Sunday, September 18, 2011

Feminis = Lesbian? Who Said??

Makasih buat Bang Foke yang udah membuat masyarakat semakin sensitif jender! Hehe.. Senang deh, sekarang semua orang jadi membicarakan "rok mini" di mana pun. Di angkot, di kantor, di mushala kantor, di twitter, di Facebook.. Wow!

Bahkan hari ini, 18 September 2011, ada gerakan rok mini di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat. Saya sebenarnya pengeeen banget ngeliput acara itu. Tapi ternyata Arie yang disuruh ke sana. Btw, tahu nggak apa komentar Arie sesampainya di kantor? "Kayaknya mereka pada lesbi-lesbi gitu deh.. Aneh soalnya," kata Arie.

Dengar dia ngomong gitu, saya sampai menunda wudlu. Jengkel sih, hehehe.. "Jangan anggap orang feminis itu lesbi, Ri. Feminis boleh aja menerima kehadiran lesbi. Tapi bukan berarti mereka itu semuanya lesbi," kata saya.

Kembali ke zaman ambil mata kuliah Komunikasi Gender, saya ingat ada salah satu gelombang feminisme yang sedikit radikal. Mereka, saking radikalnya, sampai "memutuskan" untuk membenci laki-laki dan memilih perempuan sebagai pasangannya. Aliran feminisme radikal sempat mapan setelah era feminisme liberal di Amerika Serikat.

Nah, meski masih ada di bawah atap feminisme, aliran anti-diskriminasi jender terbagi dalam sejumlah -isme. Isme-isme itu sebagian masih eksis hingga kini. Di antaranya feminisme radikal, eksistensialisme, dan posfeminisme. Saya pribadi cenderung cocok dengan feminisme eksistensialisme yang dibawa Simone de Beauvoir dan kekasihnya, Jean Paul Sartre.

Simone de Beauvoir
Eksistensialisme ala Beauvoir membuat saya mendefinisikan kembali, siapa saya sebagai manusia. Siapa saya sebagai perempuan, siapa saya sebagai kekasih, siapa saya sebagai seorang anak, dan siapa saya tanpa laki-laki. Bisakah saya "ada" tanpa harus menjadi bagian dari definisi ayah saya, dan pacar saya?

Sambil jalan, saya sempat menggilai posfeminisme, terutama gagasan oposisi biner yang dibawa Helene Cixous. Bahwa kita perempuan adalah lemah, inferior, pasif, kalem, sementara laki-laki adalah kuat, superior, aktif, dan agresif. Oposisi biner itu kita anut karena menjadi bagian dari kesadaran palsu (false consciousness) yang mapan di ruang patriarkat. Gagasan Cixous inilah yang akhirnya saya jadikan salah satu pegangan skripsi.

Saya pribadi tidak cocok dengan feminisme radikal. Saya kurang sepakat dengan ide menolak kehamilan, yang sama halnya dengan menolak laki-laki. Terserah jika sebagian kawan merasa klop dengan aliran ini. Tapi saya merasa aliran feminisme radikal "bukan saya".

Yah, saya masih butuh laki-laki. Saya tidak bisa membenci mereka, betapapun sebagian laki-laki bersikap sangat menyebalkan. Hehe.. Betapapun mereka "oposisi biner" kita perempuan, saya masih mencintai laki-laki. Saya suka bentuk tubuh mereka, saya suka suara berat mereka, saya suka dada bidang mereka, dan saya suka jakun di leher mereka.

Pun meski saya tidak cocok dengan feminisme radikal-lesbian, saya merasa tidak berhak untuk menghakimi mereka yang menganut aliran tersebut. Apa sih salahnya jika mereka memilih menjadi lesbian? Ini masalah pilihan, bukan? Dan bukankah jika mereka memilih menjadi lesbian, mereka tidak sedang menyakiti orang lain?

Btw, yang membuat saya heran, kenapa sih banyak orang masih berpendapat perempuan yang punya pandangan feminis itu lesbi? Please, saya benar-benar nggak menemukan korelasinya mengapa sampai ada stigma seperti itu. Apalagi sekarang juga semakin banyak lelaki feminis (love u guyssssss!! Hehe). Apakah mereka lantas juga dianggap gay hanya karena meneriakkan kesetaraan jender? Hee... Piss ah :)

No comments:

Post a Comment