Wednesday, August 28, 2013

Setarikan Nafas

Aku mendapatimu
Meringkuk di kolong penuh sobekan kertas tanpa selimut abu-abu
Wajahmu pucat, nafasmu pendek-pendek
Meniupkan gelisah yang hanya bisa dibaca jika kita merekam sejarah
tidak dalam satu-dua hela
Tanganku kuulurkan, dan masa lalumu berjejalan
Lewat matamu yang memantulkan diriku di sebuah esok
Dan kupelajari dirimu, sampai rambut kita kelabu

Bulungan, 29 Agustus 2013

Kata Meggy Z, Percuma Bercinta Kalau Takut Sengsara...

Apa yang dibenarkan saat mencintai seseorang? Apakah kamu percaya cinta itu tak bisa memiliki? Apakah cinta itu harus memiliki sehingga mesti diperjuangkan? Atau justru cinta itu tak memerlukan apa-apa karena akan menjadi bersama secara serta-merta?

Malam ini saya buka blog partner in crime saya, Nindy. Saya menemukan tulisan dia saat sedang berada di masa suram, gelap dan penuh tanda tanya (cihuy asoy bahasa saya deh ya), dan akhirnya muncullah kalimat itu di kepala saya. Seperti apa seharusnya mencintai seseorang itu?

Saya dan Nindy percaya, cinta patut dan layak diperjuangkan. Seperti saat kita berusaha masuk ke jurusan kuliah yang kita incar. Seperti saat kita berusaha mati-matian mendapat tiket nonton konser band idola kita. Karena, paling tidak, saat gagal kita bisa bilang ke diri kita sendiri, "Saya sudah berusaha.."

Lalu, seperti apakah berusaha itu? Apakah berusaha sama dengan memaksakan diri untuk bersama? Apakah bersama itu adalah hasil akhir yang paling baik dan karenanya mesti diupayakan hingga berdarah-darah? Apakah mencintai, yang mestinya jadi proses yang menyenangkan, juga mesti melewati proses yang tidak mengenakkan?

Tapi kata Meggy Z, percuma saya berlayar jika kau takut gelombang. Percuma saja bercinta kalau kau takut sengsara.

Nah, ketika kita sengsara, apakah cinta kita lantas "selesai" dan mencapai tujuannya? Ataukah mestinya sengsara itu tak perlu ada? Toh katanya cinta itu menyejukkan, tidak menyakitkan..

Saya dan Nindy sudah beberapa kali menjalin hubungan dengan sejumlah orang. Ada yang berawal dengan perasaan "biasa saja tapi lama-lama terbiasa dan suka", ada pula yang bermula dari "ketertarikan luar biasa yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata".

Seperti apa prolog cinta kamu, tak ada yang bisa disalahkan.

Saat ini saya sedang bersama seseorang yang bahkan tak pernah saya incar apalagi saya gebet untuk jadi pacar. Secara fisik, dia bukan tipe saya. Dan yah, saya dulu benci setengah mati sama orang ini karena saya mengira dia orang yang sombong, ngeselin, dan sok misterius.

Dan banyak orang saat ini bertanya, "Elu bisa suka sama dia karena apanya?"

Hampir selalu jawaban saya sama. Saya tak ingat kapan saya jatuh cinta padanya. Saya hanya tahu, saya menyayangi lelaki berkaos hitam yang saat ini sedang duduk di depan saya. Cinta karena terbiasakah? Ah enggak, saya dan dia tidak pernah saling membiasakan diri. Tahu-tahu saja, ya tahu-tahu saja.

Tapi, pagi tadi, saya mengatakan padanya, saya tidak tahu apakah suatu saat nanti saya bisa bersamanya. Saya tidak tahu sampai kapan saya bisa berkompromi dengan kondisi yang ada di tengah kami.

Saya sudah pernah menjalani seminggu yang sangat mengerikan. Saat bangun pagi tidak membuatmu bersyukur dan malah membuatmu menangis. Memikirkan "Kenapa bisa ini terjadi?" (Ceileh, sinetron banget elu, Pit!), dan lantas membuatmu malas melakukan apapun. Sampai akhirnya badan panas, radang, suara serak, dan dokter tidak menemukan ada keanehan pada badanmu, karena katanya kamu hanya sedang tertekan.

