Monday, December 5, 2016

Bukan Pernikahan, tapi Anak yang Mengubah Saya


Saya  pernah gak pengin menikah. Makanya mami saya bahagia banget saat saya akhirnya kawin, bahkan punya anak.

Bukan karena saya enggak suka bocah, tapi karena saya merasa pernikahan bisa mengubah seorang perempuan. Menjadi lebih bergantung pada laki-laki, tak mandiri secara finansial maupun psikologis, serta –pada akhirnya- bisa memangkas mimpi-mimpi yang muncul sejak lama, bahkan ketika si perempuan belum genap 6 tahun.

Tapi ternyata pernikahan, setidaknya yang saya jalani, tak kuasa mengubah saya. Bukan hanya karena si bojo lebih memposisikan diri sebagai pendamping alih-alih pengatur, tapi juga karena saya sudah mempersenjatai diri sebelumnya agar tetap menjadi saya. Saya yang suka jalan-jalan ke mana saja, ketemu teman, nonton bioskop sendirian, me time di kafe sendirian juga, dan kadang bobok lagi selepas subuh.

Namun semua berubah. Setidaknya saat ini. Bukan karena si bojo mendadak jadi kayak pemerintah yang atur ini-ono, tapi karena kehadiran anak kami, Bimo. Yup, si bocah yang bahkan belum bisa ngomong jelas ini, yang tingginya belum sampai 1 meter ini, yang kerjaannya cuma netek-ngompol-eek-main-molor ini, ternyata punya daya magis yang BUESAR dalam mengubah saya.

Misalnya:
*di tengah pacaran sama bojo di toko material* (saya bukan bakul semen lho ya, tapi lagi survei keramik aja karena lagi renov rumah)

Mami saya: Nok, Bimo nangis terus nih.. Kamu masih lama?
Saya: *tatapan pemaksaan ke bojo* Kak, ayo pulang.

Misalnya lagi:
*di tengah nonton Fantastic Beast and WTFT*

Suami saya: Keren ya filmnya, bla bla bla…
Saya: Kak, Bimo gimana ya di rumah.. Kok kebayang kepalanya itu ya.. Pipinya juga ya, kak..
Bojo: -____-

OKE, EMANG SAYA JADI ENGGAK ASYIK. Wkwkwk

Tapi itu hanya remeh-temeh dari buanyak hal yang berubah setelah ada Bimo. Saya jadi enggak segitunya pengin me time, jadi jarang banget buka medsos dan hape, jadi lebih sering beli baju Bimo dibanding lipen *wajar kalik Pit kalo ini*, dan kepikiran dia terus ke mana pun saya pergi. Mandi aja saya kebayang muka bundarnya Bimo -____-

Pun soal pekerjaan, belum-belum saya jadi gelisah sendiri. Bisa nggak ya ninggal Bimo seharian gitu? Kuat enggak ya enggak nanganin dia langsung? Tega enggak ya, ninggal bocah sekecil itu untuk pergi kerja? Dll dll..

YAAAAAK SAYA JADI MAKIN ENGGAK ASYIK ;P

Ah tapi saya mah nikmatin aja segala perubahan ini. Mungkin saya memang jatuh cinta banget sama Bimo, sampai kayaknya bau, wajah, gerakan, suara dan tatapannya selalu membayangi saya kapan pun dan di mana pun saya berada.

Btw Bim, tapi kamu enggak bete kan, aku temenin terus? -___-

1 comment:

  1. Alhamdulillah semoga atas bantuan ki witjaksono terbalaskan melebihi rasa syukur kami saat ini karna bantuan aki sangat berarti bagi keluarga kami di saat kesusahan dengan menanggun 9 anak,kami berprofesi penjual ikan di pasar hutang saya menunpuk di mana-mana sempat terpikir untuk jadikan anak bekerja tki karna keadaan begitu mendesak tapi salah satu anak saya melihat adanya program pesugihan dana gaib tanpa tumbal kami lansung kuatkan niat,Awalnya suami saya meragukan program ini dan melarang untuk mencobanya tapi dari yg saya lihat program ini bergransi hukum,Saya pun tetap menjelaskan suami sampai dia ikut yakin dan alhamdulillah dalam proses 1 hari 1 malam kami bisa menbuktikan bantuan aki melalui dana gaib tanpa tumbal,Bagi saudara-saudaraku yg butuh pertolongan silahkan
    hubungi Ki Witjaksono di:O852-2223-1459
    supaya lebih jelas
    silahkan klik-> PESUGIHAN TANPA TUMBAL

    ReplyDelete