Monday, August 31, 2015

Nyesek

Mungkin saya impulsif (semoga engga seperti Krisdayanti dan Aurel yang berantem di Instagram) karena memutuskan membuka laman ini ketika ah apa ya, saya sedih. Entah apa yang terjadi, saya hanya terlalu sakit dan nyesek melihat apa yang terjadi dan berubah pada diri seorang sahabat saya.

Saya kenal dia sejak SMA kelas 1, ketika kami masih remaja belasan tahun yang memilih baca komik, buku, dan novel-novel tebal dibanding nongkrong gaul atau pun nonton AADC berkali-kali. Ketika kami belum tau apa itu berharap pada orang yang dicintai (kalo pun pacaran ya buat keren-kerenan aja lah ya), berjuang untuk orang tersebut, apalagi jatuh karena perasaan itu.

disclaimer: buat yang merasa ini terlalu melankolik, please go away. *buka pintu*

Dia adalah salah satu sahabat saya yang paling cerdas. Ah ya, ngobrol apa saja dengan dia semacam nyambung walau kadang penuh intrik yang ujung-ujungnya nggak nyambung (maksudnya malah nyangkut ke mana-mana gitu) hehe.. Dia manis dan kalem dan mukanya "anak baik-baik" banget, enggak seperti saya yang kemampleng.

Sampai akhirnya kami masuk di kampus yang berbeda. Sahabat saya ini bertemu dengan seorang lelaki yang begitu menginginkan dia, sayang padanya, dan yah, pada akhirnya sahabat saya pun sayang padanya. Sayang mungkin, bukan jatuh cinta. Saya tau dari matanya yang semacam dapet tiket jalan-jalan ke Ladakh 20 hari gratis, alias bahagia luar biasa.

Tapi tatapan mata itu tak selamanya begitu. Ada momen sampai akhirnya, bulan demi bulan, tahun demi tahun, dan kejadian demi kejadian, sahabat saya berubah. Ya, dia masih sepintar dan semenarik dulu, tentu. Tapi banyak hal terjadi dalam kehidupannya dan sang pacar -sekarang mereka sudah suami-istri- yang membuat binar bahagia yang dulu ada, sekarang entah di mana.

Ya, memang masih ada kalanya dia tertawa dan sinting seperti biasanya. Dengan banyolannya yang kadang "bok-plis-deh-kejiwaanmu-lho" itu. Dengan ide gilanya dalam make up dan pakaian dan kerjaan yang kadang cuma bisa bikin kami sahabat-sahabatnya geleng-geleng kepala. Tapi, tatapan matanya tak lagi seperti dulu.

Ada momen dia menjadi orang yang sangat pemarah dan tegaan, tapi ada kalanya juga dia jadi begitu permisif untuk dilukai. Entahlah, semacam dia diam saja ketika ada orang datang padanya membawa clurit dan bambu runcing *kok malah jadi Tjoet Nyak Dien* dan itu seperti siklus yang berulang. Dia yang marah, terluka, sedih, kecewa, mencoba bangkit, lalu jatuh, bangkit, marah lagi, terluka lagi, sedih lagi, kecewa lagi..

Sampai akhirnya beberapa waktu lalu mendapati dia yang sama sekali tanpa make up, kuyu, mata bengkak bekas menangis semalaman, senyum dipaksain, dan suara menahan emosi saat menceritakan lelaki yang disayanginya. Entah kesabaran apa lagi yang dia punya untuk bertahan dalam siklus itu..

Saya dan kawan-kawan lain cuma pengin sahabat saya itu bahagia. Saya tahu bahagia itu utopis, tapi biar saja. Saya mungkin tau bahagia seperti apa yang dia mau. Dan saya akan berdoa untuk itu. Tuhan, saya mau sahabat saya bahagia, ya..



Review The Man from U.N.C.L.E: Ramuan Retro untuk Sang Agen Rahasia




Gaya yang stylish, potongan rambut klimis, dan senyum flirty khas flamboyan. Itu cukup membuat Napoleon Solo (Henry Cavill), lumayan meyakinkan sebagai agen CIA. Lebih tepatnya lagi, ia adalah mata-mata CIA terefektif pada tahun 1960an. Maka, bicara tentang satu masa lebih dari lima dekade lalu, tak bisa tidak Solo tak berkawan teknologi canggih kekinian, pun mobil seksi seperti yang dimiliki bang James Bond.

