Thursday, December 29, 2011

Sherlock Holmes "A Game of Shadows": Duel Dahsyat Dua Jenius

Saya nonton Sherlock Holmes bukan karena saya penggemar novelnya. Sama sekali tidak. Saya mengenal sosok detektif asal Inggris itu justru di komik Detektif Conan-nya Aoyama Gosho. Hehehe.. So, kenapa saya nonton film ini? Karena film lainnya enggak ada yang menggoda :p

Ketidakpahaman saya soal karakter novel karya Sir Arthur Conan Doyle, ditambah tak membaca resensi apapun sebelumnya, membuat saya agak "jetlag" di belasan menit pertama film. Jujur aja, saya cuma tahu Sherlock punya sahabat seorang dokter bernama Watson, punya musuh bebuyutan bernama Profesor James Moriarty, jago berpikir deduktif, punya penglihatan setajam elang, dan identik dengan cerutu. That's all!

Adegan pertama mengenalkan saya pada sosok Sherlock Holmes yang bertemu dengan perempuan cantik bernama Irene Adler (Rachel Weisz), yang sepertinya dia taksir diam-diam. Pertemuan yang konyol --karena Holmes menyamar sebagai gembel-- membuat saya menilai Holmes sebagai sosok yang konyol dan badung. Beda lah, dengan sosok Sherlock Holmes yang ada di bayangan saya.

Sherlock Holmes yang ada di pikiran saya adalah sosok pria Inggris yang dingin, cerdas luar biasa, dan misterius. Oleh sutradara Guy Ritchie, roh Holmes ditiupkan ke aktor Robert Downey Jr yang gagah, ganteng, dan flamboyan. Yaww, James Bond abad 18 lah ya, kayaknya. Hehe.. Saya pribadi suka karakter Holmes yang dibawakan Downey Jr yang "sinting", brengsek, tengil, tapi tetap berotak berlian.

Pertemuan Holmes dengan Irene menggiring kita pada kondisi Eropa abad 18 yang antarnegaranya rentan adu domba. Hal itu dimanfaatkan profesor jenius bernama James Moriarty (Jared Harris). Ia menciptakan situasi saling curiga antara negara satu dengan lainnya, hingga akhirnya terjadi perang dunia. Nah, kenapa Sang Profesor begitu ingin dunia saling serang? Jawabannya ada di film berdurasi 128 menit ini.

Seperti dalam novel dan prekuel yang tayang 2009 lalu, Holmes tak sendirian berpetualang memecahkan teka-teki. Ia ditemani dr.John Watson (Jude Law) dan cewek gypsi bernama Madam Simza (Noomi Rapace), serta kakaknya yang bekerja untuk pemerintah Inggris, Mycroft Holmes. Mereka bahu-membahu menahan Moriarty dan kawannya, Kolonel Sebastian Moran yang bekas penembak jitu tentara Inggris, mengacaukan dunia.

Holmes vs Moriarty

Maka sejak peristiwa ledakan di London membunuh bandar opium dan dokter bedah asal Jerman, Holmes langsung heboh sendiri. Ia mengajak Watson mencegah misi Moriarty, namun sahabatnya itu malah akan bulan madu dengan istrinya, Mary. Di sinilah persahabatan mereka diuji. Watson pun mau tak mau terlibat petualangan Holmes berturut-turut dari Inggris, Prancis, Jerman, dan Swiss.

Entahlah seperti apa ketegangan yang ada di novel The Final Problem. Tapi jalan cerita yang dibuat penulis naskah Kieran dan Michele Mulroney enggak terlalu oke. Menurut saya yang baru menikmati Sherlock Holmes pertama kali, jalan ceritanya terlalu cepat, tapi dengan konflik yang begitu datar. Di menit-menit awal, film bahkan cenderung membosankan.

Yang menyelamatkan saya dari kantuk saat menonton film ini ada tiga. Pertama, Downey Jr sungguhlah seksi di sepanjang film (Oh God, emang ya bule itu makin tua makin ganteng!). Kedua, banyak spot menarik yang dihadirkan, salah satunya pemandangan Swiss yang indah dan penuh hamparan salju. Ketiga, karena film ini lumayan lucu dan beberapa kali sukses bikin saya ketawa. Hehehe..

