Thursday, September 29, 2011

Bye Bye Jakarta!

Ah, finally.. I will escape to a holiday! Yey! Can't wait to have a wonderful journey with my crazy mates Wita and Novi! Wita is a journalist from Jurnal Nasional, and Novi is from Suara Pembaruan. I just met them a year ago in South Jakarta Court.

So, for a week, we will spend 2 days in Phuket which located in south Thailand, 2 days in Bangkok, and 3 days in Ho Chi Minh City, Vietnam.

As what has been listed in our itinerary, we will go to Phuket first. There, some places to go are Patong Beach, Bangla Road, Maya Bay, and Phi Phi Islands. God, I can't wait to take some photos there!!

Then, at October 2nd, we will have Bangkok as our next destination. And in October 3rd, we will have Chu Chi Tunnels trip at Ho Chi Minh, Vietnam. Ah, can't hardly wait to start!!

Tuesday, September 27, 2011

"Banyak Orang yang Megang Duit Rp 50 Ribu Saja Nggak Pernah.."

Semalam di Grup M, saya, Ali, Alien, dan Mami, sedikit adu kata-kata, hehe.. Berawal saat Mami bilang ingin menonton konser Westlife, 5 Oktober 2011. Saya pun bilang, tiket termurah, Rp 600 ribu, sudah habis.

Si Ali tiba-tiba nyeletuk. "Kebayang nggak kalau uang itu ada di tangan orang lain? Yang megang uang Rp 50 ribu aja nggak pernah?" tanya dia.

Ah, oke. Mungkin sebenarnya dia nggak berniat buruk dengan nyeletuk seperti itu. Tapi saya kok merasa gimanaaa, gitu ya? Hehe.. Saya pun langsung bertanya, "Maksudnya apa?". Alien pun bertanya hal yang sama. "Maksudnya apa, Al?"

Sepertinya sadar dia habis mengucap sesuatu yang sedikit sensitif, Ali cuma jawab begini. "No no no. Forget it! It's only words."

Sebagai wartawan, hehehe, saya nggak puas dengan jawaban dia. Saya akhirnya bilang begini, "Al, saya itu setengah mati lho menabungnya, hanya demi bisa nonton konser seharga ratusan ribu.."

Pendapat saya diamini Alien. "Kami boleh aja menghabiskan uang Rp 500 ribu buat konser, dan kamu untuk beli kamera. Kalau kasar-kasaran, harga kamera kamu lebih mahal lho, dari harga tiket konser. Hehehe.."

Kami; saya, Alien, Ali, Mami, memang ada di dua "kubu" yang berbeda. Saya kerja di Tempo, Alien di RCTI, Ali di Kemenkes, dan Mami di Kementerian PU. Kami berangkat dari Lembaga Pers Mahasiswa yang sama, namun memilih jalan karir berbeda.

Seperti yang pernah saya bilang pada Ali, masalah uang sedikit sensitif buat saya. Kalau mau blak-blakan, Ali dan Mami yang bekerja di Kementerian tentu punya pendapatan yang bisa jadi 2x lipat pendapatan saya sebulan.

Masih ditambah dia rapat dapat duit, lembur dapat duit, ke luar kota dapat duit, yang jumlahnya kadang nggak masuk diakal. Saya tahu soal ini karena saya tahu pengeluaran Kementerian saat sama-sama bertugas di luar kota. Dan kadang saya merasa sakit, saat tahu rekan PNS seperjalanan saya mendapat duit jutaan hanya dalam satu acara ke luar kota.

Sementara saya benar-benar hanya hidup dengan gaji bulanan saya. Hahaha.. Iri? Nggak, saya tegaskan. Saya hanya gemas dengan jumlah duit yang didapat mereka, yang kadang tidak rasional, sementara banyak orang yang memegang duit Rp 50 ribu saja nggak pernah :)

Ngomong-ngomong, soal uang Rp 500 ribu, meski saya sudah punya gaji sendiri, saya tetap menganggap itu uang yang sangaaaaat banyak. Dan nggak pernah tuh sekali pun saya menilai uang senilai itu, adalah uang yang sedikit.

Saya jadi ingat saat zaman kuliah dulu, di mana bapak sengaja hanya menjatah saya Rp 300 ribu sebulan, sementara saya butuh uang lebih dari itu untuk beli bensin Terios. Perhitungannya, si Teri butuh Rp 50 ribu untuk jalan selama 3 hari. Dan kalau dalam sebulan saya keluar 21 hari, maka saya butuh minimal Rp 350 ribu. Belum termasuk uang makan saya, dan uang bergaul. *halah

Maksud Bapak sebenarnya baik, kenapa hanya memberi duit saya pas-pasan. Itu karena Bapak ingin saya, entah gimana caranya, cari duit sendiri. Bapak juga ingin mengajarkan pada saya, bahwa cari duit itu ngujubile susahnya. Meski tiap pagi, bapak suka sambil lalu menggoda saya, "Terios masih ada bensinnya kan?" hehe..

Saya pun mau nggak mau melakukan dua hal: mengirit sejadi-jadinya, dan berusaha rutin kirim tulisan ke koran-koran seperti Kompas, SM, dan Wawasan. Satu-dua saja tulisan per bulan sudah lumayan, lah. Saya bisa dapat sekitar Rp 200-600 ribu. Plus, dapat tambahan Rp 50 ribu dari Fakultas, dan Rp 50 ribu dari universitas per tulisan saya yang dimuat di koran.

Dan dalam mengirit, saya biasa lakukan dengan memasak sendiri, dan nggak sering nongkrong dengan teman. Pernah sih, ada teman yang menyindir dengan sadis, "Kamu ke kampus bawa mobil, tapi kok pelit banget sih jadi orang?"

Wuaaah. Saya saat itu pengin marah aja rasanya. Tapi saya cuma senyum, dan memberi penjelasan sedikit padanya. "Saya bawa mobil karena saya nggak bisa naik motor, sementara nggak ada angkot masuk ke perumahan saya. Dan saya ngirit karena saya nggak punya duit.."

Teman saya kayaknya nggak puas dengan jawaban saya. Tapi ya sudahlah. Nggak penting juga dia mengerti atau tidak dengan jawaban saya. Yang jelas saya bersyukur dengan cara bapak mendidik saya soal uang.

Pelajaran itu membuat saya tidak melupakan betapa banyaknya uang Rp 500 ribu, dan masih banyaknya orang di luar sana yang "megang duit Rp 50 ribu saja nggak pernah". Hehehe..

Let's "White" and See, hehe

Saya merasa, kulit putih selama ini kerap dianggap membawa nilai-nilai "kebaikan" seperti bersih, suci, indah, layaknya kulit para bangsawan atau priyayi kerajaan.

Anggapan bahwa ras kulit putih lebih segala-galanya dibandingkan yang tidak (atau belum) putih itu, sepengetahuan saya, merupakan turunan ajaran Darwinisme, yang menyebut ras kulit putih adalah ras superior dan identik membawa "gen baik".

Itulah mengapa, yang bukan "putih" mungkin merasa inferior, "kalah", dan merasa diri mereka harus dipurifikasi agar setara atau sederajat dengan mereka yang putih alami.

Ide purifikasi inilah yang menghantui benak banyak masyarakat Indonesia, terutama perempuan. Mengapa perempuan, latar belakangnya tentu masalah identifikasi dan stereotipifikasi bahwa perempuan haruslah memiliki paras yang elok dan tidak boleh berkulit gelap.

Ini bisa dilihat dari banyaknya iklan produk kosmetik pemutih yang menggunakan perempuan sebagai model sekaligus sasaran produk mereka. Perempuan kini diseragamkan untuk menganut ideologi darwinisme, dengan mengedepankan jargon "Lets White and See!"

Jargon ini menekankan penting dan hebatnya memiliki kulit putih. Dengan memiliki kulit putih, maka kesempatan dipercaya akan datang lebih banyak dibandingkan mereka yang berkulit gelap. Maka iklan produk pemutih berujar, "Hai perempuan Indonesia yang berkulit sawo matang! Pakailah produk kami, maka kamu akan percaya diri karena semua perhatian orang akan tertuju padamu!".

Interpelasi atau panggilan inilah yang tiba-tiba menimbulkan ketakutan di benak perempuan Indonesia apabila tidak mengikuti ideologi darwinisme. Ada perasaan minder, inferior, malu, bahkan "kotor", jika kulitnya tampak lebih gelap dibandingkan perempuan berkulit putih.

Banyak perempuan, yang beberapa saya kenal, akhirnya mejadi terobsesi pada ke"putih"an. Menjadi putih adalah menjadi beradab, dan menjadi modern, serta menjadi "kebarat-baratan". Barat menjadi simbol modernitas, lengkap dengan atribut positif yang melekat. Sedangkan Timur diidentifikasi dekat dengan- seperti sebutan Edward Said- orientalisme, yang identik dengan keterbelakangan, jauh dari peradaban, serta primitif.

Internalisasi ide bahwa putih itu baik disebabkan oleh persuasi yang amat gencar dari berbagai produk pemutih, dan diperkuat oleh televisi yang mendewakan dan sering menampilkan aktor ataupun aktris berwajah campuran (indo), sehingga kita pun makin sensitif dengan "keputihan".

Sensitivitas ini tidak terbatas pada karakter-karakter atau hal-hal yang bersifat fisik seperti warna kulit, bentuk hidung, bibir, warna rambut, postur tubuh, dan sejenisnya, namun justru terletak pada nilai-nilai yang tidak tampak (invisible norms).

Dalam buku Pesona Barat yang saya baca saat skripsi dulu, Vissia Yunianto memaparkan bagaimana awal mula terjadinya dekonstruksi warna kulit di Indonesia khususnya, mulai dari asumsi yang mengatakan bahwa kulit indah adalah kulit bangsawan keraton yang kuning langsat, hingga pengaruh global yang menekankan bahwa kulit putih adalah segalanya.

Vissia berpendapat, bahwa terjadinya dekonstruksi itu disebabkan oleh perasaan inferior yang dimiliki oleh bangsa Indonesia sebagai bekas jajahan Barat, yang masih ada hingga kini. Perasaan rendah diri ini disebut dengan mentalitas inlander.

Mentalitas inlander ini adalah segala pemikiran, konsep, dan perasaan rendah diri- termasuk mengikuti dan mengadopsi nilai-nilai Barat- yang dihidupi oleh orang Indonesia terhadap apapun yang ada sangkut pautnya dengan bangsa lain dan menganggap apapun yang melekat pada bangsa lain tersebut lebih superior dibanding dengan yang melekat pada bangsa sendiri.

