Monday, December 5, 2016

Bukan Pernikahan, tapi Anak yang Mengubah Saya


Saya  pernah gak pengin menikah. Makanya mami saya bahagia banget saat saya akhirnya kawin, bahkan punya anak.

Bukan karena saya enggak suka bocah, tapi karena saya merasa pernikahan bisa mengubah seorang perempuan. Menjadi lebih bergantung pada laki-laki, tak mandiri secara finansial maupun psikologis, serta –pada akhirnya- bisa memangkas mimpi-mimpi yang muncul sejak lama, bahkan ketika si perempuan belum genap 6 tahun.

Tapi ternyata pernikahan, setidaknya yang saya jalani, tak kuasa mengubah saya. Bukan hanya karena si bojo lebih memposisikan diri sebagai pendamping alih-alih pengatur, tapi juga karena saya sudah mempersenjatai diri sebelumnya agar tetap menjadi saya. Saya yang suka jalan-jalan ke mana saja, ketemu teman, nonton bioskop sendirian, me time di kafe sendirian juga, dan kadang bobok lagi selepas subuh.

Namun semua berubah. Setidaknya saat ini. Bukan karena si bojo mendadak jadi kayak pemerintah yang atur ini-ono, tapi karena kehadiran anak kami, Bimo. Yup, si bocah yang bahkan belum bisa ngomong jelas ini, yang tingginya belum sampai 1 meter ini, yang kerjaannya cuma netek-ngompol-eek-main-molor ini, ternyata punya daya magis yang BUESAR dalam mengubah saya.

Misalnya:
*di tengah pacaran sama bojo di toko material* (saya bukan bakul semen lho ya, tapi lagi survei keramik aja karena lagi renov rumah)

Mami saya: Nok, Bimo nangis terus nih.. Kamu masih lama?
Saya: *tatapan pemaksaan ke bojo* Kak, ayo pulang.

Misalnya lagi:
*di tengah nonton Fantastic Beast and WTFT*

Suami saya: Keren ya filmnya, bla bla bla…
Saya: Kak, Bimo gimana ya di rumah.. Kok kebayang kepalanya itu ya.. Pipinya juga ya, kak..
Bojo: -____-

OKE, EMANG SAYA JADI ENGGAK ASYIK. Wkwkwk

Tapi itu hanya remeh-temeh dari buanyak hal yang berubah setelah ada Bimo. Saya jadi enggak segitunya pengin me time, jadi jarang banget buka medsos dan hape, jadi lebih sering beli baju Bimo dibanding lipen *wajar kalik Pit kalo ini*, dan kepikiran dia terus ke mana pun saya pergi. Mandi aja saya kebayang muka bundarnya Bimo -____-

Pun soal pekerjaan, belum-belum saya jadi gelisah sendiri. Bisa nggak ya ninggal Bimo seharian gitu? Kuat enggak ya enggak nanganin dia langsung? Tega enggak ya, ninggal bocah sekecil itu untuk pergi kerja? Dll dll..

YAAAAAK SAYA JADI MAKIN ENGGAK ASYIK ;P

Ah tapi saya mah nikmatin aja segala perubahan ini. Mungkin saya memang jatuh cinta banget sama Bimo, sampai kayaknya bau, wajah, gerakan, suara dan tatapannya selalu membayangi saya kapan pun dan di mana pun saya berada.

Btw Bim, tapi kamu enggak bete kan, aku temenin terus? -___-

Tuesday, November 1, 2016

Happy 1st Wedding Anniversary, Dolphin

1 November 2015.

Ah, tak terasa tepat setahun usia pernikahan kita. Ibarat manusia, usianya masih bayi, masih perlu belajar banyak hal, kerap diselimuti kekonyolan, tapi tetap menyenangkan untuk diingat.

Satu tahun hanya setitik dari perjalanan cerita kita. Mungkin lebih banyak suka, sampai akhirnya aku kerap lupa jika hidup denganmu kadang juga menyimpan kesal dan lara. Apalagi saat mendengar dengkur kerasmu dinihari, seolah suara tangis anak kita tak perlu kau risaukan karena kamu tak punya nenen yang digilainya.

Tapi rasa kesal itu lebih sering lenyap begitu saja. Saat melihat wajahmu yang menyimpan lelah sepulang kerja, dan tanganmu yang meraih pundakku untuk kau peluk atau sekadar tepuk lembut. Kadang romantis dan miris itu beda tipis, yah. Aku tentu sempat terharu oleh perhatianmu, tapi pada akhirnya aku sadar itu hanya caramu yang menyemangatiku begadang bersama Bimo semalaman. (Kamu? tentu akan bertanya "Bimo kenapa, sayang?" namun dua detik kemudian kembali mendengkur -__- )

Eh kok malah curhat. Tapi sungguh sayang, senyebelin apapun kamu, aku tak akan pernah mampu menolak maafmu. Apalagi kalau kau sudah maklum (atau pasrah? entahlah.) pada istrimu yang cintah sangat pada online shop sampai kerap mengabaikan tugas istri solehah idaman para mertua. Tak apa-apalah sayang, kan pernikahan mesti saling membahagiakan.

Tak terasa tepat setahun usia pernikahan kita. Apakah kamu percaya pada akhirnya kita menikah? Aku pada akhirnya percaya, saat hari ini aku terbangun karena tendangan Bimo yang merengek minta nenen pada pukul 4 pagi. 

Wajah anak ini, seketika mengingatkanku pada kita empat tahun lalu. Saat aku masih begitu ilfeel dan benci padamu, tapi pada akhirnya kita kenalan, berteman baik, ngeluyur bareng ke mana-mana, bahkan menikah. Aku yang dulu melihat wajahmu saja ogah, tapi kini bisa tersenyum dan bahagia melihatmu tertidur pulas. Aku yang dulu sebal melihat kelakuanmu, tapi kini bisa tergelak-gelak mendengar guyonan konyolmu. Aku yang dulu sebal mendengar rayuan enggak mutumu, tapi kini rindu jika tak kau usili satu hari saja. Aku yang dulu protes pada pola dietmu, kini bisa ikut tak enak badan jika di sana, kau bilang sedang sakit dan kangen masakanku.

Tak terasa tepat setahun usia pernikahan kita. Mungkin aku masih sangat payah sebagai seorang ibu dan istri. Masih lebih sering manja daripada memanjakan. Masih lebih sering minta dipahami daripada memahami. Masih lebih sering minta dituruti daripada menuruti. Tapi kamu, dengan segenap ketabahan itu, masih mau-maunya menyayangi aku. Masih sabar juga meladeni aku yang kerap ngomel-ngomel tapi tetap pakai lipstik warna ngejreng.

