Monday, November 16, 2015

Pernikahan, Penaklukan, dan Pilihan yang Kompromistis

Mengapa harus menikah? Sekadar untuk melegalkan seks atau karena tuntutan lingkungan? Apakah pernikahan adalah salah satu pencapaian penting bagi perempuan? Dan apakah pernikahan akan "menghentikan" mimpi seorang perempuan?

Banyak pertanyaan seputar status menikah yang jadi obrolan saya dengan kak Nindy dan kawan lainnya. Tentu, pertanyaan itu bukan karena berangkat dari kegelisahan saja, tapi juga pengalaman sejumlah teman. Karena nyatanya, suka tak suka, banyak kawan saya yang malah tidak bahagia setelah menikah.

Salah satu alasannya -dan yang menurut pendapat saya paling bikin geregetan- adalah karena beberapa pernikahan membuat seorang perempuan kehilangan dirinya. Ini karena relasi yang sebelumnya adalah pecinta-pecinta, berubah menjadi suami-istri (baca: pemegang kuasa-yang dikuasai).

"Perjanjian pranikah" bisa jadi latar belakangnya. Misalnya, ada calon suami yang sejak awal menasbihkan dirinya sebagai pemegang kendali rumah tangga, bahwa dialah si pencari nafkah utama, dan bahwa sang istri nantinya adalah pemelihara ruang domestik. Yang dalam sejumlah kasus, malah membuat si istri tak nyaman, stres, karena "dipaksa untuk tunduk" pada pembagian tugas yang seksis: yang mengacu pada pendapat "ya memang kodratnya perempuan begitu..". Ah.

Ada yang menyebut bahwa kesediaan perempuan untuk didomestifikasi adalah kesadaran palsu. Tapi saya sendiri merasa itu -bisa jadi- adalah pilihan yang sadar. Tentu, dengan sedikit unsur kompromi. Ada kawan saya yang bahkan memang sejak awal bercita-cita jadi ibu rumah tangga. Yang jika kita pertanyakan balik, "Apakah dia terusik jika sang suami memaksanya untuk bekerja di ruang publik?" Jangan-jangan, memang dia lebih suka (dan dengan demikian merasa lebih nyaman dan hepi) jika di rumah saja untuk mengurus rumah, anak, dan memasak? ("Biar laki gue yang capek, gue mau santai di rumah aja.").

Waktu bergerak, dan saya pun tumbuh. Pikiran saya juga makan lebih banyak cerita. Dulu, saya haqul yakin bahwa pemisahan tugas antara suami dan istri adalah efek kontrol patriarki di kehidupan kita. Tapi belakangan saya merasa semua adalah masalah pilihan, yang memang sedikit dibawah kungkungan patriarki, tapi lebih banyak karena cinta dan kondisi.

(Tak mau lebih jauh menyangkutkan cinta dan patriarki karena bisa sebahasan sendiri)Saya merasakannya sendiri. Saya dulu ogah menikah jika pada akhirnya semua kerja rumah tangga dibebankan ke saya, sementara suami boleh dan bebas bekerja di luar rumah. Maunya saya ya, perempuan dan laki-laki sama-sama bekerja di mana pun, dan sama-sama mengerjakan urusan rumah tangga. Beban ganda bukan milik perempuan saja, tapi juga laki-laki.

Kalau kata orang Jawa, susah-seneng ditanggung bareng.

Karena emoh jadi masalah runyam di kemudian hari, saya dan suami pun membahas soal ini pada sebuah hari. Saya terangkan (lagi) padanya soal harapan dan pandangan saya. Bahwa saya tak mau melewatkan momen tumbuhnya anak kami, dan bahwa saya tetap ingin menulis, punya duit sendiri, dan punya toko kain. Bahkan kami juga sejak awal sudah bagi tugas untuk urusan bersih-bersih rumah.

Terserahlah kalau ada yang bilang saya terlalu kaku. Yang jelas, saya ingin pernikahan adalah tiket saya menuju proses sebagai manusia yang lebih baik. Saya tidak mau pernikahan menumpulkan pikiran saya, menipiskan hasrat melihat dunia, ataupun memenjarakan saya dari teman-teman.Thank God, suami saya enggak perlu diajak negosiasi lagi soal itu. Mungkin dia sadar, pernikahan bukanlah teralis atau lubang yang menghambat lajumu, tapi justru doping yang menjaga kewarasan kita.