Yah, soal keterpesonaan sebagian perempuan Indonesia terhadap kulit putih memang mencengangkan. Teman saya dari Aussie, Bec Perkins, juga pernah tanya kenapa artis-artis Indonesia putihnya "berlebihan" (pinjam kalimat Raditya Dika). Terakhir saya tahu, Bec bahkan menjadikan hal ini sebagai bahan tesisnya :)

Menuju Sepak Bola Lintas Jender


Tak berlebihan bila kita mengidentifikasi sepak bola sebagai bagian dari perjuangan kelas; antara laki-laki dan perempuan. Supremasi maskulinitas sepak bola telah terindoktrinasi dalam benak kita selama ratusan tahun, bahwa ia milik mereka yang berjenis kelamin laki-laki saja.

Bukan semata meneguhkan dominasi laki-laki- yang secara langsung- mensubordinasi perempuan, namun dalam tradisi perkembangannya, sepak bola berperan sebagai cabang olahraga yang bias gender. Kekuatan fisik, kerasnya pertandingan, serta rawannya kontak fisik di atas lapangan hijau, merupakan ujud bagaimana selama ini kita memaknai "kelelakian" khas sepak bola.

Atribut maskulin telah terstempel bertahun-tahun sedemikian halusnya pada sepak bola. Sehingga pikiran kita terbuka hanya pada pencitraan konstruktif bahwa sepak bola ada, dari, untuk, dan oleh laki-laki.

Dan ketika kita menjustifikasi "ketidakwajaran" pada seorang perempuan yang gandrung sepak bola, bukankah pada saat bersamaan kita telah memperkuat kecenderungan memosisikan perempuan dalam ruang yang inferior?

Dalam olahraga-lah stereotip maskulin secara eksplisit terejawantah. Konstruksi kelelakian yang selama ini kita akrabi seperti macho, kuat, dan agresif, hadir dalam sajian olahraga yang maskulin dan "bau keringat laki-laki".

Sedangkan konstruksi feminin seperti lembut, lemah, dan pasif makin lama makin terpinggirkan oleh dominasi maskulin. Olahraga adalah adu fisik, kekuatan, kecepatan, dan di beberapa cabangnya juga ada adu otot. Di situlah konstruksi maskulin berperan dalam laku subordinasi perempuan.

Perempuan pun pada akhirnya "diberi jatah" untuk sekedar menjadi penggembira. Ketika pertandingan basket masih terus dimeriahkan oleh teriakan hip-hip-hura dari para cheerleader perempuan, hingga kini cheerleader laki-laki hanya muncul secara tematik. Tak ada penjelasan khusus mengapa terkondisi seperti itu.

Syukurlah, sekarang pemberontakan perempuan untuk keluar dari belenggu patriarkat dalam lingkup olahraga mulai menguat. Di beberapa olahraga yang seksis seperti sepak bola dan tinju, perempuan sudah mulai hadir komplit dengan kualitas yang tak beda dengan laki-laki.

Di lapangan hijau, ada Brigit Prinz dan Mia Hamm yang kualitas teknisnya bisa ditandingkan dengan para pemain top Serie A Italia. Mereka hadir dengan fitur fisik yang sama, namun kini dengan kemampuan menjelajah ruang patriarkat yang lebih kuat dan massal.

Dalam dunia sepak bola yang nglanangi, "perempuan maskulin" seperti Hamm dan Prinz sendiri masih kalah bersaing dalam porsi pemberitaan media dengan "perempuan feminin" seperti Victoria Adams, Cheryl Tweedy, ataupun Coleen McLoughlin.

Saya tidak tahu kenapa. Mungkin karena lagi-lagi kita masih menganggap kehadiran "perempuan feminin" sebagai pelengkap laki-laki (baca: pemain sepak bola) sebagai sebuah kewajaran. Bahwa memang seperti itulah potret perempuan dalam sepak bola.

Saya ingat, beberapa tahun lalu, dua orang pesepakbola perempuan Meksiko ditawar untuk turut bergabung ke sebuah klub professional divisi dua- Atletico Celava, FIFA secara tegas menolak dengan alasan yang sungguh diskriminatif. Alasannya, harus ada batasan yang jelas antara perempuan dan laki-laki dalam sepakbola.

Lantas, sampai mana batasan itu digariskan jika tolak ukurnya adalah gender? Haruskah sepak bola menjadi olahraga yang absolut terhadap ideologi maskulin patriarkis?

Saya pikir, sepak bola sebenarnya bisa jadi agen yang bisa difungsikan sebagai pengubah kondisi marjinal perempuan. Perempuan-perempuan berteknik tinggi seperti Hamm mungkin saja berkemampuan tanding melebihi pemain laki-laki.

Jika memang keberadaan mereka mampu mengangkat derajat klub sepak bola laki-laki, mengapa harus ada penolakan dari FIFA- sebagai induk organisasi sepak bola yang paling disegani?

Dan bukankah nafas sepak bola akan lebih segar dan atraktif bila suatu hari nanti sanggup menyandingkan perempuan seruang dan seperan dengan laki-laki dalam beradu di lapangan hijau?

Monday, September 26, 2011

Move On !

Sabtu malam lalu, saya sengaja bikin status galau yang isinya curcol abis, hehe.. Ini nih status yang saya lempar ke jagat maya sekitar pukul 17.30 sore, 24 September 2011:


"Forget our memories. Forget our possibilities. I don't need you anymore."

Apakah ada yang menganggap status itu nggak galau? :p Beragam komen pun saya dapat. Salah satunya dari Icha, reporter Kompas.com. "Kamu sengaja bikin status galau biar dikomen ya?" kata dia, kayaknya heran banget lihat saya tumben-tumbenan galau.

Wah.. Beneran deh, ada ya yang nggak percaya saya bisa galau? Hehe... Padahal status itu bener-bener sedang saya rasakan, lho..

Fyi, orang dari masa lalu saya memang sempat datang lagi beberapa waktu lalu. Dan dia bisa-bisanya melakukan banyak hal manis pada saya, yang nggak biasanya dia lakukan. Sempat sih, agak shock dengan perubahan itu.

Tapi nggak tahu kenapa, saya merasa yakin untuk tidak kembali padanya. Mungkin saya sudah capek, atau mungkin saya sudah disadarin Tuhan. Saya pun belakangan akhirnya memperajin shalat hajat dan berdoa (eaaaa.. begini deh kalau ada maunya, hihihi..).

Saya nggak to the point meminta Allah memberi saya cowok oke yang menyenangkan, smart, dan rajin shalat (walau mau banget kalau dikasih yang begitu). Tapi saya cuma berdoa agar hati saya ditenangkan.

So, that's true, buddies. I really wanna forget the memories and possibilities between me and him. Enough is enough. Saya ingin bertemu dengan orang baru..

Sunday, September 25, 2011

"Dirty Talk" Which Not That Dirty

Beberapa hari setelah konser LP, saya, Novi, dan Nindy, masih saja ada dalam euforia reuni masa muda #eaaaa.. Si Novi mah masih agak mendingan. Dia cuma sedikit meracau dan ngelindur soal Chester. Tapi saya dan Nindy agak parah. Lewat whatsapp, saya dan dia bersaing menjadi yang "terimajinatif"! Hehehe..

Fyi, Nindy adalah satu dari segelintir sahabat perempuan yang bisa diajak ngomong jorok gila-gilaan. Hehehe.. Dan kegilaan kami makin menjadi saat kelar nonton konser. Ini sebagian yang kami omongin 22 September lalu. Yang lain ga ditampilkan karena harus dilabeli "Parental Advisory", hehe..

Vitri: Aku tepar, Ndy.. Migren banget, ki.
Nindy: Aku juga. Coba kalau sama Rob. Pasti tepar karena kenikmatan. Hihi..
Vitri: Aku juga pengen diteparin Brad. Hihi
Nindy: Kakinya putih ya ternyata.
Vitri: Aku malah kepikiran tangannya.. Membayangkan tangan itu di tempat selain gitar.. Hahaha
Nindy: Apa tengah kaki? Hahaha
Vitri: Hahaha.. Semalam mereka tidur sama siapa ya?
Nindy: Sama aku, Vit. Makanya aku kecapen. Lha aku ini radang karena nelen apa, coba?
Vitri: "Stik drum"-nya Rob ya? Hahaha

--- censored---

Buset dah.. Kalau saya sama Nindy dah mulai ngelantur, pasti imajinasi kami jadi liar tak terkendali. Tapi itulah kenapa saya bisa klop sahabatan sama dia sejak SMA. Otaknya sama, hehehe.. Kami nggak merasa risih sama sekali ngomongin begituan.

Begitu tuh kelakuan si N. Fotonya blur karena saya njepretnya sambil ngakak, hehe
Ada sih, beberapa sahabat perempuan yang bisa diajak ngomong gituan. Tapi saya jarang kontakan dengan mereka sekarang. Hehe.. Saya tahu, bagi beberapa orang, yang saya dan Nindy bicarakan itu terdengar tabu, jorok, atau mungkin stensil :p

Tapi memang omongan yang seperti itu yang membuat kami "menjadi kami". Saya jadi ingat, di setiap lingkungan kelas, kampus, organisasi intra kampus, teman main, atau kantor, adaaaa aja yang bisa jadi partner buat ngomong hal yang dudul kayak gitu.

C, V, n N. Kalo udah kumpul pasti ujung2nya konferensi mesum tingkat tinggi, hehe

Mungkin itu sebabnya untuk beberapa hal saya lebih nyaman berteman dengan laki-laki. Mereka nggak akan risih membicarakan stensilan macam itu. Ya mungkin sebenarnya banyak cewek yang juga terbuka ngomongin hal begini. Tapi mereka hanya menceritakan itu di lingkaran dalam mereka saja.

Saya pun juga nggak bisa sembarangan cerita hal-hal seperti itu ke orang. Cuma sama orang tertentu saya bisa terbuka dan parah-parahan mesum. Hehe..

Saya jadi ingat teman sekantor saya, Dika. Dia kayaknya agak shock ada cewek semesum saya. Hehe.. Dia bahkan bilang saya teman dia yang paling nggak punya malu. Hahaha.. Yah namanya juga nggak punya malu, saya cuek aja dia bilang begitu. Lagian saya cerita ke dia kan karena memang saya nyaman dan percaya sama dia.

Dika n Pepski in action
Kurang mesum apa coba ini mukanya

Cuek amat lah saya cerita ke dia soal bagaimana seksinya Brad Delson, dan bagaimana tangan Brad mampu membuat saya kebayang yang aneh-aneh.. Parahnya, Dika pun bales ocehan saya dengan lebih mesum lagi. Wkwkwk

Saya ingat, Dika sempat bilang gini. "Sebenernya respon cewek ke cowok, dan respon cowok ke cewek itu sama aja. Cewek pun sebenernya suka ngelihat badan cowok yang six pack, atau kayak kamu yang suka lengan cowok," kata Dika.