Tapi, jangan buru-buru suuzon pada film garapan Guy Ritchie ini, kendati setting waktunya terlampau jadul. Ritchie -dengan gayanya yang khas- bisa membuat Solo dan karakter lainnya sukses menghidupkan jalan cerita The Man from U.N.C.L.E. Ya, membikin film soal agen rahasia memang perlu ramuan manjur, jika emoh tersingkir dari film spionase yang lebih dulu ada tahun ini, seperti Kingsman The Secret Service, Spy (yang keyen banget itu tuuuh), juga Mission Impossible 5.

The Man from U.N.C.L.E diangkat Ritchie dari sebuah tayangan televisi. Film ini berkisah soal Solo yang diberi misi untuk menemukan ilmuwan peracik nuklir untuk Nazi, dr. Teller. Pak Teller ini sudah lama berpisah dengan anaknya, Gaby Teller (Alicia Vikander), karena ia disekap di sebuah pulau kecil di Italia dan dipaksa bekerja di sana. Nah untuk bisa menemukan dr. Teller, Solo pun mengajak putri sang ilmuwan.

Gaby Teller
Kendati namanya Solo, ia tak solo karir #krik. Dalam menjalankan misi, Solo ditemani agen rahasia KGB Rusia, Ilya Kuryakin (Armie Hammer) yang berbadan tegap dan padat dengan dada bidang dan lengan berotot sempurna *duh kelepasan*

Oke, sampai di sini dulu The Man from U.N.C.L.E sudah menawarkan ide yang lumayan nyeleneh. Amerika dan Rusia yang biasanya sirik-sirikan itu kini dikisahkan berduet demi mencegah nuklir jatuh ke tangan Jerman. Bahkan oleh Ritchie, ke-Amerikaan Solo dan ke-Rusiaan Kuryakin *kuryakin cinta slalu mengertiiii... kuryakin cinta tak salaaah* #nyanyi dieksploitasi sebagai bahan banyolan yang kocak abis.

Tak heran, kalau sepanjang film saya melulu ngakak. Banyak lah adegan koplak Kuryakin dan Solo yang Srimulat banget, yang sampai membikin saya lupa sejenak kalau asam lambung sedang tinggi, hehehe..


Jalan ceritanya sendiri DATAR dan biasa saja. Tak menegangkan sama sekali, bahkan masih kalah dibandingkan Spy dan Kingsman yang twist-nya cukup bikin “aaaaargh”. Bagaimana mau seru kalau ceritanya sangat jadul seperti tampilannya, dengan musuh yang kata pacar saya, terlalu komikal dan malah mirip tokoh komedi slapstick?

Kalau Anda bayar tiket nonton dengan ekspektasi bisa tegang terus-terusan sepanjang film *jangan ngeres*, ya mungkin agak kecewa pada film ini. Sudah jalan ceritanya biasa saja, misinya pun itu-itu saja. Tapi kalau Anda sekadar butuh hiburan, apalagi yang diracik oleh Om Ritchie, ya The Man from U.N.C.L.E ini bakal bikin hepi.

Yang saya demen dari The Man from U.N.C.L.E adalah bahwa film ini sangat sangat menarik dari segi estetika. Brilian. Ibarat cowok, dia adalah mas-mas ganteng usia 30-an yang memakai kaos putih polos dengan celana uniqlo warna khaki, dan sepatu wakai cokelat muda. Memanjakan visual kita. Apalagi ditambah parade musiknya yang “kampay-asik-banget-gilak” itu.



Henry Cavill berhasil keluar dari gaya Supermannya yang sangat komikal itu. Ia tertolong oleh wajahnya yang memang sudah jadul, untuk bisa memerankan agen CIA yang mantan napi. Kendati Cavill kadang terlalu genit, tapi tak apa lah. Dia cukup menghibur, apalagi saat beradegan koplak yang menuntutnya nyeletuk lucuk tapi dengan wajah tanpa dosa. Agak kontras menurut saya, jika dibandingkan dengan akting mas Hammer. Biyuuh untung tanganmu bagus, Mas.

