Monday, August 20, 2012

Seumpama Sungai

Seumpama sungai, kita adalah derit bebatuan yang disinggung aliran air.. Mengada dari dua tumbukan, gaduh melepas amarah yang tak mempan diusir petang. Seperti meluap laksana gemuruh arus yang menyusup di sela-sela lumut menghitam. Tinggalkan cerita tentang kemarau lalu yang ringkih akan basah.

Lalu hujan menggelandang merajam alam. Menginjak jejak-jejak di atas andesit yang perlahan terkikis zaman. Lalu kosong. Dalam pertemuan antara gerimis dan embun pagi hari.

Ada mimpi, dalam perjalanan kita. Kau tawarkan aku untuk menapaki rahasiamu, yang sebelumnya tersembunyi rapat di balik kotak merah yang dilukis kelabu. Dan aku memilih membacanya, mendengarnya, merasakannya dengan nafasku..

Meski kemudian langkahku memilih beranjak meninggalkanmu, sendiri, dalam pelukan lembut ilalang pada dinihari yang berkabut.

Seumpama sungai, kita adalah derit bebatuan yang disinggung aliran air.. Mengada dari dua tumbukan, gaduh melepas amarah yang tak mempan diusir petang. Akan selalu ada, akan selalu muncul cerita. Meski dalam gelap dan penuh tanda tanya.

No comments:

Post a Comment