Wednesday, October 19, 2011

Sedikit Cerita soal Patrialis Akbar


Patrialis dan penggantinya, Amir Syamsuddin

Ramah, hangat, dan lucu. Itu sosok Patrialis Akbar yang saya lihat selama ini. Yah memang saya belum lama ngepos di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Kalau dihitung-hitung, baru lima bulan terakhir ini, lah.

Tapi selama itu pula, cuma sekali saya merasa sangaaaat kesal dengan bapak yang biasa disebut Pak Patrick oleh kami, wartawan, itu. Selebihnya? Saya suka sosok narasumber yang baik hati dan nggak sombong seperti Pak Patrick. Hohoho..

Pertama, dia itu tidak pelit omong. Dalam kondisi apapun, terburu-buru sekalipun, dia hampir selalu mau dicegat wartawan. Pernah satu kali, dia tampak keberatan kami wawancara. Tapi namanya juga Pak Patrick. Tetep dong, dia mau didoorstop, hehe..

Sampai akhirnya dia nggak tahan lagi dengan hujan pertanyaan dari wartawan yang nggak ada habisnya. "Sudah ya, saya buru-buru," kata dia. "Yah Pak, masih ada yang mau ditanyain, nih.." kata wartawan. "Saya buru-buru nih.." kata Pak Patrick lagi, tapi masih dengan senyum di wajahnya.

Kalau udah begini, wartawan mau nggak mau ngalah pada si bapak yang kata Icha pernah jadi sopir mikrolet untuk biayain kuliahnya ini. Dan Pak Patrick pun akhirnya meluncur masuk ke dalam mobil Royal Syaloom RI 19 nya, dengan panik dan tergopoh-gopoh. Hehe..

Setengah jam setelah dia pergi, salah seorang stafnya cerita pada kami. "Kalian itu, masa nggak kasihan sama Bapak. Dia telat tuh akhirnya, datang ke wisuda anaknya," kata staf Pak Menteri. Mendengar penjelasan itu, saya dan seorang kawan langsung bengong. Kok Pak Patrick masih mau ngeladenin kami sih, kalau memang mau ke wisuda anaknya?

Itu cuma salah satu bukti bagaimana Pak Patrick sangat ramah pada wartawan. Selain itu, politikus Partai Amanat Nasional itu juga kami kenal sebagai sosok yang kebapakan dan humoris. Hal ini sangat terlihat dari cara dia menjawab pertanyaan-pertanyaan kami, baik pertanyaan formal, maupun menohok sekalipun.

Saking maunya jawab pertanyaan wartawan (termasuk pertanyaan offside, wkwk), Pak Patrick jadi sering ikutan offside. Hahaha.. Pernah tuh, teman saya Dika nanya soal red notice ke dia. Padahal sebenarnya Pak Patrick kan nggak ada hubungannya sama red notice. Eh dijawab dong, sama Pak Patrick.. Wkwkwk

Nggak heran, saking seringnya ngasih jawaban offside, Pak Patrick jadi hujan kritikan. Doi sering banget dihujat media massa dan pengamat hukum lantaran pernyataan-pernyataannya kerap nyeleneh :p soal ini saya nggak memungkiri, hehe..

Saya pernah nanya ke dia soal sikap pemerintah terhadap konflik Ahmadiyah dengan warga Banten. Tahu apa jawaban Pak Patrick? "Ya kan memang sebenarnya sudah dilarang aliran seperti itu. Nggak salah warga juga kan kalau melawan..". Saya bengong deh dengar jawabannya. Wkwkwk

Sering ngasih jawaban nyentrik, begitulah Pak Patrick. Suatu ketika, Metro TV bahkan sampai menyerang habis-habisan sikap Pak Patrick soal remisi terhadap koruptor. Saya nggak lihat seperti apa tayangan Metro TV. Yang jelas besoknya teman wartawan saya ada yang sampai heboh membahasnya.

Saya yang akan doorstop Pak Patrick saat jumatan pun deg-degan. Gimana nih kalau Pak Patrick lagi bad mood dan ngambek sama wartawan? Tenyata dugaan saya salah. "Pak Patrialis...." sapa saya dan teman-teman, usai dia shalat Jumat. Yang disapa tebar senyum kayak biasanya. Fiuh...

"Mau tanya apa?" tanyanya. Wah kayaknya lagi oke nih moodnya, batin saya. Kami pun kemudian bertanya ini-itu soal kasus hukum yang seminggu itu lagi "in". Sampai akhirnya, reporter Metro TV bertanya soal remisi. "Gayus benar dapat remisi, Pak?" tanyanya.

Mendengar pertanyaan itu, dan melihat seragam biru Metro TV, Patrialis langsung diam. Hehehe.. Wartawan pun akhirnya bertanya, kenapa dia nggak mau jawab pertanyaan. Begini nih jawaban dia, yang bikin saya senyum-senyum saat menulisnya.

"Saya jadi trauma, terus terang aja. Saya ngomong gini disalahkan, ngomong gini dianggap plin-plan. Padahal kan dinamikanya berjalan terus. Ya kan? Saya bilang begini, saya dianggap plin-plan. Ya sudahlah, saya diminta menutup diri kali..." kata Pak Patrick.

O o.. Dia lagi ngambek, hehehe.. Tapi karena lagi nggak ada berita, berita dia ngambek ini pun dibikin oleh saya dan teman wartawan lain. Nggak tahu deh dia tambah ngambek atau nggak, setelah baca berita kami. Hihihi..

Dan hari ini adalah hari terakhir kami mencegat Pak Patrick. Menanyai dia, meski bukan lagi soal hukum melainkan soal wejangannya untuk Menkumham baru, Amir Syamsuddin. Sedih sih, karena nggak terbayang suasana doorstop yang kurang menyenangkan dengan Pak Menteri baru yang nampaknya serius itu.

Ya sudahlah, mungkin memang Pak Patrick lebih baik jadi dosen di luar sana. Dengan begitu, mungkin dia bisa terbebas dari tekanan politik, yang seperti kata dia, bukan tak mungkin suatu ketika menjeratnya sebagai tersangka. Selamat jalan Pak Patrick.. We will miss you..

Patrialis menangis tinggalkan Kementerian, huehehehe

No comments:

Post a Comment