Tuesday, September 27, 2011

Menuju Sepak Bola Lintas Jender


Tak berlebihan bila kita mengidentifikasi sepak bola sebagai bagian dari perjuangan kelas; antara laki-laki dan perempuan. Supremasi maskulinitas sepak bola telah terindoktrinasi dalam benak kita selama ratusan tahun, bahwa ia milik mereka yang berjenis kelamin laki-laki saja.

Bukan semata meneguhkan dominasi laki-laki- yang secara langsung- mensubordinasi perempuan, namun dalam tradisi perkembangannya, sepak bola berperan sebagai cabang olahraga yang bias gender. Kekuatan fisik, kerasnya pertandingan, serta rawannya kontak fisik di atas lapangan hijau, merupakan ujud bagaimana selama ini kita memaknai "kelelakian" khas sepak bola.

Atribut maskulin telah terstempel bertahun-tahun sedemikian halusnya pada sepak bola. Sehingga pikiran kita terbuka hanya pada pencitraan konstruktif bahwa sepak bola ada, dari, untuk, dan oleh laki-laki.

Dan ketika kita menjustifikasi "ketidakwajaran" pada seorang perempuan yang gandrung sepak bola, bukankah pada saat bersamaan kita telah memperkuat kecenderungan memosisikan perempuan dalam ruang yang inferior?

Dalam olahraga-lah stereotip maskulin secara eksplisit terejawantah. Konstruksi kelelakian yang selama ini kita akrabi seperti macho, kuat, dan agresif, hadir dalam sajian olahraga yang maskulin dan "bau keringat laki-laki".

Sedangkan konstruksi feminin seperti lembut, lemah, dan pasif makin lama makin terpinggirkan oleh dominasi maskulin. Olahraga adalah adu fisik, kekuatan, kecepatan, dan di beberapa cabangnya juga ada adu otot. Di situlah konstruksi maskulin berperan dalam laku subordinasi perempuan.

Perempuan pun pada akhirnya "diberi jatah" untuk sekedar menjadi penggembira. Ketika pertandingan basket masih terus dimeriahkan oleh teriakan hip-hip-hura dari para cheerleader perempuan, hingga kini cheerleader laki-laki hanya muncul secara tematik. Tak ada penjelasan khusus mengapa terkondisi seperti itu.

Syukurlah, sekarang pemberontakan perempuan untuk keluar dari belenggu patriarkat dalam lingkup olahraga mulai menguat. Di beberapa olahraga yang seksis seperti sepak bola dan tinju, perempuan sudah mulai hadir komplit dengan kualitas yang tak beda dengan laki-laki.

Di lapangan hijau, ada Brigit Prinz dan Mia Hamm yang kualitas teknisnya bisa ditandingkan dengan para pemain top Serie A Italia. Mereka hadir dengan fitur fisik yang sama, namun kini dengan kemampuan menjelajah ruang patriarkat yang lebih kuat dan massal.

Dalam dunia sepak bola yang nglanangi, "perempuan maskulin" seperti Hamm dan Prinz sendiri masih kalah bersaing dalam porsi pemberitaan media dengan "perempuan feminin" seperti Victoria Adams, Cheryl Tweedy, ataupun Coleen McLoughlin.

Saya tidak tahu kenapa. Mungkin karena lagi-lagi kita masih menganggap kehadiran "perempuan feminin" sebagai pelengkap laki-laki (baca: pemain sepak bola) sebagai sebuah kewajaran. Bahwa memang seperti itulah potret perempuan dalam sepak bola.

Saya ingat, beberapa tahun lalu, dua orang pesepakbola perempuan Meksiko ditawar untuk turut bergabung ke sebuah klub professional divisi dua- Atletico Celava, FIFA secara tegas menolak dengan alasan yang sungguh diskriminatif. Alasannya, harus ada batasan yang jelas antara perempuan dan laki-laki dalam sepakbola.

Lantas, sampai mana batasan itu digariskan jika tolak ukurnya adalah gender? Haruskah sepak bola menjadi olahraga yang absolut terhadap ideologi maskulin patriarkis?

Saya pikir, sepak bola sebenarnya bisa jadi agen yang bisa difungsikan sebagai pengubah kondisi marjinal perempuan. Perempuan-perempuan berteknik tinggi seperti Hamm mungkin saja berkemampuan tanding melebihi pemain laki-laki.

Jika memang keberadaan mereka mampu mengangkat derajat klub sepak bola laki-laki, mengapa harus ada penolakan dari FIFA- sebagai induk organisasi sepak bola yang paling disegani?

Dan bukankah nafas sepak bola akan lebih segar dan atraktif bila suatu hari nanti sanggup menyandingkan perempuan seruang dan seperan dengan laki-laki dalam beradu di lapangan hijau?

No comments:

Post a Comment