Soal ini saya sependapat. Tumben dia pinter, hahaha.. Kadang saya capek melihat seringnya tubuh perempuan disalahkan, sementara si pemilik penis merasa mereka tidak salah karena tubuh perempuanlah yang menggoda lebih dulu.

Lihatlah betapa seksi tangannya Kang Brad.. hehehe

Saturday, September 24, 2011

Matthew Settle is Both Hot and Cool !


Do you watch Gossip Girl the series? Do you know the hottie daddy named Rufus Humphrey whom played by actor Matthew Settle? Do you think he's cool? Or maybe you realize he's hot too as he pumps the beat up with his nerdy style? Haha :D

Oh God, i'm really sorry for talking too much about your creature called men. But i think, some of them really make my day. And that is what Rufus did to me. #eh

I know, Gossip Girl had so many boys around Manhattan. I guess you know Dan Humphrey, Chuck Bass, or that blonde cute skinny boy, Nate Archibald. But i can keep my eyes from blinking when I see Rufus in the scene.

Rufus, Rufus, Rufus. He is about 40 or 45 in Upper East Side. But there's something about him which make me simply happy, and dare to dream about having a prince charming oneday.

Ah, i don't know. I'm just falling in love with his warmth, with his eyes, with his body in loose grey shirt, and his light brown hair which never looks tidy. Hahahaha.

Yeah, Rufus Humphrey really made to fulfill the taste of hot and cold neat mixing. I love his sexy face, his cranky life, his adventurous love story, the way he kissed, or the way he treats women.

And for about three months working in Kuningan, South Jakarta, hardly to believe that i never found someone like him! Hoho.. Did someone like Rufus Humphrey only made one, or God doesn't give me a chance yet to meet his shadow? Xoxo

What a sexy sight..
Aaaaaaaah !! Rufus you made me crazy!

Kamu Percaya Tuhan?

Saya nggak menyangka film A Little Bit of Heaven yang kovernya ceria ini punya isi yang membuat saya menghabiskan berlembar-lembar tisu. Well, mungkin lain kali saya harus baca sinopsisnya dulu kalau beli DVD :(

Film ini berkisah soal Marley, cewek supersukses yang tiba-tiba didiagnosa menderita kanker usus besar. Bukan ide cerita baru sebenarnya. Tapi film ini membuat saya mengingat banyak hal. Tentang masa lalu, tentang Tuhan, tentang arti hidup, tentang kematian, dan tentang kehilangan..

Yang membuat saya suka film ini, sang sutradara, Nicole Kassell, mengemas "hal yang paling kita resah dan takuti" dengan humor. Salah satu sentuhan humor itu adalah dengan sosok tuhan yang diperankan oleh... Whoopie Goldberg! Heee

Marley sendiri sempat tertawa saat bertemu dengan tuhan. "Are u God? Sorry.. But I think you looks like Whoopie! It is because I like Whoopie?" ujarnya. Dan apa jawaban si "tuhan"? "Me too (like Whoopie).. Hehe.."

Film ini membuat saya memikirkan sejumlah pertanyaan. Apa yang saya lakukan kalau saya tahu minggu depan saya akan mati? Apakah saya sudah siap bertemu Tuhan? Manakah yang lebih menyakitkan, menghadapi kematian kita sendiri, ataukah melihat orang yang kita sayangi "pergi"?

Saya nggak tahu jawaban semua itu. Sampai sekarang, kehilangan yang paling membekas adalah saat saya kehilangan saudara saya, Imma. Rasanya mengerikan, saat kamu tahu orang yang kamu sayangi tidak akan hidup lebih lama, sementara dia tampak begitu "berani" menghadapi kematiannya sendiri..

Yah, mungkin hanya segelintir orang yang dikaruniai keberanian besar dalam menghadapi kematiannya sendiri. Dan Imma adalah satu dari segelintir orang itu. Dia dokter, dia tahu leukimia bisa sangat jahat padanya. Tapi yang saya nggak habis pikir, dia bisa selalu tersenyum pada setiap orang, dan bersikap seolah dia akan hidup 100 tahun lagi..

Vitri, Sofie, Imma, 20 years ago.. Who knows she's in heaven now....

Setiap membayangkan kematian, pada saat yang sama saya akan mengingat Tuhan. Selama ini saya sering mengabaikan Dia karena beranggapan "Ah, saya kan masih muda. Masih ada waktu untuk tobat. Masih ada waktu untuk perbaiki kualitas dan kuantitas ibadah." Padahal siapa yang tahu umur saya sampai kapan?

Saya manusia biasa, dan mungkin satu dari sebagian manusia yang tidak punya keberanian menghadapi kematian. Atau lebih tepatnya, saya takut mati sementara saya belum punya bekal yang cukup sebelum menghadap Tuhan.

Yah, saya nggak munafik. Saya pernah menempuh perjalanan yang tidak sebentar dalam menemukan Tuhan. Saya pernah meragukan Dia ada. Saya pernah bertanya, mana mungkin Dia ada dari ketiadaan. Bagaimana bisa Dia mengada dari kehampaan.

Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantui saya, sampai akhirnya saya tidak pernah tenang saat shalat. Pun saat mengaji. Saya terus, terus, dan terus mempertanyakan. Apakah hukuman di akhirat itu ada? Apakah surga dan neraka memang sudah tercipta? Berapa lama saya disiksa di neraka nantinya? Hehe..

Saya lupa sejak kapan saya percaya pada Ludwig Feuerbach, tentang pendapatnya bahwa Tuhan adalah ciptaan manusia dan bahwa agama hanyalah proyeksi manusia yang justru membuat manusia terasing dari dirinya sendiri. Juga pada Nietzsche, yang dengan sentimen anti spiritualismenya menganggap agama adalah alat memperbudak manusia. Dan tentu saja pada Karl Marx yang menilai agama sebagai keluhan makhluk terdesak yang ditindas dunia nyata

Sampai suatu hari pada 2005, saya diajak bapak dan ibuk umroh. Bisa dibayangkan? Di saat saya masih mempertanyakan-Nya, saya justru diberi kesempatan ke Tanah Suci. Saya berangkat dengan sedikit beban, dan bahkan agak deg-degan. Saya takut di sana dapat azab karena sedang jahat pada Allah. Hehe..

Nggak tahunya, "kepercayaan" itu muncul begitu saja. Hanya dalam sebuah momen di Baitullah, saya merasa teramat sangat merindukan-Nya. Saya nggak tahu apa yang terjadi. Tapi malam itu, saya tiba-tiba menangis. Sangat lama. Tepat saat bersimpuh di depan Ka'bah, dan dikelilingi ribuan orang yang menyerukan nama-Nya. Labbaik Allahumma labbaik.. Labbaik 'alaa syariikalaka labbaik..

Yah, kalau dibilang ajaib, memang ajaib banget proses saya kembali pada-Nya. Proses mencari, mempertanyakan, mencurigai, itu tiba-tiba 'blast'! Hilang entah ke mana saat saya berada di Masjidil Haram. Mungkin memang benar kata Romo Magnis Suseno, yang mengutip seorang filsuf (saya lupa namanya). Fides quarens intellectum; iman itu mencari pengertian :)

Saya percaya Allah ada dengan cara yang tak saya mengerti. Dengan cara yang tak bisa saya jelaskan. Bapak saya mungkin benar. Nggak akan ada habisnya jika saya terus mencari jawaban hal-hal yang sifatnya "naqli".

"Masalah agama, masalah Tuhan, itu hal-hal naqli, Nok.. Nggak bisa disamakan dengan hal-hal yang aqli (bisa diakal). Kalau Tuhan bisa dinalar akal, apalah bedanya dia dengan makhluknya?" kata bapak pada saya, dalam sebuah perjalanan berdua ke luar kota (saya dan bapak memang hobi membicarakan Kamu, Tuhan.. hehe..).

Yah, kita sama-sama nggak tahu apakah surga dan neraka memang benar ada. Tapi saya memilih untuk percaya.. Aaaaaah.. Saya sayang sama Kamu, Tuhan..!!!

Dear God..

Tuhan, saya boleh kan sedih untuk dua hari ini? Saya ingin menyalahkan diri saya sendiri. Saya ingin mengutuki apa yang pernah terjadi.

Boleh kan, Tuhan? Saya janji, pekan depan adalah saya yang baru. Saya janji. Saya hanya ingin diberi kesempatan untuk memulai lagi.

Tuhan, peluk saya.. Saya ingin diyakinkan bahwa saya baik-baik saja.. Saya masih punya Kamu kan, Tuhan..

Thursday, September 22, 2011

Brides Maids: Monster Itu Bernama Iri Hati

Akhirnya, ada juga film drama komedi romantis Hollywood yang baru yang bikin saya tersenyum senang, hehe.. Film itu berjudul Brides Maids, yang saya beli karena kovernya menampilkan enam cewek pakai baju pink :)

Sentral dari film ini adalah Annie (Kristen Wiig), cewek 30-an tahun yang hidupnya sekilas tampak menyenangkan. Dia punya pekerjaan, ibu yang baik hati, sahabat perempuan bernama Lilian (Maya Rudolph), dan partner bercinta yang seksi namun tidak mau terikat padanya.

Namun semua itu berubah jadi mimpi buruk, seiring dengan rencana pernikahan Lilian dengan Dough. Di sinilah Annie dihadapkan pada monster yang selama ini bersembunyi di dalam dirinya. Monster itu bernama sifat iri hati dan rendah diri. Oleh sutradara Paul Feig, monster Annie kemudian "ditandingkan" dengan sosok eksentrik bernama Helen.

Tibalah hari Lilian mengadakan pesta pertunangan, dan memilih Annie sang sahabat sebagai maid of honor. Annie dipercaya Lilian untuk memimpin grup pengiring pengantin perempuan yang beranggotakan Helen, Rita, Becca, dan Megan.

Lumayan juga cara Feig membuat jalin cerita film ini sedikit lebih kompleks, namun tetap lucu sehingga membuat kita pada sejumlah momen menjadi tersindir, tertawa, atau bahkan merasa "Ooooh...".

Rita yang seksi dan blonde diceritakan sudah punya tiga anak, namun merasa ada yang salah dengan keluarganya. "I have cook for the family, but my kid said he wants to order pizza.." curhatnya pada Becca, yang diposisikan Feig sebagai sosok perempuan baik hati dan punya suami oke.

Adapun Megan, calon adik ipar Lilian, diceritakan sebagai sosok perempuan mandiri yang kuat dan tangguh. Beda dengan Helen, si "musuh Annie" yang "Barbie wannabe": cantik, punya suami superkaya, dan multitalenta. Si Helen inilah yang sejak awal diceritakan selalu pengin mengalahkan Annie.

