Sunday, November 27, 2011

Bang Bing Bung, Yuk Kita Nabung!

deviworld-bebi.blogspot.com
Sebenarnya sudah sejak kemarin pengin nulis di blog soal ini. Tapi karena dari kemarin saya sibuk (tidur dan begaol), saya jadi lupa terus mau ngeblog.

Saya nulis ini cuma ingin berbagi. Karena saya yakin, banyak yang sebenarnya pengin nabung tapi nggak pernah bisa. Hehe.. Termasuk saya :p Nah, entah kenapa dari kemarin saya bertemu dengan orang-orang rajin menabung seperti Tampi Kadarman dan Rasea Fitri Nuansyah alias Aan.

Tampi sebulan lalu berbagi cara dia menabung dengan gaji yang jumlahnya nggak jauh beda dengan gaji saya. Nah dari gajinya yang segitu, separuhnya bisa dia tabung. "Aku hidup dengan duit sisanya. Bisa atau nggak bisa. Mau nggak mau," ujarnya.

Saya akui Tampi memang sangat disiplin. Dengan gaji tak jauh beda dengan saya, dia bisa "bertanam" emas di GoldGram, bank emas yang berkantor di Cikini, Jakarta Pusat. Kata Tampi, tujuan investasi emas nggak terasa sekarang, tapi sepuluh tahun mendatang, saat kita butuh uang untuk menyekolahkan anak kita. She's marvelous!

Pertanyaannya, kenapa saya tidak melakukan hal yang sama? Padahal kan seharusnya saya bisa melakukannya! Ya, kan? Ya, kan?

Setelah bertemu Tampi, di kosan saya langsung membuat budgeting di agenda. Di situ saya menulis anggaran per bulan sesuai pos. Namun belum begitu terstruktur, karena itu belum bisa diaplikasikan dengan disiplin *alesan*

Lalu kemarin, Aan memberi petuah soal menabung. Lucu banget dah. Dia selama ini ternyata serius dan detail banget membuat budgeting pengeluarannya per bulan. Budgetingnya pakai Excel pula. Di-persen-in gitu, anggaran buat ini berapa, buat itu berapa. Saya pun dengan takzim menyimak.

Dini hari sampai kos, saya pun langsung mencoba mempraktekkan apa yang dilakukan Aan. Nggak pakai Excel sih, karena saya nggak mudeng, hehehe.. Tapi saya langsung membagi secara tegas, gaji saya ke sejumlah pos.

Garis besarnya begini. Gaji saya yang segitu saya bagi ke lima pos utama: (1) bayar kos, (2) AXA Mandiri, (3) Tabungan Rencana Mandiri, (4) Menabung di celengan, (5) Uang pulsa.

Lima pos utama di atas nggak boleh dan nggak bisa diutak-atik lah intinya. Nah, sisanya masih saya alokasikan lagi. Yakni untuk (1) uang makan, (2) laba ditahan, (3) kebutuhan bulan itu, (4) lain-lain.

Saya belajar soal laba ditahan itu dari Aan. Huehehehe.. Istilahnya emang aneh-aneh ni anak. Tapi laba ditahan itu emang penting sih. "Kayak kemarin. Gue kecelakaan, kan. Nah karena ada duit di pos laba ditahan, gue bisa nalangin biaya kecelakaan dari situ.." jelasnya. Baiklah..

Selama ini, saya boros itu untuk hal-hal di bawah ini: makan, nongkrong, salon, dan shopping. Karena itu saya mencoba membuat resolusi yang bisa mengurangi pengeluaran dari hal-hal itu.

Untuk makan, saya perketat pengeluarannya dengan cara memilih makanan yang murah, seperti di warteg, dan warung-warung pinggir jalan yang harga makanannya nggak sampai Rp 10 ribu per makan.

Lalu soal nongkrong, saya juga mulai mengurangi. Saya tahu, saya bakal sering dianggap autis karena milih pulang kos dibanding kumpul dengan teman-teman. Tapi itu udah konsekuensi sih karena saya menabung. Hehehe.. Go ahead, Vitri!

Saya mikirnya, sekali main kadang bisa habis duit banyak. Makan di foodcourt atau kafe kan bisa habis banyak. Belum kalau dilanjut karaoke, nonton.. Terus pulangnya malam, mau nggak mau naik taksi. Wuaaah, kan lumayan tuh kalau duitnya ditabung :)

Soal salon, saya juga sekarang nggak sesering dulu. Kalau dulu, saya bisa seminggu sekali hair mask dan hair spa di salon. Belum facial. Sekarang saya cukup perawatan rambut dan facial sebulan sekali. Sebagai gantinya, saya pakai cem-ceman Mustika Ratu dan pakai krim creambath Makarizo sendiri di kos. Hohoho..

Lalu soal shopping, saya nggak tahu kenapa sekarang bisa tahan diri banget. Alhamdulillah, yah.. Jadi duit untuk shopping sekarang bisa masuk celengan deh. Hehe.. Saya emang suka banget nabung di celengan. Dan alhamdulillah juga saya tahan untuk nggak curi-curi ambil walau lagi butuh duit.

Setelah saran Tampi dan Aan bisa sedikit demi sedikit saya aplikasikan, rasanya bahagia banget. Ada kepuasan tersendiri saat saya bisa menahan uang dari pengeluaran yang nggak penting. Yah walau sebagai ganjarannya, saya harus rela disindir-sindir karena jarang nongkrong. Heee :p

Alasan saya sekarang mulai ketat menabung tentu sudah bisa ditebak. Saya nggak mau, saya kerja banting tulang, tapi nggak ada perubahan di tabungan saya. Yang saya khawatirkan juga adalah kebutuhan masa depan saya kalau nggak ada duit untuk jaga-jaga.