Tak perlu aku jabarkan satu-satu semua hal, kecil maupun besar, yang kau korbankan buat kebahagiaanku. Aku tau dan merasakan itu, sayang, hanya terlalu gengsi mengatakannya. Ya iyalah gengsi, dipikir-pikir dulu aku kan yang emoh-emoh banget melihatmu, haha.

Nantinya, setiap tahun, setiap ulang tahun pernikahan kita, aku akan selalu menulis. Biarlah dikata alay ataukah curcol. Aku hanya ingin apa yang aku rasakan buat kamu terekam dalam tulisan. Sebab aku takut menjadi lupa. Pada huruf-huruf dan pada waktu yang berlalu. Aku juga takut suatu saat aku pergi tanpa sempat membuat kamu dan Bimo tau, betapa sayangnya aku pada kalian, apa adanya, tanpa rahasia. I love you, i love you, i love you.

Semarang, 1 November 2016.

*Udah dulu ya ngeblognya. Mau buka Shopee dulu nih, wkwk


Tuesday, September 27, 2016

Pada Akhirnya... Gagal Normal

Selasa, 6 September 2016

Ini hari kontrol terakhir dengan obgyn saya, dr Rini Ariyani, sebelum HPL pada 8 September 2016. Saya datang dengan keyakinan bahwa Bimo, panggilan si bocil, sudah masuk panggul dan siap dilahirkan.

Namun manusia hanya bisa berencana. Tuhan Mahaberkehendak, dan punya keputusan yang bagi-Nya terbaik buat saya. Kata dr Rini, posisi Bimo justru melintang mendekati sungsang. Saya ingat betul kalimatnya siang itu, "Bu, ini bayinya malah sungsang.. Kadose (kelihatannya) bayinya masih seneng muter. Pripun (bagaimana)?"

Saya sempat shock mendengarnya. Masa sih lo malah mutar lagi, Bim? Kan dari kemarin posisinya udah bagus, kepala di bawah dan kaki di atas? Apakah usaha saya dari kemarin untuk melahirkan secara normal masih kurang?

Jujur saja, saya sempat kalut begitu posisi Bimo di rahim terdeteksi melintang. Bisa begitu, karena bayi suka banget jalan-jalan, kelainan bentuk rahim (curiga karena bentuk perut saya lebar, EHM!), atau karena kepala bayi terlalu besar untuk bisa masuk ke panggul.

Masalahnya, saya TAKUT proses melahirkan secara cesar. Saya takut operasi. Saya takut jarum suntik. Saya takut menghadapi hal-hal enggak mengenakkan pascaoperasi. Saya takut kehilangan kamu. Krik.

Karenanya, saat dr Rini akhirnya menawarkan opsi cesar -bahkan ia menganjurkan malam itu juga saya mondok di RS- saya enggak langsung mau. Saya pun minta waktu 2-3 hari untuk jadwal operasi. Saya beralasan, harus nunggu suami dulu datang ke Semarang. Jadi paling bisanya operasi ya antara Kamis/Jumat, 8/9 September 2016.

Padahal sebenarnya, itu adalah kesempatan saya untuk merayu sekali lagi si Bimo untuk mau masuk panggul. Intinya saya OPTIMISTIS banget bisa melahirkan secara normal. Duh, bukannya apa-apa ya, saya itu orangnya pecicilan banget. Enggak kebayang aja gitu kalau harus cesar, dan beberapa hari setelahnya hanya bisa tergolek tak berdaya di kasur :(

Segala usaha sebenarnya sudah saya lakukan demi bisa melahirkan normal. Saban pagi, saya sudah rutin jalan kaki keliling perumahan selama sekitar 30 menit. Sambil jalan, saya biasanya sambil banyak-banyak baca "Ya lathif.. Ya lathif.." juga segepok doa perlancar persalinan dan surat-surat pendek. Bodo amat kalau terlihat kayak orang gila karena jalan kaki tanpa sandal, pakai daster buluk, dan mulut ijk sibuk komat-kamit. Wkwk

Tak hanya jalan pagi, saya juga aktif jalan-jalan di mol. Jangan tanyakan kecepatan saya berjalan, karena kata adek saya, langkah kaki saya malah lebih cepat dari orang yang enggak hamil. Bahkan tukang pijat yang saya samperin di depan mol, heran saya masih ceria dan segar banget H-3 menjelang persalinan. "Kayak udah pengalaman aja sih Mba, santai banget gini.." (Dalem hati: eaaaa, jangan-jangan tampang gue udah pantes punya cucu -___-).

Saya juga masih suka pergi ke sana-sini dan ngepel sore. Plus saban hari rutin makan nanas, minum jus nanas, air kelapa wuluh (yang daging kulitnya warna pink ituu) karena katanya berbagai penganan tersebut bisa bantu memperlancar persalinan.

Dan tentunya saya juga udah sering-sering melakukan posisi sujud selama minimal 5 menit sekali pose. Posisi begitu katanya bisa membuat si Bimo bergerak masuk ke panggul. Tak lupa, saya juga senam hamil, baik di rumah sakit dengan bidan, maupun sendiri di rumah. Bahkan kalau tengah malam saya ngelilir melek, saya akan reflek menggelar matras dan mulai ambil posisi senam.

Birthing ball alias yoga ball alias gym ball juga udah saya beli dan pakai untuk senam maupun duduk. Sebisa mungkin saya pakai bola elastis berdiameter 75 cm itu untuk duduk saat makan, nonton tv, juga main hape. Kadang sambil duduk selo di atas bola, saya ngomong ke Bimo untuk bantu saya melahirkan dengan aman, nyaman, dan selamat.

Dua hari menjelang operasi yang akhinya dijadwalkan pada 8 September 2016 (ternyata Bimo lahir pas Hari Literasi Sedunia, dan Hari Aksara Nasional, lho.. Cie... Anaknya Pak Tri ciee..) saya mengalami mulas-mulas. Lumayan juga euy nyerinya, karena saya sampai kudu duduk sambil goyang ngebor di atas gym ball demi meredakan sakitnya. Saya pun ketika itu GR, menduga tak lama lagi saya akan melahirkan.

Tapi ternyata, itu hanya kontraksi palsu sodara-sodara. Hiks.. Nyeri itu tak berangsur meningkat rasa sakitnya, bahkan malah menghilang. Saya juga sama sekali enggak flek atau keluar lendir bercampur darah, seperti yang dialami banyak ibu hamil lain menjelang persalinannya.

