Wednesday, July 18, 2012

Periksa Kandungan

Semua bermula dari blog Gusti, gustidha.blogspot.com, yang saya baca Minggu malam, 8 Juli lalu. Saya membaca tulisan kawan sekantor saya itu sambil asyik ngobrol hal-hal nggak jelas dengan si mas di sebuah warung sembari ngemil pisang bakar coklat keju.

Awalnya saya masih asyik aja ketawa-ketawa dengannya, sampai akhirnya tegang sendiri gara-gara baca tulisan berjudul "Kista dan Saya". Tulisan itu menjelaskan pengalaman Gusti saat kuliah, yang mendadak divonis memiliki kista berdiameter lebih dari 5 cm di rahimnya.

Dalam blognya, Gusti bilang kalau dia semula tidak merasakan apa-apa hingga akhirnya pada 2006, dia merasakan nyeri teramat hebat saat menstruasi. Bahkan sampai pingsan. Dia juga mengeluh selama ini siklus mensnya tidak teratur. Saya pun terdiam. Dua gejala itu, jelas-jelas saya alami.

Saya mens pertama kali saat kelas 1 SMP, pada 13 Juni 1998 lalu. Sejak itu pula setiap mens adalah neraka dunia bagi saya. Tak cuma lemas, nyeri, dan muntah-muntah, saya juga beberapa kali pingsan saking sakitnya. Siklus mens saya juga tak teratur. Pernah tuh, dalam enam bulan, saya hanya mens sekali.

Saya pun gelisah. Pikiran itu secara langsung menyelinap: Kalau ternyata saya juga punya kista gimana? Kalau ternyata sakit yang saya rasakan itu karena ada sesuatu di rahim saya gimana?

Dia sepertinya menangkap kegelisahan dari roman wajah saya. "Udah periksa aja. Nggak apa-apa. Ntar kalau kamu susah punya anak gimana?" katanya.

Pertanyaan itu mungkin sederhana. Tapi saya akhirnya bertekad selekasnya periksa. Sebelumnya, saya juga nanya-nanya ke Gusti soal penyakit itu. Periksanya gimana, Gus? Ribet nggak, Gus? Diapain aja sama dokternya? Kalau operasi sakit banget ya, Gus? Dan sederet pertanyaan panik nggak jelas lainnya.

Sampai akhirnya hari ini, saya memutuskan datang ke Rumah Sakit Agung, Manggarai. Saya ditemani teman sekantor saya, Pingit, yang sama-sama libur hari ini. Sempat menunggu sekitar 20 menit, giliran saya diperiksa tiba.

Dokter kebidanan (ya, istilahnya dokter kebidanan di situ, bukan dokter kandungan.. Berasa udah hamil aja gue) di RS itu baik. Dia berusia sekitar 35 tahun, perempuan, gendut, dan ramah. Dia semula sudah akan pulang, sampai akhirnya menemukan saya menunggu di depan ruang periksanya.

Dan terjadilah komunikasi seperti ini: *seingat saya ya*

Dokter: Masih nona? (Entah artinya perawan atau belum merit)
Saya: Iya..
Dokter: Jadi ada apa?
Saya: Mau periksa, saya ada kista atau enggak.. Karena saya merasa mengalami gejala yang sama dengan teman yang punya kista.
Dokter: Kayak apa tuh gejalanya?
Saya: Mens nggak tiap bulan dapet. Kalau mens juga sakit banget. Kadang sampai pingsan.
Dokter: Minum obat apa kalau lagi nyeri?
Saya: Paling Feminax. Sebutir aja tiap satu siklus mens.
Dokter: Serius? Satu pil aja? Saya tuh kalau mens bisa minum tiga butir sehari selama tiga hari (lhah kok malah dokternya curhat).

Dan setelah dicek tensi darah, saya disuruh berbaring untuk di-USG perutnya. Berhubung baru kali ini di-USG perut, saya masih malu-malu gitu. Hahahaha.. Ya iyalah.. Gimana nggak malu kalau di dekat vagina kamu dikasih cairan apa gitu oleh si suster, dan kemudian dokternya nyetrika area tersebut dengan alat USG. Geli, euy. Dan pembicaraan pun kembali berlanjut.

Saya: Jadi minum feminax gitu nggak papa, Dok?
Dokter: Nggak papa sih.. Kalau memang nyerinya nggak tertahan mau gimana lagi?
Saya: Nyeri saya yang selama ini itu apa, Dok?
Dokter: Nyeri mens itu ada dua tipe. Satu, karena kista. Dua, karena memang ada syaraf yang cenderung bereaksi saat mens. Kamu itu yang kedua.
Saya: Kok bisa saya yang tipe kedua? (Pasien bawel dan resek nih, batin si dokter)
Dokter: Biasanya kalau nyeri karena kista itu baru dirasain belakangan. Kalau kamu kan nyerinya udah sejak awal mens.. Kayak saya juga gitu.. (Yah curhat lagi si ibu..). Kamu jarang jerawatan juga kan?
Saya: Iya bener.. Jadi bisa punya anak kan, Dok?
Dokter: Ya buktinya saya bisa punya anak.. (Aseeeek.. Curhat lagi..)
Saya: Trus biar nggak nyeri saat mens saya harus gimana?
Dokter: Olahraga teratur aja. Makannya dijaga. Jangan stres aja. Pokoknya olahraga aja, lah..
Saya: (dalam hati) obat aja lah doooook, obat.. Apalah kecuali olahraga -__-

Dan si dokter kemudian tampak menunjukkan penampakan perut saya di layar alat USG, pada susternya.
Dokter: Ini sih, kalau saya lihat kamu nggak punya kista.
Saya: Beneran, dok?? *pengin meluk* *mata berkaca-kaca*
Dokter: Iya.. Tapi sebenarnya lebih bagus lagi kalau kamu tes USG vagina. Tapi ya, masa kamu mau diperawanin sama alat?
Saya: errrr.. *senyum kecut*
Dokter: Nanti aja ya, kalau kamu udah NIKAH, kamu periksa lagi.. Nikah aja dulu..
Saya: *nahan nggak nggebrak meja*

Dan yaaa.. Begitulah.. Saya keluar dari ruang periksa dengan hati berbunga-bunga. Senyum nggak lepas dari bibir dah, pokoknya. Intinya saya merasa sehat hanya karena divonis bebas kista. Padahaaaaal.. Saya belum tes kolesterol dan gula darah hahahahaha..