Saya sih nggak mau menyalahkan 100% gaji saya yang terbatas dan pas-pasan. Karena berapapun gaji kita, sebesar apapun, bisa nggak ketabung kalau kita tak bisa mengelolanya. Benar begitu? Bang bing bung, yuk kita nabung! :)

Tuesday, November 22, 2011

Ada Kondom di Tas Pak Hakim

Materi sidang hari ini akan biasa saja, jika tidak ada kejadian yang membuat saya semangat dan senyum-senyum sendiri. Hehehe.. Dari judul di atas tentu sudah tahu kan, apa yang saya "temukan" di sidang hari ini? Ya, ada kondom di dalam tas Pak Hakim.

Bermula saat Majelis Hakim Pengadilan X memeriksa barang bukti yang disita untuk kepentingan sidang terdakwa Y. Pak Y kebetulan adalah seorang hakim, yang sempat jadi sorotan karena membebaskan salah seorang terdakwa kasus korupsi. Pak Hakim itu jadi tersangka lantaran didakwa menerima suap dari rekannya.

Saya semula biasa saja menyimak adegan pemeriksaan barbuk tersebut. Sampai akhirnya saya melihat Moksa dari detik.com tampak cengar-cengir saat berbincang dengan seorang asisten jaksa. Mesum banget deh, cengirannya Moksa.

Usai bergosip dengan asisten jaksa itu, Moksa menghampiri kursi saya. "Ada yang bagus. Banyak kondom di dalam tasnya si Y. Ntar kita lihat aja, kondomnya dilihatin nggak. Hehehe.." kata dia, dengan tampang berseri-seri saking senangnya dapat "barang bagus".

Saya otomatis tersenyum lebar mendengarnya. Hah? Serius? Kondomnya bakal dibagiin, eh dilihatin? Di ruang sidang??

Detik demi detik, menit demi menit, Majelis Hakim masih sibuk memeriksa barbuk lain. Saya sabar menanti karena memang barbuknya sangat banyak. Lima menit berlalu, Majelis Hakim belum juga mempertontonkan koleksi kondom di dalam tas Pak Y.

Saya pun gelisah. Wah, jangan-jangan diumpetin nih, kondomnya (jamuran, dong.. *eh). Ternyata benar. Dari kursi pengunjung sidang, saya melihat Pak Ketua Majelis Hakim terkikik-kikik geli. Ketawanya kayak lagi nonton Warkop DKI gitu, deh. Sementara tim kuasa hukum Pak Y terlihat mati-matian menahan tawa.

Suasananya serba kikuk. Tapi lucu. Pengunjung sidang yang nggak tahu apa yang terjadi, pasti deh penasaran, barbuk apa yang sedang diperiksa, sampai-sampai semuanya ketawa geli begitu.

"Wah ini nggak perlu dikeluarkan, ya..Hehehehe.." begitu kata Ketua Majelis Hakim sembari mengintip ke dalam tas jinjing hitam milik Pak Y. Sementara Pak Y, sang pemilik, cuma cengengesan. Ia tampak malu, tapi tak tahu harus lari ke mana. Hehehe..

Usai sidang, Moksa tampak merayu Pak Jaksa agar mau membeberkan adanya kondom dalam tas Pak Hakim. Tapi Pak Jaksa berkukuh tak mau buka mulut. "Nggak perlu diketahui publik lah, soal itu.. Nggak ada hubungannya sama kasus.." dalihnya.

Saya sendiri memilih tanya pada asisten Pak Jaksa, berapa jumlah kondom yang ada di dalam tas Pak Y. Jawabannya sungguh bikin saya cekikikan sendiri sore tadi. "Wah, pokoknya lusinan. Banyak!" kata dia, geli sendiri dengan fakta itu.

Baiklah, saya akui saya menyesal masalah kondom ini nggak bisa saya bikin berita (walau nggak mungkin dinaikin juga sih sama redaktur, hahahahaha..). Padahal sebenarnya masalah kondom ini kan menarik dibaca.

Tapi, saya setuju dengan alasan Pak Jaksa emoh lusinan kondom itu diberitakan. Mungkin memang nggak semua hal menarik seperti itu harus jadi berita. Kalau memang nggak ada hubungannya dengan kepentingan publik dan perkara yang disidangkan, untuk apa memaksakan pemberitaan?

Btw, sebenarnya saya masih penasaran.. Ngapain ya, Pak Y bawa kondom sebanyak itu di tasnya.. Hohohoho..

Wednesday, November 16, 2011

Ayo ke Jogja!

Saya teramat sangat rindu Jogja. Sepertinya Januari saya ingin menikmati kota itu, entah dengan keluarga, entah dengan siapa. Walau Januari tahun depan masih lama, tapi saya sudah ada gambaran akan ke mana saja di sana. Hehehe.. :D

Rencananya, saya akan memulai perjalanan dari Semarang pukul 05.30. Di jalan, saya akan mampir di Kopi Banaran, untuk mengicipi Banana Coffee, dan Banana Caramel. Saya sampai sudah agak lupa rasanya dua makanan itu. Padahal keduanya adalah favorit saya.

Oh ya, saya juga akan bawa lagu-lagu zaman SD, SMP, SMA, dan kuliah, biar bisa sedikit klangenan. Kaset-kaset saya yang lama juga akan saya bawa biar di jalan saya bisa nyanyi sepuasnya. Nggak lupa, bawa makanan yang enak-enak juga buat cemilan.

Saya mungkin akan tiba di Jogja sekitar pukul 09.30. Tujuan pertama tentulah Malioboro. Hahahaha.. Whatever lah, saya memang suka banget spot Jogja yang ini. Setelah puas shopping pernak-pernik di sini, Butik Karita jadi tujuan berikutnya. Yuhuuu.. Saya suka banget belanja di Karita. Apalagi kalau bukan karena toko ini interior dan eksteriornya serba pink! Huehehehe..

Kelar dari Karita, saya akan melaju ke Mirota Batik. Saya punya misi belanja "sesuatu" di sini. Hohoho.. *evil smile*. Rampung dari Mirota, saya akan makan siang di Sego Pecel (SGPC) di dekat kampus Kehutanan UGM.

