Friday, January 18, 2013

Lelucon Daming dan Kuasa Tubuh Perempuan

Siang yang sial bagi Daming Sunusi, calon hakim agung yang menjalani uji kepatutan dan kelayakan di Senayan. Saat ditanya soal hukuman jera untuk kasus pemerkosaan, Daming mengutarakan pendapat (yang menurut saya) sinting. Ia bilang pemerkosa dan korban bisa saja sama-sama menikmati.

Demi masa, kalimat itu langsung panen amarah. Sana-sini tak terima dengan pendapat lelaki Bugis itu. Daming pun akhirnya minta maaf keesokan harinya, diiringi tangis yang dia harap bisa membasuh luka penghujatnya.

Tapi tangis dan permintaan maaf itu tak berarti apa-apa. Seperti hari penuh hujan, yang diguyur panas lima menitan. Sama seperti waktu, kata-kata yang sudah keluar tak bisa ditarik lagi. Apalagi kata-kata itu telanjur menyakiti.

Saya sebagai warga biasa, dan sebagai perempuan yang tak pernah diperkosa, jujur saja sakit mendengar "guyonan"-nya. Entah apa yang dirasakan warga lain, perempuan lain, entah yang pernah diperkosa, entah yang tidak. Tapi rasanya saya tidak bisa tidak marah mendengar kalimat si calon hakim agung.

Yang memperkosa menikmati, korbannya pun menikmati. Saya mengartikan kata menikmati dengan sebuah kondisi si pemerkosa (entah lelaki entah perempuan) bisa orgasme dengan alat kelaminnya. Dia merasa senang. Puas.

Lalu si korban, jika disebut menikmati, apa objek yang dia nikmati? Juga orgasmekah dia? Melenguh puaskah? Ataukah lenguh yang dia keluarkan mengkomunikasikan rasa sakit? Dan derita?

Daming adalah satu dari sebagian orang yang mengartikan hubungan seks sebagai aktivitas yang menyenangkan kedua belah pihak. Dia sudah berumur, tapi entah mengapa dia lupa banyak kondisi yang membuat bercinta bisa jadi hal yang mengerikan.

Apalagi kondisi itu adalah pemerkosaan. Adik saya yang SMP saja tahu, bercinta dianggap sebagai pemerkosaan karena ada unsur paksaan dan tekanan di dalamnya. Tentu yang namanya paksaan dan tekanan, jauh dari kondisi "menikmati".

Pemerkosaan adalah perampasan hak atas kuasa manusia terhadap tubuhnya. Hak itu mestinya disadari negara, dan oleh aparat seperti Daming. Sungguh mengerikan jika negara diam saja terhadap pemikiran sempit tentang pemerkosaan.

Kalimat Daming bisa jadi pengingat kita, masih banyak yang menganggap kekerasan terhadap perempuan sebagai lelucon. Perempuan dan tubuhnya adalah objek yang bisa bebas direpresi. Lelaki seolah boleh menafsirkan apapun terhadap tubuh dan seksualitas perempuan, pun dalam kasus pemerkosaan.

Menyedihkan. Apalagi ucapan itu dibuat seorang pengadil, yang dianggap wakil Tuhan di dunia. Saya bukannya alergi guyonan. Tapi rasanya maaf dan tangis saja darinya tak bakal bisa cukup.

No comments:

Post a Comment