Wednesday, December 25, 2013

Review Marugame Udon & Tempura: Mie Gempal dari Negeri Sakura

Jepret-jepretan di Marugame
Jika ditanya mie khas Jepang, ingatan kebanyakan orang melayang pada ramen. Padahal ada udon, kuliner bawaan dari Tiongkok yang di Negeri Sakura dijadikan alternatif pengganti nasi. Konon udon awalnya hanya disajikan khusus saat acara kerajaan. Baru seiring berjalannya waktu, para pelayan Istana memperkenalkannya ke luar, sehingga udon mulai membumi.

Udon dibuat dari tepung terigu yang diulen bersama air garam. Adonannya dibuat memanjang dengan ketebalan tertentu. Setelah direbus, udon disuguhkan lewat beragam cara. Bisa disiram kuah hangat, dibaurkan dengan sop miso, didinginkan, atau dilumeri saus. Namun udon tradisional disajikan sebagai nikomi udon, yakni udon dengan kuah kental yang dalam Bahasa Cina disebut lao mien.

Cara memasak dan menghidangkan udon yang otentik dipresentasikan Muragame Udon & Tempura. Di restoran yang terletak di lantai UG Gandaria City itu kita tak sekadar bisa menyantap udon, tapi juga menengok proses para koki meramu "mie gendut" tersebut. Namun Anda perlu ekstrasabar untuk mencicipinya. Sebab antrean pengunjung selalu mengular di Marugame, tak peduli saat itu jam makan siang ataupun tidak.

Kendati begitu, Marugame tak membiarkan Anda berdiri lama. Pelayanan di restoran berdapur terbuka yang mengusung kuliner dari Kobe ini terbilang cepat, karena belasan kokinya bekerja amat cekatan. Selain memang Marugame menerapkan metode swalayan yang mengharuskan Anda menggotong sendiri pesanan ke meja makan.

Hawa dingin yang dibawa hujan siang itu membuat saya bertekad memilih udon berkuah untuk menu utama. Dari sederet menu, pilihan jatuh pada On Tama Udon, setelah terlebih dulu bertanya pada salah seorang koki. "On Tama mirip dengan Mentai Kamatama Udon karena sama-sama pakai telur setengah matang. Bedanya, Mentai Kamatama Udon tidak pakai kuah," kata salah seorang koki, ramah.

Tak sampai lima menit, On Tama Udon diletakkan di baki saya. Karena Marugame adalah restoran swalayan, kita pun mesti memilih sendiri lauk dan cemilan untuk dipasangkan dengan si udon. Berhubung kalap melihat tampilannya yang memikat, saya memilih empat sekaligus: Broccoli Tempura, Kakiage, Ebi Tempura, dan Beef Croquette. Adapun untuk minuman, ocha hangat yang jadi pilihan.

Tampilan fisik On Tama Udon memang sekilas kurang meyakinkan. Di atas gulungan udon gemuk yang dikungkung kuah bukake dashi, hanya ada irisan daun bawang, telur setengah matang, serta tempura renyah. Namun ternyata, kesederhanaan itu tak berlaku untuk rasanya. Setelah topping tercampur dengan udon, hmm.. Anda akan tahu mengapa On Tama Udon jadi salah satu idola di Marugame.

Perpaduan sop bukake dashi dengan telur setengah matang dalam mangkok On Tama Udon menghasilkan kuah yang creamy tapi tak bikin eneg. Tekstur udonnya pun lembut, sehingga nyaman di mulut. Namun karena On Tama Udon "tak punya apa-apa" untuk lauk, ada baiknya Anda memadankannya dengan tempura. Kakiage atau tempura sayur yang kriuk-kriuk bisa jadi teman On Tama Udon.

On Tama Udon
Beef Curry Udon
Broccoli Tempura juga asyik dipasangkan dengan On Tama Udon. Tampung lauk ini mirip dengan Kakiage, hanya beda variasi isinya. Nah, buat Anda yang suka pedas, bubuhkan saja irisan cabai rawit merah dan hijau yang tersedia di dekat kasir. Selain cabai, Anda juga bisa menumpahkan tempura crispy dan daun bawang, yang bisa diambil sesuka hati di restoran ini.

Jika tak doyan telur setengah matang, Niku Udon dan Beef Curry Udon adalah alternatifnya. Keduanya sama-sama memadankan udon dengan lembaran daging sukiyaki. Bedanya, kalau Niku Udon berkuah bening, Beef Curry Udon menggunakan saus kare yang melimpah, sampai-sampai nyaris menyembunyikan tumpukan udon di dalamnya.

Menurut salah seorang pengunjung, Anindya Pithaloka, kuah Beef Curry Udon yang coklat pekat, terlalu kental dan asin. Penggemar mie ceking alias ramen ini juga merasa perpaduan saus kare dengan udonnya kurang pas. “Dipadu dengan udon yang gemuk, kuah kare terasa semakin 'berat'," katanya yang baru sekali menjajal kuliner Muragame. "Tanpa tempura pun menu ini sudah mengenyangkan."

Marugame juga menyediakan menu untuk mereka yang tak doyan mie, salah satunya Tendon Tori Rice. Menu ini seolah didedikasikan bagi penggemar tempura, karena meletakkan Egg Tempura, Kakiage, dan Tori Tempura sekaligus di atas nasi Jepang. Dari ketiganya, Egg Tempuralah juaranya. Mendapati telur setengah matang dibalut kulit tempura yang garing dan renyah, bak mendapat kejutan menyenangkan. Sayangnya, nasi Tendon Tori Rice terlalu ampyar, sehingga menyulitkan saya yang mencicipinya dengan sumpit.

Tendon Tori Rice
Ebi Tempura dan Beef Croquette
Broccoli Tempura
Harga yang dibanderol Marugame tak mahal, mulai dari Rp 30-50 ribu untuk udon maupun nasi, Rp 7-15 ribu untuk tempura, dan Rp 10 ribu untuk segelas ocha yang bisa diisi ulang. Dengan harga tersebut Anda bisa mendapat masakan segar dan masih hangat, karena tiap 15 menit sekali, masakan yang tak terbeli dibuang sang koki untuk digantikan yang baru.

*Sudah dimuat di Koran Tempo Minggu

No comments:

Post a Comment