Thursday, February 28, 2013

Surga di Utara

Di bawah payungan pohon utara kota malam itu, memandangi hujan.
Saat kita menjelma dua anak kecil yang saling bercerita.
Tak ada yang disembunyian, pun kekonyolan yang seperti kebiasaan.
Seperti kembali pada zaman saat taman bermain adalah surga.
Apalagi yang aku harap saat senyummu sudah kudekap?

Kamu mengingat aku dulu yang tak berencana membuat kisah denganmu.
Sesekali kau memprotesku dengan tawa, berhambur pelukan-pelukan kecil di antara.
Dingin selepas gerimis meremas sendi tulang-tulang, tapi aku merasa hangat.
Rasanya baru kemarin, saat aku hanya mengenalmu lewat nama.
Juga lewat kebencianku yang telanjang.
Sampai akhirnya kita bertemu di waktu yang Dia mau, dan aku jatuh cinta.
Kita jatuh cinta.

Di ujung itu pagi sudah menanti.
Genggam tanganku, mari kita berlari.

Tuesday, February 19, 2013

di tepi laut


Perjalanan ombak bermula di sana dulu,
Saat buih demi buih disulam dalam gelap yang gemuruh
Penuh rahasia.
Di bawah kaki langit yang tak kenal pesisir pantai

Hanya alun gelombang yang satu.
Digerayangi remah-remah hujan sisa musim yang lalu.

Seperti pasang yang tak mengenal siang yang panjang
Rinduku itu.


Padang, 9 Februari 2013

Review "Rectoverso": Memfilmkan Puisi Patah Hati

Abang tak kuasa menahan rindu. Emosinya meledak. Raungan tangisnya di pelukan sang bunda adalah bukti ia membutuhkan Leia. Sakitnya begitu dalam untuk cintanya yang sederhana. Kepatahhatian Abang, kesendiriannya, dilukiskan begitu haru oleh sang sutradara, Marcella Zalianty, dalam film pendek Malaikat Juga Tahu.

Fyi, Malaikat Juga Tahu adalah bagian dari film omnibus Rectoverso, yang diadopsi dari novel Dee Lestari berjudul sama. Selain Malaikat Juga Tahu, ada pula Curhat Buat Sahabat, Cicak di Dinding, Hanya Isyarat, dan Firasat. Keempat film itu masing-masing disutradarai oleh Olga Lidya, Cathy Sharon, Happy Salma, dan Rachel Maryam.

Jujur saja, saat membaca novelnya dulu, saya menikmati namun tak sampai tersedu-sedan. Namun begitu nonton film berdurasi sekitar 1,5 jam ini, hidung saya sampai mampet saking seringnya mewek. Marcella dkk, menurut saya, sukses mengemas "puisi-puisi" Dee ke dalam sebuah film.

Rectoverso disajikan secara interwoven, yakni satu kisah dengan kisah lain tampil silih berganti, namun tidak tuntas dalam satu kesempatan. Awalnya mungkin bingung dengan gaya tutur film semacam itu. Namun ternyata cara itu tokcer untuk Rectoverso yang bertagline "Cinta yang Tak Terucap". Begitu sampai bagian klimaksnya, "Bukkk!! Jder!! Huaaaaa..." dan kita pun dibuat sesenggukan tak berkesudahan..

Entahlah, mungkin memang film sifatnya personal. Ada kawan saya yang punya kesan biasa-biasa saja pada film ini. Namun bagi saya, film ini bisa konsisten meluluhlantakkan tampang garang saya, sampai akhirnya keluar bioskop sambil ngelap mata pakai tisu dan sibuk buang ingus. Hihihi..

Saya cerita sedikit soal kelima filmnya, ya. Yang pertama adalah Malaikat Juga Tahu. Bagian ini berkisah soal jatuh cintanya Abang (Lukman Sardi) pada Leia, perempuan yang ngekos di rumah Bunda (Dewi Irawan), ibu si Abang. Keadaan merumit setelah adik Abang, Hans (Marcel Domits) juga menaruh hati pada Leia.

Cerita kedua adalah Cicak di Dinding. Film ini mengenalkan kita pada seniman bernama Taja (Yama Carlos) dan Saras (Sophia Latjuba). Keduanya sempat menjalani some nights stand (soalnya bercintanya enggak cuma semalam sih), sampai pada suatu pagi Saras menghilang tiba-tiba. Setelah terpisah bertahun-tahun, keduanya bertemu lagi dalam kondisi yang rumit.