Saya ingat, saya selalu ketawa tiap Holmes menyamar aneh-aneh. Jadi apapun, dia selaluuuu saja kocak dan bikin ngakak. Gimana enggak geli coba, lihat Downey Jr "nyaru" jadi sofa, jadi gembel, jadi kakek-kakek tua berjenggot putih tebal, jadi bellboy, dan jadi perempuan tua. Wkwkwk. Adegan lucu lainnya adalah saat istri Watson "dibuang" Holmes ke sungai, saat Watson telat datang ke pernikahannya sendiri, dan saat Holmes naik keledai :D

Adegan-adegan pengocok perut itu jadi pelipur di tengah ketegangan yang terbangun dari aksi kejar-kejaran Holmes dan Moriarty. Ada sejumlah adegan yang menurut saya menarik dan membuat jantung berdebar cepat. Yakni adegan baku tembak Holmes-Watson melawan kelompok Moriarty di kereta, adegan main caturnya Holmes melawan Sang Profesor, dan adegan Holmes digantung di menara gudang senjata.

Selebihnya? Biasa-biasa saja. Alih-alih menyajikan misteri yang bikin penasaran sampai akhir, film ini justru banyak bicara soal persahabatan unik Watson dengan Holmes. Lucu, sih. Tapi sayang juga karena itu membuat film ini jadi terasa "nanggung". Saya juga terganggu dengan sejumlah keanehan film ini. Gimana enggak aneh, kalau Holmes dan Watson masih bisa hidup meski diberondong bom secara habis-habisan oleh gengnya Moriarty. Holmes juga entah bagaimana bisa selamat meski jatuh ke jurang dengan ketinggian begitu curam.

Meski saya banyak ngeluhnya, tapi tetap aja film ini menurut saya menarik. Alasannya, karena para aktor di film ini bermain cemerlang. Downey di mata saya begitu pas sebagai Sherly, panggilan akrab Holmes. Ia dengan tubuh lelakinya itu, sungguh cocok menjadi detektif yang gila misteri, sayang sahabat, dan (sebenarnya) kesepian. Saya suka cara Downey menghisap cerutu, dan menghembuskan asapnya dari sebelah kanan bibit. Padahal saya benci rokok, hahaha..

Akting Jude Law sebagai Watson juga oke. Terasa lah emosinya, sebagai sosok sahabat yang begitu "mencintai" Holmes, tapi jengkel setengah mati lantaran bulan madunya dengan sang istri diobrak-abrik tanpa ampun, hehe.. Sosok Madam Simza sebenarnya menarik. Sayangnya, Rapace yang pernah dinominasikan sebagai aktris terbaik di BAFTA Award, terkesan hanya sebagai tempelan di sini. Khas film jagoan lelaki yang misoginis dan hanya menjadikan perempuan sebagai dekorator yang mempermanis adegan.

Tapi pemain terbaik jelas Jared Harris, dong. Saya suka bagaimana Harris menghidupkan karakter sadis Profesor Moriarty. Yes, Moriarty versi Harris menjelma sebagai sosok yang "sakit", dingin, culas, dan kejam setengah mati. Dan karakter itu dimainkan Harris dengan olah tubuh dan gerakan mata yang dahsyat! Dia memang pewaris akting cantik sang ayah, aktor kawakan Inggris, almarhum Richard Harris (Dumbledore di Harry Potter 1 dan 2).

Holmes n Watson

Muka culas Moriarty

Akting prima Harris sangat terlihat saat adegannya bermain catur dengan Holmes di Swiss. Dia di situ mampu menunjukkan intimidasinya sebagai sosok profesor kaya yang superior dan punya segalanya. Keren banget lah melihat dia dan Holmes yang sama-sama jago deduksi, bersaing dalam berstrategi. Saya juga suka gaya dia saat menggantung Holmes di puncak menara. Gila, di situ dia seperti orang sakit jiwa beneran!

Secara keseluruhan, saya kasih 3,5 dari 5 bintang. Saya cuma kurang suka alurnya yang datar dan enggak terlalu banyak kejutan. Semoga sekuelnya nanti lebih menegangkan dari ini. Kalau dilihat dari endingnya sih, akan ada Sherlock Holmes berikutnya ya. Biar bisa menjelaskan kenapa Holmes yang jatuh dari ketinggian ratusan meter itu sukses selamat dan segar-bugar sampai di Inggris. Hehehe..

No comments:

Post a Comment