Thursday, March 26, 2015

Jingga Senja di Pulau Idaman

Senja di Pulau Idaman
Namanya Pulau Idaman, tapi lebih dikenal dengan sebutan Pulau Tai Manuq. Manuq dalam bahasa Mandar bukanlah burung, melainkan ayam. Dinamakan begitu karena mitosnya ayam jago raksasa milik Sawerigading -tokoh epos La Galigo- sempat buang hajat di sana. Eek si ayam itulah yang konon berubah jadi pulau kecil berjuluk Tai Manuq. Olala..

Kata Tri Suharman, penduduk setempat, *halah lho penting banget* Pulau Idaman adalah tempat yang cocok untuk para pemburu sunset. Tak heran kalau banyak orang mengunjunginya menjelang senja, entah sekadar duduk sore, memancing, maupun bersepeda.

Ya, di area dermaga kita bisa sepedaan sembari menikmati suguhan deret pegunungan, laut, Pulau Idaman yang mungil, sekaligus matahari terbenam. Asyik banget, memang. Sayangnya saya enggak bawa sepeda, sih. Ya udah akhirnya cuma duduk geje sambil melihat school fish berlarian di air laut yang sangat jernih.



Pulau Idaman berlokasi di Palipi, Kecamatan Sendana, Majene, Sulawesi Barat. Jaraknya sekitar 38 kilometer dari Kabupaten Majene. Sebenarnya, pantai dan laut adalah hal yang jamak di sana. Tapi di Pulau Idamanlah orang berduyun-duyun datang, karena "tawaran" sunsetnya yang kece.

Saya sendiri sempat sekilas merasa sedang berada di Tongging, Danau Toba. Entah apakah karena laut di sekitar Pulau Idaman begitu tenang. Ditambah ada gunung-gunung hijau yang bikin hati tenang.


Kalau mau ke Pulau Idaman, kita bisa naik perahu yang ada di sekitar dermaga. Tapi menurut informasi, katanya Pulau Idaman bisa ditempuh dengan jalan kaki saat air laut surut. Gila sih, tapi katanya begitu. Sebabnya, perubahan ketinggian air laut di sini cukup ekstrem.

Sore itu saya enggak menyeberang karena pengin motret-motret saja sambil duduk cantik. Tapi setelah pulang, nyesal juga kenapa enggak menyeberang. Apalagi katanya, Pulau Idaman yang luasnya enggak sampai 1 hektar itu punya pasir putih dan terumbu karang yang keren. Bahkan kadang kita bisa bertemu penyu juga lho kalau beruntung *kode bakal minta ke sana lagi pas di Majene*

baca juga:
Yang Unik dari Majene, Sulawesi Barat
Lezatnya Kuliner Khas Majene, Gogos dan Jepa
Pantai Dato Majene: Tebing Karang, Ombak, dan Pasir Putih


Sunday, March 15, 2015

Numpang Ngguyu

Saya lagi merasa buruk hari ini. Tadi sahabat saya, Ivin, bercerita soal seseorang yang pernah dekat dengan saya. Sebut saja inisialnya M. Kata Ivin, M ini sekarang jadi calo PNS dan sempat diuber-uber sahabatnya sendiri karena melarikan duit Rp 70 juta milik si sahabat.

Semula ada secuil dari benak saya yang "plong". Seolah merasa "Oh jadi begitu sekarang nasib si M yang dulu pernah bikin gue sakit hati enggak karuan? Haha..".

Tapi pikiran itu cuma bertahan tiga menit. Setelahnya saya malah merasa jahat dan enggak tega sendiri. Saya enggak tahu seperti apa hidupnya sekarang, berapa gaji peneliti, apakah istrinya menekan dia sedemikian rupa, ataukah ketiga anaknya -yup dia berekor tiga- perlu banyak biaya.

Yah begitulah. Akan selalu ada orang yang merasa bersyukur dan tertawa ketika kita sedang dilanda musibah. Padahal dia yang sedang tertawa, bisa jadi nasibnya tak baik-baik amat dan sedang ditertawakan orang lain juga.

Urip pancen mung sawang-sinawang.

Friday, March 13, 2015

Pantai Dato Majene: Tebing Karang, Ombak, dan Pasir Putih

Pantai Dato Majene, Sulawesi Barat.
Para aktivis Instagram wajib ke sini. Itu yang ada di benak saya saat menyambangi Pantai Dato, sebuah destinasi di Kecamatan Banggae, Sulawesi Barat. Sebabnya, pantai ini punya banyak sudut yang fotogenik.