Sedangkan mbak Vikander, sukses membikin film cerah karena kemanisannya, juga gaya berpakaiannya yang retro banget. Bisa dibilang dia adalah oase dari kejengahan menonton rivalitas machoisme ala Kuryakin dan Solo. Tapi, pencuri perhatian dari film ini menurut saya adalah Hugh Grant! Bisa-bisa aja lho dia nongol dan well, membuat Cavill dan Hammer jadi semacam new kids on the block, hahaha..

Tonton aja sih, kalau lagi butuh ngakak :)


Tuesday, August 25, 2015

Balada Aloe Vera yang Bikin Kulit Lembut, Kenyal, dan Cerah


Cie Vitri yang lagi demen nyobain make up, hahaha.. Ini masih ada kaitannya soal usaha saya ngilangin gosong kulit wajah pasca backpacking seperti saya pernah tulis di sini.

Nah, salah satu usaha yang saya lakukan adalah konsultasi ke dokter. Beuh, PR banget deh buat saya yang selama ini buta make up. Bayangin aja, saya harus mulai rajin pakai sunscreen, cuci muka, juga pakai aloe vera gel. Yoi broooh, sekarang eike udah gaya banget pakai gituan *kibas rambut biru*

Sunscreen udah punya dua. Sabun muka juga udah punya, tiga merek sekaligus malah *ceritanya poligami gitu*

Tinggal produk aloe vera doang dong, ya. Kata dokter dan om gugel, aloe vera ini manfaatnya banyak banget. Nggak cuma berguna menyuburkan rambut dan menghilangkan panas dalam, tapi juga berkhasiat bikin kulit kece! Fyi, aloe vera mengandung zat yang bisa mengurangi panas dari paparan matahari, membikin kulit mulus, lembut, lembab, kenyal, dan cerah. Yey banyak banget deh, manfaatnyaaaaa..

Di rumah sih saya sudah ada dua. Satu biasanya saya pakai pasca olahraga outdoor, satu lagi –yang 99 persen aloe vera- saya pakai di badan sebelum tidur. Naaah tapi sepertinya masih kurang, huehehe.. Saya lagi kepengin banget produk aloe vera dari The Body Shop yang denger-denger oke banget.
Produknya banyak juga, dan itu bikin galau semua. Mulai dari toner, cleanser, lotion, bahkan body butter. Asyik banget bayangin bau segarnya aloe vera nempel di kulit, apalagi kalau nanti kulit makin sehat dan kinclong. Hoho.. Baiklah, saya ubek-ubek The Body Shop dulu di Zalora. Siapa tau lagi ada diskon ^_^


Sunday, August 23, 2015

Review Sunscreen: Wardah DD Cream VS Pixy BB Cream

Disclaimer: Ini bukan review ala fashion or beauty blogger yah. Cuma ala Isma Savitri Amir yang setahun belakangan lagi gandrung make up (baca: dewasa terlambat).

Semua ini bermula karena kulit saya sempat GOSONG. Oke kulit saya memang gelap. Kalau pakai range warna sawo matang sih saya ini kematengan alias gosong. Adalah jalan-jalan tanpa sunscreen saat di Palembang dan Bengkulu awal bulan ini yang membuat kulit saya sampai melepuh saking kepanasannya. Huhuhu

Akhirnya, saya coba ngademin kulit pakai masker bengkoang Mustika Ratu dan luluran dua hari sekali. Tapi gosongnya lama bener berkurangnya. Yang bikin saya panik adalah.....dua bulan lagi saya kewong. Yap, dua bulan lagi sementara kulit saya malah jadi kayak salak.

Saya pun teringat pernah beli paket perawatan di ZAP buy 5 get 1 free sekitar dua bulan lalu hakhakhak.. Lupa banget pernah beli itu. Akhirnya saya pakai deh paket itu di ZAP ITC Permata Hijau untuk perawatan peeling wajah dan beli krim dokter. Nah, di tengah perawatan, dr. Monica pun berpesan: JANGAN PERNAH LUPA PAKAI SUNSCREEN.

Pffftttt. Saya akhirnya mulai rajin memakai Wardah DD Cream yang kebetulan saya dapat gratis dari Wardah *muah muah*

Entah sepertinya produsen sunscreen lagi berkonspirasi, saya Kamis lalu liputan soal bahaya UVA dan UVB. Di  acara itu dokter Nila bilang bahwa kandungan minimal sunscreen alias tabir surya– baik untuk lotion tubuh maupun muka- adalah SPF 30 dan PA+++. Sementara SPF melindungi kita dari bahaya UVB, PA memproteksi kulit dari serangan UVA yang bikin gosong dan keriput.