Akhirnya saya bisa pasrah. Terserah Allah lah mau nakdirin saya lahiran dengan cara apapun. Lillahi ta'ala saya ngikut saja. Sempat stres, memang. Apalagi banyak orang menanyakan apakah bayi saya sudah lahir. Di bulan yang sama pula teman-teman yang usia kehamilannya enggak jauh beda dari saya, bayinya udah pada mbrojol. Ditambah mami saya, mama mertua, suami, adek, pada ngimpi saya melahirkan. Pun saya, mimpi bayar orang 2x Rp 300 ribu untuk bisa membuat anak saya masuk panggul hanya dengan tongkat sakti.

Kayaknya saya mulai gila :(

Rabu sore, 7 September 2016.

Saya berangkat ke RS ditemani mami dan Sofie, adik saya. Mami yang emang agak rempi, membawa koper besar berisi perlengkapan baju Bimo dan (sedikit) baju saya. Malu juga sih.. Mana saking gedenya itu koper, kami sampai dibilang kayak lagi berlibur oleh suster RS -___- *ngumpet di dalem koper

Saya sendiri membawa bekal khusus, yakni laptop dan gym ball. Tenang ajaaaa saya bukannya masih mau ngetik kerjaan pas perut lagi didedel oleh dokter. Tapi laptop itu saya pakai untuk nonton serial Korea, The Return of Superman, hihi.. Gemats banget euy sama kelakuan si kembar Daehan, Minguk, Manse. *peluk Song Ilkook *eh

Adapun gym ballnya saya pakai untuk duduk sambil relaksasi. Yup, saya emang mulai tegang menjelang persalinan ahahaha.. Tapi selain itu, saya emang masih ngarep sih, si bayi mendadak masuk panggul..

Malamnya, suami yang dengan pedenya nyempil di kasur saya, ngorok dengan mudahnya sekitar pukul 22. Sementara saya makin gelisah, dan ujung-ujungnya malah jadi buka Shopee -EHM- dan Instagramnya...........Selena Gomez.

Plis jangan hina saya soal Selena. Aslik, pas hamil Bimo, saya jadi punya keanehan nontonin IG cewek-cewek semok macem Selena Gomez! Huhu.. Seleramu kok ya ababil amat to nak, nak.. Puas mantengin dedek Selena, jam 2 dinihari saya akhirnya tertidur. Kayaknya Bimo udah kenyang melototin kebahenolan si Selena.

Paginya jam 5, setelah dibangunin suster, saya pun mandi dan dandan dikit biar agak kecean. Perasaan saya mulai tegang saat pukul 07.00, suster memasang infus di tangan kiri saya dan KATETER di Miss V. Aigoooo.. Kok enggak ada yang bilang sih kalau dipasangin kateter itu rasanya kayak Miss V kita dicekik? Super duper enggak nyaman dan membuat kita merasa lemah dan gak berdaya seketika..

***

Pascaoperasi, saya semacam Gatotkaca yang kehilangan kemampuan terbang. Hanya bisa tergolek di kasur, dan apa-apa mesti minta tolong orang lain. Bahkan untuk netekkin Bimo pun saya masih kerepotan.

Adalah nyeri bekas operasi di bagian bikini atau perut bagian bawah yang jadi biang kekesalan saya pascacesar. Mungkin banyak ibu lain yang nrimo dan sabar luar biasa menghadapi nyerinya. Tapi buat saya yang terbiasa polah, operasi cesar seperti mantra Petrificus Totalus.

Cesar praktis membuat saya tak bisa gerak miring. Dipakai ketawa atau bersin, bekasnya akan sakit luar biasa. Latihan miring baru saya lakukan pada hari kedua, itu pun dengan susah payah karena saya sebisa mungkin berusaha latihan sendiri, tanpa bantuan suster maupun bojo. Bukannya saya sok kuat, tapi berlatih mandiri saya pikir akan membantu saya ketika mengurus Bimo nantinya di rumah.

Tak bisa gerak banyak berefek pada tampilan dan kekecean tampang. Selama di RS saya hanya pakai jubah pasien, itu pun enggak pernah pakai beha dan panties. Saya juga enggak mandi dan cuma dibilas air hangat oleh suster. Walhasil, segepok lipen yang saya bawa pun nganggur di kotak make up. Saya jadi enggak kayak saya deh.. Enggak pede sama sekali juga. Bahkan saking enggak pedenya, saya sampai malu banget dijenguk tamu.

Pada hari ketiga, porsi latihan ditambah. Saya harus bisa duduk. Latihannya bertahap, dari mulai duduk dibantu dorongan kasur dari belakang, sampai manual alias bangkit bangun sendiri. Berhubung saya maksain diri, jadilah bekas jahitan sempat makin sengkring-sengkring nyeri.

Latihan jalan yang mestinya saya lakukan pada hari keempat, saya majuin sendiri pada hari ketiga hahahaha.. Asli, saya emang pasien resek, maunya serba instan dan sok enggak mau dibantu. Pada awalnya, saya latihan jalan ke kamar mandi dibantu si bojo. Pun pipis, saya masih ditungguin karena takutnya enggak bisa bangun dari kloset wkwk. Tapi 1-2 kali dibantu, saya akhirnya belajar jalan sendiri.

Yang bikin saya semangat dan akhirnya bisa jalan cepat, hanya satu: saya harus kuat buat Bimo.

Tuesday, September 20, 2016

Buat Anakku, Bhima Sugidinawa


Kamis pagi, 8 September 2016, pukul 07.00

Detik-detik menjelang operasi cesar. Tapi kepercayaan diri yang saya bangun malah ambrol gara-gara suster tanpa dosanya bilang gini sebelum mendorong saya ke ruang operasi. "Mbak, lipstiknya dihapus, ya.. Soalnya warna bibir jadi penanda cocok/gaknya obat saat operasi..."

Mendengarnya, saya langsung lunglai. Seriusan nih jimat gue mau diambil? Trus apa kabar foto-foto cantik setelah keluar dari ruang operasi? Moso foto momen penting dengan muka buluk? Mana pakai topi operasi yang enggak kece ini pula!

Saya pun berusaha membujuk si suster agar membiarkan bibir saya merona di dalam ruang operasi. "Ini lipgloss kok, sus.. Enggak bahaya kok sus, kandungannya.." TAPI BOONG eh TAPI GAGAL. Mbak suster tetep aja ngeyel kalo saya mesti ngadepin operasi dengan muka polosan. Huhu.. Rugi bandar deh dandan sebelum ganti baju operasi.

