Thursday, July 23, 2015

Review Ant-Man: Kejutan Besar dari Si Pahlawan Mungil


Scott Lang (Paul Rudd) gelagapan. Tubuhnya mendadak menciut begitu mengenakan kostum aneh warna merah yang dia gotong dari rumah orang yang dirampoknya. Walhasil, Lang pun pontang-panting lantaran saat menyusut, ia tengah berada dalam bak mandi. PR bagi Lang karena ia kudu selamat dari terjangan aliran air keran yang dinyalakan sobatnya.

Ya. dalam dunia mini Lang, hal yang kecil bisa jadi bencana: air keran jadi serupa tsunami, langkah kaki orang jadi semacam ancaman pohon tumbang, dan tikus jadi semacam makhluk gigantis yang menyeramkan. Lang, si bekas pesakitan kasus perampokan, pada akhirnya "terpaksa" untuk hidup luwes di dua "dunia". mikroskopis dan "normal".

Ini karena sang duda butuh duit untuk membayar biaya hidup putrinya, sementara seorang ilmuwan bernama Hank Pym (Michael Douglas) bersedia memenuhinya asalkan Lang sudi menuruti pintanya: menjadi Ant-Man. Demi sang putri yang jelita, Lang menerima tawaran itu. Ia pun mau menjalankan misi menghancurkan proyek Yellow Jacket gagasan Darren Cross.

Oke, persoalannya, siapa sih Ant-Man? Superhero mana lagi dia?



Untuk ini, jujur saja saya sempat meremehkan nama Ant-Man yang kesannya tak sangar seperti Batman, Superman, Spider-Man, bahkan Dare Devil. Apa sih yang bisa kita harapkan dari seorang pahlawan semut? Sebegitu putus asanyakah Marvel sampai membikin film khusus untuk si pahlawan semut setelah Avengers Age of Ultron yang mahaasyik itu?

Semula saya menyangka Marvel pun tak cukup percaya diri mengenalkan Ant-Man ke dunia. Ini karena pembuka film bikinan Peyton Reed menampilkan sosok Stark Sr, yang pada akhirnya, membuat saya jadi berpikir "Oooh, si Ant-Man kenal sama geng Avengers..".

Belum lagi dalam film Ant-Man akan menggiring kita dan pasukan semutnya ke markas Avengers dan bertemu dengan Falcon, anggota geng New Avengers yang sudah diperkenalkan di penghujung Age of Ultron. Jadi untuk urusan identitas, kecupuan Ant-Man bisa terangkat oleh sekadar simbol A di atap markas Avengers.



Tapi inilah hebatnya Marvel. Mereka mampu membuat debut Ant-Man jadi gurih dan ngepop. Kita pun akan segera jatuh hati pada Lang yang tengil, dan berdecak kagum pada polahnya menyusuri lorong-lorong sempit bersama kawanan semut. Kita juga akan dengan mudahnya merasa sayang dengan sosok Ant-Man si superhero, karena dia, seperti para pahlawan Marvel lainnya, "dekat" dengan kita.

Ant-Man tidak sesempurna Superman dan Batman, pun bahkan Iron Man. Ia miskin, duda beranak satu, pengangguran, bekas napi, dan konyol. Ya, untuk yang terakhir, adalah kelebihan menurut saya. Bagaimanapun kekonyolan dan tawa adalah alasan kita menyenangi sebuah film, meski tidak lantas membuat film itu layak disebut bagus.

Pilihan Marvel untuk mengemas film jagoan mereka dengan ceria dan penuh tawa kontras dengan gaya film para pahlawan DC Comics yang serius dan "gelap". Kontradiksi itu bakal terlihat jelas tahun depan, karena Warner Bros berkukuh emoh memakai resep guyonan segar ala film Marvel.

Yeah, sepertinya tahun depan bakal asyik banget karena "perang" antara jagoan DC Comics dan Marvel bakal berujung pada munculnya film-film keren. Mulai dari The Flash, Superman vs Batman, Captain America: Civil War (Oh God, penasarannya udah mulai sejak sekarang, lho ini...), dan Suicide Squad (welcome, our new Joker, Mr Jared Letto!).

Nah, terkait Civil War, bisa dibilang Ant-Man serupa pemanasan sebelum para jagoan kita terbelah menjadi dua geng dahsyat. Ini bisa kita lihat dari pertemuan Ant-Man dengan Falcon di markas The Avengers, dan potongan scene setelah kredit.

Scene itu menunjukkan Captain America dan Falcon sedang mencari Ant-Man. Bisa diduga nantinya dalam Civil War, Ant-Man akan ada di pihak Captain America untuk vis a vis dengan blok Iron Man yang berhasil menggaet Spider-Man.

Dalam film ini, sutradara Peyton Reed juga sekaligus membuka jalan untuk sosok superhero baru. Dikisahkan putri ilmuwan Hank Pym, Hope van Dyne, dipertunjukkan oleh sang bokap sebuah kostum. Sepertinya sih dia bakal jadi The Wasp. Jika iya, semoga saja menarik karena jarang ada film superhero perempuan yang keren.

Hope van Dyne. Pengen euy punya rambut begitu
Kalau Anda penyuka film-film Marvel yang kocak, menonton Ant-Man akan terasa mengasyikkan. Humornya benar-benar basah tanpa jatuh merusak kekuatan dan jalan cerita. Tak heran kalau akhirnya pendapatan Ant-Man lumayan juga meski ia semacam anak bawang jika dibandingkan para dedengkot Avengers. Mestinya sih ya, pencapaian Ant-Man itu membuat Warner Bros memikirkan ulang "No Jokes Policy" yang bakal diterapkan di film-film pahlawan DC Comics. Ah Warner Bros, why so serious?