Nah ternyata, DD Cream yang saya pakai itu hanya mengandung SPF 30 tapi tidak punya PA hiks hiks. Saya akhirnya mencari informasi di internet soal tabir surya yang oke dan harganya terjangkau   dan mendapat dua alternatif ini: Skin Aqua dan Pixy BB Cream. Maka ngesotlah saya dan kak Nindy ke Hypermart Thamrin City untuk mencari Pixy itu. And i got it! Yeeeey!

So here they are.


1.Wardah DD Cream C-Defense
Sorry to say tapi selama ini saya agak kurang percaya sama kandungan Wardah. Kecuali lini lipstiknya yah yang lumayan oke. Tapi karena di rumah adanya ini ya, ya udahlah ya. Toh kemasan tube-nya yang warna kuning mustard ini lumayan kece, nggak kelihatan murah, lah.

Nah, karena saya sebelum ini nggak peduli sama make up, saya pun nggak tau apa itu DD Cream, dan bedanya dengan CC maupun BB cream. Opo lah kui bedone i dont gv a fuck dulunya. Nah ternyata, DD cream punya banyak manfaat sekaligus: menyamarkan noda, mencerahkan, antioksidan, sekaligus tabir surya.

Nah, sayangnya, tone DD cream Wardah yang saya punya adalah “01 Light” yang sepertinya paling cerah. Saya sempat ragu mau mengaplikasikannya di wajah karena takut jadi terlihat pakai topeng dan putih banget. Tapi ternyata, NO. Wardah DD Cream ini, walau warnanya dua tingkat di atas skin tone saya, tetap bisa “dirapikan” di wajah. Bahkan efeknya kulit jadi terlihat lebih mulus dan keceh (ini kata gue sendiri ye. No complaint.)

Sisi bagusnya, Wardah DD Cream nggak bikin kulit jerawatan, bruntusan, maupun muncul bintik-bintik (istilahnya apa sih? Breakout yah?). Tabir surya ini pun awet di muka, dan nggak bikin make up yang saya aplikasikan di atasnya jadi kacau. Ah keren banget laaah *cium Wardah DD Cream*

Tapi kekurangannya satu, dan ini saya harap diperbaiki dermatologis Wardah. DD Cream Wardah tidak mengandung PA, padahal ini ternyata malah lebih penting dibanding SPF buat kita yang tinggal di daerah tropis dan dilewati khatulistiwa. Nggak adanya PA inilah yang akhirnya membikin saya akhirnya “selingkuh” ke Pixy BBCream.


2. Pixy BB Cream Bright Fix
Merek ini sudah diimpor ke Filipina lho oleh PT Mandom (mungkin dia sodaranya random. Krik). Dan sepertinya memang rada lumayan kualitasnya, karena banyak juga yang merekomendasikan Pixy BB Cream di blog-blognya. Ya iyalah, dengan harga Rp 25.500 saja kita sudah bisa dapat tabir surya ber-SPF 30 dan PA +++. Komplet lah ya.

Tampilan Pixy BB Cream sendiri seperti ada di foto, sangat girly. Pink dan shabby chic, ahahaha.. Gue banget. Apalagi ada aksen lace gitu di kardus dan tube-nya. Lucuk lah. Walau, jujur aja itu malah bikin kemasannya jadi nggak elehhan *nada Nindy pas ngomong elegan*

Ada tiga tone warna Pixy BB Cream kalau nggak salah. Ochre (paling cerah), cream (medium), dan beige (coklat tua). Saya pilih yang beige dong ya. Pixy ini teksturnya lebih cair dibanding Wardah. Ini membuat Pixy BB Cream jadi lebih mudah dibaurkan di wajah, apalagi warnanya juga saya pilih yang hampir mirip muka saya.

Yang asyik, tekstur Pixy BB Cream juga matte setelah diaplikasikan di wajah. Ini membuat kulit muka kita nggak terlihat kinclong-kinclong kayak kilang minyak. Nah sayangnya, saya merasa Pixy BB Cream ini lebih mudah luntur dibanding Wardah DD Cream. Ya gitu deh jadi harus rela touch up lagi di tengah hari kalau mau tetap terproteksi sunscreen.