Ini semacam perpadanan antara Tanah Lot, Bali, dengan Tanjung Bira, Sulawesi Selatan yang sayangnya masih sunyi dari pengunjung, bahkan penduduk setempat. Mungkin para jong Celebes sudah biasa banget ya, melihat pantai. Enggak kayak gue yang lihatnya macet mulu ^_^

pasir (nyaris) putih

Memang pantai yang seksi semacam hal yang "lumrah" di Sulawesi. Tapi tetap saja, semua tempat punya kekhasan sendiri yang bikin kita hepi ada di sana.

Lansekap Pantai Dato terbagi menjadi dua bagian, yakni pantai dengan karang-karang raksasa dan pantai beralaskan pasir putih yang lembut. Kalau ingin memotret pemandangan pantai dari atas bisa saja. Kamu tinggal naik melewati tangga menuju karang besar yang cukup luas. Dari atas karang, wah, jangan ditanya pesona pemandangannya. Bikin gemeteran saking luar biasanya *lebay dikit ya kak*

Bisa dibilang Pantai Dato punya banyak kelebihan untuk dijadikan tempat leyeh-leyeh saat sore. Selain punya pasir putih dan batu karang, pantai ini juga punya ombak yang tidak terlalu galak. Jadi kita bisa bermain dan berenang di pinggir pantai sembari menunggu matahari tenggelam di sana.

Ujung tebing Pantai Dato yang menjorok ke laut
Akses tangga menuju tebing
Hati-hati melangkah di tebingnya
Eciyeee
Sayangnya, pantai ini sekarang semacam tak terawat. Kondisi tangga yang menjadi akses menuju pantai, serta tangga naik ke karang tinggi, nyaris rusak. Untung deh badan masih sehat jadi enggak perlu doyong-doyong melewatinya. Pantai ini juga masih sepi dari cottage atau sekadar warung kopi. Jadi yaaaa kalau mau ke sini, kita mesti bawa bekal sendiri. Saya aja jadi terpikir buka warung makan di sana, hakhakhak

Kalau mau ke pantai ini kamu mesti sering bertanya pada penduduk sekitar, karena lokasinya tersembunyi dan tak ada papan nama yang mengarahkan ke sana. Tapi tak apalah, anggap saja tantangan sebelum menemukan pantai kece, kan?

Menuju ke sana sebenarnya enggak rumit-rumit amat. Kita bisa naik motor atau mobil dari pusat kota Majene. Kira-kira memakan waktu hanya 10-15 menit-an. Jika kita dari arah tugu pejuang Majene, di samping Pusat Pertokoan, tinggal menyusuri jalan ke arah Tinambung (perbatasan Majene-Polman).

Penanda yang paling gampang adalah kantor Polres Majene. Setelahnya ada jalan sebelah kanan. Nah, masuk terus sampai nemu pertigaan. Dari situ udah dekat kok, tapi disarankan untuk bertanya supaya tidak kesasar kayak saya :D

Thursday, March 12, 2015

Yang Unik-Unik dari Majene, Sulawesi Barat



Saya enggak pernah menyangka, penjelasan yang diberikan si pacar soal kampung kelahirannya memang betul. Hahahaha… Bukannya enggak percaya sama dia sih, ya. Tapi masa iya sih ada tempat yang sebelah kanannya gunung, sebelah kirinya laut? Keren amat.

Ternyata ada, sodara-sodara. Majene adalah salah satu kabupaten di Sulawesi Barat, yang bisa dibilang kalah terkenal dibanding kabupaten lain di sana. Siapa hayo yang enggak kenal dengan Mamuju, Polmas (Polewali Mamasa), dan Polman (Polewali Mandar)? Kalau rajin nonton acara berita di SCTV saban tengah malam, pasti deh sering dengar Polewali Mandar. Entah karena banjirnya, atau soal kasus kriminalitasnya. Hehehe..

Nah, tapi kalau Majene, sepertinya jarang ada yang tahu. Tapi wajar saja, sebab kabupaten ini memang pemalu. Majene, kata pacar saya, adalah kabupaten terkering dan termiskin di Sulbar. Sementara Polman, Polmas, dan Mamuju sudah mulai maju dengan sumber daya alam dan perdagangan, tidak demikian dengan Majene.