Gym Ball si pereda ketegangan
Saya memilih baca buku doa -benerin mukena- dibanding ngeladenin banyolan si bojo
Walhasil, saya pun gagal pede menghadapi cesar yang dijadwalkan berlangsung pukul 07.30. Aslik tegang setengah mati. Walau ada bapak, ibu, adek, dan si bojo yang mengiringi perjalanan saya ke ruang operasi, tetap saja jantung rasanya kayak mau copot. Entah ke mana keperkasaan yang saya miliki sebelum ini. Padahal mah di postingan sebelumnya saya kayak gagah banget yak siap mau ngelahirin. Ternyata nyali saya ciut, bos. Payaaaaah!

Sialnya, si suami enggak boleh ikut masuk ruang operasi. Yaaah padahal kan saya pengin ala-ala artis gitu lho, yang suaminya ngedampingin si istri pas lahiran, trus dianya terharu lihat perut istrinya dibelek-belek pisau, sampai akhirnya ntar pascaoperasi dia enggak tega kalau enggak nuruti permintaan (uang bulanan) sang istri..

Ya sudahlah, mungkin doa si bojo lebih manjur dibanding niat jahat sayah. Akhirnya saya memasuki ruang operasi cendilian, telanjang kedinginan, ketakutan, dan cemas akan apa yang bakal dilakukan tim obgyn Rini Ariyani pada jeroan saya nanti.

Laff banget sama suster Mus. Baik dan sabarnya setengah matiiiii

bapakke Bimo nggak boleh ikut masuk ruang operasi.. Hiks
Buibu, percayalah, operasi cesar itu ENGGAK MUDAH. Cepat iya, cuma 20 menit, sementara buibu kalo dandan bisa 2 jam toh? Tapi jangan tanyakan tegang dan sakitnya saat disuntik bius. Apalagi saya itu benciiiiii banget disuntik. Kayak kurang kerjaan aja gitu, masokis masukin jarum ke tubuh sendiri. Nah ini? Kita mesti disuntik di area punggung bawah dalam posisi duduk tegak di kasur, dan di saat bersamaan badan diminta suster untuk rileks.. RILEKS MBAHMU, ndeeees...!

Udah gitu ya, saya kan niatnya mau manja gitu, pegangan tangan susternya biar suntikannya enggak terasa sakit-sakit amat. Ternyata dese enggak mau dong saya genggam tangannya.. Huhu.. Iya iya, suster males ya? Dikiranya saya naksir ya? Tenang sus saya enggak doyan apem. Walhasil, saya pun dikasih bantal untuk ditaruh di perut, dan diminta peluk atau gigit bantal itu saat dibius. Ya Allah, gini amat nasib perempuan solehah -____-

bapak, mami, dan adek saya Sofie di depan ruang operasi. Photo by si bojo
Setelah drama saya nendang-nendang dan si jarum bius malah membikin darah mengucur dari tubuh saya, pada suntikan kedua saya akhirnya berhasil dilumpuhkan. Operasi pun mulai berlangsung. Jantung saya makin kencang, dengan kecepatan 120 km/jam. Sementara para suster dan tim dokter malah selow ngobrolin cara merawat tanaman sambil cekikikan (untung deh enggak ngomongin Taylor Swift dan Tom Hiddleston, bisa-bisa saya pengin ikut nimbrung!)

Bius lokal tak serta merta membuatmu tak merasakan belekan pisau operasi. Kau tetap merasakan ada sesuatu yang terjadi di perut bagian bawahmu, bahkan kalau kau mau, bisa juga mengintipnya dari lampu kaca operasi yang digantung di atasmu.

Menit demi menit berlalu, dan saya hanya bisa merapal ayat kursi dan doa kemudahan persalinan. Terus menerus, hingga doa itu membuat saya terjaga dari tidur. Sesekali saya juga menghitung jumlah lampu di atas saya; 47,49,50, lalu mengulanginya lagi bak sedang mengedit tulisan. Hitung lampu lagi, doa lagi, sampai akhirnya saya merasa sesuatu yang besar ditarik keluar dari perut saya.

"Ah nak, apakah itu kamu anakku?"

(Ya iyalah mak, anak lo. Masak anaknya Miranda Kerr?). Perlahan, ketegangan yang membeku pun mencair. Saya lupa saya telanjang kedinginan. Saya lupa saya tadi dibius lokal dan sakit luar biasa. Saya lupa muka saya pucat dan buluk karena gagal memakai lipstik.. Saya lupa semua itu karena tau, bocah yang ada di kandungan saya selama lebih dari 9 bulan itu akhirnya mbrojol ke dunia nyata..

Alhamdulillah ya Allah.. La haula walaa quwwata illa billahil aliyyil adzim..

Tanpa bisa dikontrol, air mata saya pun keluar saat suster mengatakan anak saya lahir, laki-laki, sempurna, dan hidungnya mancung (kelak saya tau soal hidung hanya cara si suster untuk menghibur saya. Lol.). Terima kasih ya Allah.. Ternyata saya enggak halu, saya bener-bener udah jadi ibu..

Kelar perut dijahit oleh tim dokter, saya pun dibawa keluar ruangan. Sayup-sayup tangisan yang sebelumnya terdengar jauh, kini makin kencang. Aaaaaaah itu pasti kamu ya Cil! Gilaaak lengkingannya kuat banget kayak bang Meggy Z!

Saya pun bawaannya pengin lari lalu memeluk dan menciumnya. Tapi berhubung itu terlalu film India, maka saya pun menahan diri. Untunglah penantian saya tak lama. Si bocil yang sudah dimandikan dan diazani bokapnya, akhirnya dibawa ke ranjang saya. Ah lucunyaaaa.. Boleh cubit-cubit sekarang enggak suuuus? Hihi..

Bhima Sugidinawa
Perjumpaan pertama dengan si bocil berlangsung 10 detikan saja. Saya hanya sempat membelai tangannya sambil menangis, dan berujar lirih.. "Halo, Mas.. Ini mami, Mas..". Entah apa ada pengaruhnya, si bocil yang semula menangis kencang, langsung terdiam. Moga karena kamu senang ketemu saya ya nak, bukan karena tangan saya kasar atau kamu ngeri lihat muka buluk saya.. Wkwk

Proses inisiasi menyusui dini (IMD) berlangsung lancar. Alhamdulillah ASI saya udah keluar sejak hamil 7 bulan. Si bocil pun ternyata jago nyari puting dan mengemutnya. Duh nak, nalurimu tu lho.. Ada makhluk kecil di dekat payudaramu itu ternyata mengezutkan. Sempat menduga akan kegelian, ternyata saya malah kesakitan. Tarikan mulut si bocil kencang sekali, semacam habis enggak tidur 2 hari karena garap 4 tulisan panjang.

