Monday, November 7, 2011

Lao Wedding: Tak Semudah Itu Menikah


Di pelukan alam Laos yang damai, Shane jatuh cinta pada Kam, pemandu wisatanya. Shane adalah penulis buku perjalanan asal Bangkok, yang mencintai fotografi, dan suatu hari terpikat oleh pesona kehidupan Laos yang tenang dan tak sehiruk-pikuk Thailand.

Maka setelah berbulan-bulan lamanya tak bersua mata, Shane kembali terbang ke negara utara Thailand tersebut. Yang ditujunya kali ini bukan lagi wat-wat cantik berlapiskan emas, melainkan Kam yang dicintainya.

Kedatangannya sekaligus membawa berita baik untuk Kam: ajakan untuk menikah. Kam yang juga begitu menyimpan cinta untuk Shane, menerima tawaran itu. Tapi menikah itu tak mudah, bukan? Apalagi kali ini, yang dilamar Shane adalah gadis yang berbeda budaya dengannya.

Kenekatan itu tak semudah yang dibayangkan Shane. Ia mesti berkompromi dengan keluarga Kam, budaya Laos, sekaligus dengan keluarganya sendiri. Semua lancar hingga saat mengurus administrasi di KUA, petugas setempat memintanya datang dengan konsep yang jelas: Di mana nanti mereka tinggal? Apakah Kam akan diboyong ke Bangkok, atau Shane menetap di Laos?

Shane pun terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. "Maaf, tapi ini mekanisme pertahanan kami jika ada warga kami akan dinikahi warga negara asing," ujar sang petugas KUA berwajah baik hati itu.

Dengan sisa keberanian yang ada, Shane berkukuh melamar Kam. Pertemuan antarkeluarga pun digelar. Tanggal lamaran ditentukan, persiapan hari H dibicarakan. Namun tiba-tiba, justru Kam yang meragu. Ia tak punya jawaban, atas pertanyaan yang berkelindan. Bisakah keduanya berjalan bersama pada akhirnya?

Saya semula mengira Lao Wedding film Thailand biasa. Tapi ternyata film ini sedikit berbeda, setidaknya dari segi ide. Mirip dengan film Friends, yang mempertemukan Won Bin dengan Kyoko Fukada. Meski jalan ceritanya tidak spesial dan cenderung lurus-lurus saja, tapi saya cukup senang dengan cara sang sutradara menyajikan kehidupan Laos.

Akting pemainnya sendiri tak spesial. Seperti rata-rata film drama pada umumnya, lah. Yang saya sayangkan, chemistry antara Shane dan Kam tidak terlalu terbangun baik. Entahlah, sepertinya Kam masih berakting layaknya dijodohkan paksa dengan Shane, hehehe.. Padahal Shane-nya ganteng, loh *iya, memang nggak ada hubungannya :)

Tapi semuanya kan subjektif, seperti halnya ketakutan-ketakutan Kam. Kalau memang tertarik film Thai, dan ingin tahu seperti apa Laos sebelum backpacking ke sana, tak ada salahnya kok menonton.

No comments:

Post a Comment