Urusan perut rampung, Sosial Agency dan Toga Mas jadi tujuan berikutnya. Saya akan membeli semuuuua buku yang saya mau (kayak punya duit aja. Hehe..). Malamnya, saya akan makan di SuperSambal, dan lanjut beli kopi jos di Angkringan.

Soal nginep, penginapan murah di Prawirotaman jadi sasaran. Kalau nggak, ya nginep di rumah Mas Iwan-Mbak Tiwi, sekaligus nengokin ponakan saya, Attar. Hehehe.. Paginya, saya akan meluncur ke Pantai Sundak. Untuk apalagi kalau nggak galau sepuasnya di pantai. Hohoho..

Siangnya, saya akan menempuh perjalanan jauuuh ke Candi Prambanan. Entah kenapa saya tiba-tiba pengin ke komplek candi itu. Kalau nggak capek, saya masih akan melanjutkan perjalanan ke Solo, dan menghabiskan malam dengan kuliner di sana. Tapi kalau capek, pulang Semarang kali, ya.. Hahahahaha..

Jogjaaaa.. Apakah kau merindukanku jugaaaaa??? Saya kangen, nih!

with The Amirs & Mas Iwan

Di Taman Pintar

Di Banaran Coffee

Banana Coffee

Sunday, November 13, 2011

Sang Penari: Tafsir Lezat yang Memilih Berbeda

chicmagz.com

Saya nggak tahu apakah tafsir terhadap Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk akan sedahsyat ini jika yang meraciknya bukan trio Ifa Isfansyah, Salman Aristo, dan Shanty Harmayn. Yang jelas, saya, Bapak, dan Nindy, sepakat sajian dari trio itu sangatlah lezat! Superb!

Film berbiaya Rp 10 miliar ini dibuka dengan pilihan adegan yang langsung membuat deg-degan: Rasus dewasa (diperankan Oka Antara), sudah berbaju tentara, membuka pintu barak. Suara derit pintu kemudian berganti tatapan nanar ratusan orang. Roman wajah mereka putus asa. Memelas. Dari situlah kita dibawa masuk ke dunia Srinthil tahun 1960-an yang mencekam, tragis, dan porak-poranda.

Rasus kemudian bergerak cepat. Tak menemukan Srinthil (Prisia Nasution) yang dicarinya ada di barak, ia melangkah kembali ke kampung halamannya. Ke Dukuh Paruk, yang menerima Rasus kecil lahir dan tumbuh menjadi pemuda piatu. Namun di sana, cuma Sakum yang dia temui. "Bagaimana aku bisa lupa pada kamu, Rasus. Saya ingat kalian, kamu dan Srinthil. Cari Srinthil, Sus.." demikian kata pemantik calung yang buta sejak lahir itu.

Mukadimah yang jitu dari Ifa. Sehingga rasanya tak canggung, saat kita penonton lantas digiring menyaksikan kemelaratan Dukuh Paruk tahun 1950-an, yang entah mengambil gambar di kota mana. Sungguh saya salut dengan ketelatenan Ifa mencari kampung antah-berantah yang pas untuk "didandani" menjadi Dukuh Paruk enam dekade lalu.

Dukuh Paruk yang dibangun Ifa, berikut makhluk yang hidup di dalamnya, makam Ki Secamanggala yang mistis melegenda, bisa demikian sempurna mewujud. Satu-satunya yang mengganggu justru Rasus, yang menurut saya terlalu seksi dan metroseksual sebagai warga desa sepelosok Dukuh Paruk, hehe.. Agak janggal rasanya melihat Oka yang berdada kotak-kotak bertani dan berada di tengah pria Dukuh yang kurus dan keling.

Ifa sejak awal memang sudah menekankan Sang Penari bukan diadaptasi, melainkan "terinspirasi" dari trilogi Karya Ahmad Tohari. Karena itu kita juga tak boleh protes, saat beberapa hal dalam film berbeda dengan teks buku. Misalnya, buku mengisahkan Srinthil menjadi ronggeng saat berusia 11 tahun, namun di film, ia mulai njoget di usianya yang ke-16.

Yang mencolok tentu masalah kesadaran Srinthil menjadi ronggeng. Tohari dalam bukunya menuturkan cucu tunggal Sakarya itu menjadi ronggeng karena peran "alam", karena arwah Ki Secamanggala menitahkannya menjadi perempuan milik semua. Namun tafsir Ifa lain. Srinthil dalam film menjadi ronggeng, karena ia ingin menjadi ronggeng. Ia memilih.

"Sus, ronggeng ki duniaku.. Wujud dharma bhaktiku untuk Dukuh Paruk.." ujar Srinthil, dalam sebuah percakapan dengan Rasus, usai keduanya bercinta habis-habisan di suatu malam.

foto.detik.com
Rasus yang merasa perempuan pujaannya dirampas paksa oleh Dukuh Paruk, kemudian memutuskan meninggalkan tanah kelahirannya. Ia dengan hati tercabik karena secara tidak langsung ditolak Srinthil, memilih masuk barak tentara, dan menjadi anak buah terpatuh dari Sersan Slamet (diperankan secara komikal oleh si ganteng Tio Pakusadewo).

Film setelahnya menjadi taat kepada teks buku. Namun Ifa membuat eksekusi sangat manis dengan pilihannya memasukkan lambang-lambang tertentu untuk menceritakan perang ideologi antara pemerintah dengan partai merah yang berujung pada pembantaian yang sadistik, "gelap", dan tanpa ampun.

Bingung, kalau disuruh memilih mana yang menjadi adegan favorit saya. Tapi yang hingga kini masih teringat ada tiga. Pertama, saat di sebuah malam, satu per satu aktivis pantai merah di-dor dan mayatnya terapung di kali. Wah, adegan ini dibuat Ifa begitu tampak sederhana, namun membuat bulu kuduk berdiri.

