisa punya anak kan, Dok?
Dokter: Ya buktinya saya bisa punya anak.. (Aseeeek.. Curhat lagi..)
Saya: Trus biar nggak nyeri saat mens saya harus gimana?
Dokter: Olahraga teratur aja. Makannya dijaga. Jangan stres aja. Pokoknya olahraga aja, lah..
Saya: (dalam hati) obat aja lah doooook, obat.. Apalah kecuali olahraga -__-

Dan si dokter kemudian tampak menunjukkan penampakan perut saya di layar alat USG, pada susternya.
Dokter: Ini sih, kalau saya lihat kamu nggak punya kista.
Saya: Beneran, dok?? *pengin meluk* *mata berkaca-kaca*
Dokter: Iya.. Tapi sebenarnya lebih bagus lagi kalau kamu tes USG vagina. Tapi ya, masa kamu mau diperawanin sama alat?
Saya: errrr.. *senyum kecut*
Dokter: Nanti aja ya, kalau kamu udah NIKAH, kamu periksa lagi.. Nikah aja dulu..
Saya: *nahan nggak nggebrak meja*

Dan yaaa.. Begitulah.. Saya keluar dari ruang periksa dengan hati berbunga-bunga. Senyum nggak lepas dari bibir dah, pokoknya. Intinya saya merasa sehat hanya karena divonis bebas kista. Padahaaaaal.. Saya belum tes kolesterol dan gula darah hahahahaha..

Bodo amat lah. Itu entar aja. Saat ini saya lagi bahagia. Nggak akan saya biarkan euforia sehat bebas kista ini terganggu oleh apapun. Hu yeaaaaaah.. Makasih Pingit, Bu Dokter Felly, dan Tuhan :*

Tuesday, July 17, 2012

Semacam Iri

Saya baru saja blogwalking dan numpang istirahat di blognya Nindy. Di situ saya menemukan tulisan dia yang menceritakan sedikit (ya saya menganggapnya sedikit) soal apa yang dia rasakan sekarang. Tapi dari yang sedikit itu Nindy terasa bilang kalau dia "sedang kenapa-kenapa" dengan si pacar.

Di bawah tulisan yang saya baca, ternyata ada tulisan "preview" dari Nindy. Singkat saja. Intinya dia bilang sedang susah menuliskan apa yang sedang dia rasakan saat ini. Saya jadi ingat, sebenarnya saya dan Nindy janjian untuk sama-sama nulis problem yang sedang kami alami. Kami sempat curhat sedikiiiiiit akhir pekan lalu. Tapi sama-sama kehabisan kata-kata dan akhirnya kami sepakat menuliskannya di blog.

Dan ternyata Nindy jauh lebih hebat karena bisa menuliskan apa yang dia rasakan saat ini. Nah saya? Sampai saat ini, sekalimatpun saya enggak mampu menuliskannya di blog. Entahlah ada apa dengan saya. Saya ingin menulis. Saya ingin bisa bercerita. Tolong, Tuhan..

Monday, July 16, 2012

Jokja dan Hujan

Saya teramat rindu Jokja. Sungguh rindu, seperti rindu pekerja pada libur panjang. Seperti rindu anak SD pada kelas kosong. Seperti rindu kemarau pada hujan.

Rasa rindu ini semakin menjadi. Membuat tidur tak nyenyak, dan bangun tidur tak jenak.

Tak tahu alasan mengapa saya demikian rindunya pada Jokja. Saya juga tak peduli. Lagipula, kata seorang kawan, rasa rindu itu tak perlu alasan.

Jokja, saya rindu kamu.

Thursday, July 12, 2012

Kita Cuma Cerita Pendek

Kita cuma cerita pendek.
yang meringkuk di bawah tatapan langit yang kelabu
kalimat pertama kau tuliskan dengan ragu, seperti kelambu yang membiru.

Tak terseru.