Konflik dimulai saat Helen secara licik (dan cerdik) mencurangi Annie dalam sejumlah kesempatan mendampingi Lilian mempersiapkan pernikahan. Di sinilah monster di dalam diri Annie muncul.

Dan? Semua berantakan, tentu saja. Annie perang mulut begitu hebat dengan Lilian, hingga Lilian memutuskan untuk tidak mengundang Annie ke pernikahannya.

Di dalam carut-marut itu, muncul seorang polisi bernama Rhodes, yang karena sejumlah kebetulan berkenalan dengan Annie. Wow, sebenarnya saya membayangkan tokoh utamanya lebih seksi dari si pemeran Rhodes (saya lupa nama pemerannya).

Annie dan Rhodes pun akhirnya kencan, dan bercinta tentu saja. Hehe.. Tapi karena masih galau, Annie belum siap menjalin hubungan serius dengan Rhodes yang sempurna. Apalagi ia masih berhubungan dengan partner bercintanya yang lama (yang saya lupa namanya juga, hehe..).

Ada banyak bagian yang saya sukai dari film ini. Pertama adalah saat Annie berusaha cari perhatian Rhodes di jalan raya, sementara Rhodes mati-matian menahan diri tidak mempedulikannya. Annie yang nggak mau kalah, akhirnya sampai nyetir dengan telanjang dada, dan mobilnya sengaja ditabrakkan ke mobil polisi Rhodes. Hehe..

Kedua, adalah saat Annie tertawa melihat Helen menangis, tapi akhirnya mereka jadi saling menyadari kesalahan masing-masing. Ketiga adalah momen pernikahan Lilian, yang menurut saya sangat romantis. Bayangkan saja, Lilian dan Dough mengikat janji di ATAS kolam renang yang dekorasinya cantiiiik sekali.

Keempat, adalah saat Rhodes akhirnya mengalah dengan egonya, dan menjemput Annie di pernikahan Lilian. Suka banget saat Annie yang norak, minta sirine mobil polisi Rhodes dinyalakan selama mereka ada di dalamnya, hehe..

Terakhir, saya suka adegan percakapan Annie dan Lilian di kafe. Keduanya ngobrol ringan soal kebiasaan Annie yang selama ini hobi menjalin hubungan tanpa status dengan cowok. Padahal kan umurnya sudah kepala tiga.

Lilian: You should make a room to someone who really nice to you, Annie.. | Annie: But he's hot. And we're just having fun. And I like that, Lil!

Film ini akan menyenangkan jika ditonton saat kita sedang agak galau. Efeknya benar-benar dramatis di hati, hehe.. Selamat menonton, ya.. Bagus kok filmnya :)

I Ever Had "D" As My Last Name


Hahaha.. The show last night in GBK took me to somewhere about ten years ago, when i'm in hi school with my mates Nindy and Meta. It feels like yesterday, you know. The days we shared our teenager's problems, about our complex love triangle (which actually never shaped triangle, haha.. We often love the same boy!), and how we loved Linkin Park much.

Yeah, at that time, i remember i crazily admired Brad Delson. He was cute, huh? I had his picture in my scrap books, i collect his poster from some magazines then i glue it into my wall.. So i can see the cute Mr.D all night long.

And I sometimes put his last name into mine. Hahaha.. Now it sounds a lil bit embarassing. But i couldn't forget how "D" stick in my name sometimes. At that time. And it works! My english course teacher thought "D" is the part of my name! Haha

And last night, i finally see Mr.D in that stage. It is really silly when i dont use my press card just to try and bet a chance to meet him in the backstage or maybe in their hotel. Well, actually i wanna do that. But somehow i don't.

Love you, Mr.D! Can I borrow your name again? I think Isma Savitri Delson is not that bad :) xoxo

Wednesday, September 21, 2011

Nonton Linkin Park, Akhirnya.. Sesuatu Banget!

Rasanya masih nggak percaya semalam saya nonton LP! Ya Tuhan.. akhirnya, setelah sepuluh tahun, saya nonton aksinya Mike Shinoda cs juga secara LIVE! Rasanya seperti mimpi. Bahkan sekarang saat beberapa jam sudah terlewati dan saya sudah tiduran di kosan sambil senyum-senyum kepikiran semalam :)

Suara saya masih habis banget ini, teriak-teriak pol semalam. Apalagi saat mereka nyanyi lagu dari Hybrid Theory dan Meteora. Teriak seancur-ancurnya deh. Hehe.. Rasanya masih kepikiran terus suaranya Chester pas teriak "Shut up when i'm talking to you. Shut uuuuuuup!!" hihihi.. masih ingat juga suara beratnya Mike, seksinya Brad, rock n rollnya Rob, tengilnya Joe, dan Phoenix, mmm.. nggak terlalu kelihatan dia semalam.

LP itu bukan sekedar band keren yang saya suka lagunya. Lebih dari itu, mereka adalah salah satu band legenda bagi saya, yang pernah menjadi bagian masa SMA saya dengan dua sahabat saya, Nindy dan Meta. Yah, kalau ada tiga konser yang ingin saya tonton, ketiganya adalah The Moffatts, Westlife, dan Linkin Park. Hihihi..

The Moffatts adalah bagian masa culun saya sebagai anak SD. Dan Scott Moffatt adalah lelaki pertama yang mukanya saya pajang di kamar. Hehe.. Scott juga yang membuat saya yang masih SD nggak bisa bobok semalaman (don't ask me what kinda thing of Scott Moffatt which made me crazy.. i really have no idea, actually.. hihi)

Tapi nggak mungkin sepertinya nonton The Moffatts, hiks.. Mereka sudah bubar. Scott dan Dave entah di mana. Begitu juga Bob dan Clint, meski keduanya sempat bikin Same-Same. The Moffatts ini bikin Vitri saat SD ekstrakeras nabung buat beli majalah Kawanku yang ada artikel dan pin-up nya mereka ^_^

Westlife memang akan konser bulan depan. Tapi karena sudah ada banyak planning pada Oktober, hardly to say i decide to missed their concert.. Pengin banget sebenarnya nonton Shane Fillan dkk manggung di Jakarta. Mereka adalah idola masa ababil saya saat SMP dulu. Saat saya masih suka cemburu nggak jelas, kalau ada teman saya yang juga naksir Shane. Hee.. berasa miliknya mau direbut gitu, deh.

Dan sekarang, saya sedang nggak bisa menghentikan bibir saya dari tersenyum berlebihan, mengingat penampilan LP semalam. Yah, walau proses ke GBK sangat nggak mudah, karena saya sampai maghrib masih harus liputan di Pengadilan Tipikor, hehe.. Panik tingkat tinggi, of course.

Ujungnya saat Iboy, teman saya dari beritasatu.com, bilang kalau lagu Breaking the Habit sedang dinyanyiin Chester. Well, obviously i know their concert will have begun at 8 pm. Tapi apa sih yang nggak di-degdeg-in kalau sedang panik? Apalagi beritanya Andi Malarangeng belum saya ketik semua. Huaaaa.. hahahaha..

Putri, teman saya dari MICOM, sempat nanya, saya ngetik berita apa. Saya hanya menggeleng, karena memang lagi nggak bisa mikir. Haha.. Dan Iboy kembali nanya liriknya LP, yang Somewhere I Belong. Dan saya jawab asal aja karena sedang panik gilaaaa..

Masalahnya tiket saya kan ada di Nindy (Meta nggak jadi nonton dong, karena ada ujian!!). Saya nggak enak sama Nindy kalau harus nungguin saya datang. So, saya putuskan cabut dengan Novi ASAP, sementara di dalam taksi saya sibuk tak-tik-tuk berita.

So there we are! Saya dan Nindy, di konser Linkin Park. Dengan Chester, Mike, Brad, Joe, Rob, dan Dave di panggung-nya Big Daddy. Sepuluh tahun membawa banyak perubahan bagi kami; LP, saya, dan Nindy.

Sepuluh tahun lalu, saya dan Nindy adalah remaja tanggung yang belum kenal dandan dan dress up sama sekali. Sementara Chester cs pun masih pria-pria seperempatan abad yang ranum-ranumnya. Dan sekarang, sepuluh tahun setelah itu, mereka nggak ubahnya cowok-cowok matang yang siap dipetik. Eaaaa..

Chester masih saja imut seperti dulu. Saya suka gayanya semalam yang cuma pakai jeans dan singlet putih. Itu deh tato-tato di badannya kelihatan semua. Hehe.. Boleh lah ya, Chester udah 35 yrs. Tapi tetap saja muka imutnya itu nggak bisa disembunyiin. Suaranya doi juga masih oke gilaaaaaaa! Bikin merinding yang denger.. saya sempat berbisik ke Nindy.. "Cuy, suara begini kalau ngaji atau adzan keren kali, ya..." hehehe..

Si Novi dong, pulang konser kayak orang mabuk. Megang botol aqua (orang kagak bakal ngerti itu aqua kalau jalannya di komplek GBK yang gelap) sambil jalan doyong, dan nyanyi lagunya LP, dan sekali-sekali dia ngeracau soal Chester. wkwk

Sementara saya dan Nindy nggak henti membahas physical attraction of Rob Bourdon. Well, dia menjelma rock star dengan rambut barunya yang gondrong sebahu. Rambutnya yang rada mirip Kurt Cobain itu membuat sex appeal Rob tiba-tiba menguar. Oh God, dia seksi sekali sih dengan rambut gondrongnya.. Dulu mah dia culun, hahaha.. sorry to say, Ndy!

Yap, secara fisik, dulu saya memang sukanya sama Brad Delson. Brad itu punya badan yang selera sayaaa banget. Kurus-kurus kenceng. Wekekekeke.. dan semalam dia memakai outfit yang menunjukkan badan bagusnya, yaitu kaos kutung yang bisa menonjolkan lengan kekarnya. Yuhuuuuu.. seksi banget sih elo, Om.. apalagi pas ada guitar session di seperempat akhir konser.

Kalau Mike.. saya suka tingkat kematangan dia sekarang! Hoho.. Dulu mah Mike masih ababil dengan rambut warna-warninya itu. Tapi semalam? Saya kehabisan kata-kata menjelaskannya.. dengan kemeja kotaknya itu, brewok tipis itu, Mike menjelma lelaki paruh baya yang seksi. Misterius, dan unreachable. Sampai selesai konser, saya belum bisa mendefinisikan betapa kerennya Mike sekarang.

Oke, sekarang saatnya mengistirahatkan pita suara saya. Anyway, tks buat LP. Lezat banget konser kalian, guys!!

Ini foto-foto Konser LP yang saya ambil dari tribunnews.com yang dijepret fotografer Dany Permana :) saya nggak bisa motret karena kamera saya ada di Adis, hehe..

