Tuesday, December 10, 2013

Review Album Maliq and d'Essentials: Sriwedari


Tak terpikir di benak para personel Maliq and d'Essentials, membuat album kelima secepat ini, setelah dua tahun silam mereka merilis The Beginning of a Beautiful Life. Rivani Indriya Suwendi alias Indah, sang vokalis, menyebut album anyar mereka yang bertajuk Sriwedari sebagai proyek "iseng-iseng berhadiah".

Semula, mereka hanya akan membuat tiga lagu baru untuk album The Best Of. Namun dalam prosesnya, mereka jauh lebih produktif. "Saking enggak terbebaninya membuat album, kami malah bikin sepuluh lagu, dan delapan di antaranya masuk Sriwedari," kata Indah saat ditemui di Gandaria, Jakarta.

Sriwedari tak ada hubungannya dengan taman bernama sama yang kerap digunakan warga Solo, Jawa Tengah, untuk menggelar kegiatan seni. Diungkapkan Indah, sriwedari di sini berarti taman surga. Kata itu dianggap Maliq and d'Essentials paling pas merepresentasikan perasaan mereka saat meracik Sriwedari selama tiga bulan, sejak Agustus tahun lalu.

Saat itu, para personel Maliq and d'Essentials yang kebanyakan sudah berkeluarga, kerap berkumpul untuk jamming di studio. "Nyaman dan menyenangkan sekali membuat lagu bareng ketika itu. Makanya kami bilang proses menggarap album ini adalah momen sriwedari. Kami seperti ada di taman surga," ujar Indah.

Lagu-lagu band legendaris asal Inggris, The Beatles, kerap menemani proses berkarya Maliq and d'Essentials ketika itu. Tak heran, format delapan lagu dalam Sriwedari terdengar berbeda dibanding album-album sebelumnya. Dalam Sriwedari, nuansa British terasa kental. Vokalis Maliq and d'Essentials, Angga Puradiredja, tak memungkirinya.

Bahkan, saking terilhaminya oleh The Beatles, Angga dkk sampai melakukan mastering di Abbey Road Studio, tempat John Lennon dkk mengerjakan musik mereka. Mereka dibantu sound engineer kawakan Geoff Pesche, yang pernah terlibat penggarapan album Gorillaz, Blur, Coldplay, Kylie Minogue, dan Incognito.

Buah kenyamanan dalam proses pengerjaan Sriwedari adalah lagu-lagu eksperimental yang apik dan kaya improvisasi. Sriwedari dibuka lagu Sing! Make It Last Forever yang riang, renyah, dan didominasi gebukan drum Widi. Liriknya, yang digarap keroyokan Indah dkk, manis dan lugas, khas Maliq and d'Essentials.

Meski lagu ini dijadikan backsound teaser album, namun yang terpilih sebagai single pertama adalah Setapak Sriwedari. Kesan manis dan romantis menguar dari lirik lagu yang mengisahkan perjalanan bermusik Maliq and d'Essentials ini. Suara dan riff gitar yang vintage, bersautan dengan flute dan terompet, adalah kolaborasi cantik yang membalut Setapak Sriwedari.

Kejutan diberikan Maliq and d'Essentials lewat lagu Drama Romantika yang mengusung aransemen dangdut zaman baheula. Lagu ini "memaksa" Angga menggunakan cengkok dangdut, namun tetap terdengar asyik dan memantik kita untuk bergoyang. Meski bermain-main dengan gendang, ciri khas Maliq and d'Essentials tetap terselip di dalamnya.

Proses melahirkan Drama Romantika disebut Angga unik. Saat jamming, Wibi iseng memainkan gitar dengan nada sedikit dangdut. "Kami awalnya ketawa mendengarnya. Tapi tiba-tiba punya ide menseriusi itu. Kami pikir kami memang butuh lagu yang berbeda untuk penyegaran," ujar Angga.

Tak mau terlalu larut bereksperimen, Angga dkk tetap menyuguhkan lagu yang "Maliq and d'Essentials banget" di Sriwedari, lewat Menghilang, Beautiful Disaster, Dunia Sekitar, dan Inilah Kita. Jika Beautiful Disaster sarat unsur alat musik elektronik dan agak "gelap", dalam Inilah Kita, misi Maliq and d’Essentials menularkan keceriaan sukses tersampaikan.

"Musik kami berkembang, dipengaruhi banyak hal, baik musisi lain maupun usia. Tapi sejauh-jauhnya kami berkreasi, kami tidak ingin terlalu tersesat dalam eksperimen yang out of Maliq and d'Essentials box," kata Angga.

Judul: Sriwedari
Musisi: Maliq and d’Essentials
Label: Organic Records
Rilis: Januari 2013

ISMA SAVITRI | sudah dimuat di @korantempo

No comments:

Post a Comment