Friday, December 20, 2013

Review Djoeroe Masak: Hangat Seperti di Rumah

Nyaman, itu yang terasa begitu masuk ke ruangan restoran Djoeroe Masak, yang terletak di Jalan Veteran 44, Bandung. Interior serba putih menyergap kita, mulai dari kusen pintu dan jendela, gorden, kursi, meja, pagar pembatas ruangan, hingga pernak-pernik yang menempel di sejumlah sudut dinding.

Putih yang merepresentasikan kepolosan dan kebersihan, sangat sakti membawa suasana lapang dan tenang pada restoran bermoto "Eat, Enjoy, and Relax" yang berkapasitas 388 orang ini. Nuansa romantis pun menguar, ditambah sorot pencahayaan yang pas dan teduh, serta alunan musik akustik yang mengalun lembut.

Suasana hangat juga merasuk setelah melihat dindingnya yang sebagian dilumuri cat warna pastel, dan sebagian lagi ditutup wallpaper dengan motif yang memanjakan mata. Ditambah pot-pot berisi bunga segar di sejumlah titik ruangan, interior Djoeroe Masak membuat kita seolah berada di sebuah rumah di Eropa, seabad silam.

Bagian promosi Djoeroe Masak, Arni Setyorini, menyebut restoran yang buka sejak 28 September tahun lalu itu sengaja dibuat "homey" –bak berada di rumah sendiri- dengan arsitektur Eropa kolonial. "Harapannya, pengunjung akan merasa rileks dan betah berlama-lama di sini," ujarnya.

Adapun untuk interiornya, sengaja dipilihkan mebel-mebel bergaya cottage yang memberi kesan vintage atau jadul. Aplikasi cottage terlihat pada kursi rotan besar yang banyak ada di sejumlah sudut ruangan di tiga lantai restoran ini. Juga pada lemari ala rumah tempo dulu, ornamen dinding, serta motif sarung bantal yang tersedia di sofa.



Kehangatan juga terasa lewat sapaan ramah dan layanan kru Djoeroe Masak. Begitu kita duduk, mereka akan mengajak kita mengobrol soal makanan dan minuman andalan restoran ini, yang dalam daftar menu dilabeli tulisan "DJ's", akronim untuk Djoroe Masak.

Baik masakan dan minuman khas nusantara, Asia, western, hingga vegetarian, tersedia di sini. Arni menjelaskan, Djoeroe Masak memang sengaja menyediakan ratusan varian menu untuk memanjakan pengunjung. "Kami ingin restoran ini bisa memenuhi beragam selera pengunjung. Jadi kalau mau cari steak ada, cari masakan Sunda juga ada," kata dia.

Sesui saran seorang pelayan Djoeroe Masak, kami pun memilih makanan berlabel "DJ's", seperti Nasi Goreng Matah, Grilled Fresh Lemon Fish Fillet, Nasi Katumiri, dan Pumpkin Zuppa Soup. Sedangkan untuk minuman, kami memilih Ice Kahlua Mocca, Jus Kedondong, dan Strawberry Tea Mocktail.

Grilled Fresh Lemon Fish Fillet memang layak direkomendasikan. Ukuran filletnya medium, dengan panjang sekitar 15 sentimeter. Hasil pemanggangannya pas dan tidak meninggalkan bau amis. Menu ini memadukan fillet ikan dori, dengan potongan kentang tebal, saus lemon segar, serta potongan sayur seperti brokoli, buncis, dan wortel.

Yang membuat menu ini spesial adalah saus lemonnya yang sangat segar. Rasa kecut dari lemon memberi sensasi unik saat dilumurkan ke atas fillet. Sayang, ada sedikit "kejutan" di tengah kenikmatan menyantapnya, karena pembubuhan garam yang kurang rata pada fillet. Untung saja kejutan itu bisa dihilangkan secara instan dengan mengudap sayurannya.

Sedangkan menu Nasi Katumiri yang juga berlabel "DJ's", tak secantik namanya. Katumiri, yang berarti pelangi dalam Bahasa Sunda, mengadaptasi konsep rainbow cake yang sempat populer. Bedanya, pelangi di sini diaplikasikan pada nasi berbentuk kerucut, yang terdiri dari nasi putih, nasi kuning, dan nasi merah.

Nasi Katumiri ala Djoeroe Masak disajikan dengan model tumpeng. Lauk seperti ayam dan tahu goreng, lawar, orek tempe, telur pindang, kasreng, keripik peyek, serta sambal terasi, diletakkan mengitari nasi pelangi, di atas piring berukuran lumayan besar. Melihat komposisinya, kita akan merasa jumlah lauk yang dihidangkan terlalu banyak dibandingkan dengan nasinya.

Nasi Katumiri
Keunggulan Nasi Katumiri Djoeroe Masak justru bukan pada nasi pelanginya. Namun pada sambal terasinya yang pedas, serta pada lawar nangka, olahan sayur khas Bali. Lawar Nasi Katumiri terdiri dari nangka muda dan kacang panjang rebus yang dicincang kasar, dicampur dengan parutan kelapa bumbu pedas. Rasanya mirip dengan yang dibuat di daerah asalnya.

Seperti dekorasinya yang sedap dipandang, cara penyajian makanan Djoeroe Masak pun membuat mata segar. Hal itu terlihat pada tampilan Nasi Goreng Matah yang mengingatkan kita pada lelehan lava di gunung yang baru meletus. Efek itu didapat dengan membalut nasi goreng menggunakan telur dadar supertipis, yang diiris menyilang pada bagian atasnya.

Nasi Goreng Matah
Rasa nasi gorengnya sendiri tidak istimewa. Yang membuat kita tak terlalu menyesal memilih menu ini adalah rasa sambal matahnya yang kuat. Sambal matah bikinan juru masak restoran ini memadukan bawang putih, bawang merah, potongan cabai, serai, garam, dan irisan pelepah pisang. Rasa pedas dan asamnya mantap, dan bisa membuat kita tak malas menghabiskannya.

Kenyang menyantap suguhan makanan, minum Strawberry Tea Mocktail rasanya pas. Salah satu minuman favorit Djoeroe Masak itu sangat segar, dengan potongan buah seukuran dadu yang bersarang di dalamnya. Sirup stroberinya juga tidak terlalu manis, sehingga tak membuat eneg. Namun karena seporsi mocktail disajikan dalam botol besar, perlu 2-3 orang untuk menghabiskannya.

Strawberry Mocktail
Soal rasa, hidangan Djoeroe Masak belum seistimewa desain interior ruangannya. Namun memang sang koki sudah terlihat berusaha keras menyenangkan hati kita, paling tidak melalui plating yang menarik. Dengan kisaran harga sajian Rp 15-85 ribu, fasilitas valet parking, piano, wifi, dan suasana nyaman bak berada di rumah, datang ke sini rasanya tak sia-sia.

*Sudah dimuat di Koran Tempo Minggu

No comments:

Post a Comment