Majene adalah tempat yang asyiiiiiiik banget untuk menyepi, karena memang benar-benar sepi. Saya membayangkan daerah-daerah di Laos sesepi ini. Mobil dan bus aja jarang-jarang lewatnya. Asoy kan ya, tenang pisan di sana.

Sepii

Warung pinggir jalan
Kesan pertamanya sendiri, selain daerah yang sepi, adalah bahwa Majene ini islami. Majene sendiri artinya berwudlu, atau membersihkan diri sebelum sembayang. Keislamiannya saya rasakan lewat beberapa hal.

Pertama, saat naik bus Pipos dari terminal Daya Makassar menuju Majene. Begitu bus akan berangkat, tiba-tiba ada seorang kakek tua pakai baju koko dan peci masuk dan berdiri di dekat posisi sopir. Saya awalnya mengira si kakek ini bakal minta sumbangan. Apalagi doi bawa segepok kertas macem dokumen gitu. Eh ternyata..

“Assalamualaikum.. Marilah sebelum berangkat, kita sejenak meluangkan waktu untuk berdoa bersama. Berdoa, mulai..”

Jreeengggg. Saya yang bengong lalu nengok ke samping. Pacar saya kelihatan angkat dua tangannya untuk berdoa. Begitu pun mbak-mbak yang duduk di belakang saya. Menengok ke luar bus, tampak Eri, adik si pacar, menertawakan saya sambil mengangkat dua tangannya. Ia memberi tanda bahwa saya mesti melakukan hal yang serupa.

Akhirnya saya pun baca Al Fatihah dan Ayat Kursi. Kelar amin, saya buru-buru nanya ke si pacar. Ternyata, memang demikian aturannya. Ada sesi baca doa bersama dulu sebelum bus berangkat. Yang lucu lagi, di bus Pipos, laki-laki dan perempuan yang tak saling kenal, tak boleh duduk bersebelahan. Bukan muhrim, kakaaak..

Bus Pipos
Lalu ada lagi nenek penjaga toilet di terminal Pare-pare yang bus kami singgahi di perjalanan. Si nenek itu udah mangkal di sana sejak pacar saya masih SMA. Dia biasa berdiri atau duduk di toilet, dengan mata terpejam seolah sedang tidur. Tapi jangan sekali-sekali kamu mengecohnya, karena doi ini semacam punya mata batin. Mau bukti? Coba saja kelar pipis lewatin dia tanpa membayar sejumlah duit. Pasti dia –masih dengan mata merem- bakal nyeletuk, "Sudah, nak? Seribu..” Wakakaka

Nenek penjaga toilet di Terminal Pare-pare
Islaminya Majene juga terlihat saat mama, tante, dan para sepupu pacar saya menjemput kami saat turun dari bus. No no, bukan karena kami ini tamu kehormatan atau artis. Tapi karena si pacar datangnya berdua dengan saya. Sementara di Majene, laki-laki dan perempuan enggak boleh berdua-duaan. Apalagi itu jam 3 pagi. Yah, enggak selamanya wajah polos saya ini berguna buat ngeles kalau-kalau dicegat sama akamsi..

Di Majene juga kita sebaiknya pakai pakaian yang sopan. Singkirkan dulu celana pendek dan kaos hula-hula (cuma saya yang tau maksudnya ngahahaha) saat ke pasar tradisional, atau pun main ke rumah sodara yang rumahnya tetanggaan. Penduduk di sini pakaiannya sopan-sopan dan tertutup, makanya akan aneh kalau kita nyeleneh sendiri di sana.

Soal alamnya, wah, empat jempol deh buat Majene. Betul-betul kece deh ini tempat. Saya cuci mata karena jalan dikit saja dari rumah sudah nemu pantai dan gunung. Belum lagi ada air terjun yang lokasinya enggak terlalu jauh dari pemukiman penduduk. Beuh, mantap banget. Cuma yah, karena gunung dan pantai sebelahan di sana, udaranya jadi agak gado-gado. Kadang bisa dingiiiin banget, tapi juga bisa mendadak panas membahana. Sering-sering saja pakai lotion biar kulit tetap mulus dan seksih.

Kalau mau ke Majene, kita bisa naik pesawat sampai ke Makassar, dilanjut naik bus dari Terminal Daya selama 7-8 jam sampai Majene. Bisa juga naik pesawat sampai Mamuju, dilanjut bus selama dua jam sampai Majene. Harga pesawat dari Jakarta ke Makassar mulai dari Rp 650 ribu. Sedangkan harga busnya yang AC Rp 120-150 ribu.