Sunday, November 15, 2015

#NikahAsyik Part 3: Memilih Undangan Pernikahan (Centil)

Buat calon pengantin, memilih desain undangan pernikahan adalah kegiatan yang mengasyikkan. Bagaimana tidak, di sinilah kita bisa memilih undangan yang "kita banget", sekaligus membocorkan pada tamu secara implisit, apa tema resepsi pernikahan kita nantinya.

Begitu pun saya. Sejak awal, saya sudah menetapkan tema resepsi "Pink-white shabby chic". Saya juga sudah berniat menggambar dan mendesain sendiri undangan pernikahan, agar lebih personal dan punya kenangan. Halah. Tapi ya ternyata semua tak semulus yang diharapkan. Ada saja hal yang membuat desain dan imajinasi saya tak terwujud sebagaimana mestinya, walau sebenarnya hasilnya tetap saja cantik (menurut saya, no complaint heheh..).

Ini nih tips memilih undangan pernikahan ala saya dan suami:

1. Tentukan budget
Alokasi anggaran untuk undangan mesti disiapkan dari awal. Ini tentu mesti menyesuaikan jumlah tamunya juga. Kamu mesti ingat, bahwa hampir semua produk undangan itu harganya menyesuaikan item yang kita pesan. Semakin banyak item pesanan, ya harganya kebanyakan semakin murah. Saya sendiri lumayan dapat harga murah karena jumlah undangannya 600. Fyi, biasanya kita akan dapat potongan harga kalau jumlah pesanannya di atas 500 buah.

Harga undangan sendiri beragam, mulai dari Rp 1000. Soal ini pun kita harus survei ke paling tidak 5 penjual undangan, untuk sekadar komparasi harga. Kalau di Jakarta, saya menyarankan Anda untuk ke kantor percetakan di daerah Kebayoran. Harganya dijamin murah bangeeeet, dibandingkan dengan lainnya, bahkan dengan yang di Pasar Jatinegara!

Kalau butuh info, bisa email saya, ya. Soalnya saya enggak enak mau mencantumkan nomer telepon si mbak percetakan Kebayoran yang baik hati itu. Perbandingannya bisa sampai Rp 1000 sendiri lho untuk per itemnya. Lumayan kan, kalau cetak 600 undangan, bisa irit Rp 600 ribu hehehe..

2. Tentukan model
Model undangan bisa kita cari di Instagram. Cari saja pakai hashtag #undanganpernikahan, #undanganpernikahanunik, atau #undanganpernikahanpink. Yang terakhir itu saya doang kayaknya yang demen. Nah, saya sendiri pada akhirnya memilih model undangan yang konservatif demi menyenangkan pihak tertentu (baca: suami saya, wkwkwk).

Semula, saya pengin undangan saya berbentuk mini newsletter 4 halaman, seperti undangannya Mas Achiar M. Permana. Newsletter itu rencananya berisi info resepsi, foto, puisi-puisi kami, dan testimoni kawan-kawan di gengs soal saya dan suami. Uleman itu rencananya tinggal digulung lalu diikat pita dengan tali jerami yang manis.

contoh undangan unik bentuk koran gulung.. taken from undangan-online.net
Tapi niat itu urung lantaran suami saya emoh undangan kami berbau media massa. "Duuuh jangan koran lagi, deh.. Masa tiap hari kita urusannya sama koran, undangannya macam koran juga?". Tetoooot.. Padahal mah media itu kami banget. Apalagi saya, adik saya, suami, dan bapak saya, wartawan semua. Hakhak..

3. Tentukan desain dan warna
Awalnya, saya sempat rencana bikin undangan warna baby pink gitu, Tapi bapak dengan tegas menolak. "Emoh, nok.. Aku kan isin sama temen-temenku kalau undangannya pink..." Zzzzz... ok fine, kenapa warna secakep pink jadi hina banget gitu ya kayaknya? :(

Ya sudah, saya akhirnya menentukan undangan warna putih. Saya pun menggambar sendiri bunga-bunganya ketika sedang dirawat tiga hari di rumah sakit (sampai saya menuai keheranan dari para suster RSIA Semarang karena sok seniman gituh, sakit-sakit tetap berkarya). Gambar itu lalu saya potret dan edit dengan aplikasi di laptop. Tapi hasilnya? GAGAL. *meratap*

