Tuesday, December 10, 2013

Review Album simakDialog: The 6th Story


Setelah lebih dari dua dekade bermusik, inovasi pastilah dituntut hadir dalam karya sebuah band. Hal itu disadari kelompok simakDialog, yang beranggotakan Riza Arshad (piano), Tohpati (gitar), Adhitya Pratama (bass), Endang Ramdan dan Erlan Suwardana (kendang), dan Cucu Kurnia (perkusi logam).

Namun dalam album keenam kali ini, simakDialog memilih untuk tampil bersahaja, alih-alih memamerkan komposisi-komposisi baru yang nyeleneh. Dengan format dua kendang pencak dari Sunda sebagai pengganti drum, jazz kontemporer racikan simakDialog pada The 6th Story justru lebih sederhana.

Pilihan tampil lebih simpel diakui Riza, hadir dalam album yang pada 31 Agustus hingga 8 September 2013 bakal dipromosikan di enam negara bagian Amerika Serikat. "Dibanding dua album sebelumnya, Demi Masa dan Patahan, album keenam memang kami buat berbeda sehingga musiknya lebih gampang dicerna," kata dia kepada Tempo.

Kesederhanaan itu terasa sejak nomer pertama The 6th Story, Stepping In. Pada lagu itu, suara kendang Sunda yang disuguhkan Endang dan Erlan terdengar rapat, seolah beradu dengan ritmik alat musik lainnya. Sedangkan dalam tembang kedua Lain Parantina, simakDialog seperti menantang pola ritme lagu Sunda selama ini.

Menurut Riza, dalam Lain Parantina yang terdengar rancak dan cantik, mereka memang sengaja sedikit nakal bermain-main dengan irama khas tembang Sunda. "Lain parantina sendiri dalam Bahasa Sunda artinya tidak pada tempatnya. Jadi ya memang kami sengaja membuat plesetan lagu Sunda di situ," ujarnya.

Adapun 5,6 yang merupakan lagu kedelapan dari sembilan nomer The 6th Album, memuat pola hitungan khusus. Soal ini, Riza berujar ia dan geng simakDialog dalam 5,6 menggunakan hitungan lima dan enam. Namun, sembari tertawa, Riza mengingatkan pendengarnya untuk tak terlalu merumitkan hal itu. Karena toh pada album ini simakDialog sudah berniat tampil sederhana.

Lalu, apa yang jadi pertimbangan Riza dkk tampil lebih bersahaja dalam The 6th Story? Riza berujar, kepergian pemain kendang Makassar merekalah yang memaksa simakDialog mengubah pola permainan. Sebelumnya, dalam album Patahan, simakDialog mengawinkan instrumen kendang Sunda dan Makassar sehingga melahirkan bebunyian unik.

Diungkapkan Riza, pertemuan kendang Sunda dengan kendang Makassar menghasilkan pola ritmik yang dahsyat. "Bunyi kendang Sunda sudah biasa di telinga kita, beda dengan kendang Makassar yang sangat nyaring bunyinya dan menghasilkan letupan-letupan yang luar biasa," kata dia.

Riza tak menyangkal, kehilangan penabuh kendang Makassar membuat musikalitas simakDialog terkesan "mundur". Apalagi di benak para pendengarnya, yang terlena oleh aransemen Patahan. Namun menurut Riza, ketiadaan kendang Makassar tak berarti mengurangi kreatifitas bermusik mereka.

"Kami memang tidak menggunakan konsep atau storyline apapun di The 6th Story. Album ini murni perjalanan kami. Karena bagi kami yang terpenting dari sebuah kreatifitas adalah bunyi ansamble-nya. Dan bisa dibilang ansamble kami paling solid ada di album ini," ujar Riza, yang mengaku sudah berjumpa sejumlah ide untuk album berikutnya.

Judul: The 6th Story
Musisi: simakDialog
Label: Demajors
Rilis: 2013

ISMA SAVITRI | sudah dimuat di @korantempo

No comments:

Post a Comment