Bodo amat lah. Itu entar aja. Saat ini saya lagi bahagia. Nggak akan saya biarkan euforia sehat bebas kista ini terganggu oleh apapun. Hu yeaaaaaah.. Makasih Pingit, Bu Dokter Felly, dan Tuhan :*

8 comments:

  1. Maaf akalo aku ngga bersimpati tapi tertawa.

    Lega juga. Karena kamu baik2 aja dan karena kamu merasakan apa yg setiap bulan aku rasakan.. *eh, terdengar salah*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah yang penting nggak di-USG vaginanya aja lah.. Hahahaha.. Mending "di-USG" yang laen.. *winkwink*

      Delete
  2. mbak pit, ada2 ajaaaaaaa.... *lmyan bikin senyum2 dewe, jadi inget cara mbak pit bercerita di M. :-P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha.. pasti caraku bercerita yang seolah-olah beritanya heboh dan penting yak.. (padahal enggak) :p

      Delete
  3. Kok sama ya Is, kami(maksudku istriku) habis periksa ke dokter kandungan di RS. Budhi Jaya, Sahardjo, dekat Mangarai juga. Tapi sayangnya, sang dokter yang Prof itu langsung memvonis ada kista di sebalah kiri dan polykistis(kista yang kecil-kecil di kanan). Setelah diatermi(di sinar gt) 10 hari ndak berubah, maka om dokter langsung memvonis: langsung operasi. Wakkkkk, waktu dokternya bilang gt, dompet cuma ada isi 50 ribu dan di atm tinggal 1 juta. Kami berpandangan dan bertanya: Kira2 kapan prof? dua hari lagi jawab dokter yang sudah mengobok2 beberapa wanita itu. Kami langsung lemas.
    Keluar dari ruang pemeriksaan langsung berpikir, siapa yang bisa kasih utangan untuk biaya operasi. Tanya-tanya sama pegawai disana diberi ancar-ancar biaya operasi Rp 20-25 juta. Waduh...duit dari mana ini. Mau jual motor paling laku 4 juta mau jual rumah wong belum lunas.
    Habis itu baru inget di dompet ada kartu asuransi(tepok jidat). Bisa pakai asuransi mbak? "bisa", jawab mbaknya. Aku keluarkan kartu asuransi yang baru beberapa bulan lalu kami terima. Beruntung biaya akan ditanggung asuransi.
    Sore itu juga istri menjalani serangkaian tes. Dari rontgen sampai tes darah dan jantung. Besoknya sudah nginep di rumah sakit. Dan pukul 04.00 pagi istriku sudah masuk ruang operasi. Operasi berjalan lancar selama 2,5 jam. Dan sebagai suami yang baik, aku ikut masuk ke ruang operasi dan melihat bagaimana dokter mengambil kista itu. Kalau boleh aku diskripsikan cara mengambil kista itu kaya kamu makan pisang. Dikupas dulu, baru dipotong untuk di'makan'.
    Alhamdulillah istriku sudah sehat sejak naik meja operasi 20 Juni lalu. Sekarang tinggal penyembuhan. Ditotal, seluruh biasa rumah sakit mencapai 25 juta untuk kamar kelas dua.
    Tanggal 4 kemarin dan 4 Agustus besok harus kembali ke profesor untuk cek. Cek pertama setelah operasi kemarin harus merogoh kocek hampir empat juta(semoga sama asuransi dibayar semua).
    Begitu is pengalamanku...lho..lho kok ini malah curhat.
    Tarto

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huwaaa.. untung yo Mas, aku gak ada kista jadi nggak perlu operasi dan mengeluarkan duit sebanyak itu.. ngeri juga euy..

      Kata dokternya kemarin sih intinya banyak olahraga dan berpola hidup sehat aja. Diet pastinya. Makanan juga mesti dijaga.. 9ngeri yo, akeh banget pantangannya).

      Moga istri Mas Tarto cepet sembuh.. Kalau nggak salah, ada dokter bagus tuh, di RS Setiabudi itu..

      Delete
  4. aku pernah kista, pertama periksa dengan dokter yang sudah profesor tapi sangat patriarki dan bias gender. dokter kedua yg aku datangi lebih asik. ga pake operasi. ga pake banyak tanya. tapi ya itu, he made me (almost) vegan for 3 years! (belum termasuk larangan makan lengkeng dan mangga) he made me doin capoeira, tennis, swim, running, yoga, for the next years till now. plus terapi hormon 2 tahun. dan sekarang, kistanya uda entah ke mana.
    dan plus dapet bonus tricep dan bicep. ahahahah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kemarin dokterku labil Ka, jadinya curhat deh di ruang praktik.. wkwkwk..

      Wah pantesan kamu badannya ngebentuk. Olahraga segitu banyak :"( Kayaknya walau gak kista, aku tetep harus diet n olahraga ni.. *semangat demi seksi*

      Delete