Setelah 2 menitan IMD, si bocil pun tertidur. Suara lantangnya berganti bunyi nafas lembut, yang segera membuat saya tersenyum bahagia. Selamat datang di dunia ya anaknya Bu Isma Savitri dan Pak Tri Suharman.. Selamat menjalani hari bersama kami, Bhima Sugidinawa sayangkuuu..

Monday, September 5, 2016

Episode Hamil: Hari-hari Menjelang Persalinan

Pagi ini adalah H-2 menjelang taksiran persalinan. Rasanya kayak gimana sih, buibu? Biasa aja, huahahaha.. Asli, saya nggak merasa tegang, deg-degan, atau uring-uringan menyambut hari perkiraan lahir si bocil pada 8 September mendatang. Saya masih heboh sih, kayak biasa. Tapi heboh thawaf di mol, desak-desakan di pameran komputer, dan Shopee-an, hihi. Tubuh boleh berubah, tapi tidak dengan semangat dapet barang murah #sikap

Ya bukannya gue enggak antusias menyambutmu, Cil. Antusias banget kooook.. Sumpe, dah.. Cuma emang emakmu ini santai aja gitu. Hepi banget sih iya.. Tapi takut? Sama sekali enggak. Padahal pas trimester pertama dulu, saya sempat menganggap proses persalinan sebagai sesuatu yang horror, lebih mengerikan dibanding sidang skripsi maupun enggak punya duit.

Penyebabnya adalah mami, serta teman saya si Chachan. Wakaka.. Gimana enggak horror, kalau someday, si Chachan saat nginep di rumah saya, tetiba mengeluarkan kalimat pamungkas di tengah malam, saat mata saya udah kriyip-kriyip ngantuk berat: “Dek, ngelahirin emang sakit. Tapi jangan dipikirin ya..”

Jeglerrrrr!! Saya yang sebenarnya udah enggak kuat melek, mendadak melotot kayak kena setrum. Bok, saya tuh awalnya sama sekali enggak mikirin persalinan, lho. Tapi gara-gara kalimat itu, malah jadi kebayang darah yang berceceran, vagina yang sobek (ibarat lubang hidung ngeluarin semangka, katanya. Huhu..), kontraksi yang kayak sakarotul maut, lipstik incaran yang belom kebeli *lhah

Ditambah mami saya. Enggak ada angin enggak ada hujan, suatu sore dese tetiba whatsapp saya: “Enggak usah mikirin soal lahiran, ya. Sakit sih, tapi kan udah ada jutaan perempuan yang ngalamin itu..”. Aaaaaaaa, mami kenapa pula sih… Huhu.. Rendang di piring saya pun mendadak terasa hambar baca whatsapp doi. Bisa enggak sih semua orang enggak ngomongin soal itu saat saya sebenernya merasa selow (atau sebenernya mencoba tegar menghadapi kenyataan? wkwkwk)?

Anyway, secara psikologis saya udah siap dengan metode apapun jelang persalinan. Mau normal kek, cesar kek, apapun deh asal si bocil bisa lahir dengan selamat (sok gagah banget gue, sumpah. Tunggu aja lo Vit, sampe ngerasain kontraksi! Hakhak).

Yang penting sih saya enggak diinduksi aja, bok. Cemen eike dengan cara ngeluarin bocil pakai pil atau infus perangsang seperti itu. Kasihan juga rahim dan makhluk mungil di dalam sana kalau belum-belum udah dipaksa mbrojol dengan intervensi yang kebayangnya menyakitkan.

No offense ya buibu yang sudah lahirin anak dengan cara itu. Metode melahirkan, apapun bentuknya, saya rasa hal yang sangat individual. Saya enggak pernah mau nyinyir pada cara melahirkan siapapun, tapi sekaligus enggak mau direcokin soal pilihan saya untuk proses persalinan. Emangnya siapa yang mau tanggung jawab kalau nanti saya trauma pada proses persalinan A maupun B? Kalau ada yang mau tanggung jawab, berani bayar berapa? *tetep matre

Saya suka sebel aja kalau ada orang yang nyinyir pada metode persalinan orang. “Ih kok enggak ngelahirin normal aja sih?”, “Halah ngapain sakit-sakit ngelahirin normal, enak cesar, kali..”, dll.. Aelah bok, mau normal, enggak normal *sinting kali, enggak normal. Huh* kan sama baiknya.. Toh semua ibu pada akhirnya pengin anaknya lahir dengan selamat, sehat, ganteng kayak Chris Pratt, dan punya mata setajam Christian Bale (Amin, ya Allah..)..

Lagian melahirkan itu aslik enggak sesederhana pipis. Ada proses perubahan identitas di situ. Menjadi ibu, menjadi pemberi jalan bagi individu baru, yang pastinya butuh pengorbanan dan keikhlasan besar selain rasa bahagia yang tumpah ruah saat akhirnya bertatap wajah dengan si kecil yang udah digendong ke mana-mana selama lebih dari sembilan bulan lamanya.

Ah saya sendiri belum-belum udah merasakan kebahagiaan itu :)

Nak, keluarlah ke dunia pada waktunya. Tanpa paksaan, tanpa deraan. Saya, abah kamu, dan keluarga di sini udah siap buat cubit-cubit dan menciumi kamu.. Keluarlah ke dunia pada waktunya, dengan nyaman, dengan bahagia, karena kamu pasti bisa merasakan dari dalam sana, betapa kami cinta banget sama kamu, dan mengagumi tendangan-tendangan mungilmu yang seolah bilang: “Mam, yag bakoh ya.. Aku aja kuat kok ngadepin ulahmu yang pecicilan itu.."

Tuesday, August 16, 2016

Review Wardah Intense Matte Lipstick Nomer 01 (Socialite Peach): Belum Jodoh Juga dengan Lipen Oranye

Kayaknya pencarian jodoh saya akan lipstick oranye yang keceh di kulit gelap masih panjang. Setelah Wardah bari-baru ini ngeluarin seri Intense Matte, saya sempat optimistis bakal dapat lipen orange yang oke, apalagi setelah melihat pulasan shade no.1 Socialite Peach oleh Suhay Salim di Youtube.