Lalu ada sebuah jeda yang memberi ruang di antara.
Sejenak saja, karena kata-kata datang mengejar dengan kecepatan ribuan tahun cahaya.
Bernyanyi, menari,
dalam senja yang abadi.

Tuesday, July 10, 2012

Tipe-Tipe Cewek #2

Lanjut lagi ya, artikel soal tipe-tipe ceweknya..

# Miss “Stuck On You”

Ini tipe orang setia banget lah. Bagi dia, enggak ada cowok yang sebaik atau lebih oke dibanding sang obsesi. Oh ya, sebenarnya yang digilai si Miss Stuck On You ini belum pasti si pacar, lho. Bisa jadi orang yang dia sayangi adalah mantannya, atau orang lain yang belum pernah dia dapatkan.

Ciri-cirinya, cewek tipe ini susah banget jatuh cinta sama orang baru. Bisa jadi ada beberapa cowok yang sudah berusaha mendekati dia. Tapi para lelaki itu ujung-ujungnya akan patah hati karena si cewek masih keingetan melulu sama obsesinya.

Nggak bisa disalahkan sih, kalau cewek tipe ini segitu jatuh cintanya sama seorang cowok. Sampai mungkin saking terobsesinya jadi susah jatuh cinta lagi. Tapi menurut saya, cowo yang akhirnya dijatuhcintai sama tipe ini, adalah orang yang beruntung.

# Miss “Easy to Begin, Hard to Forget”

Nah, ini juga tipe yang banyak banget “berceceran” di dunia nyata. Hahahaha.. kalau istilah Jawanya, “gampang ngesir tapi angel nglalekno”. Cewek tipe ini sangatlah mudah jatuh cinta. Ya ya ya, mungkin terkesan gimana. Tapi saya yakin, cowok pun banyak yang seperti itu.

Ciri-ciri cewek ini adalah dia mudah mengambil hati lelaki, dan mudah pula naksir lelaki itu. Dia biasanya tipe yang mudah bergaul dan bisa "gandeng kanan-kiri" dalam waktu yang bersamaan.

Tapi di sisi lain, tipe ini biasanya terperangkap naksir sama satu cowok karena cowok itu justru tidak bisa dia taklukkan. Ya bisa dibilang itu semacam karma karena cewek tipe ini bisa demikian mudahnya jatuh cinta. Kalau mau ambil hati tipe cewek ini, sebaiknya cowok harus sok jual mahal.

Saturday, July 7, 2012

Amazing Spider-Man: Kala Si Superhero Mengenal Galau


Mari kembali ke zaman Peter Parker (Andrew Garfield) masih duduk di bangku sekolah. Ia cemerlang di kelas, doyan algoritma, jadi korban bullying, dan naksir cewek pintar cantik bernama Gwen Stacy (Emma Stone), putri seorang polisi. Layaknya pemuda belasan tahun, Peter diceritakan mudah galau, dan sangat meledak-ledak. Pops!

Tentu, Peter kita yang baru ini agak berbeda dengan yang disuguhkan Tobey Maguire dalam tiga film Spider-Man garapan Sam Raimi. Peter versi Tobey lebih kalem, cupu, kutubuku, tampak tidak percaya diri, dan punya kekuatan super saat sudah kuliah dan bekerja sebagai tukang antar pizza dan fotografer Daily Bugle. Pacar pertama si Spidey jadul juga bukan Gwen, melainkan Mary Jane.


Adapun versi Marc Webb (500 Days of Summer, one of my favorite romantic movies), Peter punya kepribadian lebih komplek. Ia diceritakan tak punya kawan banyak dan sensitif, karena punya masa lalu yang kelam. Saat dia kecil, karena suatu hal ayah dan ibunya menitipkan dia pada Paman Ben dan Bibi May. Tak lama setelahnya, media mewartakan kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan pesawat.