Saras dan Taja

Film ketiga adalah Curhat Buat Sahabat. Amanda (Acha Septriarsa) dan Reggie (Indra Birowo) bersahabat lama. Reggie lah yang selama ini menampung segala curhatan Amanda soal sederet pacarnya. Sampai akhirnya Amanda sadar, lelaki yang selama ini selalu ada buatnya adalah Reggie.

Keempat, Firasat, bercerita soal Senja (Asmirandah), yang punya kemampuan membaca petanda. Ia bergabung dalam Klub Firasat pimpinan Panca (Dwi Sasono), lelaki yang jago filsafat dan punya intuisi tajam. Suatu ketika Senja mendapat firasat, ia sekali lagi bakal mengalami kehilangan orang yang dia sayangi.

Sedangkan Hanya Isyarat menghadirkan lima orang backpacker yang kopi darat di sebuah daerah berpantai cantik. Pada suatu malam, kelimanya bertukar kisah pengalaman hidup masing-masing. Al (Amanda Soekasah) yang memendam perasaan pada Raga (Hamish Daud) dalam momen itu mengaku dirinya hanya bisa cinta diam-diam. Sebatas memandang punggung orang yang dikasihinya.

Dua film yang paling mengiris hati dan tanpa ampun membuat air mata terus keluar adalah Malaikat Juga Tahu dan Curhat Buat Sahabat. Luar biasa, saya bisa nangis sejak pertengahan hingga akhir film Rectoverso. Hahahaha.. Saya paling enggak kuat nahan nangis saat adegan Abang kehilangan Leia. Oh nooooo.. aktingnya Lukman Sardi sebagai pria autis dahsyat banget. Dia memang sangat jago mengaduk emosi dan membuat hati remuk..

Hati saya juga tercabik-cabik saat menonton Curhat Buat Sahabat. Aelaaaah.. Dialognya banyak yang mengena. Saya suka aktingnya Acha. Dia sangat asyik membawakan karakter Amanda yang easy going, ceriwis, sekaligus manja. Sayang, dia tampak terlalu muda untuk seorang Indra Birowo.


Amanda dan Reggie

Dialog yang sukses membuat air mata saya keluar untuk kali pertama adalah saat Amanda curhat soal pacarnya yang tidak pernah bisa menerima dia apa adanya. Kalau enggak salah kalimatnya: "Gue enggak pernah bisa sempurna di matanya...". Maaaaaaak.. Ciamik lah cara Olga Lidya mengemas film ini.

Tiga film lainnya juga bagus. Cuma ya sekadar bagus, tidak sampai membuat air mata meleleh berlebihan. Di antara ketiga lainnya, saya suka Cicak di Dinding karena jalan ceritanya yang tidak biasa. Saya juga suka ending film garapan Cathy Sharon ini. Memukulnya pas di sasaran. Membuat saya begitu takut berada di posisi Saras.



Ya intinya sih saya suka film ini. Selain karena saya penggemar film drama komedi romantis, juga karena formula filmnya yang mantap. Manis, puitis, dan melankolis tapi tidak murahan. Terserah kalau ada yang tidak menyukainya. Saya sendiri sepertinya bakal nonton lagi untuk kedua kalinya.

Saturday, February 9, 2013

Ultah Terempong

Helo.. Saya nulis artikel ini dari pesawat Lion Air jurusan Jakarta-Padang. Hehe.. Puji Tuhan, saya enggak ketinggalan pesawat. Btw, sebelum lupa, selamat ulang tahun untuk saya. Semoga panjang umur, sehat selalu, dimudahkan rezekinya, dan bahagia selalu. Amiiin.. *tiup telinga org sebelah krn gak ada lilin*

Fyi, ini adalah hari ulang tahun terempong saya sepanjang 26 tahun membina mahligai rumah tangga dengan kehidupan. Kenapa rempong, simak liputan wartawan Tempo Isma Savitri selama seharian berikut ini.

10.00 WIB, kamar kos di Tebet, Jakarta Selatan:
Saya ngolet dengan manis, setelah sukses tidur nyenyak. Kenapa bisa tidur nyenyak? Karena semalam dapet "hadiah" seru dari si pacar. Maaf enggak bisa bilang hadiahnya apa, karena udah sepakat untuk tutup mulut. Bwahahahaha..

Begitu bangun, saya membalas sejumlah pesan, entah lewat SMS, Twitter, Whatsapp, maupun BBM yang berisi ucapan selamat ulang tahun. Kelar ketak-ketik, saya menyeruput segelas White Coffee panas sembari membereskan kamar. Perlengkapan backpacking udah 90 persen. Saya bawa ransel Eiger kapasitas 20 liter dan sebuah tas cangklong.

