Wednesday, June 25, 2014

Review Selamat Pagi, Malam: ..Karena Saat Malam, Kita dan Jakarta Lebih Jujur


Kita di Jakarta.

SUARA azan dari masjid terdengar nyaring dari dalam kamar, seolah menantang jiwa Cik Surya yang tengah sepi. Ia tertegun, setelah menemukan sepotong kertas bertuliskan nama Sofia di dompet almarhum suaminya, beserta sederet angka nomer telepon.

Hati Cik Surya remuk mendapati suaminya punya perempuan simpanan. Namun tetap saja Cik Surya -perempuan Tionghoa berumur 50an tahun itu- nekat melangkahkan kakinya ke Hotel Lone Star. Ia ingin bertemu Sofia, yang ternyata seorang penyanyi bar di hotel kelas bawah tersebut.

Kita masih di Jakarta.

Anggia, 32 tahun, baru saja balik ke Jakarta setelah bertahun-tahun tinggal di New York. Ia kaget mendapati kotanya berubah, tak seperti yang ia kenal dulu. Semua orang kini mendadak sibuk dengan ponselnya. Pun Naomi, kekasihnya saat di New York dulu, tak sudi lepas dari jejaring sosial saat mereka bertemu kembali di sebuah restoran kelas atas tengah kota. Padahal Anggia sedang sangat rindu.

Di restoran yang sama di Jakarta.

Indri, seorang pegawai di pusat kebugaran, tengah menanti Davit, cowok yang dikenalnya dari chatting. Demi bertemu dan mengencani pria kaya seperti Davit, Indri yang tak berduit berupaya keras tampil "wah". Sayang, Davit ternyata bertubuh jumbo, tak sesuai dengan wajah yang terpampang di foto profil. Indri yang kecewa, akhirnya malah berkenalan dengan Faisal, pelayan di restoran tersebut.




Setelah berkenalan dengan tokoh-tokoh itu, kita akan dibawa si sutradara, Lucky Kuswandi, bertemu dengan Sofia di bar Lone Star yang ramai dentum dangdut. Maka lewat suara gurih Sofialah kita diajak Lucky menjelajah kepahitan hidup mereka. Semalam saja.

Saya tidak mengalami cerita-cerita yang ada di Selamat Pagi, Malam. Tapi menonton film itu, saya tidak bisa tidak jadi gelisah. Jadi galau, jadi bertanya, mengapa semua orang berubah? Mengapa saya berubah?

Remah-remah adegan pada Selamat Pagi, Malam-lah yang membuat saya dan mungkin banyak orang lainnya, tersindir. Misalnya soal gaya hidup kelas atas yang artifisial, kebutuhan untuk diakui di media sosial, dan ketergantungan pada gadget. Sentilan itu dihadirkan Lucky secara simbolik tanpa terkesan menggurui (salah satu yang epic adalah adegan Indri beli paperbag merek terkenal di pinggir jalan, demi terlihat tajir saat masuk restoran).

Banyak obrolan segar yang nakal dalam film ini. Dan oh, itu sukses membuat kita terpingkal, atau kadang tersenyum miris. Humor satir soal hidup di Jakarta yang mungkin kerap kita alami (dan tertawakan dalam hati). Ya, di film ini, kita akan menertawakan hal menyedihkan, dan menangisi hal yang menurut sebagian orang menggelikan.

Mungkin benar kata Lucky, Jakarta, dan kita, lebih jujur saat malam. Saat akhirnya kita melepas "apa yang kita kenakan" pada siang hari. Saat kita akhirnya merasa lelah, sendiri, kesepian, rindu, kecewa, dan marah. Saat kita menyadari bahwa yang kita butuhkan adalah memaafkan diri sendiri dan berkompromi dengan nasib.

Setelah menonton film ini pun, saya seperti Naomi, yang langsung pamer di media sosial. Tapi bodo amatlah, saya cuma pengin orang lain juga menonton film ini. Tidak untuk gaya-gayaan seperti Indri tentunya. Hehehe.. Karena memang Selamat Pagi, Malam adalah film Indonesia yang kece setelah Sang Penari.

Penutup yang dipilih Lucky dalam film ini pun membuat saya campur aduk. Di panggung yang sudah sepi itu, Sofia menyanyikan lagu Pergi untuk Kembali dengan suaranya yang berat, sendu, dan istilah apa ya yang tepat untuk menggambarkannya.. membuat gundah. Detik-detik akhir film yang, seolah disediakan Lucky untuk membuat kita merenung dan menelusuri kembali, siapa kita. Dan apakah selama ini kita sudah terlalu berubah, seperti Jakarta.


PS: Ternyata saya sebioskop sama pemeran Cik Surya, Indri, dan mas resepsionis Lone Star. Tak bisa tidak, foto-foto deh. Cekrek! *teman-teman Naomi mode on*

Tuesday, June 3, 2014

Kamar


Kepada pintu

Tak usah berujar marah dengan derit yang menyebalkan. Seperti melolong pada keadaan yang tak bisa kau proteskan. Aku bisa melihatmu dari balik selimut merah jambu. Kau meronta. Pada kekasihku. Malam malam kau mengantuk dan kerap kupaksa engselmu bergerak. Kau suka dilewati angin pagi tapi benci membiarkan udara malam masuk bersamanya.

Kepada jendela

Umurmu sudah tua. Ada keriput di kulit kuningmu yang empat tahun lalu tidak separah itu. Kadang aku tahu kau ingin menasihatiku. Aku membacanya dari kacamu yang kadang enggan kututup meski sudah kupaksakan jariku menekannya hingga kemerahan. Kau merestuiku meniup debu-debu di tubuhmu. Tapi tak mau kenal kau dengan jemari lain malam malam. Mengantuk kau bilang.

Kepada tembok

Terima kasih Pak Tua. Kau diam meski kadang menangis. Menjadi basah yang membuat lembab. Kau bilang bersenang-senang adalah tugasku. Tak perlu hirau. Selama kau di sana, katamu, cinta boleh berpesta.

Ruang,
3 Juni 2014