Wednesday, July 27, 2011

Pulang ke Rumah

Sungguh saya beruntung punya kalian, The Amirs, yang konyol, heboh, bawel, dan hangat tentunya. Pulang ke markas The Amirs bikin saya lupa semua hal yang tidak menyenangkan selama di Jakarta: lupa penat yang selama ini menjerat, lupa panas, polusi, dan lupa macet yang setiap hari membuat saya tertekan dan mengeluarkan sumpah serapah.

Setiap hari selama di Jakarta, saya selalu mengawali dan menutup hari dengan gelisah. Karena tidak ada kalian yang selama ini ada sejak saya bangun hingga kembali tidur malam harinya. Dan kalian adalah alasan saya merasa begitu sendirian di Jakarta. Karena itu, pulang ke rumah, ke tempat kalian selama ini beristirahat dan melepas lelah, adalah sesuatu yang sangat saya nantikan..

Tinggal di Jakarta dan merindukan kalian, membuat saya merasa, saya pernah memperlakukan kalian dengan buruk. Saya jadi ingat, dulu saya lebih sering menghabiskan waktu di kamar dibanding bersama kalian. Dan sekarang, saat untuk bertemu kalian saya harus terlebih dulu izin atasan, menempuh 8 jam perjalanan dengan kereta Senja, tak ingin rasanya sedetik pun berpisah dari kalian.

Daddy yang suka geje
Pak, sebenarnya saat saya selesai liputan, saya ingin pulang ke rumah, lalu menceritakan pengalaman sehari itu pada bapak. Saya ingin bapak membaca berita-berita saya, mengkritiknya, dan mengajari saya apa yang kurang dari situ. Saya kangen suara batuk bapak itu, saya kangen diimami bapak saat jamaah shalat maghrib. Saya kangen cara-cara konyol bapak mulai dari yang cerdas sampai yang slapstick dalam membuat saya tertawa terpingkal-pingkal, dan saya kangen ngintilin bapak ke luar kota, dan wisata kuliner gila-gilaan di sela-selanya..

Bu, yang selalu saya ingat dari Jakarta adalah kelembutan ibu, rasa sayang ibu yang seolah-olah tumpah ruah buat kami yang bandel-bandel ini, masakan ibu yang selalu pedas padahal ibu nggak suka pedas, ajakan ibu untuk tahajud di tengah malam, riwehnya ibu saat belanja di mall dan memilih model kebaya sebelum dijahitkan ke Cik Ing, dan keikhlasan ibu untuk bangun jauh lebih pagi dari kami demi memastikan perut kami terisi sarapan sebelum beraktivitas, serta kesediaan ibu untuk menahan kantuk demi menunggu anak-anaknya yang bandel ini pulang ke rumah.

Mami dan anak orang
Saya rindu mengantarkan ibu ke pasar di hari Minggu pagi, berangkat ke kampus bareng ibuk, shopping bareng, curcol gila-gilaan di dalam perjalanan, dan tentunya nonton sinetron bareng setiap malam, sambil menggunjingkan pemeran antagonis yang membuat kita berdua kesal.

Chuppa a.k.a Sofie, sumpah ya. Kamu tuh orang yang sangat menjengkelkan. Selain drama queen, kamu juga nggak berperasaan dan kejam. Apalagi sama kakakmu yang cantik ini. Tapi apa mau dikata. Kamu adalah orang pertama di rumah yang saya ceritain semuanya. Kamu yang paling tahu saat-saat saya merasa begitu bahagia, saat saya sedang menangis seharian di kamar karena cinta (yaiks.. malu mengatakannya but i really do it), kamu yang paling tahu berapa banyak baju baru di lemari saya, dan kamu yang paling tahu turun-naiknya hubungan saya dengan lelaki-lelaki itu.

Kita memang sering berantem, Chup. Saya ingat, sejak kecil kita sering meributkan sesuatu yang nggak penting. Dan itu berakhir dengan adegan perkelahian ala sinetron yang tentunya dimenangkan kamu si tokoh antagonis. Tapi jujur saja, saya selalu menyesal setiap selesai berkelahi denganmu. Sebab bagi saya, kamu tetap adik yang sangat spesial.

Me and Chuppa
Di Jakarta, nggak ada lagi adegan kita boncengan motor ke Tlogosari untuk cari makan, atau jalan bareng ke Mbak Mila untuk beli es campur. Saya ingat, kamu sangat benci tape tapi tetap minta Mbak Mila untuk menambahkannya di es campurmu agar nanti tape itu kamu berikan ke mangkok saya.

Saya kangen cara kita menghujat artis-artis di teve, saya kangen kegiatan kita stalking bareng di Facebook, dan saya juga kangen lihat kamu ngeringin rambut di depan kipas angin tiap sore. Saya mau semua itu lagi..

Al El alias AlyaAmir, hahaha.. Entah kenapa bawaannya pengen ketawa kalau inget kamu. Saya masih ingat, saat kamu bayi, tubuhmu sangat kecil. Bahkan kamu tampak seperti bayi tak sehat. Menyedihkan. Hahahaha.. Apalagi ditambah unyeng-unyeng di kepala yang bikin rambutmu kayak tanduk banteng :p

Tapi sekarang kamu sudah BESAR. Dalam arti harfiah maupun konotasi. Kamu sekarang udah SMP, pakai seragam putih-biru, mulai aktif di kegiatan sekolah, dan mulai kenal cinta.. Kamu sekarang sudah mulai membangun dunia sendiri, saya tahu itu. Jangan kira jarak kita yang berjauhan membuat saya tidak tahu perkembanganmu.

Saya melihat perkembanganmu melalui facebook dan twitter. Ironis memang, tapi setidaknya saya tahu bagaimana sekarang kamu sudah beranjak remaja, dan mulai suka merumpikan teman-teman lelaki dengan teman se-gank. Saya juga tahu betapa sulitnya tugas sekolahmu, betapa melelahkannya kegiatan OSIS-mu, dan betapa jauhnya sekarang kamu dengan keluargamu di rumah.

si ababil Alya
Saya sebenarnya ingin ada di dekatmu. Agar bisa mengingatkanmu langsung jika kamu sudah terlalu hanyut dengan kehidupan di dunia maya itu. Saya ingin mengingatkanmu, siapa tahu saran saya masih didengar. Pedulikanlah keluargamu lebih dari apapun, dek. Karena cuma keluarga yang tidak akan berpaling dari kita sampai kapan pun. Karena cuma keluarga yang membuat sebuah rumah menjadi rumah...

No comments:

Post a Comment