Tapi ternyataa lipen seharga Rp 47 ribu di konter Wardah itu tak nemplok dengan kece di bibir saya. Entahlah apa emang bibir ini bisanya ditemploki bibir suami aja *apaseh* atau memang belum ada lipen oranye berharga terjangkau yang bagus.

Wardah Intense Matte Lipstick punya 12 varian warna yang semacam terbagi menjadi 2 kubu: 6 shade pertama adalah geng warna light, sedangkan 6 lainnya yang bold. Warna kemasannya silver langsing yang pouchable, persiiiiis banget kayak Wardah seri Long Lasting Lipstick zaman dulu.

Wardah Intense Matte Lipstick Swatches dari Youtube Suhay Salim
Wardah Matte Lipstick - Wardah Intense Matte Lipstick (no body shaming please, wkwkwk)
Yang membedakan keduanya adalah Intense Matte lebih creamy dan moist, enggak kayak Long Lasting yang "keras" dan nggedibel (semacam numpuk di bibir). Pas diaplikasikan ke bibir, Intense Matte juga lebih mulus meluncurnya. Walauuuuu nggak mengkover bibir dengan sempurna. Cara ngakalinnya ala saya ya mesti pake BB Cream atau bedak dulu. Kalau enggak mah, berantakan.

Naah, peachnya ini kalau di Google, tampak orens segar. Tapi ternyata truly peach gitu. Malah ada pinknya walau samar. Huhuhu..

kamera depannya ipong emang elek, ntar foto lagi lah. Tapi kayak gitu kira-kira hasilnya di bibir.. 
Saya udah nyobain beberapa varian lipstik oranye, dan anggota Wardah Intense Matte Lipstick ini termasuk yang agak gagal haha.. Yang peach ke-oranye-an dari lini Wardah Long Lasting malah langsung saya kasih ke temen walau baru saya cobain sekali. Habis kamunya mengecewakan, sih..

Sebenarnya ada sih yang kece dan cocok buat kulit saya. Yakni lip gloss Sariayu yang seri Toba. Sayangnya itu lipglossssssss huhuhu.. Ada sih versi lipstiknya, tapi oranyenya pucat abis di kulit gelap saya. Lip Cream Nabi juga punya sejumlah varian oranye, sayangnya ga asyik banget saat diaplikasiin. Jauh lah kualitas seri oranyenya Nabi dibandingkan seri warna lain yang lebih smooth.

(dari atas ke bawah) Wardah Intense Matte Lipstick Socialite Peach - Wardah Matte Lipstick Brown - Sari Ayu Lipgloss Toba - Nabi Lip Cream Baby Orange


Ya sudah, saatnya berburu oranye yang lain. Sepertinya masih ada 3 yang patut dijajal: Zoya Lip Paint Nectarine, Wardah Lip Cream Speachless, dan Make Over Ultra Hi-Matte Orange Pop. Smooch!


Wednesday, August 10, 2016

Review Purbasari Matte Lipstick Baru Nomer 92 (Rose)

Setelah begitu ketagihan belanja di Shopee (sampai dijuluki Isma Shopeetri oleh Nindy), belakangan saya lagi agak malas jalan-jalan di aplikasi itu. Walhasil hari ini, saya reaktif banget nyempetin mampir ke Guardian Blok M Plaza setelah liputan di Kehati, dan bakal balik lagi ke kantor buat rapat jam 17.

Adalah godaan bernama shade baru Purbasari Matte Lipstick yang membuat saya reflek melipir ke Guardian. Sok habis gajian banget, padahal semata karena harga Purbasari murah dan enggak sabar nunggu paketan Shopee yang nyampenya bisa lebih dari 5 hari kayak pas pesen Make Over Sophist Red kemarin (kata Ririn: setdah beli 1 lipen doang sampe ke olshop di Sidoarjo. Lol).

Alhamdulillah, nggak sia-sia usaha nyamperin Guardian sore tadi. Purbasarinya masih buanyakkkk dan variannya lengkap. Harganya sih Rp 37 ribu, lebih mahal dibanding beli di olshop. Tapi ya sutralah, kalo di olshop bisa inden juga kan ya.

Purbasari kloter ini punya 5 varian warna, yang diberi nomer mengikuti seri sebelumnya, yakni 91-95. Awalnyaaaa, saya kepincut nomer 95. Alasannya karena saya masih dalam misi menemukan shade orange dan pink yang cocok untuk kulit saya yang gelap. Sementara nomer 95 itu tampak begitu manis dan "aman". Di sebuah foto yang diposting di Instagram sih nomer itu terlihat soft, dengan hint warna coral yang kebayangnya cocok di semua tone warna kulit. Mirip Purbasari 90, tapi versi lebih gelap sedikit lah.


Ternyata saya belum berjodoh dengan nomer itu. Tepat di sebelah saya saat ndeprok di depan rak Purbasari di Guardian, seorang cewek ikut mengubek-ubek tumpukan lipen. Dia memakai lipstik warna super bright pink, mirip Make Over Ultra Hi-Matte yang Think Pink. Dan obrolan kami pun dimulai.

Dese: Mbak cari nomer berapa?
Saya: Tauk ni, masi bingung. Penginnya sih nomer 95.
Dese: Ini yang saya pakai nomer 95. Tapi saya enggak suka. Terlalu ngejreng. Padahal lihat di IG fotonya agak nude gitu, lho.
Saya: *melirik bibirnya (kayak salah deh diksinya) dan mengamati swipe Purbo 95 dengan teliti, semacam lagi mantengin BAP tersangka*. Coveragenya di bibir bagus, yak? Warnanya juga seger.. Tapi warna kayak gitu aku udah punya, sih.. Yaaah, aku kirain warnanya kalem...
Dese: Iya, kaaaan.. Aku tuh lagi cari yang nude. Tapi salah beli nih.. Bagusnya yang nomer berapa ya?
Saya: *sebagai mantan seller Purbasari cabang Kebayoran Lama langsung cuap2* *blah blah blah*
Dese: Oh gitu.. Ya udah deh beli 81 aja, ya..

dan kemudian datang 1 lagi perempuan umur 35-an yang kemudian ndeprok di tengah kami dan dengan pedenya ikut nimbrung soal lipstik Purbasari. Yassalaaam ini apaan, deh...