Ya saya sudah pernah mengalami masa itu. Saat harapanmu pada sesuatu dan seseorang tiba-tiba terantuk oleh kenyataan yang bahkan untuk mengingatnya saja bisa membuatmu sakit. Saat rasa sayangmu yang -kata teman- begitu polos (kaos kaleee, polos..) terbentur oleh hal yang terpikir saja tidak.

Pertanyaannya kemudian, apa yang akan kamu lakukan dengan cintamu?

Kalau kamu tanyakan itu pada orang-orang di sekitarmu, mereka pasti meminta kamu untuk bergerak, beranjak, dan memulai kehidupan yang baru. Buang hal-hal yang membuatmu terjatuh, dan bangun, dan bangkit. Bodoh kalau kau masih bertahan dengan cinta yang membuatmu terpuruk. Tolol kalau kau masih bertahan dengan cinta yang membuatmu menderita (eh gue ini kelahiran kapan ya kok bahasanya Rhoma Irama banget?).

Tapi yakinlah, ada kalanya, kata-kata orang di sekitarmu hanya menjadi nasehat yang kau dengar untuk membuatmu merasa kau sedang dalam kondisi yang mengenaskan. Karena kemudian, saat kamu kembali ke kamar, tanpa teman, tanpa bir, kamu akan menemui lagi kesendirianmu. Dan itu akan membuatmu bertanya lagi, "Apa yang harus kuperbuat dengan cintaku?"

Di situ semua orang punya pilihan. Ada yang masih ingin memperjuangkan cintanya dan bertahan, ada yang ingin berhenti dan melepas (melepas itu juga butuh usaha lhoooo.. usaha kuat malah), ada yang berpura-pura melepas padahal sih test the water doang. Ada juga yang masih bingung menentukan, namun ada pula yang memilih pasrah. Hey, pasrah alias tidak berbuat apa-apa juga sebuah pilihan kan?

Tidak ada yang bisa disalahkan dengan sebuah pilihan. Semua ada risikonya. Seperti halnya Amanda dalam film Hari untuk Amanda yang lebih memilih calon suaminya dibanding Hari yang pernah dipacarinya cukup lama. Seperti Agus dalam film Jomblo yang akhirnya memilih pacarnya yang bawel dan banyak mau dibanding Neng Lani yang dewasa.

Namanya juga pilihan ya, pasti ada risikonya. Yang tidak dianjurkan adalah tidak bisa memilih. Saya pernah dengar dari seseorang, hati lelaki itu bisa terbagi, tidak sama seperti perempuan. Tidak sepenuhnya benar menurut saya. Sama seperti lelaki, hati perempuan pun bisa terbagi. Lebih tepatnya, hati setiap orang bisa terbagi.

Saya pernah ada dalam titik itu, bingung mana yang mesti dipilih, karena terlalu mempertimbangkan untung dan rugi. Dan tidak berani ambil risiko. Pilih A, takutnya B ternyata yang baik. Pilih B, ternyata A yang baik. Sampai akhirnya saya memilih si B untuk hal-hal yang di luar pemahaman saya, di luar jangkauan saya. Hanya karena saya yakin. Dan karena cinta tentunya.

Ya, kita bisa jatuh cinta pada siapa saja. Begitu pun dia. Begitu pun saya. Adalah pilihan tiap orang untuk berusaha dan memperjuangkan rasanya.

Tapi dia yang patut saya perjuangkan adalah dia yang tidak egois memikirkan kebahagiannya saja, tetapi memikirkan "kami". Dia yang tidak mau kehilangan saya, dia yang mempelajari hidup saya, dia yang menyayangi keluarga dan sahabat-sahabat saya. Tak peduli dia dari mana, mau bandel atau bad boy, asalkan dia tahu cara menghargai kamu dan keluargamu, saya rasa dia layak diperjuangkan.

Tapi pada akhirnya saya tidak mau memaksakan diri saya, dan memaksakan kondisi harus mengikuti apa yang saya mau. Biarkan saja Tuhan memberi petanda, mendewasakan makhluknya dengan cara yang Dia kehendaki, dan saya pada akhirnya paham, Dia sekadar ingin saya bahagia.