Masa lalu orang tua Peter (yang disajikan penuh drama dan misteri bak Harry Potter and The Sorcerer's Stone) jadi pengantar remaja itu untuk bertemu ilmuwan dr. Curt Curtis (Rhys Ifans). Ilmuwan itulah yang kelak berubah menjadi monster kadal raksasa laksana Godzilla, dan hobi bikin rusuh di penjuru New York. Tugas Peter, yang tersengat laba-laba genetik di laboratorium dr. Curtis, adalah menghentikan si kadal berbuat onar.

Yah dari situ saja bisa ditarik kesimpulan resep Webb tak jauh beda dengan Raimi. Bedanya, versi Raimi si monster adalah Green Goblin yang dibekali senjata canggih, alih-alih reptil berlendir. Entah karena Webb tak pernah bikin film action, pertarungan antara Spider-Man dan Lizard sama sekali tidak seru. Jauh jika dibandingkan adu strategi dan fisik Spidey versi Tobey dengan Green Goblin.

Bahkan loncat-loncatannya Spidey dari gedung ke gedung, tidak memantik decak kagum. Mungkin karena penonton sudah jenuh, atau memang teknik timnya Webb kurang dahsyat. Terlalu biasa lah, menurut saya. Adegan yang lebih cantik dibanding versi lamanya adalah proses Peter tersengat laba-laba, dan scene dia kayang dengan satu tangan di tepian atap gedung pencakar langit. Cool!

Kelebihan Amazing Spider-Man (karena dipegang Webb) adalah dramanya yang mantap. Yes, saya suka banget Spidey baru ini karena menonjolkan psikologi tokoh-tokohnya dengan lebih mendalam. Yah memang kesannya lebih rumit. Tapi hal itu jadi kekuatan tersendiri film berdurasi lebih dari dua jam ini. Adegan-adegan simpel yang dipamerkan Webb, bisa menghasilkan efek "Ohhh.." bagi saya (enggak tahu ya, bagi orang lain, hahaha..).

Misalnya nih, adegan Peter loncat-loncat dengan tampang malu setelah diajak Gwen makan malam di rumahnya, adegan Peter melemparkan jaring ke pantat Gwen demi memberi tahu identitasnya, adegan Peter mengamati Gwen dari atas dalam sebuah pemakaman, serta momen Gwen hujan-hujan datang ke rumah Peter untuk mempertanyakan alasan Peter tiba-tiba menjauhinya. Semua itu disuguhkan Webb secara artistik, romantis, dan emosional.

Chemistry Andrew Garfield (Social Network, Never Let Me Go), dan Emma Stone (The Help, Crazy Stupid Love) bisa dibilang oke. Emma menurut saya bisa membawakan karakter Gwen dengan baik dan pas. Sedangkan Andrew, alhamdulillah yah, biasa membuat saya sejenak melupakan Tobey. Dia bisa mengenalkan saya dengan Spidey dan Peter Parker baru yang gaul, tengil, labil, dan songong. Atau seperti kata generasi sekarang: it's complicated.

Saya kasih nilai film ini tujuh dari sepuluh. Enggak menyesal sih nonton Amazing Spider-Man. Walau Amazing Spider-Man lebih megah, tapi entah kenapa saya lebih suka Spidey lama yang sederhana. Lebih klasik. Selamat menonton :)

Tuesday, July 3, 2012

The Flowers of War: Sisi Lain Tragedi Nanking

Nanking 1937. Mayat di mana-mana. Tak ada kolong kota itu yang aman dari serbuan peluru dan hujaman pedang tentara Jepang, kecuali sebuah gereja Katholik bernama Winchester. Katedral tua bergaya Eropa itu kokoh tak tersentuh di tengah reruntuhan bangunan lain yang bersimbah darah warga Nanking.

Invasi Jepang ke Nanking dikenal dunia sebagai salah satu peristiwa pembantaian yang kejam. Selain merenggut puluhan ribu nyawa (meski serbuan Jepang tak sampai sebulan), tragedi Nanking juga dikenal tragis karena banyak perempuan Tiongkok yang mengalami perkosaan.

