Sunday, June 17, 2012

Bertanya untuk Lupa

Tidak semua hal harus terjawab, seperti halnya pagi yang tak selamanya berkabut, dan suara jangkrik yang hanya kutemui sepenggalah malam. Tak ubahnya kata-kata kita yang tak berkesudahan, menelurkan rongga-rongga dalam keniscayaan yang diredam hasrat. Yang aku sendiripun lupa kapan memulainya, atau sebenarnya tak ada hal yang pernah bermula.

Sesuatu yang tak berkesudahan itu menghasilkan pertanyaan, menggebu ingin keluar dari kepalamu, dari kepalaku. Atau pada akhirnya hanya meramal sesuatu yang tak kita ketahui kebenarannya. Karena memang yang benar tak pernah jadi milik kita. Kamu aku cuma melebur serupa cahaya dan senja, yang akhirnya lenyap digerus petang.

Lalu akhirnya kita sama-sama menyerah pada tanya, namun tak benar-benar menyimpan rasa. Mungkin antara tanya dan rasa tidak pernah dipertemukan nasib. Antara satu dan lainnya pernah bertatap di persimpangan, tapi tertunda masa. Atau mungkin nasib sebenarnya pernah mencoba, tapi kita yang tak banyak bicara, hingga lusa tiba.

Tak ada yang bisa dipersalahkan, demikian juga ketidakberdayaan. Tidak berdaya adalah menjadi diri yang niscaya. Yang pada akhirnya menahan rasa untuk tidak menyambut tanya. Dan meregang tanya untuk menjabat ketidakadaan.

dan malam melarut..
terhanyut cinta yang lupa

meninabobokan kisah-kisah resah..
tentang tanya yang berduka.

No comments:

Post a Comment