Baca juga: Kuliner Khas Mandar Sulawesi Barat

View dari warung pinggir jalan di Majene
Museum Mandar

Kuliner Unik di Sulawesi Barat: Gogos dan Jepa



cemilan khas Mandar : kui-kui, apang, dan putu
Beberapa tempat yang saya kunjungi untuk main, punya deretan makanan khas yang ajib. Salah satunya Majene, Sulawesi Barat. Buat yang belum tahu, Majene adalah tempat jatuhnya pesawat Adam Air beberapa tahun lalu. Kabupaten ini juga jadi “terkenal” lagi setelah beberapa jenazah kecelakaan Air Asia terseret arus ke sana.

Majene sebenarnya punya banyak hal menarik buat dikangenin (selain penduduknya, tentu. Eaaaa…). Kota ini sangat ganteng penampakannya, dan punya seabrek makanan enak yang bikin saya terus dan terus mengunyah sepanjang hari. Entah saya harus senang atau sedih karena ini, huehehehe…

Salah satu yang bikin ketagihan adalah gogos. Gogos ini mirip lemper, kalau di Jawa. Isinya ketan yang dibalut daun pisang. Sementara ketan dimasak dengan cara dikukus, gogos dibikin dengan dibakar. Hmmm.. Kebayang kan enaknya menyantap gogos hangat yang bungkusnya gosong dan bau arang gitu? 

gogos
Saya berjumpa kali pertama dengan gogos di pasar tradisional di Somba, kecamatan Sendana. Pagi itu, belasan gogos sedang dibakar oleh seorang nenek di depan rumah panggungnya. Begitu melihat buntelan gosong nan wangi itu, saya langsung menelan ludah. Anjir, dari baunya aja gogos ini udah bikin gemes.

Gogos banyak kita temui di sepanjang jalan Majene. Namun jangan kaget kalau rasanya berbeda, karena ada beberapa orang yang memasaknya dengan variasi. Di pasar misalnya, beras ketannya dicampur dengan beras merah. Sedangkan di pinggir jalan, gogos yang saya beli murni olahan tepung ketan.

Yang juga terkenal banget di Sulbar adalah jepa. Jepa adalah karbohidrat yang dibikin dari ubi kayu atau singkong. Karena bahannya tidak beras atau tepung, jepa ini sehat dikonsumsi. Apalagi oleh mereka yang punya masalah dengan kadar gula.

Bentuknya mirip pizza. Cara memakannya pun sama. Disobek dengan tangan, atau menggulungnya lebih dulu sebelum dilahap. Nah, yang harus kita tahu, jepa biasanya dimakan dengan dicocol Bau Peapi, ikan bakar, atau goreng, dipadu dengan sambal tomat khas Mandar. Artinya, kita bakal dipandang aneh kalau menyantap jepa dengan menuang sayur atau lauk berkuah di atasnya. 

jepa, sambal tomat, dan ikan terbang asap (tuing-tuing)
Mau bikin jepa sendiri di rumah juga bisa. Caranya, singkong atau ubi diparut dulu, lalu diperas sampai airnya hilang. Hasil perasan itu lalu diayak dan dicampur dengan parutan kelapa. Lalu adonan dituang di atas cetakan batu yang sudah dipanaskan dengan arang. Tak heran, kalau rasa jepa sangat gurih karenanya.

Adapun lauk yang sangat terkenal di Sulbar adalah Bau Peapi dan bau tiung-tiung (ikan terbang diasap). Bau Peapi adalah sayur ikan yang di masak dengan kayu untuk menambah kesedapan rasa. Ikan yang biasa digunakan adalah tongkol atau cakalang. Kuahnya sendiri spesial, karena menggunakan kunyit, asam mangga dan minyak Mandar, yang membuatnya berbeda dibanding sop ikan maupun pallu mara, masakan khas Makassar.

Biar rasanya lebih enak, kunyitnya jangan banyak-banyak. Saya kemarin sembrono menggunakan banyak kunyit saat memasaknya. Walhasil, rasanya malah jadi agak mirip mangut (sop ikan Jawa yang bersantan). Karena pakai asam mangga, kuah Bau Peapi agak kecut tapi sangat segar. Apalagi kalau memakannya begitu kelar masak. Nyam nyamm…

Songkolo atau nasi ketan, di Sulbar dimakan dengan ikan dan telur dadar lho...