Ini gambar saya yang pecah saat difoto
Gambar yang saya bikin pakai pensil warna itu ngeblur dan gagal ditouchup di laptop. Saya akhirnya minta tolong teman bapak di kantor, Pak Joko, untuk bantu ngehalusin gambarnya. Tapi doi pun gagal. Hiks hiks.. Akhirnya saya cari gambar bunga di internet, dan saya edit-edit biar sesuai keinginan, baik bentuk maupun warnanya (pokoknya harus bunga-bunga yang centil! Titik.). Setelahnya saya memakai aplikasi Font Candy di iPhone untuk membikin isi undangan.

undangan pernikahan saya
undangan pernikahan
4. Tentukan isi undangan
Nah soal isi undangan itu sendiri saya memilih simpel, alias tidak penuh kata-kata seperti kebanyakan undangan. Di halaman empat saya juga taruh kalimatnya Sartre ke Beauvoir alih-alih petikan ayat suci. Bukannya saya enggak mau terlihat alim, tapi biar enggak mainstream aja gitu. Eh enggak taunya, pas undangan selesai dicetak, halaman keempat udah berisi petikan surat Ar-Rum! Badalah... Saya pun segera tau "pelakunya". Siapa lagi kalau bukan mami tersayang yang diam-diam "mengondisikan" pihak percetakan. Wkwkwk
niatnya sih ada kalimat cinta gitu di undangan. Tapi ya gitu deh hahahaha
5. Disiplin membagi undangan
Saya dan suami masih eyel-eyelan banget soal "siapa yang perlu dikasih undangan fisik dan siapa yang diwhatsapp". Suami menganggap sahabat dekat perlu dikasih undangan fisik, tapi menurut saya, undangan JPEG saja cukup karena toh malah praktis kalau tersimpan di hape mereka. Akhirnya ya gitu, ada teman yang kebagian undangan fisik, ada yang enggak. Saya deh yang akhirnya mesti minta maaf karena memang kondisinya jumlah undangan fisik kurang, hehehe..

e-invitation. Ini undangan model shabby chic yang saya kirim via whatsapp ke kawan-kawan
Saran saya, undangan fisik maupun file secara personal mesti diberikan untuk menghormati si tamu. Pastikan juga kita sudah membuat list yang rinci agar tak ada teman yang terlewat diundang (saya dan suami lupa ngundang lumayan banyak, dan jadi enggak enak sendiri karenanya). Kalau pun akhirnya ada yang terlewat, jujur saja padanya. Karena kejujuran akan baik untuk hubungan kalian ke depannya. Apa sih, Vit.

Jadi, selamat berburu undangan. Salam jujur.


Friday, November 13, 2015

#NikahAsyik Part 2: Nikah Tanpa Adat

Pertanyaan banyak orang ketika kami mulai woro-woro akan menikah adalah,
"Kalian pakai adat apa?"
Jika ditanya begitu, saya biasanya akan jawab, "Nggak pakai adat, Mas, Mbak."

Sebenarnya, banyak hal-hal kecil di pernikahan saya yang ke-Jawa-Jawa-an. Misalnya, di rumah saya pakai bleketepe, ada janur kuningnya, prosesi sungkeman, dan pakai kebaya. Tapi selebihnya, ya ala-ala saya dan keluarga, lah. Alasan kami tidak pakai adat dalam upacara pernikahan simpel saja, karena saya orangnya malas ribet.

Apakah semua ritual adat itu ribet? Maaf saja, tapi menurut saya iya. Malas saja gitu, membayangkan harus ada ritual dodol dawet, siraman, suap-suapan, dan midak telur (mending dimasak jadi telur dadar deh, ah). Untung saja keluarga kecil saya tak keberatan. Ini patut saya syukuri, karena ada teman saya yang sama-sama suka hal yang simpel, pada akhirnya terpaksa nikah pakai adat karena paksaan orang tuanya.

Enggak pakai adat juga terejawantah ke musik di pernikahan saya. Alih-alih memperdengarkan lagu Jawa, saya dan suami memilih pakai musik akustik untuk acara resepsi. Jadi yaaaaa nada khas pernikahan Jawa "nang ning nang ning gung" saat pengantin jalan menuju ke pelaminan itu tergantikan oleh lagu Marry Me-nya Train. Hihi..

