Sunday, January 8, 2012

The Help: Perbedaan (Tak) Selalu Indah

Melihat poster film The Help saat itu, saya langsung tertarik. Kover itu menunjukkan empat orang perempuan berbeda warna kulit, sedang berjalan berurutan, seperti visualisasi teori evolusi Darwin. Tapi yang berdiri paling depan di sini bukan monyet, melainkan perempuan bule yang terlihat arogan. Hehe..

Kover itu ternyata mewakili jalin cerita film arahan sutradara Tate Taylor. Kalau dibilang film ini tentang perjuangan melawan rasisme dan diskriminasi, betul sekali. Tapi kalau dibilang soal perbudakan di Amerika Serikat pada dekade 60-an juga tak salah. Pun jika kita menilai ini film tentang perempuan.

The Help berkisah tentang kehidupan di sebuah komplek perumahan elit di Mississippi, Amerika Serikat, tahun 1960-an. Di komplek itu, hampir semua perempuan kulit putih memiliki pembantu rumah tangga seorang perempuan negro.

Jangan bayangkan PRT kala itu bisa semerdeka zaman sekarang. Pada masa itu, perempuan negro masih sangat inferior dan didiskriminasi. Mereka diperlakukan seolah budak belian yang menjijikkan. Kulit hitam pada masa itu adalah ras yang kalah.

Untuk toilet saja, orang kulit putih tak mau berbagi dengan orang kulit hitam. Mereka takut tertular penyakit. Padahal, para PRT negro itulah yang melayani mereka sejak pagi hingga malam, dan membesarkan anak-anak mereka.

Perubahan kecil bermula sekembalinya Eugena Phlelan atau akrab disapa Skeeter (Emma Stone) ke kampung itu. Ia yang kini bekerja sebagai penulis majalah The Jackson's Jounal, melihat ada yang ganjil dari cara teman-teman perempuannya memperlakukan PRT mereka.

Parahnya, PRT yang mengasuhnya sejak kecil, Constantine, tak ada di rumah saat ia pulang. Skeeter sudah bertanya pada ibu dan ayahnya, tapi tak pernah ada jawaban memuaskan. Ia sebenarnya sudah curiga ada yang tak beres. Tapi karena ortunya masih saja bungkam, Skeeter pun tak bisa berbuat banyak.

Skeeter akhirnya memilih fokus menggarap buku, sembari menunggu datang kabar soal Constantine. Ia pun mulai berkarib dengan dua PRT, Aibeleen (Viola Davis), dan Minny (Octavia Spencer), yang akhirnya menjadi narasumber bukunya. Lewat Aibeleen dan Minnylah, Skeeter kemudian bisa menyelami derita para perempuan negro yang bekerja sebagai PRT.

Film ini benar-benar menarik, menurut saya. Kita disuguhi realita superioritas ras kulit putih di Amerika, dalam film berdurasi 137 menit yang agak "ngepop". Lewat persahabatan yang dibangun Skeeter, Minny, dan Aibeleen, kita diajak mengumpat melihat betapa kejamnya rasisme menindas kemanusiaan.

Skeeter - Minny - Aibeleen

Pada dekade itu, rasisme tak semata-mata membangun sekat-sekat perbedaan berdasar warna kulit. Lebih dari itu, Amerika pada tahun 1960-an adalah aktualisasi nilai-nilai darwinisme yang memuja dominasi ras kulit putih. Maka, ketika yang berkuasa absolut adalah ras putih, ras hitam ditundukkan lewat proses perbudakan.

Menonton film ini, saya jadi ingat masa kuliah dulu. Hihi.. Saya ingat, saya pernah membuat esai panjang soal rasisme, karena penindasan berdasar warna kulit itu begitu membuat jengah. Dan herannya, sampai sekarang praktek itu masih eksis. Nggak habis pikir saya, kenapa bisa imperialisme bisa mengambil bentuk menyesuaikan zaman.

Selain mengisahkaan soal rasisme, The Help juga menunjukkan bagaimana perempuan kulit hitam memiliki beban ganda: sebagai pekerja di ranah publik, tapi juga dituntut membereskan segala urusan rumah tangga. Kondisi itu tercermin dari nasib Minny pasca-dipecat majikan lamanya. Minny yang menjadi tumpuan ekonomi keluarga, dikisahkan didera sang suami lantaran tak lagi bisa memenuhi kebutuhan mereka.

Banyaknya masalah yang ingin disampaikan dalam The Help, tidak mengurangi keindahan film ini. Secara keseluruhan, The Help adalah film yang manis, namun sekaligus gurih, renyah, dan enak dinikmati tanpa harus membuat kening berkerut.. Apalagi akting sejumlah pemainnya begitu total. Saya paling suka lihat cara Viola Davis memerankan Aibeleen. Terrific!

Saya nggak tahu apakah film ini sudah tayang di Indonesia, ataukah malah nggak akan tayang sama sekali. Tapi kalau ada waktu, nggak ada salahnya memilih The Help sebagai alternatif tontonan. Benar-benar nggak bikin nyesel, deh! Hehehe

No comments:

Post a Comment