Monday, April 21, 2014

Mengapa Kartini

Apa yang tersisa di pikiranmu dari peringatan Hari Kartini? Lagunya? Kondenya? Kewajiban mesti berpakaian adat ke sekolah? Buku Habis Gelap Terbitlah Terang? Atau sosok perempuan Jepara yang digugat gelar pahlawannya oleh berbagai pihak karena dianggap warisan kolonial?

Saya "bertemu" Kartini lewat lagu, dan lewat pelajaran di sekolah. Dari situ saya menilai dia bukan perempuan biasa. Saya yang SD saat itu menganggapnya keren, dan akhirnya mengajak bapak ke Museum Kartini di Jepara. Dia siapa? Anda bisa membacanya di buku-buku, entah yang pro dengan pemikiran-pemikirannya yang menjadikan dia pahlawan, maupun yang kontra.

Saya bukan ahli sejarah, dan tak mau sok-sokan mengeluarkan sederet fakta dan teori. Terlepas dari pemikiran Kartini yang sangat Belanda, dia menurut saya layak disebut pahlawan.

Tempus dan locus mestinya tidak hanya dipakai saat Anda mungkin mempertanyakan pemberian gelar pahlawan untuk Kartini. Tapi juga untuk melihat kondisi tempat dan waktu saat Kartini menyuarakan pendapatnya, berbuat sesuatu, untuk kemajuan perempuan. Mungkin ada yang menganggap dia bukan sosok yang pertama bicara, tapi apakah itu lantas menjadikan Kartini tidak berhak dianggap berjasa memperbaiki kondisi perempuan? Kalau persoalannya perjuangan dia hanya dalam lingkup Jawa, di mana salahnya?

Mungkin ada yang mempersoalkan kesediaannya dipoligami, tapi kita pun tahu dia memang sejak awal tidak mencintai suaminya. Pernikahannya adalah transaksi. Dia melakukan itu untuk orang tuanya, dan masih bernegosiasi dengan calon suaminya untuk bisa ini-itu setelah menikah.

Saya pun tidak suka poligami, dan tidak mau itu terjadi di saya. Tapi setiap perempuan punya pilihan, bukan? Simone de Beauvoir mencintai Jean-Paul Sartre, tapi -CMIIW- memilih tidak menjalin pernikahan dengan lelaki itu karena ideologinya. Itu pun pilihan. Karena pada akhirnya Beauvoir, mungkin (gue gak tahu hidup dia detail karena doi gak curhat ke gue) mesti sok cool jika Sartre jalan dengan perempuan lain.

Bukan karena saya orang Jawa saya bilang begini. Misal Kartini orang Minang, saya juga masih berpendapat sama. Yang mesti dipersoalkan, sekali lagi menurut saya, bukan layak atau tidaknya Kartini menjadi pahlawan. Tapi, bagaimana perempuan-perempuan hebat dari berbagai wilayah di Indonesia, dihargai juga oleh kita. Entah dengan memberinya gelar pahlawan juga, atau dengan cara lain.

Solusinya? Mungkin dengan menjadikan 21 April, tidak sebagai Hari Kartini, kalau itu dianggap terlalu berlebihan. Bikin Hari Perempuan sajalah. Kapan? Para sejarawan mungkin yang bisa pilih tanggal. Tapi tak perlulah setengah mati menggugat kepahlawanannya, sama seperti kita menggugat kepahlawanan Soeharto. Karena bagaimana pun bukunya revolusioner dan provokatif, pada masanya.

Walau yah, sebenarnya mungkin Kartini dan perempuan hebat lainnya itu tak ambil pusing mau dikasih gelar pahlawan atau tidak. Karena bukan gelar yang mereka inginkan, tapi perubahan.

PS. Guilty pleasure nih. Saya suka lho, pakai baju adat tiap tanggal 21 April. Ya sebenarnya pakai di tanggal berapa aja suka sih. Hahahahahaha..

2 comments:

  1. Hari Perempuan sudah ada, lalu diubah menjadi Hari Ibu oleh Orde Baru.

    ReplyDelete