Chester Rock! I like his performance in One Step Closer
Rob's great session is after In The End
Can you imagine him screaming outloudly for about 2 hours?
Hahaha.. i love this Jewish :)
The duet! They're deadly amazing when sing When They Come For Me!

Monday, September 19, 2011

Malam di Sebuah Jalan

sudah larut
gemerisik akasia bertaut
di ujung jalan itu dirimu
tersenyum padaku dalam pelukan atap lazuardi

daun-daun serupa cahaya gempita
membujur menceritakan tentang kita
katanya, kita serupa cahayanya
serupa gempitanya
tapi dalam lindung terangmu, aku tersesat

Sunday, September 18, 2011

Feminis = Lesbian? Who Said??

Makasih buat Bang Foke yang udah membuat masyarakat semakin sensitif jender! Hehe.. Senang deh, sekarang semua orang jadi membicarakan "rok mini" di mana pun. Di angkot, di kantor, di mushala kantor, di twitter, di Facebook.. Wow!

Bahkan hari ini, 18 September 2011, ada gerakan rok mini di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat. Saya sebenarnya pengeeen banget ngeliput acara itu. Tapi ternyata Arie yang disuruh ke sana. Btw, tahu nggak apa komentar Arie sesampainya di kantor? "Kayaknya mereka pada lesbi-lesbi gitu deh.. Aneh soalnya," kata Arie.

Dengar dia ngomong gitu, saya sampai menunda wudlu. Jengkel sih, hehehe.. "Jangan anggap orang feminis itu lesbi, Ri. Feminis boleh aja menerima kehadiran lesbi. Tapi bukan berarti mereka itu semuanya lesbi," kata saya.

Kembali ke zaman ambil mata kuliah Komunikasi Gender, saya ingat ada salah satu gelombang feminisme yang sedikit radikal. Mereka, saking radikalnya, sampai "memutuskan" untuk membenci laki-laki dan memilih perempuan sebagai pasangannya. Aliran feminisme radikal sempat mapan setelah era feminisme liberal di Amerika Serikat.

Nah, meski masih ada di bawah atap feminisme, aliran anti-diskriminasi jender terbagi dalam sejumlah -isme. Isme-isme itu sebagian masih eksis hingga kini. Di antaranya feminisme radikal, eksistensialisme, dan posfeminisme. Saya pribadi cenderung cocok dengan feminisme eksistensialisme yang dibawa Simone de Beauvoir dan kekasihnya, Jean Paul Sartre.

Simone de Beauvoir
Eksistensialisme ala Beauvoir membuat saya mendefinisikan kembali, siapa saya sebagai manusia. Siapa saya sebagai perempuan, siapa saya sebagai kekasih, siapa saya sebagai seorang anak, dan siapa saya tanpa laki-laki. Bisakah saya "ada" tanpa harus menjadi bagian dari definisi ayah saya, dan pacar saya?

Sambil jalan, saya sempat menggilai posfeminisme, terutama gagasan oposisi biner yang dibawa Helene Cixous. Bahwa kita perempuan adalah lemah, inferior, pasif, kalem, sementara laki-laki adalah kuat, superior, aktif, dan agresif. Oposisi biner itu kita anut karena menjadi bagian dari kesadaran palsu (false consciousness) yang mapan di ruang patriarkat. Gagasan Cixous inilah yang akhirnya saya jadikan salah satu pegangan skripsi.

Saya pribadi tidak cocok dengan feminisme radikal. Saya kurang sepakat dengan ide menolak kehamilan, yang sama halnya dengan menolak laki-laki. Terserah jika sebagian kawan merasa klop dengan aliran ini. Tapi saya merasa aliran feminisme radikal "bukan saya".

Yah, saya masih butuh laki-laki. Saya tidak bisa membenci mereka, betapapun sebagian laki-laki bersikap sangat menyebalkan. Hehe.. Betapapun mereka "oposisi biner" kita perempuan, saya masih mencintai laki-laki. Saya suka bentuk tubuh mereka, saya suka suara berat mereka, saya suka dada bidang mereka, dan saya suka jakun di leher mereka.

Pun meski saya tidak cocok dengan feminisme radikal-lesbian, saya merasa tidak berhak untuk menghakimi mereka yang menganut aliran tersebut. Apa sih salahnya jika mereka memilih menjadi lesbian? Ini masalah pilihan, bukan? Dan bukankah jika mereka memilih menjadi lesbian, mereka tidak sedang menyakiti orang lain?

Btw, yang membuat saya heran, kenapa sih banyak orang masih berpendapat perempuan yang punya pandangan feminis itu lesbi? Please, saya benar-benar nggak menemukan korelasinya mengapa sampai ada stigma seperti itu. Apalagi sekarang juga semakin banyak lelaki feminis (love u guyssssss!! Hehe). Apakah mereka lantas juga dianggap gay hanya karena meneriakkan kesetaraan jender? Hee... Piss ah :)

Friday, September 16, 2011

Rok Mini, Misogini, dan Kejahatan "Plat Kuning"

pearlsofbeauty.blogspot.com
Saya ingat malam itu. Di sebuah gang sempit Salemba, Jakarta Pusat, saya sedang berjalan berdua dengannya. Saya akui, jalanan di kampung itu sangat sepi. Gelap. Dan di beberapa sudut jalan sejak jalan raya hingga kosnya, ada banyak lelaki yang sedang bercengkrama.

Kalau saya berjalan sendiri, sumpah saya takut. Bukan karena apa-apa, tapi karena saya memang tidak suka gelap. "Kamu ngapain sih kos di sini? Ngeri tempatnya," ujar saya pada dia yang berjalan di samping saya. Dia cuma senyum. "Ya aku kan cowok, ngapain takut?" jawabnya sok 'iye'.

Pas lagi ngomong gitu, ada mbak berusia sekitar 28 tahun berjalan ke arah berlawanan dengan kami. Dia memakai riasan cukup tebal. Rok kuning yang dia kenakan tingginya di atas lutut, sehingga kaki jenjangnya tampak begitu sempurna. Saya melirik cowok di samping saya. Cuma iseng sih, untuk lihat reaksinya terhadap si mbak.

Ternyata dia emang ngelirik (hahaha.. Ya iyalah..). "Berani banget ya mbaknya lewat jalan sepi kayak gini pake rok mini gitu. Kalau diapa-apain kan ga salah yang ngapa-ngapain.." kata dia, kalem.

Saya langsung melotot. "Heh, biarin aja napa, dia pake rok mini? Toh emang dia seksi. Trus kenapa kalau dia pakai rok mini? Salah? Kalau dia diapa-apain karena itu, itu bukan salah dia. Emang dasar cowok yang ngapa-ngapain dia itu yang kurang ajar dan brengsek!"

Hahaha.. Kalau saya inget mukanya saat itu, saya masih aja geli. Raut wajahnya kayak berkata "kamu lagi PMS ya? nyolot banget??" hehe.. Tapi sumpah ya, emang saya jengkel banget sama dia saat itu. Emang nggak bisa ya, tidak menyalahkan tubuh perempuan sebagai sebab aksi kriminalitas?

Saya tiba-tiba ingat kejadian di atas setelah hari ini, 16 September 2011, Gubernur DKI Fauzi Bowo mengatakan perempuan sebaiknya tidak mengenakan rok mini di angkot. Sebab hal itu bisa "mengundang" pelaku kejahatan, entah dengan mencopet, ataupun memperkosa.

Pernyataan itu diberikan Pak Kumis setelah ada sejumlah kejadian perempuan di Jakarta yang naik angkot jadi korban perkosaan.

Pak Fauzi, kalau saudara Anda, atau putri Anda, atau mungkin pegawai Anda, yang kebetulan memakai rok mini suatu hari mengalami hal yang tidak mengenakkan, apa yang Anda rasakan? Apakah Anda ikhlas, jika publik berkata, "Pantes dijahatin. Pakai rok mini, sih!". "Coba nggak pakai rok mini, pasti nggak diapa-apain!".

Saya nggak mengerti, kenapa dari dulu sampai sekarang, tubuh perempuan masih disalahkan. Cara berpikir misoginis- membenci perempuan- masih saja langgeng meski peradaban semakin maju. Saya yang terlalu cerewet, atau memang orang yang terlalu malas mengubah persepsi?

Yang saya yakini sampai sekarang, pertama, kejahatan itu tidak memandang rok mini. Kenapa harus menyalahkan perempuan yang memakai rok, jika sebenarnya si pria pemerkosa bisa menahan dan mengelola nafsunya? Apakah seandainya ada laki-laki tampan dan seksi diperkosa, dia juga akan disalahkan karena ketampanannya?

Kedua, saya masih tetap memandang cara berpakaian adalah hak pribadi setiap orang. Oke, mungkin satu-dua kali tanpa sadar kita berkomentar miring soal selera fesyen orang. Saya pun pernah nyinyir saat melihat seorang artis pakai baju yang menurut saya "nggak banget". Tapi saya kemudian sadar. Suka-suka dia dong ya, dia mau pakai baju apa. Kalau dianya pede dan nyaman, kenapa saya harus ribut?

Itulah kenapa saya sering heran kalau ada orang yang begitu sibuk mengomentari baju si A yang terlalu terbuka, rok si B yang terlalu mini, atau si C yang pakai jilbab tapi celananya ketat. Oh please, apa sih ruginya si pengomentar kalau si A, B, dan C, selera fesyennya nggak sama dengannya? Hehe..

Lagian, biarin aja dong dia pakai rok mini. Kalau emang kakinya oke, kenapa nggak dipamerin aja? Kalau emang kaki-kaki telanjangnya itu bisa membuat dia pede dan mendapatkan apa yang diinginkan, kenapa enggak? Saya pikir setiap orang punya cara sendiri untuk mendapatkan keinginannya.

Biar perempuan sendiri yang mendefinisikan tubuhnya. Biar perempuan sendiri yang menentukan, apa yang dia ingin lakukan dengan tubuhnya. Biar perempuan yang memilih, apakah tubuhnya yang sudah didisiplinkan itu akan dia tutup dengan hijab, ataukah dibiarkan terlihat. Biarlah perempuan berkehendak.

Wednesday, September 14, 2011

Salahkah Ngajak Jalan Cowok Duluan?


Hihihi.. Saya diprotes teman saya, Ririn, karena bikin status nyeleneh di Facebook: Don't get tricked into asking him out. If he likes you, he will do the asking :). Kata Ririn, "berperspektif jender tapi kok konservatif" (kalau nggak salah begitu komen Ririn).

Sebenarnya, saya masang status itu di Facebook bukan tanpa alasan. Pertama, saya memang percaya bahwa kalau kita suka sama seseorang, maka kita akan berusaha untuk dekati dia. Sepasif apapun karakter kita. Jadi ini bukan masalah jender, he or she, man or woman, but it is about love. Hohoho..