Selamat belajar! :)

Gara-gara Plato

Kemarin seorang kawan di Twitter mencuit kalimat Plato, dinihari. Kata Plato, beberapa orang hadir dalam hidup kita sebagai anugerah, tapi sebagian lainnya datang sebagai pelajaran. Berhubung saya impulsif -dan yah impulsif pun pasti ada pemantiknya, saya retweet-lah itu barang.

Beberapa menit berselang, saya baru kepikiran. Lhah, memangnya begitu ya? Pasti gitu semua orang datang di hidup kita membawa satu misi? Lalu dari mana kita tahu misi apa yang dibawa orang itu ke hidup kita? Seberapa penting kita tahu apa misi orang itu? Lalu kalau sudah tahu, apa pengaruhnya pada hidup kita?

Dan yah, saya jadi teringat seseorang yang menganggap saya sebagai cobaan dalam hidupnya. Hahahahaha.. Ya ya ya, monggo lho kalau mau menertawakan saya. Saya sih rasanya cuma pengin berbisik di telinga orang itu, "Yang kuat ya hadapin cobaan "sebesar" saya.." sambil kedipin mata.

Ya tiap orang punya sudut pandang sendiri dalam melihat masalah dan hikmah itu tadi. Kalimat yang dilontarkan Plato, menurut saya, bak petuah ala ustad yang mengajarkan kita tidak berpikiran sempit melihat suatu cobaan (shit, sekarang saya geli-geli gitu kalau baca kata cobaan).

Saat kita kehilangan sesuatu misalnya, sebagian kawan memilih untuk memberi komentar "Diikhlasin saja ya.. Mungkin kamu diminta beramal.. Mungkin itu bukan rezeki kamu..". Tapi ada sebagian lainnya yang memilih bilang "Kamu kurang beramal sih..", ataupun "Mungkin kamu akan mendapat ganti yang lebih baik.."

Toh kan katanya, Tuhan mengambil sesuatu dari kita, demi memberi ganti yang sesuai dengan kebutuhan kita?

Entah ini positif atau tidak, tapi saya tipe orang yang tidak terlalu kepikiran saat kehilangan sesuatu. Saya beberapa kali kehilangan dompet dan handphone, tapi alhamdulillah hanya butuh sehari-dua hari merasa "Yaaah hilang..".

Kalau kehilangan pacar? Nah ya ini persoalan yang lebih berat (haseeek). Merasa "yaaah putus.." enggak cuma satu-dua hari, tapi bisa berminggu-minggu, tapi pada akhirnya, pasti hati akan menemukan mekanisme sendiri untuk sembuh.

Back to the topic. Jadi, bagaimana kita mengerti orang itu memberi kita pelajaran ataukah anugerah Tuhan buat kita? Jawabannya tentu subjektif ya. Saya sendiri merasa dua hal itu tidak dikotomis. Bisa jadi ada orang yang datang dan berlalu begitu saja dalam hidup kita. Tapi ada juga orang yang menjadi anugerah sekaligus memberi pelajaran berarti.

Dengan menempatkan dua hal itu dalam sisi yang berseberangan, kita akan lebih mudah jatuh untuk menjustifikasi, yang repotnya, bisa membuat kita merasa paling benar. Saya enggak baik-baik amat lah, jadi orang. Yah ada sisi negatif juga dari diri saya yang mungkin di mata orang, mewujud sebagai cobaan.

Terserahlah kalau adanya saya itu bisa membuat orang lain merasa sedang mendapat cobaan. Subhanallah banget sih lo Isma Savitri Amir, jadi cobaannya orang. Kalau saya sendiri sih, mau lebih rileks saja. Santai kayak di pantai. Takdir kan menjawabnya kalau kata dek Afgan.

Yah kadang kehilangan dompet memang menyesakkan ya, bok. Tapi siapa tahu juga karena kehilangan dompet itu lo bisa dapet dompet yang lebih oke, atau dompet lo suatu saat nanti dibalikin sama seseorang yang keren, dan masih single, dan.........

Salam cobaan!