10.30 WIB, warnet di Tebet:
Saya sempetin ke warnet sebentar untuk ngeprint itinerary dan beli amplop di Indomaret. Sampai di kos, saya selesaikan packing dan menyiapkan perlengkapan berangkat ke nikahan Ucay. Tak lupa untuk stamina (ciyehhh..) saya minum madu, Pocari Sweat, dan makan sejumlah rambutan (matekkk.. Saya jadi inget sampah kulit rambutan di kamar belum saya buang. Huhuhu..).

11.30 WIB, mandi:
Setelah Dian kelar mandi, giliran saya byarbyur bentar. Lima menit mandi, saya ganti baju, dandan, dilanjut shalat dhuhur jam 12.07 tet. Sambil ganti baju, saya BBM an sama pacar dan Dika untuk koordinasi.

12.15 WIB, makan di Warung Steak:
Saking laparnya, begitu datang saya langsung pesan tenderloin, kentang goreng, dan es teh manis. Si pacar bilang udah otw. Dika juga otw. Demi kemaslahatan umat, Dika saya suruh nunggu di KFC. Bwahahahaha.. Ampun, Masbro..

12.40 WIB, masih di Warung Steak:
Dika udah landing di KFC, sementara pacar belum juga nongol di WS. Saya yang panik, mulai naik asam lambungnya. Di BBM, si pacar bilang udah dekat WS. Fiuhhh

12.50 WIB, lagi-lagi masih di Warung Steak:
Si pacar datang. Tampangnya pucat. Keringetan abis. Saya yang lagi kesel, akhirnya batal ngomel-ngomel melihat mukanya. Dia bilang lagi sakit dan enggak kuat ngebut. Ohhh.. *pukpuk hihihi

13.15 WIB, menuju KFC:
Sebelum nyamperin Dika di KFC, saya nunjukin ke si pacar dulu tempat pijet langganan saya. Karena macet berat di daerah situ, saya baru sampai KFC 15 menit kemudian.

13.30 WIB sampai KFC:
Yaaak akhirnya ketemuan juga sama Mahardika Satria Hadi alias Diko, wartawan Tempo yang nama akun twitternya alay, yakni @dikonesia. Kami cukup lama menunggu taksi, sampai akhirnya menemukan Blue Bird kosong hampir pukul 13.45 WIB.

14.25 WIB sampai Sevel Mampang:
Gilaaaaa Jl.Soepomo sampai Pancoran macet berat. Saya pun menempuh perjalanan hampir satu jam untuk nyamperin Anton dan Pingit di Sevel Mampang. Saya dapet kartu ucapan cantik dari mereka loh. Hihihi.. Doa yang tertulis di dalamnya dudul banget, dah :p

15.30 WIB, Masjid At Takwa komplek Wiladatika Cibubur:
Dan yaaaak diiringi hujan badai di perjalanan, taksi kami sampai juga di tekape. Si Ucay ternyata masih didandanin. Saya pun panik banget, karena ingat flight saya jam 18.30. Takut enggak bisa kekejar :'(

15.45 WIB, Ucay datang:
Akhirnya Ucay datang juga.. Hehe.. Salaman, cipika-cipiki, dan foto 3x jepret. Udah, gitu doang! Hahahaha.. Setelah itu saya dan Diko langsung kembali ke taksi dan melanjutkan perjalanan ke bandara. Selamat ya Ucay dan Inuuu.. Bahagia selalu..

16.50 WIB, taksi ke Bandara:
Anindya Pithaloka alias Nindy alias @anindyaloka, di chat conference BBM tetiba bilang kalau dia enggak bisa ikut flight malam ini. Dia bilang mau reschedule besok, huhuhu.. Saya pun langsung panik dan otomatis asam lambung meningkat. Nindy telat karena dia hari ini wisuda master di Universitas Indonesia.

17.05 WIB, sampai Bandara Soetta:
Akhirnyaaa.. Sampai juga di bandara. Hahahaha.. Saya dan Dika yang kebelet pipis langsung buru-buru cari lobang buat dikencingin di Terminal 1B. Setelah lega, kami menuju loket Lion Air untuk check in dan urus reschedulenya Nindy. Belum beres urusan, si petugas Lion Air udah nyuruh kami buru-buru ke Gate B2 karena pesawatnya udah mau boarding. Glekk

18.35 WIB, flight ke Padang:
Dan yaa.. Akhirnya sukses enggak ketinggalan pesawat juga saya dan Diko. Makasih Tuhanku sayang. Tuhan memang Maha Asyik. Kelar pamit lewat BBM dan SMS ke sejumlah orang, saya pun pasang headphone Hello Kitty, dengerin mp3, dan nulis postingan ini. Dengan ini, backpacking Sumatrip pun resmi dimulai. Bismillah..