Sejarah kelam itulah yang diangkat sutradara Zhang Yimou dalam film berdurasi sekitar 140-an menit. Dalam film ini, Yimou yang pernah mendalangi film Hero bercerita dengan hati. Ia tak sekadar mengadaptasi novel 13 Flowers of Nanking, tapi juga menyulapnya jadi begitu mengharu-biru bagi kita yang menontonnya.

Siang bertabur debu dan berhias suara tembakan itu mengenalkan Shu (Zhang Xinyi), siswa biara Winchester yang baru berusia 13 tahun, dengan seorang warga Amerika bengal yang bekerja sebagai perias jenazah bernama John Miller (Christian Bale). Shu, kawan perempuannya, dan John, dipertemukan nasib karena sama-sama lari dari kejaran tentara Jepang yang luar biasa bengis.

Di dalam Gereja Winchester keduanya berlindung. Begitupun belasan siswi perempuan kawan Shu, dan George, anak almarhum pastor gereja tersebut. Kondisi makin runyam saat belasan perempuan pelacur rumah bordil Qin Hai River (yah, bisa dibilang ini rumah bordil kelas atas, lah) merapat ke gereja untuk numpang berlindung.

Antara Shu dkk dan kelompok pelacur itu mulanya sama sekali tak akur, meski salah satu pelacur, Yu Mo, mencoba mencairkan suasana. Keadaan berubah ketika puluhan tentara Jepang merangsek masuk ke dalam katedral, dan mencoba memperkosa belasan siswa di dalamnya. Yu Mo dkk saat itu justru aman, karena bersembunyi di ruang bawah tanah.


Ketika kondisi makin pelik, dan jerit siswa-siswa belasan tahun itu makin memenuhi rongga katedral, John Miller turun tangan bak peri dari kahyangan. Ia menyaru serupa pastor, lengkap dengan jubah hitam panjangnya. Dari bibirnya terseru kalimat-kalimat yang sempat membuat ciut nyali para tentara Jepang.

Sehari setelah itu, datang perwira Jepang bernama Kolonel Hasegawa (Atsuro Watabe). Ia atas nama negaranya meminta maaf atas ulah kurang ajar tentara Jepang pada siswa-siswa biara. Namun kunjungan Hasegawa berikutnya justru menjadi kabar buruk yang membuat para siswa dan John kelimpungan. Pada momen itulah para pelacur yang berumah di ruang bawah tanah, mengambil keputusan mengejutkan.


Film ini mampu membuat saya ngeri, terlebih membayangkan berhadapan dengan serdadu Jepang yang tak kenal ampun. Zhang Yimou terlihat sangat berusaha keras untuk membawa penonton terlibat emosi yang dalam dengan belasan putri sekolah yang tinggal di katedral, pun dengan para pegawai seks komersialnya yang rupawan. Sinematografi film ini juga mantap. Detail sangat diperhatikan oleh sang sutradara, sehingga membuat kita terjaga menyaksikan kisah heroik Yu Mo dkk.

Sayang, tak semua artis kecil bermain baik di film itu. Selain pemeran Shu, hampir semuanya berakting kurang total. Mereka kurang mampu menyajikan kepedihan akibat kehilangan orang yang mereka sayang. Sedangkan perempuan-perempuan pemeran pelacur tampil oke. Mereka bisa menunjukkan diri sebagai pelacur berkelas yang selalu tampil elegan dan cantik (bahkan matching), dalam kondisi perang sekalipun. Hehehehe...

Christian Bale bermain cantik, meski perubahan karakternya terkesan terlalu dipaksakan dan instan. Yah, agak aneh saja menurut saya, dia yang semula urakan dan preman, tiba-tiba berubah baik hati dan budiman bak pastor asli. Tapi dipilihnya dia menurut saya sudah tepat. Dan pastinya Bale tetap saja tampan dan seksi pakai baju apapun :)