Adegan favorit kedua adalah saat Rasus mandi (sumpah seksi sekali si Oka Antara itu!!), dan Srinthil menghampirinya. Kepala Rasus yang basah karena air kemudian menyandar ke dada Srinthil, dan disambut rengkuhan tangan penuh kasih dari sang ronggeng. Dengan posisi itulah keduanya terlibat percakapan intim, yang menunjukkan mereka saling mengasihi dan menjaga satu sama lain.

Favorit ketiga adalah adegan penutup film ini. Srinthil yang dikisahkan hilang ingatan akibat tumbukan derita psikologis, sedang menari di Pasar Dawuan. Ia memang masih menari sebaik dulu, dan masih diiringi permainan calung saru dari Sakum. Namun cahaya dari matanya sudah lenyap entah ke mana.

Melihat Srinthil menari, Rasus dan mobil tentaranya menepi. Ia menghampiri Srinthil, dan menggenggamkan keris moyangnya di tangan perempuan yang diam-diam menjadi pujaan hatinya sejak kecil itu. Lalu Srinthil yang sudah tak waras tersenyum, meski kini ia tak kenal lagi Rasus. Ia juga tak bisa memahami mengapa pria tampan di hadapannya itu tertegun memandangnya.

Adegan itu sangat menyesakkan hati. Sama menggetarkannya dengan diksi Tohari dalam laman terakhir Jantera Bianglala, yang mengisahkan Rasus akhirnya memilih mengawini Srinthil, meski perempuan itu tengah kacau jiwa dan kediriannya.

Ini saya ambilkan sepotong paragraf dari Jantera Bianglala, yang menggunakan sudut pandang Rasus selaku pencerita. Di paragraf inilah tersirat bagaimana Rasus akhirnya mengalahkan ego yang selama ini mengungkungnya. Ia memilih untuk tak malu memperistri Srinthil yang sakit jiwa, karena memang perempuan itulah yang meluluhlantakkan hatinya selama ini.

"Hening. Tiba-tiba semuanya menjadi bening dan enteng. Oh, lega. Lega. Keangkuhan, atau kemunafikan yang selama ini berdiri angkuh di hadapanku telah kurobohkan hanya dengan sebuah kata yang begitu singkat. Segalanya menjadi ringan seperti kapuk ilalang. Aku bisa mendengar semua bisik hati yang paling lirih sekalipun. Aku dapat melihat mutiara-mutiara jiwa dalam lubuk yang paling pingit.."

ardnas20.wordpress.com

Saturday, November 12, 2011

Teringat Ronggeng Dukuh Paruk, 13 Tahun Lalu

Saya membaca karya Ahmad Tohari ini saat berusia 12 tahun, dan masih berseragam putih-biru. Bapak memang baru mengizinkan saya membacanya saat saya sudah (agak) gedhe. Dia sebelumnya mati-matian tidak membolehkan saya membaca Ronggeng Dukuh Paruk, dengan alasan, saat merengek saya masih berstatus anak SD. Hehehe..

Seingat saya, begini alasan Bapak tak mengizinkan saya membacanya: "Ntar aja kalau udah gedhe, baru boleh baca. Terlalu dewasa buat kamu, soalnya". Dan saat 12 tahun, libur sekolah, dan diterima sebagai siswa SMPN 2 Semarang, saya menagih janji ke Bapak. "Pak.. Buku-bukunya Tohari aku bawa liburan ke Mbah, ya? Boleh, ya?". Dan si Bapak mengangguk, hehe :D

Ronggeng Dukuh Paruk di mata saya sebagai anak 12 tahun sempat membuat "pusing". Mungkin "otak anak SD saya" terlalu terbiasa baca komik macam KungFu Boy, Doraemon, Candy-Candy, TinTin, dan sederet komik wayang Mahabaratha yang dijejalkan Bapak untuk mengisi sore hari saya sepulang sekolah.

Tapi ketika menutup buku terakhir trilogi, Jantera Bianglala, saya nggak ragu bilang ke Bapak: "Aku sesak napas bacanya. Ada buku Ahmad Tohari lainnya, nggak?" hehehe..

Karena sudah beribu-ribu tahun lalu bacanya, jujur saja saya sudah agak lupa bagaimana persis jalan ceritanya. Yang saya ingat buku ini bercerita soal Srintil, perempuan asal Dukuh Paruk yang dirasuki "inang" ronggeng, dan secara magis terpilih sebagai pemangku nafsu dan keinginan laki-laki, dengan tubuhnya, dan (seharusnya) dengan jiwanya.

Menjadi ronggeng, adalah menjadi milik semua orang. Maka Srintil, mau tak mau, diajari untuk nrimo ing pandum, menerima bahwa tubuhnya adalah tubuh yang tidak taksa, dan bertumpu pada kuasa lelaki untuk menjadi berarti. Dan adalah bukan pilihan ketika Srintil perlahan menjelma menjadi sang penari, yang gerak tubuhnya menyihir setiap pria Dukuh Paruk.

Srintil yang masih berusia 11 tahun itu kemudian jatuh cinta kepada Rasus, kawan sepermainannya yang biasa mengiringinya menari di sebuah sore. Namun Rasus adalah bocah Dukuh Paruk biasa, yang bahkan tak punya seekor kambing pun untuk bisa ditawarkan kepada Ki Kartareja –dukun ronggeng yang mengurus Srintil- agar bisa menikmati keperawanan sang ronggeng di malam "bukak klambu".

Namun Srintil memilih. Di malam keperawanannya ditukar dengan sekeping duit emas, ia justru mencari Rasus. Ia, dengan kesadaran dan keakuannya, memilih untuk menjalinkan rasa dan tubuhnya dengan lelaki yatim piatu itu. Tak ada yang bisa menyalahkan. Kecuali Nyai Kartareja, yang marah luar biasa saat anak asuhnya begitu terpaut pada Rasus, hingga tak sudi melayani nafsu siapapun melainkan pria itu.

Awal cerita itulah yang begitu memukau saya saat membaca masterpiece Pak Tohari ini. Saya takjub, saya larut, dan saya begitu jatuh cinta dan terjerat dengan pesona kata Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk yang membuat saya sampai tak doyan makan demi menghabiskan halaman buku terakhir.

