Thursday, July 7, 2011

Muhammad Nazaruddin, From "Nero" to Hero

foto Bang Udin di situs Interpol

Pagi ini ada satu berita di situs berita tetangga, detik.com, yang bikin nafas tertahan. Bagaimana tidak, dalam tulisan sangat panjang tersebut Muhammad Nazaruddin, tersangka kasus suap Wisma Atlet Jakabaring, mengaku diancam akan “dihabisi” oleh orang suruhan si ****. Entah siapa nama si **** itu. Tidak jelas. Kabur. Sama tidak jelasnya dengan kasus Nazaruddin yang makin hari makin menggurita.

Dalam tulisan itu tertulis, Nazaruddin kini tak jelas rimbanya. Begitu pun sang istri, Neneng Sri Wahyuni, dan ketiga orang putra mereka. Hilang entah ke mana. Bahkan mertua Nazaruddin yang (mungkin) tak ada sangkut pautnya dengan perkara itu, juga disebut-sebut “lenyap” tak berjejak. Entah lenyap, entah dilenyapkan.

Pemerintah mengklaim Nazaruddin berada di Singapura sejak 23 Mei 2011. Hal itu dikuatkan dengan pernyataan kawan-kawan Nazaruddin di Partai Demokrat seperti Sutan Batoeghana, Jhonny Allen, dan Jafar Hafsah, yang mengaku sempat menemui Nazaruddin di Singapura.

Di sisi lain, pemerintah Singapura melalui situs resminya menyatakan Nazaruddin tidak berada di negara mereka sejak awal. Lalu di mana sebenarnya dia berada? Masih hidupkah dia saat ini? Lalu mengapa tega-teganya Badan Intelijen Negara tidak menyampaikan pada Presiden bahwa Nazaruddin tidak berada di Singapura, sampai-sampai Presiden kemarin "offside" memerintahkan Kapolri untuk menangkap Nazaruddin di Singapura?

Saya ngeri membayangkan apa yang sedang terjadi di luar sana. Iya memang Nazaruddin penjahat kelas berat. Dia bahkan diduga bermain di sejumlah proyek Kementerian, dan menangguk ratusan miliar dari proyek-proyek tersebut. Sang istri yang konon bekerja sebagai broker tak kalah hebatnya. Mbak Neneng yang sosialita itu bahkan disebut-sebut sama hebatnya dengan sang suami dalam mengeruk rupiah dari proyek.

Tapi bukankah kehebatan Nazaruddin itu ada batasannya? Apalagi yang dia "lawan" selama ini orang-orang hebat. Kuat. Lihatlah nama-nama yang diserang Nazaruddin selama ini. Ada Andi Malarangeng, Anas Urbaningrum, Choel Malarangeng, Mirwan Amir, dan Angelina Sondakh.

Bahkan, dari bisik-bisik, bukan nama-nama itu saja yang disebut Nazaruddin bermain proyek. Ada pula keluarga Istana yang terlibat. Dan nama itu hingga kini masih tersimpan di pistol Nazaruddin, tinggal menunggu ditembakkan. Bukankah pengacara Nazaruddin, OC Kaligis, sudah mengatakan bahwa rahasia yang disimpan kliennya bisa mengganggu stabilitas negara?

Lalu, siapa yang diuntungkan dengan menghilangnya Nazaruddin ini?

Mas Anas, Pak Andi, Mbak Angie, dan Pak Mirwan, dengan tegas menyeru, “Nazaruddin.. pulanglah.. Buktikanlah tuduhanmu itu di Indonesia..”. Saya yang dengar seruan itu jadi mikir bahwa Mas-Mbak itu tampaknya gerah benar dengan Nazaruddin. Karena itu mereka punya harapan mulia Nazaruddin kembali ke Indonesia, dan menyerahkan bukti-bukti riil dari tudingannya selama ini.


Saya nggak tahu tudingan itu terlontar dengan tulus, atau tidak. Mungkin benar-benar tulus. Toh bos mereka, Pak Susilo Bambang Yudhoyono, sejak awal berkomitmen untuk tidak tebang-pilih dalam pemberantasan korupsi? Bahkan saat kakak iparnya, Sarwo Edhie terpilih sebagai KSAD, Pak SBY berdalih itu bukan nepotisme.

Jadi mungkin permintaan Mas Anas cs agar Nazaruddin pulang benar adanya. Wallahu alam. Mungkin saya terlalu suuzon karena membayangkan kondisi ala film action: di suatu tempat entah di mana, Nazaruddin dan keluarganya kini dalam ancaman orang-orang yang diserangnya dari persembunyian.

Ampunilah saya Tuhan kalau sering berprasangka buruk. Atau bukan tak mungkin saat ini Nazaruddin dan anak-istrinya sudah hidup damai entah di mana, tanpa harus takut harus berhadapan dengan aparat penegak hukum.

Soal dia dapat uang dari mana untuk bertahan hidup di luar sana, bukan soal rumit bukan? Dia sudah punya bekal yang dihimpun dari proyek-proyeknya selama ini. Jumlahnya ditaksir lebih dari setengah triliun. Dan saya entah kenapa yakin akan ada banyak orang yang bersedia menjadi donatur Nazar, asal mantan anggota Dewan itu mau menghilang di belahan bumi manapun.

Kalau anda menjadi salah satu yang selama ini diserang Nazar, anda lebih memilih orang itu datang ke Indonesia dan menyerahkan bukti-bukti- meski belum tentu benar- tentang keterlibatan Anda, atau lebih baik dia menghilang saja bersama segala bukti-bukti itu?

Saya nggak mau berandai-andai, tapi membayangkan apa yang akan terjadi jika Nazaruddin memutuskan kembali ke Indonesia, sepertinya seru juga. Entah kenapa saya membayangkan Nazaruddin akan disambut bak pahlawan.

Bukankah rakyat kita amatlah pemaaf? Lihat saja bagaimana selama ini teroris-teroris diperlakukan layaknya mujahid. Kedatangannya diteriaki takbir, dan jenazahnya disambut seperti dia adalah prajurit yang terbunuh di medan perang?

Saya jadi inget tokoh bernama Nero, raja Romawi yang terkenal bengis. Yang saya bayangkan, Nazaruddin ini sesadistis Nero dalam melawan musuh-musuhnya. Nero dikenal keji, tak kenal takut, dan sama sekali nggak pandang bulu dalam menebas lawan. Mirip dengan Nazaruddin saat ini yang beringas menyerang Anas dkk.

Dan ketika nanti dia keluar dari persembunyiannya, saya membayangkan Nazaruddin yang menyimpan sejumlah amunisi siap ledak ini akan dipuja layaknya pahlawan dari pertempuran Baratayuda karena sudah "melawan habis-habisan" (sesama) pemain anggaran. From "Nero" to Hero, Muhammad Nazaruddin..

No comments:

Post a Comment