Make Over UHM Foxy - Make Over UHM Champagne Rose - Purbo seri lawas - Purbasari 92 2x pulas - Purbasari 95 agak luntur - Purbasari 92 1x pulas - Make Over UHM Runway Rebel
Intinya, saya batal beli Purbasari 95 dan akhirnya memilih nomer 92 karena itu yang agak unik. Nomer 91 terlalu mirip Cherry Bomb-nya WnW, sementara 93 yang deep red terlihat bagus tapi sayang saya baru aja beli lipen merah. Sedangkan nomer 94 adalah yang paling tidak bikin kepengin karena pinknya bakal aneh di kulit saya yang gelap.

Tekstur Purbasari 92 sendiri lebih enggak asyik dibanding yang nomer 95. Entahlah, kayak butuh 2-3 kali pulas sebelum akhirnya nempel di bibir. Coveragenya juga enggak bagus. Enggak pigmented. Dipake minum teh langsung jadi enggak rapi, dan selang beberapa waktu bikin bibir pecah-pecah. Dipake wudlu, warnanya lumayan masih nempel, tapi ya itu, jadi enggak rapi. Yang paling bikin sebel sih baunya, kayak penghapus Staedtler.

Tapi mungkin nomer lain Purbasari enggak begini, yaa.. Kan yang seri lama juga gitu, ada yang enak diaplikasiin ke bibir, ada yang enggak.

Purbasari 92
Di kantor, saya tadi juga nyobain lip paint Zoya-nya Tika. Booooook itu lipen enak banget asli. Ringan, warnanya nempel dengan bagus, dan enggak bikin bibir kamu terlihat habis dilumuri cat tembok. Syuka deh... Jadi kepikiran beli Nectarine and Baked Apple. Selain yang Holy Berry, tentunya.. Lip Paint Zoya juga awet sih. Habis makan soto, masih lumayan nempel di bibir, dan enggak clemongan.

Tika pakai Purbasari 92, saya pakai Zoya Lip Paint Holy Berry


Wednesday, June 22, 2016

Episode Hamil: Karena Perut Buncit Itu Berbanding Lurus dengan Tingkat Keborosan


Setelah usia kandungan masuk 7 bulan, banyak cerita dan pengalaman baru yang saya alami. Perut semakin mblendung, walau buat saya, itu nggak terlalu ada bedanya dibanding dulu. Ya kan saya emang udah gendut sejak lama, jadi ya biasa aja. Paling sekarang tambah begah. Ukuran celana pun naik dari L/XL ke XXL.

Makin buncitnya perut juga berefek ke mana-mana. Pertama, saya jadi enggak bisa bergerak kayak gangsing seperti dulu. Sekarang mah, jadi solehah. Mau duduk, baca bismillah dulu. Soale takut pantatnya enggak kuat nahan bodi yang makin melar, hakhak.. Mau berdiri, baca bismillah lagi. Karena perut yang besar mulai bikin kaki susah menopang, dan salah-salah malah bisa kepeleset.

Bukan perkara kepeleset itu enggak kece, bukan. Saya mah orangnya ceroboh, jadi dari dulu udah biasa jatuh. Termasuk jatuh sakit karena cinta. Tapi karena saya enggak mau si bocil kenapa-kenapa kalau emaknya masih aja ceroboh dan bikin dia kejedak ke lantai.

Mau tidur juga sekarang udah mulai susah. Saya dulu sukaaaa banget tidur tengkurap. Apalagi kalau nubruk guling, atau nubruk suami. Tapi sekarang itu jelas MUSTAHIL. Ya kalik dengan perut sebuncit ini saya tetep tidur tengkurap. Situ tidur atau pilates?

Nah, saat trimester pertama dan kedua, saya akhirnya membiasakan diri tidur telentang. Awalnya susaaah banget, tapi lama-lama enak. Eh kok ya habis itu baca sejumlah forum bumil dan konsultasi dokter di internet, katanya tidur telentang nggak bagus buat ibu hamil. Itu karena si emak jadi susah nafas, dan punggung serta pinggang jadi kebebanan si bocil.

Jadi, yang disarankan itu adalah tidur miring ke kiri. Bukan ke kanan sesuai sunah Rosul yak. Ini membuat aliran oksigen ke janin lancar, sehingga membuat doi di perut ane nyaman. Tapi nyatanyaaaa.. si bocil malah jadi ekstraaktif pas saya hadap kiri. Giling. Dari usia kandungan ke-5 tuh dese udah main tendang perut tiap saya hadap ke kiri. Apa dese males yak ngadep bokapnya? Ahahahaha..


Imajinasi bego pun berkeliaran. Ini si bocil kalau gerak-gerak mulu apa karena tangannya ketindes gue, ya? Kasihan juga kalau kayak gitu, mana guenya gendut gini. Atau jangan-jangan yang tadi itu kepalanya? Kyaaaaa.. kasihan dong kalau itu tadi kepala! (PENGAKUAN: saya enggak bisa bedain mana kepala, pantat, tangan, dan kaki janin, bahkan di usia 7 bulan. Maafkan emak dan terima kasih ya nak). Padahal mah mustahil yak kalau kegencet. Kan si bocil dilindungi kantong rahim -___-

So, jadilah saban malam saya sibuk berguling ke sana ke mari. Efeknya adalah… PEMBOROSAN. Kok bisaaaaa? Ya iyalaaah.. pas berguling itu tangan saya juga aktif, bos. Aktif buka-buka onlen shop di Instagram, Shopee, Lazada, Matahari Mall, yang ujung-ujungnya: “Hai Mbak, maaf ganggu malam2.. Barang ini ready nggak?” Kemudian transfer.

Ya begitulah. Di malam orang pada sibuk istirahat atau ngebisin kuota Bolt, saya sibuk berguling manja sambil ngebandingin barang di olshop ini lebih murah atau gak dari olshop yang itu. Apakah stoknya masih, apakah ada promo terbaru, apakah tone warna celana di olshop A sama dengan yang di olshop B yang harganya lebih murah, atau manakah olshop yang pembayarannya pakai rekening Mandiri karena saya enggak punya BCA.

Capek blanji, apakah saya lantas bisa tidur? Oh I wish I could. Nyatanya enggak. Jadi saya cari kegiatan lain. Lihat-lihat resep masakan, baca info kehamilan di sejumlah forum ibu hamil, baca novel, dan sesekali ngisengin suami yang udah ngorok. Kalau masih bosen? Yaaa refresh IG lalu cari olshop lagi. Well, suami enggak bakal bisa marah karena saya jawab begini: “Kan buat dedeknya, kak..”…atau.....”Habisnya aku jadi seneng.. Kalau aku seneng, kamu seneng juga, kan?”