Saya sangat suka cara Pak Tohari menceritakan kemelaratan Dukuh Paruk, kenaifan warga kampung itu, dongeng tragis tentang tempe bongkreknya.. Saya juga suka bagaimana Rasus dengan egonya yang begitu meluap demikian mencintai Srinthil.. Dan tentu saja saya suka bagaimana Srinthil dengan tubuhnya bisa lentur menjelma menjadi apa saja, bagi siapa saja..

Tak hanya "budaya tempe bongkrek" di dukuh Jawa Tengah tahun 1950-an yang bisa dengan apik diceritakan Pak Tohari. Tapi juga bagaimana pada satu dekade setelah itu, masyarakat Dukuh Paruk dikacaubalaukan oleh perang dingin pemerintah dengan PKI. Sungguh tak bisa disangkal. Perang dua kubu itu nyaris selalu sukses menciptakan kengerian di pelosok desa terkecil sekali pun.

Well, dahsyatnya karya Pak Tohari itulah yang membuat saya begitu bersuka cita saat mendengar kabar buku ini difilmkan oleh Ifa Isfansyah. Untuk resensi filmnya, akan saya buat di postingan berikutnya ya, Jenganten..

Wednesday, November 9, 2011

Ulah Mata

article-directoryy.blogspot.com

Beberapa hari lalu, saya dan Dian kompak bengong saat menonton tayangan infotainment yang memutar gosip Prabu Revolusi dan -ehm- calon istrinya, Zee Zee Shahab, yang sedang mempersiapkan pernikahan.

Iya sih, kami agak jeles karena ada satu lagi lajang oke akan menikah. Tapi sebenarnya alasan kami menunda mata untuk berkedip bukan itu. So? Kami sama-sama takjub dengan cara Prabu memandang Zee Zee yang bikin kami pengin teriak, "Huaaaaa.. Mau dong dipandang kayak gitu!"

Fyi, adegan itu memperlihatkan Zee Zee tengah fitting kebaya pernikahan. Sementara Prabu, yang duduk di ruangan itu, terus tersenyum penuh arti pada sang calon istri. Ia memandang dengan tatapan "sumpah-bidadari-cantik-ini-yang-bakal-saya-nikahi!"

Tanpa sadar saya pun ngikik melihat ulah mata si Prabu! Saya melirik Dian, dan sobat saya itu juga senyum-senyum sendiri. Geje banget emang kami. Tapi asli, memang cara Prabu memandang Zee Zee bikin salah tingkah. Hahahahahaa.. *kok gue sih yang salting*

Saya percaya ini bukan yang dirumuskan teori male gaze. Tatapan mata Prabu ke Zee Zee bukan tatapan menilai "kelayakan barang" seperti yang dilakukan sebagian laki-laki. Menurut saya, tatapan itu semata ujud kekaguman dan "perasaan beruntung bisa memiliki" dari seorang manusia.

Nggak perlu ngomong "kulo tresno ting sampeyan" sepertinya, kalau bisa memandang ala si Prabu. Karena tatapan mata itu jauh lebih bicara, dan pastinya jauh lebih mengena..

Btw, objek fetis bagi saya sebenarnya adalah tangan. Saya nggak ngerti, kenapa sejak dulu selalu suka lihat tangan cowok. Tapi tatapan mata Prabu yang dahsyat itu sungguh membuat saya tak melulu memuja tangan dan jemarinya. Mata pun ternyata punya cara sendiri menunjukkan makna dan cerita.

"You're just too good to be true.. Can't take my eyes off of you...."

Monday, November 7, 2011

Lao Wedding: Tak Semudah Itu Menikah


Di pelukan alam Laos yang damai, Shane jatuh cinta pada Kam, pemandu wisatanya. Shane adalah penulis buku perjalanan asal Bangkok, yang mencintai fotografi, dan suatu hari terpikat oleh pesona kehidupan Laos yang tenang dan tak sehiruk-pikuk Thailand.

Maka setelah berbulan-bulan lamanya tak bersua mata, Shane kembali terbang ke negara utara Thailand tersebut. Yang ditujunya kali ini bukan lagi wat-wat cantik berlapiskan emas, melainkan Kam yang dicintainya.

Kedatangannya sekaligus membawa berita baik untuk Kam: ajakan untuk menikah. Kam yang juga begitu menyimpan cinta untuk Shane, menerima tawaran itu. Tapi menikah itu tak mudah, bukan? Apalagi kali ini, yang dilamar Shane adalah gadis yang berbeda budaya dengannya.

Kenekatan itu tak semudah yang dibayangkan Shane. Ia mesti berkompromi dengan keluarga Kam, budaya Laos, sekaligus dengan keluarganya sendiri. Semua lancar hingga saat mengurus administrasi di KUA, petugas setempat memintanya datang dengan konsep yang jelas: Di mana nanti mereka tinggal? Apakah Kam akan diboyong ke Bangkok, atau Shane menetap di Laos?

Shane pun terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. "Maaf, tapi ini mekanisme pertahanan kami jika ada warga kami akan dinikahi warga negara asing," ujar sang petugas KUA berwajah baik hati itu.

Dengan sisa keberanian yang ada, Shane berkukuh melamar Kam. Pertemuan antarkeluarga pun digelar. Tanggal lamaran ditentukan, persiapan hari H dibicarakan. Namun tiba-tiba, justru Kam yang meragu. Ia tak punya jawaban, atas pertanyaan yang berkelindan. Bisakah keduanya berjalan bersama pada akhirnya?

Saya semula mengira Lao Wedding film Thailand biasa. Tapi ternyata film ini sedikit berbeda, setidaknya dari segi ide. Mirip dengan film Friends, yang mempertemukan Won Bin dengan Kyoko Fukada. Meski jalan ceritanya tidak spesial dan cenderung lurus-lurus saja, tapi saya cukup senang dengan cara sang sutradara menyajikan kehidupan Laos.

