Friday, September 9, 2011

I Love It: Belajar Menerima Kekurangan Diri dan Orang Lain

Huhuhu.. Jujur aja saya nggak terlalu mudeng film ini. Jadi maaf kalau saya salah menceritakan, apalagi me-reviewnya. Hehe.. I Love It sepertinya drama Thailand baru. Soalnya pas waktu itu saya googling, nggak nemu penjelasan apapun soal film ini. Jadilah saya meraba-raba jalan ceritanya. Hee..

I Love It adalah satu film yang merangkum banyak cerita. Kisah pertama soal Choi, cowok yang punya adik perempuan autis. Nah di tengah upayanya merawat sang adik, Choi juga sedang berjuang mengkreasi instrumental baru bersama dosennya (saya lupa namanya. Tapi si dosen ini sangat mirip hakim MK Arsyad Sanusi, wkwkwk).

Choi dan dosennya sampai piknik ke hutan, sungai, laut, demi bisa nemu inspirasi. Tapi menyatukan pandangan keduanya agak susah. Karena Choi punya selera yang agak "keras" dan kontemporer, sementara sang dosen suka musik klasik dan sangat memuja "bisikan alam" untuk musiknya. Seperti apa musik paduan mereka nantinya?

Tempat Pak Guru cari inspirasi
Kisah kedua soal perempuan yang membesarkan anak lelakinya seorang diri. Saya agak bingung deh, sebenarnya si perempuan ini, suaminya yang tentara masih hidup atau nggak. Soalnya ada adegan dia didampingi seorang laki-laki, tapi adegan lain menggambarkan dia sedang menebar abu di laut. Tauk deh. Hehe..

Yang bagus dari cerita ini adalah bagaimana si perempuan berjuang membesarkan putranya seorang diri, dan si putra yang cenderung tidak pede karena sering diledek miskin oleh teman-teman di SD-nya. Keduanya ini hidup di perkampungan muslim yang kayaknya berisi orang Indonesia (soalnya ada suara azan, dan beberapa kali dialog dengan Bahasa Indonesia seperti 'terima kasih' dan 'mari ikut saya makan siang').

Nah, di akhir cerita, si ibu muda ini sadar, bahwa dia sebagai single fighter, dengan segala keterbatasan, nggak boleh menyerah membesarkan putranya. Duh, adegan si ibu nonton pagelaran wayang si anak bener-bener bikin terharu..

Cerita ketiga berkisah tentang seorang kakek penjual sepatu handmade yang kesepian. Anak lelakinya sangat menyebalkan, egois, dan tampak tidak menyayanginya. Namun suatu hari datang seorang perempuan muda yang menyayanginya sebagai kakek. Perempuan yang tidak punya kakek, dan seorang kakek yang dicuekin anaknya. Klop lah mereka saling menjaga satu sama lain.

Film ini sebenarnya bagus, sayang narasinya nggak cukup kuat untuk menyampaikan ide cerita. Anyway, ada dua hal yang bikin saya betah nonton film ini. Pertama, pemeran cowo (yang punya adek autis) ganteng. Kedua, film ini sering pamer viewnya Thailand yang keren banget! Hohoho..

No comments:

Post a Comment