Btw, entah karena treatment ZAP, Wardah DD Cream atau Pixy BB Cream, tapi gosong saya kini perlahan mulai berkurang. Fiuh fiuh. Saya nggak terobsesi putih sih yah, tapi yang penting kulit saya sehat aja walau gelap. Sukur-sukur bisa bagus kayak Jessica Alba atau Beyonce gitu *ngelunjak*

mayan lah ya muka saya nggak lagi segelap kerudung saya. Hakhakhak

Monday, August 17, 2015

Cinta yang Tepat


Minggu pagi lalu saya bareng Novi dan Valen menghadiri misa sakramen pernikahan Wita di sebuah gereja Katolik di Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Detik demi detik semula tampak menegangkan. Om Madyudi dan tante -ortu Wita- dan keluarga besan saling menyimpan senyum. Apalagi muka Wita dan Mas Nanang. Beuhh, macam orang mau dikawinin paksa aja.

Sampai tiba waktu Romo melumerkan kekakuan dengan bertanya pada Mas Nanang dan Wita, soal masa lalu keduanya. Oh Lord yang benar saja, batin saya, walau sebenarnya kepo juga sih. Hahahaha.. Mas Nanang dengan mantapnya menyebut Wita sebagai cinta pertamanya. "Saya jatuh cinta pada pandangan pertama saat bertemu di klub tenis kampus."

Sedangkan sahabat saya? Ah tentu tidak. Wita, dengan gelagapan dan nada canggung, bilang Mas Nanang bukan cinta pertamanya. “Bukan yang pertama, hehe.. Tapi dia orang yang paling tepat buat saya..”.

*saya macem keselek dengar jawaban itu*

Jemaat gereja pun ger-geran. Romo yang baik itu lalu menengahi saltingnya Wita dengan berucap: "Tapi kini kalian dipersatukan Tuhan, setelah melewati ujian-Nya dengan penuh kesabaran."


Ya, kesabaran, kata Romo. Kesabaran yang tak pernah kenal titik. Kesabaran yang mesti langgeng karena kita, dan tentunya pasangan kita, berubah dan "tumbuh". Kesabaran yang disertai keikhlasan, untuk saling mengingatkan dan memperbaiki kekurangan. Kesabaran dalam mencintai dan berjalan beriringan.

Saya jadi ingat banyak percakapan dengan Wita dan kawan lainnya. Dari situ saya belajar, bahwa kesabaran bukan hal yang satu hari jadi. Bukan sekadar janji atau cuit di Twitter yang bakal terhapus oleh ingatan atau pun "sundul gan". Bukan sekadar keharusan dalam sembilan tahun lebih pacaran (Gila lu Wit, ngalahin lagu Sewindu-nya Tulus).

Tapi itu sebuah proses, yang tumbuh seiring kesadaran untuk saling mengalah. Mengalah yang bukan karena terpaksa atau ditaklukkan, tapi karena kasih. "Karena cinta yang sejati memang perlu waktu dan kesabaran," kata Romo.

Kesabaran memang tak melulu berbuah manis. Bisa jadi apa yang selama ini kita sabar-sabarkan ternyata berujung menyakitkan. Tapi ya apa mau dikata. Kadang dari situlah kita tahu, apakah sesuatu atau seseorang yang kita sabar-sabarkan itu adalah orang yang tepat buat kita. Atau, justru tidak tepat.

Saya tahu bukan hal yang mudah bagi Wita maupun Mas Nanang sampai pada akhirnya menikah setelah ada di zona pacaran nyaman. Ingat banget lah saya bagaimana tahun lalu Wita melulu masih ngeledekin saya dengan Tri (ya gimana ya saya dulu emang musuhin calon suami saya itu), dan dengan pedenya bilang baru akan menikah setelah saya.

Tapi Tuhan tak sabar ingin menyatukan mereka. Dan pada akhirnya, 9 Agustus 2015, Wita pun "melanggar" rencananya. Selamat menikah, Wita. Selamat melepaskan jabatan duta kesuwen pacaran, ya. Selamat menikah, Mas Nanang. Yang sabar-sabar ya, sama Wita :p

kebaktian midodareni pada malam sebelum akad nikah
dempet-dempet yang nikah biar ketularan. Eakkkk