Wednesday, September 14, 2011

Salahkah Ngajak Jalan Cowok Duluan?


Hihihi.. Saya diprotes teman saya, Ririn, karena bikin status nyeleneh di Facebook: Don't get tricked into asking him out. If he likes you, he will do the asking :). Kata Ririn, "berperspektif jender tapi kok konservatif" (kalau nggak salah begitu komen Ririn).

Sebenarnya, saya masang status itu di Facebook bukan tanpa alasan. Pertama, saya memang percaya bahwa kalau kita suka sama seseorang, maka kita akan berusaha untuk dekati dia. Sepasif apapun karakter kita. Jadi ini bukan masalah jender, he or she, man or woman, but it is about love. Hohoho..

Kedua, saya sengaja mancing komentar teman-teman cewek saya, bagaimana sikap mereka terhadap pernyataan itu. Dan.. Ternyata teman saya emang pada jalur yang sama dengan saya. Hehehe.. Tentulah memang nggak perlu cowok yang berinisiatif duluan untuk memulai sebuah hubungan.

Ini bukan perkara era globalisasi atau pemahaman jender. Bahkan sejak jaman sebelum Hijriyah pun perempuan tak mengapa berinisiatif lebih dulu. Ingat cerita cinta Nabi Muhammad SAW dengan Siti Khadijah, kan? Atau Nabi Yusuf yang ditaksir ibu tirinya? (walau ditolak sih, sama Nabi Yusuf. Wkwkwk)

Tapi kita tahu, ini bentuk lain dari meresapnya nilai-nilai inegaliter di ruang patriarkat. Lihat saja lagu-lagu Indonesia yang terang membagi peran lelaki dan perempuan. Saya benci lagunya Rosa yang judulnya "Ku Menunggu". Nggak perlu saya jabarin liriknya lah, karena sangat risih saya mendengarnya. Saya cuma pengin bilang sama Rosa; "Mbak, kalau emang sampeyan naksir ya udah gih sana bilang. Nggak perlu nunggu melulu. Mau nunggu sampai Mbak berjenggot?"

Saya nggak mau menyalahkan keadaan, menyalahkan budaya yang sudah ada sejak kapan, atau menyalahkan orang tua kita yang kadang masih begitu seksis dan patriarkis. Walau memang, sejumlah hal itu berkontribusi terhadap kokohnya pemikiran sebagian dari kita, bahwa memang lelaki dan perempuan ada di ruang yang berbeda.

Tapi bukankah kita diberi cukup waktu dan pengalaman untuk belajar?

Menyedihkan sekali rasanya melihat teman perempuan saya yang merasa teman lelakinya yang terus meledeknya dan menghinanya, sebenarnya sedang naksir padanya. Yes, one of three men use that stupid way to express his feeling. Tapi dua lagi?

Saya sedang belajar untuk membedakan mana laki-laki yang pantas dihormati, dan mana yang tidak. Laki-laki yang pantas dihormati tentu bukan orang yang tidak menghargai kita. Laki-laki yang pantas dihormati adalah orang yang menganggap kita adalah partnernya, bukan pelengkapnya. Bahwa kita adalah manusia yang punya kebebasan berkehendak, dan bahwa kita punya hak yang sama dengan dia sebagai manusia. That we were born as a human first, before we became a woman.

Ah, saya jadi kangen tiga dosen saya yang ajaib itu.. Mas Sunarto, Mbak Hapsari Dwiningtyas Sulistyani, dan Mas Triyono Lukmantoro. Pengin sekali bicarakan hal nggak penting tapi penting seperti di atas dengan kalian. Hehehe..

No comments:

Post a Comment