Akting pemainnya sendiri tak spesial. Seperti rata-rata film drama pada umumnya, lah. Yang saya sayangkan, chemistry antara Shane dan Kam tidak terlalu terbangun baik. Entahlah, sepertinya Kam masih berakting layaknya dijodohkan paksa dengan Shane, hehehe.. Padahal Shane-nya ganteng, loh *iya, memang nggak ada hubungannya :)

Tapi semuanya kan subjektif, seperti halnya ketakutan-ketakutan Kam. Kalau memang tertarik film Thai, dan ingin tahu seperti apa Laos sebelum backpacking ke sana, tak ada salahnya kok menonton.

Saturday, November 5, 2011

Crazy Stupid Love: Sebuah Petang, dan Cinta Akhirnya Datang

Tak ada yang kuasa menolak Jacob Palmer (Ryan Gosling) sebelumnya. Semua perempuan yang pernah berkunjung ke bar itu pastilah tergoda kemolekan tubuh Jacob, berikut tatapan matanya yang sendu-merayu, dan pikat kata-katanya yang tanpa ampun menghajar alam bawah sadar perempuan.

Kecuali Hannah Weaver (Emma Stone). Perempuan 20-an tahun yang tengah berupaya jadi pengacara itu mengaku tak tertarik pada Jacob. Pun meski Jacob mengatakan, Hannah mampu membuat matanya tak berkedip sejak awal perempuan itu duduk di bar.

Alasan Hannah tentu karena ia, entah bagaimana dan mengapa, begitu tergila-gila pada seniornya di sebuah kantor pengacara. Padahal si senior adalah sosok yang biasa saja. Menolak Jacob yang seksi dan tampan, membuat Hannah dianggap sinting sahabatnya sendiri.

Bar yang sama, petang yang berbeda. Cal Weaver (Steve Carell) sedang galau. Lelaki 44 tahun itu tak siap menghadapi nasibnya yang tak lama lagi menduda, setelah Emily (Julianne Moore), sang istri, tiba-tiba menuntutnya cerai. Ia mengira semua baik-baik saja, sebelum Emily mengaku berselingkuh dengan David Lindhagen (Kevin Bacon), rekan kerjanya.

Semesta menuntun Cal untuk berkenalan dengan Jacob yang flamboyan. Pada Jacob, Cal belajar bagaimana cara bersikap lebih "lelaki", dan bagaimana berpakaian layaknya pria 40 tahun yang matang dan mengesankan perempuan. Tak lupa, Cal juga belajar one night stand kepada Jacob yang memang pakarnya. Hehehe..

Jauh dari hiruk-pikuk kafe, Robbie, bocah 13 tahun yang juga putra Cal-Emily, tengah berduka. Bukan karena kedua orang tuanya berpisah rumah, tapi lantaran cintanya ditolak oleh Jessica Riley, perempuan 17 tahun yang tak lain babysitter adiknya. Hahahaha.. Sumpah saya suka geli sendiri lihat Robbie ngejar-ngejar Jessica. Polos, tulus, tapi sekaligus berapi-api!

Hampir semua pemain film ini berakting apik di sini. Terutama Gosling, si Noah di film The Notebook. Dia benar-benar bisa menghidupkan aura Don Juan dari seorang Jacob Palmer. Carell juga cukup bisa menunjukkan depresinya karena ditinggal Emily, perempuan yang dipacarinya sejak usia 14 tahun, dan akhirnya menjadi istrinya.

Perempuan-perempuan di film ini yang justru tampil standar. Julianne Moore jauh dari kata oke. Dia seperti hanya menyumbang raga, tapi tak mampu menunjukkan sikap bimbang seorang istri yang mencintai rekan kerjanya. Sementara Emma Stone, hanya terlihat berakting saat terlibat perbincangan di atas ranjang dengan Jacob.


Jalan cerita Crazy Stupid Love mungkin tak anyar. Tapi sungguh film ini cukup menyegarkan. Terlebih, banyak 'kegilaan', sekaligus 'kebodohan' cinta yang tersaji secara apik di film ini. Ya, cinta memang bodoh, gila, tapi manis sekaligus.

Seperti Emily yang akhirnya merasa Cal lah lelaki yang tulus menyayanginya, seperti Jessica yang mencoba membuka hatinya untuk si kecil Robbie, seperti Hannah yang akhirnya menyadari pesona Jacob, dan mulai membuka diri untuk lelaki tampan itu. Maka akhirnya, menjadi bodoh dan sinting demi cinta itu tak mengapa. Bukan begitu?

Friday, November 4, 2011

Rokok

Saya nggak merokok, dan nggak tahan dengan asap rokok. Saya nggak tahu apakah ini ada hubungannya dengan paru-paru saya yang sempat flek saat masih balita. Yang jelas saya bisa langsung lemes jika menyesap bau tar tembakau.

Bapak saya dulu perokok. Tapi berhenti saat saya kecil. Karena itu bisa dibilang saya nggak terbiasa menghirup udara yang dicemari asap rokok. Kondisinya berubah saat saya pindah ke Jakarta pada Januari 2010.

Saya menduga, jika di-scan, mungkin warna paru-paru saya sudah jauh berbeda jika dibikin perbandingan antara 2009 dengan 2011. Bagaimana tidak? Kualitas udara di Jakarta sangat buruk.

Di Jakarta, saya sering menghirup asap hitam kendaraan bermotor. Saya yakin, itu membuat paru-paru saya ekstrakeras menyaring kotorannya. Belum ditambah asap rokok yang saya jumpai sejak di Kopaja, kantor, hingga tempat liputan.

Dulu saya nggak pernah bosan mengingatkan kawan saya agar nggak merokok di depan saya. Jujur saya katakan kepadanya, saya nggak kuat menghirup baunya yang menyiksa organ pernafasan saya. (Saya pribadi tak mempermasalahkan seseorang merokok. Cuma, mbok ya ngrokoknya nggak di ruang publik, gitu lho)

Namun entah kenapa, sekarang saya kerap abai. Sekali dua kali saya -dengan penuh maaf- masih minta tolong si perokok tidak merokok di dekat saya. Tapi lama-lama, saya seperti terlupa. Saya kerap tak acuh, meski asap rokok itu membuat saya megap-megap dan mata saya pedas.

