Tuesday, June 3, 2014

Kamar


Kepada pintu

Tak usah berujar marah dengan derit yang menyebalkan. Seperti melolong pada keadaan yang tak bisa kau proteskan. Aku bisa melihatmu dari balik selimut merah jambu. Kau meronta. Pada kekasihku. Malam malam kau mengantuk dan kerap kupaksa engselmu bergerak. Kau suka dilewati angin pagi tapi benci membiarkan udara malam masuk bersamanya.

Kepada jendela

Umurmu sudah tua. Ada keriput di kulit kuningmu yang empat tahun lalu tidak separah itu. Kadang aku tahu kau ingin menasihatiku. Aku membacanya dari kacamu yang kadang enggan kututup meski sudah kupaksakan jariku menekannya hingga kemerahan. Kau merestuiku meniup debu-debu di tubuhmu. Tapi tak mau kenal kau dengan jemari lain malam malam. Mengantuk kau bilang.

Kepada tembok

Terima kasih Pak Tua. Kau diam meski kadang menangis. Menjadi basah yang membuat lembab. Kau bilang bersenang-senang adalah tugasku. Tak perlu hirau. Selama kau di sana, katamu, cinta boleh berpesta.

Ruang,
3 Juni 2014

1 comment:

  1. O jadi kekasihmu sering datang malem2 pas si pintu uda males dibuka ya? Hahaha

    ReplyDelete