Friday, July 22, 2011

Pencuri

Darah saya rasanya ikut terkesiap saat Nindy bilang dia habis kerampokan di kosnya, jam 05.00 dinihari. Sungguh, saya langsung ikutan lemes dan sedih mendengarnya. Namanya orang Jawa, yang ada di pikiran saya adalah alhamdulillah Nindy-nya nggak kenapa-kenapa. Saya nggak mbayangin kalau si perampok yang nekat itu sampai bertindak lebih jauh.

Kata Nindy, tas dia dan seluruh isinya hilang. Itu berarti dompet dan kartu-kartu, kamera, serta handphone, ikut lenyap. Di saat kondisi seperti ini saya nggak ngerti apa yang harus saya lakukan. Kalau saya bilang "Ikhlasin aja ya Ndy.." kayakny basi banget. Heloo.. susah kali, untuk ngikhlasin itu di saat trauma peristiwa belum hilang dari ingatan.

Sempat saya bilang sama Nindy. "Kamu nggak bilang sama Mas perampoknya untuk ngambil duit kamu aja, Ndy? Trus kartu-kartunya ditinggal gitu.." kata saya dengan bodohnya.
"Wis ra kepikiran opo-opo, Vit.. ra iso mikir pas wingi aku dibekep karo mas'e.." jawab Nindy. Artinya: "Ga kepikiran apa-apa, Vit.. Pas kemarin aku dibekap sama masnya, aku nggak bisa mikir sama sekali..".

Di saat seperti ini, saya bersyukur tumbuh di lingkungan Jawa yang sering kali tetap mengucap syukur meski sedang kena musibah sekali pun. Bayangkan saja betapa Nindy masih bisa ketawa dan mengatakan "Untung nggak diapa-apain", padahal dia sudah kehilangan banyak..

Orang Jawa, setahu saya, memang suka menghindari konflik. Itulah kenapa, jika orang Jawa sedang membenci orang lain, dia memilih untuk diam dan menggerutu di belakang. Yah mungkin sikap itu bisa dipandang buruk karena tidak menyelesaikan masalah. Tapi bukankah sikap itu juga bisa dipandang sebagai cara untuk menghindari masalah yang lebih besar?

Untuk masalah kehilangan ini, saya beberapa kali merasakannya. Entah dompet, entah hape, entah hal yang lain. Saya akui, satu jam pertama saat sadar telah kehilangan sesuatu, saya langsung lemas dan menyalahkan diri sendiri. Tapi kemudian saya selalu ingat ajaran bapak dan ibu, bahwa mungkin itu bukan rezeki saya. Mungkin saja si pencuri lebih membutuhkan dompet itu dibanding saya..

Kadang saya bertanya-tanya, apa yang dipikirkan dan dirasakan si pencuri saat mengambil barang orang lain. Apakah dia merasa bersalah? Apakah dia saat itu mengingat dosa? Atau dia justru tak merasa apa-apa karena keluarganya yang sedang kelaparan di rumah jauh lebih membayanginya?

Si pencuri mungkin tak sampai berpikir bahwa apa yang dia lakukan sudah membuat orang yang dicurinya kelimpungan, panik, sedih, dan bahkan mungkin terpukul. Si pencuri tak merasa bersalah karena si pencuri belum pernah merasakan kecurian. Dia tak tahu betapa tidak enaknya merasa kehilangan.

Bagi saya yang beberapa kali jadi korban pencuri, kehilangan benda-benda yang punya sejarah adalah sebab yang membuat peristiwa kecurian itu jadi menyesakkan. Karena itu saya sangat sangat sangat tidak ingin menjadi pencuri yang membuat orang lain mengumpati saya karena merasa kehilangan. Saya tidak ingin menjadi pencuri apapun. Termasuk pencuri kekasih orang :)

No comments:

Post a Comment