Kadang heran sih, kenapa banyak perokok yang begitu cueknya merokok di tempat umum seperti bus, rumah makan, kebun binatang, atau perokok yang begitu cueknya merokok di ruangan tertutup ber-AC.

Wallahualam lah dengan alasan mereka melakukan itu. Mungkin saya juga salah, karena tak pernah memprotes itu pada mereka. Nggak seharusnya juga kali ya, saya pede mereka sadar diri dan empati.

Thursday, November 3, 2011

Tentang Saya dan 'Kembaran' Saya

"Hey, Liputan di mana? Bapak kangen kamu..". Itu isi SMS bapak untuk saya siang ini. Saya sampai tertegun memandangi layar di handphone.

Saya sangat dekat dengan Bapak. Dan saya tahu, Bapak bukan tipe orang yang bisa bilang kangen, sayang, atau hal semacam itu dengan lisan. Beliau biasanya mencurahkan semua sayangnya lewat perbuatan, mulai dari hal-hal kecil yang hampir selalu membuat saya merasa beruntung jadi putrinya.

Dan hari ini, saat Bapak tiba-tiba SMS saya seperti itu, apalagi sih yang bisa saya pikirkan selain pulang ke rumah dan memeluk dan menciumnya.. Saya kangen tidur dipeluk bapak lagi. Sungguh saya ikhlas, jika bangun-bangun perut saya udah penuh coret-coretan spidol, seperti yang dulu iseng dia lakukan pada saya jika tidur dengannya.

Kayaknya benar kata saudara-saudara saya. Saya ini manjanya kebangetan. Nggak tahu juga kenapa bisa begini. Nggak tahu juga apa yang udah dilakukan bapak-ibuk sampai membuat saya sedemikian manjanya pada mereka.

Dan mungkin benar kata teman-teman Bapak. Saya ini mirip banget sama bapak (bahkan gaya tulisan kami katanya mirip, hehe..). Makanya bisa lengket banget sama dia, dan nggak bisa lama-lama pisah. Ya saya juga dekat banget sama Ibuk (love you, Mom! Muah muah!). Tapi kedekatan saya dengan Bapak ini berbeda. Lebih kayak kedekatan antarsaudara kembar, hehe..

Saya dan Bapak sama-sama wartawan, sama-sama suka sepak bola, sama-sama suka MU, sama-sama suka traveling, sama-sama suka kisah epik wewayangan, sama-sama suka shopping, sama-sama suka baca buku, sama-sama suka kopi, sama-sama suka ngemil keripik pisang, sama-sama suka Peterpan dan lagu "Mungkin Nanti", sama-sama punya kebiasaan gigit kuku.. *sampe Ibuk kesel kalau lihat kami berdua sibuk gigitin kuku pas nonton bola. Heee

Bedanya, saya suka pink, dan bapak jijik warna itu. Huhehehe.. Dia bahkan ngancem langsung membuangnya ke sampah, jika saya nekat membelikannya benda berwarna pink. Parah banget tuh orang kalau udah nggak suka sama sesuatu. Oh ya, perbedaan kami lagi, Bapak itu dikenal orang sebagai sosok yang iseeeeeeng banget dan jahil setengah mati. Sementara saya nggak segitu maniaknya ngerjain orang.

Kalau sedang begini, saya cuma ingin pulang dan melepas kangen dengan mereka. Kadang saya berpikir, apakah sebaiknya saya meninggalkan Jakarta dan kembali bekerja di Semarang aja. Tapi kan saya belum jadi kuliah S2. Dan kata bapak, mending saya kuliah dulu aja di Jakarta, baru kemudian menimbang lagi akan tetap di sini atau pulang.

Aaaaah.. Nggak tahu saya, kenapa kayak gini. Daddy.....!! How could you do this to me, Daddyyyyy.. *mulai lebay

Btw, jadi inget adek saya, Alya. Hihihi.. Dia itu oknum yang membuat saya dan adek saya satunya lagi, Sofie, manggil Bapak dengan sebutan Daddy. Jadi ceritanya, Alya itu sejak SD suka gaya ngomong pakai English. Termasuk lah itu ngomong di rumah pake bahasa eng ing eng..

Nah, kebiasaan eng ing eng si Alya merembet ke cara manggilnya dia ke Bapak dan Ibuk. "Hai, Mommy! Hai Daddy!" begitu si kecil Alya dulu hobi manggil sebeh-semeh kalau pulang sekolah. Saya dan Sofie sih hobinya ngolok-olok si Alya. Suka manggil Bapak-Ibuk pakai nada suaranya Alya yang centil. Eh malah kebawa sampai sekarang. Huehehehe

Ah.. Benar-benar nggak sabar pulang rasanya. Pengin buru-buru bergabung ke markas The Amirs dan menggila lagi dengan mereka. Cepet datang dong, 18 November! Saya sudah kangen berat nih!

Wednesday, November 2, 2011

Kata Dia, Nggak Ada Lelaki Baik di Dunia

Kemarin saya buru-buru keluar dari kantor, karena sudah janji dengan Mbak Santi dan Icha untuk nginep bareng. Eh udah sampai dekat tangga, saya melangkah mundur karena mendengar Mas Jobpie dan Mas Tommy, dua redaktur saya, heboh ngomongin kelakuannya Anji, mantan vokalis Drive.

"Dia pinter ngerayu Bos, pasti. Kalau enggak, mana mungkin dia bisa dapet cewek-cewek cantik terus! Padahal tampangnya jelek. Sama Rusman, masih mending Rusman," kata Mas Jobpie kepada Mas Tommy.

Saya langsung deh, nyamber. "Iya masih mending Mas Rusman. Si Anji mah kelihatan penjahat kelamin! Heran kenapa banyak yang mau sama dia, padahal udah tahu kelakuannya bangkai," kata saya.