Kedua, saya sengaja mancing komentar teman-teman cewek saya, bagaimana sikap mereka terhadap pernyataan itu. Dan.. Ternyata teman saya emang pada jalur yang sama dengan saya. Hehehe.. Tentulah memang nggak perlu cowok yang berinisiatif duluan untuk memulai sebuah hubungan.

Ini bukan perkara era globalisasi atau pemahaman jender. Bahkan sejak jaman sebelum Hijriyah pun perempuan tak mengapa berinisiatif lebih dulu. Ingat cerita cinta Nabi Muhammad SAW dengan Siti Khadijah, kan? Atau Nabi Yusuf yang ditaksir ibu tirinya? (walau ditolak sih, sama Nabi Yusuf. Wkwkwk)

Tapi kita tahu, ini bentuk lain dari meresapnya nilai-nilai inegaliter di ruang patriarkat. Lihat saja lagu-lagu Indonesia yang terang membagi peran lelaki dan perempuan. Saya benci lagunya Rosa yang judulnya "Ku Menunggu". Nggak perlu saya jabarin liriknya lah, karena sangat risih saya mendengarnya. Saya cuma pengin bilang sama Rosa; "Mbak, kalau emang sampeyan naksir ya udah gih sana bilang. Nggak perlu nunggu melulu. Mau nunggu sampai Mbak berjenggot?"

Saya nggak mau menyalahkan keadaan, menyalahkan budaya yang sudah ada sejak kapan, atau menyalahkan orang tua kita yang kadang masih begitu seksis dan patriarkis. Walau memang, sejumlah hal itu berkontribusi terhadap kokohnya pemikiran sebagian dari kita, bahwa memang lelaki dan perempuan ada di ruang yang berbeda.

Tapi bukankah kita diberi cukup waktu dan pengalaman untuk belajar?

Menyedihkan sekali rasanya melihat teman perempuan saya yang merasa teman lelakinya yang terus meledeknya dan menghinanya, sebenarnya sedang naksir padanya. Yes, one of three men use that stupid way to express his feeling. Tapi dua lagi?

Saya sedang belajar untuk membedakan mana laki-laki yang pantas dihormati, dan mana yang tidak. Laki-laki yang pantas dihormati tentu bukan orang yang tidak menghargai kita. Laki-laki yang pantas dihormati adalah orang yang menganggap kita adalah partnernya, bukan pelengkapnya. Bahwa kita adalah manusia yang punya kebebasan berkehendak, dan bahwa kita punya hak yang sama dengan dia sebagai manusia. That we were born as a human first, before we became a woman.

Ah, saya jadi kangen tiga dosen saya yang ajaib itu.. Mas Sunarto, Mbak Hapsari Dwiningtyas Sulistyani, dan Mas Triyono Lukmantoro. Pengin sekali bicarakan hal nggak penting tapi penting seperti di atas dengan kalian. Hehehe..

Koruptor dan Efek Psikologis Rakyat

Gubernur Syamsul Arifin - korupsi 8,9 miliar tapi cuma dihukum 2,5 tahun

Entah apa yang ada di benak para koruptor itu kala mendapat kebebasannya. Karena yang ada di benak tiap rakyat tentu sama. Kecewa. Dan kekecewaan itu terlampau pahit dan hampir selalu terbendung oleh tembok-tembok peraturan dan pemisahan kelas antara yang berkuasa dan yang dikuasai, serta antara yang menindas dan yang tertindas.

Tak ada yang dapat diperbuat rakyat selain derita psikis yang terus menerus. Bagaimana tidak, jika harapan rakyat agar para koruptor itu diganjar hukuman yang pantas, hampir selalu dipatahkan oleh vonis bersih dari pengadilan- entah bagaimana sistematika penilaian hukum atas bersih-tidaknya para koruptor itu.

Lagi-lagi, rakyat dibiarkan bertanya-tanya. Ada apa di balik semua kebebasan yang nyata-nyata berulang pada kesalahan yang sama, pada pihak yang sama. Ketika rakyat terus dibiarkan menonton parodi bebasnya koruptor, saat itulah keadilan di negeri kita menjadi penuh selubung. Di mana kedaulatan jika ada kejanggalan-kejanggalan peristiwa yang menyimpang dari kehendak rakyat?

Para koruptor itu juga bukan orang bodoh. Yang tak tahu bahwa perbuatan mereka menyalahi hukum dan merugikan pihak lain berskala besar, yaitu rakyat. Seolah, suka atau tidak suka, rakyat dipaksa untuk menerima bebasnya mereka sebagai salah satu drama kehidupan yang happy ending. Mereka mengondisikan hukum hanya sebagai alat pembayaran, dengan mereka adalah para protagonis yang terjebak keadaan.

Di sinilah terlihat ada ketimpangan dalam keadilan sosial. Di mana lagi terdapat hukum yang adil dan tak memihak? Di manakah rakyat harus mengadu jika nyaris tak  ada tempat untuk memperjuangkan hak dan keadilan yang bisa mereka percayai?

Kemurah-hatian hukum membuktikan itu semua. Bahwa hukum negeri ini tak mampu lagi dihadapkan pada masalah loyalitas dan tanggung jawab moral pada publik. Berbagai kasus yang terjadi seperti hanya numpang lewat. Padahal itu membekas sebagai tekanan psikologis yang amat kuat pada rakyat. Jika dibiarkan terus seperti ini, akan dibawa ke mana segala kesakithatian rakyat?

Pada akhirnya, cepat atau lambat, bangsa ini akan mengalami kejatuhan. Karena tak ada lagi “rakyat yang percaya pada pemerintah” dan “pemerintahan yang bersih dan bertanggung jawab moral pada publik”. Bahayanya, ada pada integritas bangsa. Sebab, sedikit celah akan digunakan rakyat untuk menggulingkan penguasa, akibat letupan-letupan kesenjangan sosial yang makin tak terkendali. Sementara rakyat menginginkan keadilan hukum, para koruptor itu juga masih akan terus berpetak-umpet mencuri uang rakyat sembari menghilangkan jejak.

Walau pemerintah berusaha tampil menenangkan hati rakyat dengan pembentukan KPK, namun itu tak cukup untuk menyembuhkan luka hati rakyat. Karena hingga kini pun, badan itu belum mampu memberikan penyelesaian-penyelesaian yang dinantikan publik. Memang membutuhkan waktu yang tak sesaat. Namun jika terus bekerja dalam diam, tentu akan membuat keresahan publik makin menjadi.

Tetapi memang sulit, meraih kembali kepercayaan rakyat yang telah terkikis, tanpa adanya bukti nyata hukum telah ditegakkan di negeri ini. Bahwa ada jaminan hukum: para koruptor itu akan menerima ganjaran sepahit derita psikologis rakyat.

His Name is Dimas Anggara :)

kriwilnya bikin gemes
perfect nose, hehe
nice arm :)
outstanding smile, hohoho
Saya nggak tahu kenapa pengen nampangin mukanya di sini, hahahaha...

Sunday, September 11, 2011

Apakah Ini Jenuh?

Perasaan teramat lelah karena sudah menempuh jalan panjang, dengan jeda istirahat yang selalu terasa kurang?

Ketika kau seperti tak sanggup lagi berlari jauh.

Ketika hatimu terus mengaduh dan tubuhmu selalu ingin bersauh..

Ketika yang terpikir di hati hanyalah keluh?

Rasanya seperti sudah berpuluh-puluh tahun, meski yang mengada hanya setahun.

Rasanya seperti berhenti bernafas sepenggalan hari, meski nyatanya hanya dua kali ketukan jari.

Rasanya seperti terikat jemari-jemari tali, meski kaki masih sanggup menari-nari..

Tebet,
12 September 2011

Friday, September 9, 2011

What's Wrong With Me, eh??


Saya nggak tahu apa yang terjadi. Rasanya cuma seperti berada di waktu yang tepat, di sebuah hutan pinus yang sangat teduh dan nyaman, tapi kamu merasa tidak tahu jalan keluar.

Di hutan itu kamu bertemu seseorang yang entah dari mana, sama tersesatnya dengan kamu. Lalu kalian mulai berbagi cerita, saling menguatkan, saling menjaga, dan sama-sama mencari jalan pulang. Kalian terus berjalan bersama, tertawa bersama..

Saya lagi kenapa ya? Kok nggak nyaman banget rasanya. Did i start to love him? Plis, i won't.. Saya membayangkan, kalau ini sinetron macam FTV gitu, pasti saya lagi ada di kamar sambil bengong menatap ke luar jendela, dan lagunya Letto jadi backsoundnya. "Dan aku mulai takut terbawa cinta.. Menghirup rindu yang sesakkan dada.."

Hahahaha.. Nggak enak banget rasanya, kalau bener saya mulai suka sama dia. Doh, jangan dong Tuhan..

Sorry I Love U: Kejarlah Idola Sampai ke Negeri Korea!

Nonton film ini saya jadi inget teman saya Gustidha yang sangat menggilai apapun tentang Korea. Kanaa, tokoh cewek film ini, pun begitu. Ia sangat terobsesi pada aktor Korea bernama Ajoo. Bahkan, Kanaa nekat berangkat ke Korea demi bisa ketemu idolanya.

Namanya juga film, Kanaa akhirnya ketemu dong sama Ajoo! Kayak kejatuhan durian deh dia. Di Korea, Kanaa yang didampingi dua sahabat lakinya, Chai dan Won, berpetualang selama beberapa hari bersama Ajoo. Satu hal yang buat saya terganggu nonton film ini adalah suaranya Kanaa! Kayak ayam kejepit pintu. Udah gitu gayanya manja dan sok dimanis-manisin. Hoekk.. *gue yang sirik apa ya? Haha

Setelah kenal lebih jauh, Ajoo tertarik pada Kanaa. Tapi hubungan mereka nggak berlanjut karena Kanaa harus pulang ke Thailand. Kesempatan kedua datang saat Ajoo menggelar konser di negerinya Kanaa. Sayang, kesempatan itu justru digunakan Ajoo untuk mengatakan pada Kanaa, bahwa mereka sebaiknya bersahabat saja. Soalnya Ajoo artis gitu lho (males banget sama alasannya).

Kanaa yang ditinggalin gitu langsung lemes lah. Tapi (saya nggak tahu gimana awalnya. Nggak dijelasin) tiba-tiba dia sadar, kalau cinta sejatinya adalah Chai, sobat yang selama ini selalu ada buat dia, bahkan selama Kanaa sedang bersama Ajoo.



Dudul banget sutradaranya di bagian ini. Oke lah dia menjelaskan bagaimana Chai selama ini diam-diam naksir Kanaa, dan bagaimana dia selalu berupaya menyenangkan hati Kanaa meski sahabatnya itu nggak pernah sadar. Tapi offside-nya, sutradara nggak menjelaskan bagaimana Kanaa akhirnya menyadari "keberadaan" Chai. Hehehe..