Monday, February 4, 2013

Dosa Maharani, Dosa Tubuh Perempuan

forthoseabouttoshop.ca
Nama Maharani mendadak sama populernya dengan bekas Presiden Partai Keadilan Sejahtera Luthfi Hasan Ishaq, maupun artis yang baru saja diciduk Badan Narkotika Nasional, Raffi Ahmad. Di tempo.co, berita soal dia bahkan selalu masuk deretan terpopuler.

Ngehitsnya nama Maharani bukan karena dia tokoh publik, tapi karena dia dibekuk terkait tokoh publik. Dibekuknya bukan karena dia melakukan tindak pidana, melainkan karena dia adalah subjek yang kecipratan duit hasil tindak pidana.

Bagi yang belum tahu, Mbak Rani adalah perempuan yang ditangkap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi di Hotel Le Meredien Jakarta. Di hotel itu, si mbak yang berstatus mahasiswa semester 1 universitas swasta, baru saja bercinta dengan Ahmad Fathonah, yang diduga tangan kanan Luthfi Hasan Ishaq.

Mbak Rani semula mendapat Rp 10 juta dari Mas Fathonah sebagai imbalan bercinta. Sayang, duit itu ternyata duit suap. Udah capek-capek bercinta, duitnya mau tak mau dia kembalikan ke KPK pula. Naas. Gupak pulut ora mangan nangkane, kalau orang Jawa bilang.

Kampus pun ikut menghukum dia. Setelah namanya digunjingkan sini-sana, kampusnya buru-buru cuci tangan: Mbak Rani dikeluarkan. Belum cukup rupanya, nama dan foto dia jadi objek hujatan dan candaan di media. Derita sepertinya begitu ingin dekat-dekat dengannya.

Saya enggak bohong, saya adalah satu dari banyak orang yang tertarik pada berita tentangnya. Kelakuan saya sekaligus bukti, seks dan affair adalah topik yang nilai human interestnya tinggi. Yang banyak clickers-nya, kalau kata media massa online.

Yang disayangkan adalah sosok Mbak Rani yang bergulir sebagai bahan guyonan. Banyak teman saya -entah lelaki maupun perempuan- yang BBM minta dikirimi foto Mbak Rani. Mereka juga kebanyakan lebih penasaran pada sosok Mbak Rani, dibanding kasus sapi impor itu sendiri.

Yang terjadi pada Mbak Rani adalah pengejawantahan kekerasan simbolik pada perempuan dalam budaya patriarkat. Helen Cixous dengan oposisi binernya menyebut, perempuan sejak dulu dilabeli karakteristik yang dikotomis dengan lelaki. Jika lelaki adalah kuat, superior, tangguh, dan keras, maka perempuan adalah lemah, inferior, tak berdaya, dan lembut.

Karena dikonstruksikan sebagai makhluk yang lembut, perempuan yang "nakal" tak hanya anomali, tapi juga tak ubahnya melanggar norma. Definisi nakal tentu berbeda bagi tiap orang dan negara. Tapi saya kira kita sepakat, makna nakal di Indonesia nyaris seragam: perempuan nakal adalah mereka yang melacur, minum arak, (bahkan) merokok, berpakaian minim, penggoda, dan tidak menghayati peran sebagai istri/ibu.

Mbak Rani bikin publik penasaran karena dia masuk kategori perempuan nakal versi masyarakat kita. Pernyataan yang kemudian muncul pun selaras dengan konstruksi itu: "Emang seksi dia. Tapi kurang cantik..", "Woh dia ayam kampus..", "Kok si AF mau sih bayar Rp 10 juta untuk cewek yang begitu doang fisiknya?".

Tubuh perempuan pun kukuh menjadi komponen yang mengatribusikan nilai-nilai kultural dalam identitas seseorang. Bahwa tubuh perempuan, pun yang sudah susah-susah didisplinkan, haram hukumnya menjadi "alat tukar". Tubuh itu mesti digunakan “sebagaimana mestinya”, seperti apa yang selama ini disepakati di masyarakat.

Mbak Rani yang tidak menjalankan kesepakatan masyarakat pun akhirnya masuk dalam kerangka mitos perempuan lajang yang jalang: antagonis, sinis, nakal, gatal, dan asosial. Karakteristik negatif itu muncul karena masyarakat yang sinis terhadap perempuan, terhadap tubuhnya, terhadap independensinya. Dan sayangnya, media ikut melestarikan nilai-nilai patriarkis tersebut.