Eh nggak tahu kenapa setelah itu Mas Jobpie langsung heboh sendiri ngasih saya wejangan. Hehehe.. Tuh orang, emang deh ya. Soal beginian mah semangat banget ngobrolinnya.

"Cewek tuh subjektif, Vit. Ada yang suka tipe kayak Rusman (saya langsung motong: Mas Job, saya nggak dalam rangka naksir Mas Rusman lho ya!), tapi ada yang suka digombalin kayak cewek-ceweknya Anji selama ini. Ya itu wajar, karena memang selera orang yang berbeda.

"Nah yang pengin aku kasih tahu ke kamu adalah, nggak ada satu pun laki-laki di dunia ini yang baik, termasuk Nabi Muhammad. Semua laki-laki itu nakal, cuma nakalnya beda-beda. Ada yang nakalnya main cewek, ada yang suka judi, ada yang suka mabuk...

"Misalnya nih. Aku nakalnya itu suka main perempuan (hah? Ngapain sih dia ngaku ini ke gueeee? Errr..). Tommy suka judi. Sukma suka 'minum'. Nah itu tergantung perempuannya, sanggupnya menghandle yang mana. Misal kamu, kamu itu sanggup menghandle kenakalan yang seperti apa..

Saya ketawa aja mendengar analisa Mas Jobpie. "Hah, susah dihandle semua itu mah, Mas.. Kayak judi dong, memilih laki-laki itu," kata saya.

"Ya memang. Istriku itu milih aku juga judi. Dan hasil perjudiannya dia sampai sekarang belum kelihatan hasilnya, sukses atau enggak, karena harus menunggu sampai ada yang kalah di meja judi."

Haduh, saya nggak ngerti deh maksud Mas Jobpie yang terakhir apa. Yang saya camkan di pikiran adalah kata-katanya bahwa nggak ada satu pun laki-laki yang baik di dunia ini. Wohohoho.. Bisa jadi memang benar. Tapi saya masih nggak tahu, kenakalan tipe apa yang sanggup saya tangani. Mengerikan semua, sih... Hihihihi..

Tuesday, November 1, 2011

Mereka yang Korupsi, Saya yang Gila

Para terpidana kasus suap cek pelawat usai vonis

Liputan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi membuat saya lama-lama jadi gila sendiri. Hehehe.. Setiap hari yang berkelindan adalah cerita bagaimana pejabat-pejabat itu merampok uang negara sampai miliaran rupiah, namun pada akhirnya mereka hanya dihukum 1-2 tahun penjara :'(

Kadang saya sampai pengin nangis saking geregetannya melihat dan mendengar ulah perampok-perampok itu. Saya marah, sakit jiwa, stres, terlebih saat majelis hakim hanya menghukum mereka dengan penjara yang sangat ringan. Jauh lebih ringan dibanding maling ayam.

Kemarin misalnya, saya menulis soal Paskah Suzetta yang akan mendapat pembebasan bersyarat. Padahal, seperti kita tahu, dia baru saja divonis Juni 2011 lalu. Artinya dia belum genap lima bulan dipenjara di Rutan Cipinang, Jakarta Timur.

Oke lah, jika dihitung, Paskah mungkin berhak mengajukan pembebasan bersyarat karena sudah menjalani dua pertiga masa tahanannya. Dia dihukum 1 tahun 4 bulan, dan sebelumnya sudah ditahan pada masa persidangan. Tapi apakah kamu tidak merasa terlalu cepat jika Paskah bulan ini sudah dibebaskan??

Banyak yang perlu diubah sebenarnya. Yang pertama menurut saya, UU Tipikor harus memiliki aturan baru yang membuat koruptor minimal dihukum 10 tahun penjara. Ini juga memerlukan integritas hakim, tentu saja. Wacana yang sekarang muncul hanya menetapkan minimal 5 tahun untuk koruptor.

Hukuman 5 tahun itu menurut saya masih terlalu kecil! Hei, di Cina itu koruptor dan keluarganya dihukum mati biar keturunannya dipastikan nggak ada lagi dan garis korupsi bisa dipotong! Lihatlah hasilnya di negara itu. Apakah korupsi masih marak di sana?

Lima tahun itu tak sebanding dengan apa yang sudah dia rampok, dan efeknya bagi psikologis rakyat seperti saya. Jangan salahkan saya kalau akhirnya begitu membenci penyelenggara negara dan menganggap koruptor bangkai, jika yang saya lihat di lapangan, perampok itu hanya dihukum sekejapan mata!

Enak banget dia hanya dihukum setahun dua tahun, sementara yang dia rampok miliaran rupiah. Saya yakin, di benaknya, para koruptor pasti sudah mempertimbangkan kemungkinan dia digelandang ke pengadilan. Tapi apa yang membuat dia tetap melakukan korupsi? Karena dia merasa, hukuman penjara yang dia tangguk tak seberapa besar dibanding keuntungan materi yang dia dapat.

Saya berharap, suatu saat koruptor akan diganjar hukuman belasan tahun penjara. Tak cukup itu. Seperti yang pernah diusulkan Profesor Barda Nawawi, perlu juga dicanangkan hukuman sosial bagi koruptor. Yakni, dengan cara mempermalukannya di depan umum!

Prof Barda saat itu mengusulkan, bagaimana jika koruptor dan keluarganya diseret ke alun-alun untuk dihukum ramai-ramai. Terserah rakyat apa yang akan dilakukan untuk koruptor dan keluarganya itu. Mau meludahi mereka, boleh. Mau melempar mereka pakai tai ayam, boleh. Mau ngata-ngatain mereka dengan kata sekasar mungkin, juga boleh.

Yang jelas menurut saya, UU yang ada sekarang sudah sangat kuno dan kadaluarsa, jika dibandingkan dengan korupsi di negara ini yang semakin menjadi. Atau mungkin, pemerintah kita sengaja membuat UU basi itu tak diganti, biar nanti mereka tak tersandung aturan yang mereka buat sendiri?