Asyiknya, meniadakan sejumlah ritual adat juga berarti efisiensi budget. Percayalah, saat mempersiapkan pernikahan, ada banyak sekali kebutuhan tak terduga yang bikin kas mengering, hahahaha.. Nah, dengan meniadakan sejumlah ritual adat, pengeluaran pun bisa diminamalisasi. Apalagi, saya enggak memakai cincin kawin.

Soal cincin kawin ini pun sempat jadi perdebatan saya dengan suami. Ini karena doi sejatinya ingin kami punya cincin kawin, sementara saya enggak mau karena memang enggak suka pakai perhiasan emas (kasih gue kalung edgy plus emas batangan aja deh, dibanding cincin emas. Hiks). Dan yah, akhirnya saya berhasil melobinya, muahahahahaha..

Tapi kembali ke masing-masing orang, sih. Apalagi dalam keluarga Jawa, pernikahan itu bukan kita saja yang menikah. Tapi keluarga besar kita. Jadi ya sedikit-banyak (kadang banyak banget hahahahaha), mereka akan saranin ini-itu dalam menentukan tetek-bengek resepsi pernikahan kita.

Kalau sudah begitu, ya kuat-kuatin iman aja deh. Selamat berjuang. Salam santai!


Thursday, November 12, 2015

#NikahAsyik Part 1: Sindrom Bekas Lajang

“Gimana? ENAK?”

Itu pertanyaan banyak orang ketika saya ngantor pascacuti menikah selama sepekan. Ah namanya juga saya, pastilah saya jawab se-elegan (baca: sengawur) mungkin. “Dahsyat, bro!” atau “Mas kenapa deh, dari tadi ngamatin cara jalan saya?”, sambil sok-sok ngerapetin kaki gitu, gue, biar keren.

(tiap ditanya begitu saya bawaannya kepikiran, si penanya sampai ngebayangin saya dan suami having sex gitu nggak, sih? Soalnya kalau ada orang nikah, sebagai makhluk visual saya emoh nanya urusan ranjangnya sedahsyat apa. Males aja gitu ngebayangin temen sendiri. Hahaha)

Ini dua pekan berselang setelah saya resmi menjadi nyonyah. Apa rasanya? Semacam makan martabak nutella mungkin. Enak banget, hepi banget, tapi ya kayak makan martabak. Yo ngono iku, lah (you know what i mean, haha).

Setelah menikah, saya dan suami tak terlalu repot beradaptasi sebagai tim. Ini karena kami sudah latihan selama lebih dari setahun, sehingga ketika pada akhirya menikah, ya yang berubah urusan seks saja. Selebihnya? Sama.

Sama itu artinya, bangun tidur saya menyiapkannya kopi dan sarapan, mengobrol sinting geje dengannya, lalu saya cuci baju dan dia cuci piring, berangkat kerja, whatsapp-an konyol ala2 remaja (saya sampai mengganti namanya di hape jadi “suami” gitu biar saya ngeh sedikit kalau saya ini udah kawin), dll.

Bedanya yaa, sekarang apa-apa harus laporan, juga mikir apapun berdua. Enggak ada ceritanya lagi saya ngilang kelayapan nongki-nongki bareng gengs tanpa lapor doi. Atau tetiba enggak balik karena pengin bobok di rumah temen. Atau ngabisin martabak telur sendiri (ih sebel). Karena yah, sekarang saya udah jadi bininya si kakak.

Kami juga mesti lebih dewasa tentu. Ketika teman-teman yang lain asik-asik aja belanja ini itu, kami mesti mulai menyiapkan tabungan buat anak. Ketika teman lain beli tiket untuk ngebolang, kami mesti memprioritaskan urusan kredit rumah. Ah ya begitulah.

Tapi yang jelas, hal-hal yang terjadi beberapa pekan ini sungguh menyenangkan. Ya iyalah bok, udah halal. Hahahaha.. Karena saya sih percaya, hal sememusingkan apapun, kalau diselesaikan bersama, dengan hepi ditambah usaha dan doa, akan asyik ngejalaninnya. Apalagi sama kamu, kak.. uwuwuwuwuu *uwel2 suami* (((( suami ))))

Jadi, apakah nikah itu enak? Enak banget, keleus..