Parahnya, penutupnya sangat maksa. Cuma narasinya Kanaa (dengan background ruang kosong. ???) yang kurang lebih bunyinya seperti ini:

Kadang cinta sejati adalah orang yang berada di dekat kita. Kita tidak menyadarinya sampai suatu saat dia pergi dari sisi kita. Baru setelah itu kita akan ingat betapa dia menyayangi kita, selalu memberikan perhatian dan waktu, rela berkorban, dan memberi tanpa mengharapkan apapun.. <== kayak ciri-ciri pahlawan ya? Hehe

Kalau memang suka drama Thailand, boleh lah nonton film ini. Nilainya 2,5 dari skala 5, menurut saya. Tapi kalau bukan Thai Movie addict, saya sarankan nonton film lain aja. Sawadee..

Saranae Siblor: Kover Ceria, Isi Hantu Semua

Saya nggak tahu arti judul film ini apa. Tapi dari kovernya sih rada menggoda. Soalnya pemeran utamanya Mario Maurer, si cowok Crazy Little Thing Called Love, hehe.. Tapi akhirnya saya tertipu!

Saranae Siblor ternyata film horor. Uh menyebalkan sekali. Saya nonton ini pake adegan tutup mata pake remote (walo nggak membantu karena remote kan kecil. Hiks) dan mempercepat adegan-adegan seremnya.

Astaghfirullah, baru kali ini saya nonton film Thailand yang berhantu. Dan ternyata memang nggak banget. Huhuhu.. Hantunya serem-serem mukanya. Dan sungguh cara kemunculannya sangat meneror jiwa-raga T_T

Genre Saranae Siblor menurut saya adalah comedy horror. Soalnya film ini mengemas horor dengan lelucon-lelucon jayus yang slapstick. Yah khas Thailand lah. Tapi tetap saja film ini membuat saya nggak tenang nontonnya. Untung aja pemainnya Mario Maurer. Jadi cerah-ceria deh, hehe..

Film ini berkisah soal Ake, cowok belasan tahun yang dianggap gay sama ayahnya. Ake pun akhirnya diminta "berguru" ke sang paman, Che, seorang sopir truk yang tengil abis. Che selama ini hidup nomaden ditemani dua cowok kembar, IOD dan OOD, yang tugasnya nganterin barang ke segala penjuru Negeri Gajah.

Sepanjang perjalanan, banyak hal nggak terduga mereka alami, yang sebagian besar di antaranya adalah pengalaman serem ketemu hantu. Hiks. Ake sendiri akhirnya jatuh cinta sama pegawai kasir 7-11 bernama BB. Sempat kencan bareng, BB akhirnya membuka kedoknya. Dia ternyata arwah penasaran :'(

Itu si cewek yang ternyata hantu

Wow.. Keren amat ya ada hantu jadi kasir di 7-11. Wkwkwk.. BB diceritakan meninggal karena tertabrak oleh Che saat masih anak-anak dulu. Jayusnya, ada adegan ala Transformer di sini. Jadi tiba-tiba, truknya Che berubah jadi semacam Megatron yang menyerang Che. Nah yang menjalankan "Megatron" ini arwahnya BB. Doooh, jayus banget dah.

Saya putuskan, setelah menaruh DVD ini ke tempatnya, saya nggak akan menontonnya lagi. Mending nonton Crazy Little Thing Called Love lagi deh (untuk keberapa kalinya saya lupa), daripada film ini..

I Love It: Belajar Menerima Kekurangan Diri dan Orang Lain

Huhuhu.. Jujur aja saya nggak terlalu mudeng film ini. Jadi maaf kalau saya salah menceritakan, apalagi me-reviewnya. Hehe.. I Love It sepertinya drama Thailand baru. Soalnya pas waktu itu saya googling, nggak nemu penjelasan apapun soal film ini. Jadilah saya meraba-raba jalan ceritanya. Hee..

I Love It adalah satu film yang merangkum banyak cerita. Kisah pertama soal Choi, cowok yang punya adik perempuan autis. Nah di tengah upayanya merawat sang adik, Choi juga sedang berjuang mengkreasi instrumental baru bersama dosennya (saya lupa namanya. Tapi si dosen ini sangat mirip hakim MK Arsyad Sanusi, wkwkwk).

Choi dan dosennya sampai piknik ke hutan, sungai, laut, demi bisa nemu inspirasi. Tapi menyatukan pandangan keduanya agak susah. Karena Choi punya selera yang agak "keras" dan kontemporer, sementara sang dosen suka musik klasik dan sangat memuja "bisikan alam" untuk musiknya. Seperti apa musik paduan mereka nantinya?

Tempat Pak Guru cari inspirasi
Kisah kedua soal perempuan yang membesarkan anak lelakinya seorang diri. Saya agak bingung deh, sebenarnya si perempuan ini, suaminya yang tentara masih hidup atau nggak. Soalnya ada adegan dia didampingi seorang laki-laki, tapi adegan lain menggambarkan dia sedang menebar abu di laut. Tauk deh. Hehe..

Yang bagus dari cerita ini adalah bagaimana si perempuan berjuang membesarkan putranya seorang diri, dan si putra yang cenderung tidak pede karena sering diledek miskin oleh teman-teman di SD-nya. Keduanya ini hidup di perkampungan muslim yang kayaknya berisi orang Indonesia (soalnya ada suara azan, dan beberapa kali dialog dengan Bahasa Indonesia seperti 'terima kasih' dan 'mari ikut saya makan siang').

Nah, di akhir cerita, si ibu muda ini sadar, bahwa dia sebagai single fighter, dengan segala keterbatasan, nggak boleh menyerah membesarkan putranya. Duh, adegan si ibu nonton pagelaran wayang si anak bener-bener bikin terharu..

Cerita ketiga berkisah tentang seorang kakek penjual sepatu handmade yang kesepian. Anak lelakinya sangat menyebalkan, egois, dan tampak tidak menyayanginya. Namun suatu hari datang seorang perempuan muda yang menyayanginya sebagai kakek. Perempuan yang tidak punya kakek, dan seorang kakek yang dicuekin anaknya. Klop lah mereka saling menjaga satu sama lain.

Film ini sebenarnya bagus, sayang narasinya nggak cukup kuat untuk menyampaikan ide cerita. Anyway, ada dua hal yang bikin saya betah nonton film ini. Pertama, pemeran cowo (yang punya adek autis) ganteng. Kedua, film ini sering pamer viewnya Thailand yang keren banget! Hohoho..

Thursday, September 8, 2011

Lulla Man: Warkop DKI Versi Thailand

Masih ingat tingkah konyol trio cowok mesum Dono-Kasino-Indro? Nah Lullaman ini versi Thailand dari Warkop DKI. Bedanya, pemainnya Lullaman ada yang ganteng satu. Wkwkwk. Nonton film ini, saya berasa balik ke zaman SD, saat pulang sekolah langsung bengong nonton Warkop.

Kalau dulu pas nonton Warkop suka rada dongok karena nggak ngerti guyonan orang dewasa, sekarang nonton Lullaman berasa humor joroknya biasa aja. Hihihi.. Lumayan lah, tanpa perlu pusing-pusing mikir, bisa ketawa ngikik sepanjang cerita.

Lullaman berkisah tentang tiga sahabat: Tan, Joon, dan Tu. Nggak tahu kenapa, tiga cowok genit ini tinggal serumah plus istrinya. Bisa kebayang dong suasananya kayak apa. Nah, meski udah pada punya bini, ketiga cowok itu tetap aja "jajan" di luar. Nggak kehitung deh, ada berapa perempuan yang mereka pacarin di luaran.

Nonton film ini, pesan saya satu: nggak usah pakai pusing! Hehe.. Kalau dinikmati secara ringan, saya jamin deh, LullaMan bisa bikin kita tertawa terus sepanjang film. Guyonannya memang nggak cerdas, sih. Slapstick banget. Tapi beneran deh bikin ngakak melulu :D

Sepanjang film kita disuguhi kelakuan nakal Tan dkk, dan cara-cara licik mereka mengakali sang istri yang menanti di rumah. Bete banget sih karena perempuan di sini benar-benar jadi objek dan diposisikan inferior. Tapi mau gimana lagi ya, saya nggak bisa nahan geli lihat ulahnya Tan cs yang parah-parah.


Yang saya pelajari dari film ini cuma satu. Jangan sampai percaya sama lelaki, apapun perkataannya. Hahaha.. Mungkin memang dia sedang berkata jujur. Tapi lebih mungkin lagi dia berbohong. Wkwkwk.. Nilainya? 7 dari 10 (",)

Wednesday, September 7, 2011

Friendship: Kisah Cinta Tak Sampai

Mituna (Apinya Sakuljaroen) adalah gadis yang sangat pendiam. Bahkan di kelas 3 di SMA-nya yang baru, ia tak banyak bicara. Nggak ada yang tahu kenapa dia menutup diri. Bahkan dua cewek satu geng-nya pun, Kanda dan Jazz, nggak tahu kenapa Mituna begitu tertutup.

Adalah Singha (Mario Maurer) yang akhirnya mencari tahu siapa Mituna sebenarnya. Singha ini sejak awal tampak tertarik pada Mituna yang manis dan misterius. Tapi dasar cowok ababil, Singha dan empat cowok se-gengnya pun cuma bisa meledek Mituna terus-terusan, dengan mengatakan Mituna anak jenderal yang bisu. Hedeeeh..

Sampai akhirnya, Singha tahu keadaan keluarga Mituna yang menyedihkan. Ia dan teman-temannya pun mulai berhenti meledek Mituna. Bahkan, gengnya Mituna dan gengnya Singha jadi kompak dan sahabatan. Di situlah Singha mulai makin dekat secara personal dengan Mituna.

Sayang mereka nggak sampai pacaran. Saat akhir tahun ajaran, mereka justru pisah karena Mituna pindah ke desa, dan ayah Singha yang polisi dipindahtugaskan ke luar kota. Singha dan Mituna pun akhirnya kehilangan jejak satu sama lain.

Film ini alurnya mundur, karena mengambil adegan awal tahun sekarang, saat Singha dkk, Kanda, dan Jazz, sudah dewasa. Reuni yang digelar membuat Singha kembali berharap akan bertemu Mituna, untuk mencari jawaban yang belum sempat ia dapat saat SMA dulu. Sayang, yang ditunggu-tunggu nggak juga datang.

Apakah Singha akhirnya bertemu Mituna? Kenapa dulu Mituna pindah ke desa tanpa pamit pada Singha? Kenapa Mituna tak datang ke reuni SMA? Dan seperti apa dia sekarang? Apakah mereka akhirnya bersama?

