Tuesday, December 10, 2013

Review Petani Restauran: Tak Hanya Menjual Kemolekan Ubud


Deretan pohon kelapa dan persawahan terasering yang memanjakan mata, menginspirasi munculnya sejumlah restoran berkonsep ruang terbuka atau outdoor di Ubud, Bali. Ditambah udara sejuk khas pedesaan, berwisata kuliner di daerah yang masuk Kabupaten Gianyar ini tak ubahnya pelarian manis dari rutinitas sehari-hari.

Salah satu yang memanfaatkan potensi alam Ubud tersebut adalah Petani Restaurant. Rumah makan yang berlokasi di Jalan Hanoman, jantung Ubud, ini selokasi dengan hotel yang satu manajemen dengannya, Alaya Resort. Konsep outdoor restoran ini terejawantah lewat bangunannya yang minim pintu. 

Berbentuk memanjang, restoran seluas 15x60 meter persegi itu hanya memiliki dua pintu di sisi kanannya. Sedangkan di sisi kiri, Petani dan Alaya hanya menggunakan tembok sebagai partisi. Nuansa outdoor terasa dari bagian depan dan belakang restoran yang dibiarkan terbuka tanpa tembok, sehingga bersentuhan langsung dengan pemandangan sawah nan hijau.


Menurut Public Relation Petani, Oriana Titisari, suasana nyaman dan rileks adalah salah satu jualan utama restoran bergaya Maroko Victorian ini. Konsep desain klasik-vintage terlihat dari pemilihan furnitur, lampu, dan dekorasi dinding yang "nyeni seperti batik dan caping petani rancangan desainer interior Zohra Boukhari. "Desain resto ini adalah paduan menarik dan satu-satunya di Ubud," kata Ori, sapaan Oriana.

Sore itu kami sengaja duduk di kursi bagian belakang Petani, demi bisa menikmati sawah berlatar belakang senja dan matahari terbenam. Cemilan khas Petani, Local Sweet Temptation dan Ice Jungle Kiss jadi pilihan pertama karena perut belum terlalu lapar. Pesanan itu diantar ke meja kami tak sampai sepuluh menit setelah dipesan.

Sesuai namanya, tampilan Local Sweet Temptation benar-benar menggoda selera. Disajikan di atas piring kayu persegi beralaskan daun pisang, Local Sweet Temptation terdiri dari enam jajanan tradisional: klepon Bali, pisang goreng, bubur injin, dadar gulung, kue lukis, dan singkong. 


Dari keenamnya, rasa klepon Bali dan pisang gorenglah yang paling susah dilupakan. Beda dengan klepon Jawa yang kenyal dan agak alot, klepon Petani lebih lembut tak susah dikunyah. Rasa legit karamel yang tersembunyi di dalamnya pas, sehingga tak mengganggu tenggorokan. Pun pisang gorengnya, membuat ketagihan. Aroma kayu manis tercium dari pisang berbalut kulit renyah yang disajikan hangat. 

Menurut Ori, Local Sweet Temptation adalah salah satu menu jagoan Petani yang diracik kepala chef restoran tersebut, Made Siharta. Menu itu juga jadi favorit pengunjung Petani yang mayoritas bule, karena memberi pengalaman enam kudapan khas nusantara dalam sekali saji. "Orang cukup pesan satu menu ini untuk bisa mencicipi enam macam panganan," ujarnya.

Memilih Ice Jungle Kiss untuk sore itu rasanya tak salah. Minuman yang memadukan jus semangka, mint, dan sirsak itu sangat segar. Sangat ampuh membilas mulut usai mengudap Local Sweet Temptation yang serbamanis. Namun menurut Ori, minuman andalan Petani sebenarnya adalah Indonesian Arabica Coffee, dari biji kopi Kintamani. Biji kopi itu diolah dengan mesin espresso terbaik sedunia, La Marzocco FB 70, yang hanya ada dua di Indonesia.


Beranjak petang, sejumlah pengunjung mulai berdatangan ke Petani untuk memesan makan malam. Sepuluh chef di bawah komando Made Siharta pun makin sibuk, berlalu-lalang melewati dapur, bar, dan meja makan. Sesuai saran Chef Made, kami memesan Crispy Duck dan Pineapple Prawn sebagai menu makan malam.

Bebek memang jadi menu utama di sejumlah restoran populer di Gianyar, seperti Bebek Bengil, Bebek Tepi Sawah, Laka Leke, dan Cafe Wayan. Sama dengan kebanyakan restoran, di Petani, bebek dimasak dengan cara direbus lama, baru kemudian digoreng. Cara itu membuat tekstur daging bebek lebih lembut. 

Untuk Crispy Duck, Chef Made setia pada bumbu khas Bali, yang didominasi lengkuas, jahe, dan kencur. Beragam rempah itulah yang membuat Crispy Duck terasa gurih, namun tidak berlebihan. Pantas saja Chef Made sangat merekomendasikan menu ini pada para pengunjung Petani. Bebek olahannya, dicocol dengan sambal matah khas Bali yang pedas menggigit, memang mengobarkan nafsu makan.


Belum kelar menyantap Crispy Duck, Pineapple Prawns sudah dihidangkan. Menu modifikasi Chef Made ini bercitarasa unik karena memadukan nanas dengan udang. Oleh Chef Made, udang dibaluri bumbu rempah terlebih dulu sebelum digoreng dengan tepung. Udang itu disajikan di atas irisan tipis nanas yang ditaburi cabai, bawang, dan gula merah. Meski paduan bahannya tak lazim, menu ini ternyata tak membuat mulut protes.

Jika Anda bukan penggemar bebek dan tak suka bereksperimen rasa lewat Pineapple Prawns, banyak menu khas nusantara lainnya yang bisa dicoba. Salah satu favorit pengunjung sejak restoran ini dibuka 16 Januari lalu, adalah Mixed Grilled Balinese Satay yang terdiri dari sate ayam, sate sapi, dan sate seafood. Sate kombinasi ini disajikan dengan bumbu kacang yang tingkat kepedasannya bisa kita pesan sesuai selera. 


Petani yang buka sejak pukul 07.00 WITA hingga larut malam ini mematok harga makanan dan minuman pada kisaran Rp 20 ribu hingga Rp 145 ribu. Saat pagi, pengunjung bisa menikmati sarapan ala carte, dengan tiga pilihan menu: Petani Breakfast, American Breakfast dan Continental Breakfast. Adapun tiap Ahad, Petani menggelar Sunday Satay Bazaar yang menawarkan menu 12 jenis sate dan 10 varian sambal.

*Sudah dimuat di Koran Tempo Minggu

No comments:

Post a Comment