Tuesday, December 10, 2013

Review Album White Shoes and The Couples Company: Menyanyikan Lagu-Lagu Daerah


Bicara soal lagu daerah, ingatan kita kerap melayang pada masa masih berseragam merah-putih. Namun saat itu, kita mengenal lagu daerah bukan sekadar untuk bersenang-senang, melainkan untuk kepentingan pelajaran. Kesan itu diubah White Shoes and The Couples Company lewat album ketiga mereka, Menyanyikan Lagu-Lagu Daerah.

Kelompok musik asal Jakarta yang digawangi Sari (vokal), Mela (kibor), Rio (gitar), Saleh (gitar), Ricky (bass), dan John Navid (drum) itu meramu lagu-lagu daerah dengan aransemen baru. Kenekatan itu berbuah manis. Lima lagu daerah mereka percantik sehingga menghasilkan sajian yang segar, riang, sekaligus megah.

Meski kali ini hanya mengemas ulang lagu daerah menjadi lebih ngepop, kreatifitas WSATCC tak berkurang. Pun jika dibandingkan dua album sebelumnya, Skenario Masa Muda (2007) dan Album Vakansi, sihir WSATCC dalam album ini masih ampuh untuk membuat kita terlena.

Adalah Studio Lokananta, Solo, yang dipilih Sari dkk untuk rekaman Menyanyikan Lagu-Lagu Daerah. Di studio legendaris itulah pada Oktober tahun lalu, lima lagu daerah direkam WSATCC, yakni Jangi Janger (Bali), Tjangkurileung (Jawa Barat), Lembe-Lembe (Maluku), Te O Rendang O (Maluku), dan Tam Tam Buku alias Trang Trang Kolantrang (Melayu).

Kata sang manajer, Indra Ameng, Lokananta dipilih karena kaya peralatan musik unik yang masih orisinal. Ia pun membantah WSATCC latah rekaman di Lokananta, mengingat belakangan sejumlah musisi merekam lagunya di sana. "Justru ide kami rekaman di Lokananta sudah sejak lama," ujarnya.

Menurut Indra, pada album ini WSATCC ingin bermain-main dengan aransemen baru lagu daerah karena cinta dan rindu pada musik jadul era Orde Lama. Ihwal pemilihan lagu, Indra menyebut kelimanya dipilih karena paling bisa dikreasikan dengan aransemen yang khas WSATCC.

Lagu-lagu itu awalnya ditilik chord dasar, tempo, dan intonasi penyanyi aslinya. Baru setelahnya, WSATCC membuat sketsa dasar aransemen ulang. "Temponya bisa lebih cepat maupun dilambatkan, tergantung kebutuhan," kata Indra.

Eksplorasi WSATCC dalam Menyanyikan Lagu-Lagu Daerah cukup berhasil. Tam Tam Buku yang digeber sebagai single perdana misalnya, sangat ear-catching. Bertaburan permainan perkusi, lagu permainan klasik Melayu ini terdengar asyik, rancak dan penuh semangat. Masuk ke sepertiga akhir lagu, lagu ini pun bakal "memaksa" kita berjoget riang.

Kejutan lain dipamerkan WSATCC lewat Tjangkurileung. Harmonisasi vokal Sari, yang muncul silih berganti dengan backing vocal, membuat lagu bikinan seniman Pasundan, Mang Koko Koswara, itu lebih "hidup", berwarna, dan sangat rock 'n roll. Bisa dibilang, Tjangkurileung adalah tembang jagoan kedua setelah Tam Tam Buku.

Jangi Janger yang dipasang sebagai lagu pertama, terdengar begitu magis dan indah. Intronya memadukan suara alunan ombak dan hembusan angin pantai yang sangat khas Bali, harmonis dengan gabungan vokal pria dan perempuan. Lagu ini berdurasi pendek dan sangat kalem, namun membekas di ingatan.

Di tangan WSATCC serta Aradea Barandana dan David Tarigan sebagai produser, lagu-lagu daerah menjadi segar dan tak membosankan. Namun sayang, jumlah lagunya terlalu sedikit. Hal itu membuat telinga kita merasa belum kenyang, meskipun suguhan WSATCC kali ini lezat dan bergizi.

Judul: Menyanyikan Lagu-Lagu Daerah
Musisi: White Shoes and The Couples Company
Label: Demajors
Rilis: Mei 2013

ISMA SAVITRI | sudah dimuat di @korantempo

No comments:

Post a Comment