Jawaban pertanyaan-pertanyaan itu dijejalkan sutradara di sepuluh menit terakhir film. Hmmm.. Saya sebenarnya berharap ending yang lebih "sopan" dari yang disuguhkan sang sutradara. Tapi ya sudahlah, mungkin sutradaranya punya alasan yang jauh lebih baik karena membuat ending yang sedemikian rupa :'( Ups, sorry to give you too much spoilers, hehe

Film ini Thailand banget deh menurut saya. Baik dari alur ceritanya, humornya, maupun pengambilan adegannya. Sayang sekali endingnya menyesakkan dada. Ya sudahlah, sepertinya next movie yang harus saya tonton adalah film komedi. Supaya bisa mengembalikan mood :)

Monday, September 5, 2011

Friends with Benefits: 'TTM' is Suck

Kesan pertama nonton film ini adalah, OMG.. Nggak ada ide lain apa, hah? Jujur lama-lama eneg dengan cerita drama komedi romantis akhir-akhir ini yang so typical. Bagi yang udah nonton, tentu sadar. Friends with Benefits punya jalinan cerita yang 11-12 sama No String Attached :(

Yap! Untuk kesekian kalinya, masalah teman tapi mesra (TTM) diangkat jadi topik film drama. Bedanya FWB dengan NSA cuma pada kondisi ayah si tokoh utama yang diceritakan mengidap alzheimer. Selebihnya? Yah, diubah sedikit-sedikit, lah. Ibarat nulis berita, si FWB ini kloning dari NSA. Hehehe..

FWB bercerita soal Dylan (Justin Timberlake) yang bersahabat dengan Jamie (Mila Kunis). Mereka punya karakter yang bertolak belakang. Kalau Dylan adalah tipe cowok realistis yang menganggap sex seharusnya diperlakukan seperti permainan tenis (ouch!), Jamie adalah tipe cewek yang rada terobsesi punya kisah percintaan kayak di film romantis.

"Two people should be able to have sex like they're playing tennis. It is just a game. You shake hands and get on with your shit.." [Dylan]

"Gosh I wish my life was the movies sometimes.. You know, I never have to worry about my hair.. And then, when I'm at my lowest point, some guy would chase me down the street, pour his heart out, and we'd kiss.." [Jamie]


Tertarik satu sama lain, Dylan dan Jamie sepakat having sex. Tapi sebelumnya mereka membuat kesepakatan bahwa mereka nggak akan melibatkan emosi. It means, they had a great sex almost every single day without losing their friendship.

Semua awalnya berjalan mulus, sampai akhirnya ada miskomunikasi di antara mereka. Tanpa sengaja Jamie mendengar Dylan memberitahu kakaknya bahwa ia tak mungkin memacari Jamie. Alasannya? Karena Jamie cuma cewek kacau dan 'rusak'. Hal itu membuat Jamie tersinggung, dan akhirnya mulai menghilang dari hidup Dylan.

Then the drama started. Dylan akhirnya sadar dia udah sangat kehilangan Jamie. Dia pun memberi Jamie kejutan, dengan menempatkan perempuan itu dalam situasi seperti di film romantis, sesuai keinginan Jamie. Bisa ditebak lah ya, Jamie luluh akhirnya. Hahahaha.. Klasik banget.

Jadi kesimpulannya, film ini menurut saya biasaaaaa banget. Nggak ada yang touchy. Plus dialog antartokohnya entah kenapa hambar dan cethek. Nggak ada humor-humor menyenangkan yang biasanya ada di drama komedi.

Yang lumayan menghibur adalah endingnya, saat Dylan berlutut di hadapan Jamie. Saya awalnya ngira Dylan sedang melamar Jamie sebagai istrinya. Ternyata enggak. "Would you be my friend again?" begitu tanya Dylan (padahal Jamie sudah GR).

"So where will we go now?" Jamie asked.
"Have a first date!" Dylan answered.


Yang saya dapat setelah menonton film ini adalah bahwa memang status TTM itu bohong dan munafik banget kalau nggak ada salah satu pihak yang merasa jatuh cinta pada pihak lainnya. Oke, saya percaya itu. Tapi yang harus selalu diingat adalah bahwa TTM beda dengan persahabatan.

Saya tipe yang percaya kalau cowok-cewek bisa bersahabat tanpa salah satunya harus jatuh cinta. Ya karena memang persahabatan itu tidak mengenal jender. Saya justru sedih melihat orang yang bawaannya curiga melulu sama cowok-cewek yang bersahabat. Walau memang, ada beberapa kawan yang patut dicurigai karena menyembunyikan perasaannya di balik selimut persahabatan. Hahaha..

Thursday, September 1, 2011

When You Love Someone But It Goes to Waste..


Hei kawan apalah gunanya engkau sedih begitu
Kau tak tahu dari dulu ia slalu menunggu
Tak sadarkah kau bila ia sangat menginginkanmu
Slalu ada disisimu hingga kau pun berlalu
Pikirkanlah kawanku
Jangan kau buang waktu


Jangan kau pernah tanya siapa yang patut kau cintai
Karna kau takkan pungkiri
Semua ingin kau miliki
Tak sadarkah kau bila ia sangat mencintaimu
Slalu ada disampingmu
Hingga kau pun berlalu


Kini ia tiada dan engkau pun merana
Sesal tiada artinya
Hancurlah hatimu
Musnah tinggal debu
Engkau pun tiada berdaya...

[Naif - Musnah Tinggal Debu]

Lagunya Naif ini saya dedikasiin buat teman saya, Rasty -bukan nama sebenarnya. Kenapa? Karena setelah teman saya yang lain, Bimo, curhat ke saya, saya jadi merasa Rasty selama ini sudah terlalu jahat pada Bimo. Saya bukannya belain Bimo. Tapi karena saya tahu hubungan keduanya, maka saya bisa bilang begitu.

Bimo naksir Rasty sudah sejak empat tahun lalu. Bukan waktu yang sebentar, untuk sebuah upaya menaklukkan hati seseorang. Selama itulah Bimo nggak berhenti mengambil hati Rasty. Segala usaha dia coba lakukan. Saya tahu sendiri, Bimo selalu setia mendengarkan Rasty saat curhat soal Eko, pacar Rasty.

Ya, Rasty memang nggak single. Bimo tahu hal itu, namun dia tetap nggak bisa suka sama cewek lain. So itulah yang terjadi. Bimo hanya bisa berusaha menjadi teman yang baik bagi Rasty. Dia selalu menuruti apa yang Rasty minta. Dia belikan Rasty apa saja yang sedang diinginkan teman saya itu. Sampai suatu hari, Rasty putus dari Eko.

Saya dan kawan lainnya semula menebak, Rasty pada akhirnya akan luluh pada Bimo. Dia akan menganggap Bimo tak sekadar teman baik, tapi pacar. Sampai akhirnya saya lulus dan kerja di Jakarta, saya nggak tahu perkembangan hubungan mereka. Saya cuma tahu, Bimo masih saja mengejar-ngejar Rasty. So kesimpulannya, Rasty belum juga jadian sama Bimo.

Sampai beberapa hari lalu, Bimo curhat pada saya. Dia bilang, hatinya hancur. Rasty sebentar lagi akan menikah dengan orang lain [kata Rasty pada Bimo, calon suaminya dari kalangan orang kaya. | saya: kenapa sih harus ngomong kayak gitu, Ras? Nggak banget, tau..].

Dan yang membuat Bimo sedih, Rasty sebelum ini sempat seperti memberinya harapan. Itulah yang membuat Bimo setahun terakhir rela beberapa kali menempuh ratusan kilometer demi menemui Rasty. Itulah yang membuat Bimo selama ini tidak membuka hati untuk perempuan lain. Tapi nyatanya, via situs jejaring sosial, Rasty membunuh harapan Bimo.

Sebagai teman, saya nggak tahu harus menghibur Bimo seperti apa. Saya cuma bisa bilang, "Coba ikhlas, Bim. Karena cuma cara itu yang akan mengobati rasa sakit kamu."

Yah, saya tahu Bimo kasihan karena cinta empat tahunnya nggak terbalas. Tapi mau gimana lagi. Bukannya memang saat kita jatuh cinta, kita juga harus siap untuk terluka? Saya jadi ingat lagunya Coldplay yang judulnya Fix You..

"When you love someone but it goes to waste.. Could it be worse?"

Just Go With It: Tentang Cinta Datang Terlambat [Lagi]

Sebuah kebohongan, pasti akan ditutupi dengan ratusan kebohongan lain. Itu yang saya pelajari selama ini, dan yang saya tangkap saat menonton film drama komedi romantis Just Go With It. Saya sebenarnya nggak ngeh film ini pernah ada di lapak DVD. Heran juga. Padahal yang main lumayan terkenal. Kayak Adam Sandler, Jennifer Aniston, dan Nicole Kidman.

Film ini sumpah deh lucu banget. Saya ketawa lumayan sering ngelihat guyonan verbal dan slapstick dari trio itu. JGWI berkisah soal Danny Maccabee (Sandler), pria yang selalu sukses menaklukkan perempuan dengan cara aneh: pura-pura berposisi sebagai suami yang dikhianati istrinya. Dan herannya, para cewek hampir selalu jatuh simpati pada sosok Danny yang sudah nggak single lagi [yeah, we woman sometimes too dumb to love that kinda man].

Danny yang berprofesi sebagai dokter bedah plastik punya asisten bernama Catherine (Aniston), janda dua anak yang cuek banget sama penampilannya. Suatu hari, pacar Danny yang cantik dan berusia 23 tahun bernama Palmer, minta dikenalin ke mantan istrinya Danny. Tentu dong Danny kalang kabut.. Nggak mau kebohongannya terbongkar, dia pun minta Catherine mengaku sebagai istrinya di depan Palmer. Sukseskah upaya Danny mengelabui Palmer?

Yang membuat film ini tambah oke, settingnya di dua pertiga terakhir film adalah di Hawaii! Indah banget.. Di negara bagian Amerika itulah Danny malah sadar kalau yang dia suka tu bukan Palmer, tapi Catherine. Oke, i know it is so usual story. Cowok-cewek sudah kenal lama, tapi baru sadar belakangan kalau mereka sebenarnya saling suka. Tapi yang membuat film ini sedikit beda adalah dialog-dialognya yang lucu, manis, dan kadang cerdas. Nggak nyesel deh nontonnya :)

*Ini dialognya calon istri Danny dengan 'mantan' istri Danny...
Palmer: I think he still loves you
Catherine: Why?
Palmer: Because, his eyes always glowing when he near you. And he laughs your jokes, but he doesn't laugh at mine

*Danny said to Catherine:
I will start my life with the one i love. But the problem is, she is not there. Just you which real in my life. Palmer is beautiful.. But she is not you..