Thursday, March 12, 2015

Yang Unik-Unik dari Majene, Sulawesi Barat



Saya enggak pernah menyangka, penjelasan yang diberikan si pacar soal kampung kelahirannya memang betul. Hahahaha… Bukannya enggak percaya sama dia sih, ya. Tapi masa iya sih ada tempat yang sebelah kanannya gunung, sebelah kirinya laut? Keren amat.

Ternyata ada, sodara-sodara. Majene adalah salah satu kabupaten di Sulawesi Barat, yang bisa dibilang kalah terkenal dibanding kabupaten lain di sana. Siapa hayo yang enggak kenal dengan Mamuju, Polmas (Polewali Mamasa), dan Polman (Polewali Mandar)? Kalau rajin nonton acara berita di SCTV saban tengah malam, pasti deh sering dengar Polewali Mandar. Entah karena banjirnya, atau soal kasus kriminalitasnya. Hehehe..

Nah, tapi kalau Majene, sepertinya jarang ada yang tahu. Tapi wajar saja, sebab kabupaten ini memang pemalu. Majene, kata pacar saya, adalah kabupaten terkering dan termiskin di Sulbar. Sementara Polman, Polmas, dan Mamuju sudah mulai maju dengan sumber daya alam dan perdagangan, tidak demikian dengan Majene.

Majene adalah tempat yang asyiiiiiiik banget untuk menyepi, karena memang benar-benar sepi. Saya membayangkan daerah-daerah di Laos sesepi ini. Mobil dan bus aja jarang-jarang lewatnya. Asoy kan ya, tenang pisan di sana.

Sepii

Warung pinggir jalan
Kesan pertamanya sendiri, selain daerah yang sepi, adalah bahwa Majene ini islami. Majene sendiri artinya berwudlu, atau membersihkan diri sebelum sembayang. Keislamiannya saya rasakan lewat beberapa hal.

Pertama, saat naik bus Pipos dari terminal Daya Makassar menuju Majene. Begitu bus akan berangkat, tiba-tiba ada seorang kakek tua pakai baju koko dan peci masuk dan berdiri di dekat posisi sopir. Saya awalnya mengira si kakek ini bakal minta sumbangan. Apalagi doi bawa segepok kertas macem dokumen gitu. Eh ternyata..

“Assalamualaikum.. Marilah sebelum berangkat, kita sejenak meluangkan waktu untuk berdoa bersama. Berdoa, mulai..”

Jreeengggg. Saya yang bengong lalu nengok ke samping. Pacar saya kelihatan angkat dua tangannya untuk berdoa. Begitu pun mbak-mbak yang duduk di belakang saya. Menengok ke luar bus, tampak Eri, adik si pacar, menertawakan saya sambil mengangkat dua tangannya. Ia memberi tanda bahwa saya mesti melakukan hal yang serupa.

Akhirnya saya pun baca Al Fatihah dan Ayat Kursi. Kelar amin, saya buru-buru nanya ke si pacar. Ternyata, memang demikian aturannya. Ada sesi baca doa bersama dulu sebelum bus berangkat. Yang lucu lagi, di bus Pipos, laki-laki dan perempuan yang tak saling kenal, tak boleh duduk bersebelahan. Bukan muhrim, kakaaak..

Bus Pipos
Lalu ada lagi nenek penjaga toilet di terminal Pare-pare yang bus kami singgahi di perjalanan. Si nenek itu udah mangkal di sana sejak pacar saya masih SMA. Dia biasa berdiri atau duduk di toilet, dengan mata terpejam seolah sedang tidur. Tapi jangan sekali-sekali kamu mengecohnya, karena doi ini semacam punya mata batin. Mau bukti? Coba saja kelar pipis lewatin dia tanpa membayar sejumlah duit. Pasti dia –masih dengan mata merem- bakal nyeletuk, "Sudah, nak? Seribu..” Wakakaka

Nenek penjaga toilet di Terminal Pare-pare
Islaminya Majene juga terlihat saat mama, tante, dan para sepupu pacar saya menjemput kami saat turun dari bus. No no, bukan karena kami ini tamu kehormatan atau artis. Tapi karena si pacar datangnya berdua dengan saya. Sementara di Majene, laki-laki dan perempuan enggak boleh berdua-duaan. Apalagi itu jam 3 pagi. Yah, enggak selamanya wajah polos saya ini berguna buat ngeles kalau-kalau dicegat sama akamsi..

Di Majene juga kita sebaiknya pakai pakaian yang sopan. Singkirkan dulu celana pendek dan kaos hula-hula (cuma saya yang tau maksudnya ngahahaha) saat ke pasar tradisional, atau pun main ke rumah sodara yang rumahnya tetanggaan. Penduduk di sini pakaiannya sopan-sopan dan tertutup, makanya akan aneh kalau kita nyeleneh sendiri di sana.

Soal alamnya, wah, empat jempol deh buat Majene. Betul-betul kece deh ini tempat. Saya cuci mata karena jalan dikit saja dari rumah sudah nemu pantai dan gunung. Belum lagi ada air terjun yang lokasinya enggak terlalu jauh dari pemukiman penduduk. Beuh, mantap banget. Cuma yah, karena gunung dan pantai sebelahan di sana, udaranya jadi agak gado-gado. Kadang bisa dingiiiin banget, tapi juga bisa mendadak panas membahana. Sering-sering saja pakai lotion biar kulit tetap mulus dan seksih.

Kalau mau ke Majene, kita bisa naik pesawat sampai ke Makassar, dilanjut naik bus dari Terminal Daya selama 7-8 jam sampai Majene. Bisa juga naik pesawat sampai Mamuju, dilanjut bus selama dua jam sampai Majene. Harga pesawat dari Jakarta ke Makassar mulai dari Rp 650 ribu. Sedangkan harga busnya yang AC Rp 120-150 ribu.

Baca juga: Kuliner Khas Mandar Sulawesi Barat

View dari warung pinggir jalan di Majene
Museum Mandar

No comments:

Post a Comment