Susah tidur itu saya alami sampai pagi sekitar pukul 6. Gimana enggak, kalau rasa kantuk melulu kalah oleh pegal di sekujur badan, dan tendangan-tendangan kecil yang menohok dari dalam perut. Menurut sejumlah info A1 sih sebenarnya si bocil bisa ditenangin lewat komunikasi. Ya bilang gitu lah, “Ayo nak, tidur yuk.. Besok kita main-main lagi, ya..”.

Itu mah udah saya lakukan.. Udah bangeeeet.. Tapi cuma berguna paling banter 20 menit pertama. Setelah itu? HYAKDES!!! Kena tendang lagi saya. Kayaknya dese emang tidurnya bentar-bentar banget, yak.. ya ga papa deh daripada kamu diem aja di perut, ane suka deg-degan sendiri, cil.. Hehehehe..


Jadi begitulah.. setelah hamil bulan ke-6, dan sekarang masuk ke-7, saya rata-rata baru bisa tidur pagi. Setelah tenaga mata betul-betul habis dan saya akhirnya tak sadarkan diri barang tiga atau empat jam. Bangun pun kadang saya enggak perlu alarm, cukup tendangan kecil di perut, yang seolah bilang “Mak, jangan jadi pemalas lo! Kasih makan gue, lah.. Laper ini..!”

Kalau sudah begitu, tadaaaa.. artinya saya harus segera melek. Rendem cucian baju, cuci piring, wawancara narsum atau ketik tulisan, masak, nyuci, nyetrika, beberes rumah, dan kalau ada kencan ya keluar rumah. Capek? Iyalaaah.. gini nih beban ganda perempuan yang kerja sekaligus jadi ibu rumah tangga. Eh saya mah enggak hanya ganda, tapi triplet karena sekarang lagi hamil juga.

Tapiii tetap semangat terus ya nak yaaaa.. I love you, bocilku!

Wednesday, May 18, 2016

Episode Hamil: Kosmetik Aman Selama Hamil. Harus, ya?

Kemarin ada seorang kawan tanya, apa saja make up yang saya pakai selama hamil? Apakah saya lantas mengganti semua perabot perawatan kulit tubuh dan wajah demi menghindari efek membahayakan kosmetik pada janin di kandungan, ataukah hanya sebagian? Apakah saya harus memakai semua produk 'natural' (ouch saya enggak yakin kosmetik natural itu betul-betul natural haha)?

Kosmetik memang mesti diperhatikan saat kita hamil. Ini karena sejumlah zat dalam kosmetik yang kita konsumsi ada yang bisa diserap darah dan bisa membahayakan plasenta si dedek bayi. Misalnya paraben, yang biasa ada di produk body lotion, krim muka, sabun, dll. Juga zat pemutih seperti Gluthatione, hydroquinon, dkk.

Sebenarnya sih memilih kosmetik yang aman enggak harus menunggu hamil, tapi yaaaaah simpelnya sekarang kita mesti menjaga nyawa si bocil yang ada di kandungan, kan. Saya sendiri enggak langsung mengganti semua peralatan make up begitu hamil. Satu demi satu, bergantung pada prioritas. Karena tentunya ganti make up butuh biaya kan, ciiin. Hahahaa..

1. Sunscreen
Saya masih bandel. Kadang pas panaaaaaas banget, saya masih suka pakai BB Creamnya Wardah atau Pixy karena selama ini terbukti bisa mencegah kulit wajah dari gosong. Tapi pas Jakarta enggak segitu panasnya, saya akan pakai Loreal spray yang disemprot ke wajah. Saya pilih itu karena lebih ringan dan jadi mengurangi perasaan berdosa memakai sunscreen yang biasanya mengandung paraben.

2. Bedak
Oh saya enggak bisa move on dari compact powdernya Maybelline. Jadi bedak taburnya The Saem saya pake kadang-kadang doang aja hahaha.. Kalau mau lebih aman sih mending pakai bedak tabur Marcks yaaa.. Atau enggak usah pakai bedak dulu, deh. Nyahahaaha

3. Krim pagi dan malam
Kemarin-kemarin sih masih pakai krim dari ZAP yah. Secara muka jadi kerasa lebih "normal" gitu dibanding pakai krim malam Ponds dan sebagainya. Tapi ternyata, krim ZAP enggak boleh dipakai saat hamil. So, saya ganti pakai aloe vera essence dari The Saem yang sekadar mengurangi rasa berdosa pada wajah kalau enggak ngasih vitamin apa-apa.

4. Lipstik
Saya, ehm, sekarang mesti tahan diri dan jarang lipstikan semenjak hamil. Sebagai gantinya, saya pakai lip balm hare yang selain ringan, juga murce. Tau kan, yang warnanya ijo, tapi di bibir jadi ada efek pink alaminya gitu?


5. Maskara, eyebrow, eyeliner
Saya enggak pakai dulu sementara ini. Well, dengan berat hati sih, tapi demi dedek, apa sih yang enggak..

6. Body lotion
Biasanya sih saya pakai body lotion murah under 50K buat kulit. Tapi karena kebanyakan body lotion murce di pasar mengandung Paraben, sekarang saya pake selang seling antara Jeju Island Aloe Vera 99 % dengan body butter mango TBS walau pada akhirnya lebih sering enggak pakai karena malas. Tapiiii sebenarnya body lotion maupun body butter berguna banget lho buat kulit tubuh bumil yang berubah jadi ekstrakering bahkan bersisik. Saya aja pernah sampai ngelupas, kulitnya. Hiiii...

7. Facial foam
Dulu saya pakai Ponds yang jenis apa aja. Cocok soalnya, dan udah biasa pakai aja sejak SMA. Tapi setelah hamil, saya jadi ganti TBS yang Vitamin E. Sempat enggak suka produk itu karena baunya kedelai abis dan enggak bikin kulit keset, sampai akhirnya ganti Clean n Clear yang bening itu. Tapi belakangan, saya balik lagi ke TBS karena pilih aman hahaha..


Nah, setelah pakai produk-produk di atas, alhamdulillah kulit saya baik-baik aja. Walau sempat breakout pas balik Semarang, tapi setelah 3 hari, kembali normal. Intinya sih, main aman aja saat hamil. Pilih kosmetik yang enggak aneh-aneh dulu, rajin baca komposisi di kemasan belakang, dan jangan segan ganti kosmetik kalau ternyata kandungannya enggak baik buat kandungan.

Salam kinclonk!