Wednesday, May 25, 2011

Pada Sebuah Pernikahan


Ternyata saya salah. Nggak hanya perempuan yang punya imaji atas sebuah pernikahan. Laki-laki pun demikian. Hanya memang, konsep imaji lelaki tidak sedetail kami perempuan. Yah misalnya, kalau teman saya yang laki-laki ‘sekadar’ berharap dimasakin istrinya setelah menikah, maka saya yang perempuan bahkan membayangkan “saya ingin, saat saya bangun pagi, suami saya mendatangi saya dengan nampan berisi roti dan kopi hangat, seraya mengecup kening saya”. Hehehe..

Yah, every person has their own dream about marriage.

Nggak tahu kenapa, akhir-akhir ini saya semakin terusik melihat “keluarga”. Saya suka iri jika sedang jalan-jalan ke mall atau sedang liputan, dan melihat sebuah keluarga; ada ayah, ibu, dan anak di situ. Ada kehangatan yang menguar di antara mereka. Di mana pandangan mata mereka bicara, “i’m lucky to have u, my dear hubby..”

Tapi saya masih takut menikah. Saya takut setelah menikah, semua akan berjalan tidak baik-baik saja. Saya takut setelah menikah, suami saya berubah menjadi monster. Saya takut. Tapi saya ingin menikah, tentunya dengan orang yang dengannya saya bagi hidup saya.

Kemarin saya dua kali kena sentil Afa dan Dika. Pertama Kamis lalu. Afa bilang, “Lu mending cepet-cepet nikah deh. Keburu nggak laku.” Awalnya sumpah mati bete banget denger si Afa ngomong sekonyol itu. Atas dasar apa saya juga nggak tahu kenapa dia merasa perlu untuk tiba-tiba menyampaikan itu pada saya.

Lalu Jumat lalu. Afa “menegaskan” pernyataannya. Dan makin dikomporin sama si Dika. Saya juga nggak ngerti dua laki di depan saya itu lagi kesambet apa. Yang jelas keduanya seolah-olah mendesak saya untuk segera ‘menunjuk’ seorang laki untuk saya persuami.

Saya sempat bilang sama keduanya. Saya masih nyaman sendiri. Saya masih seneng dengan apa yang sekarang ini ada di diri saya. Tapi... kenapa ya saat saya bilang itu, di saat yang sama sejujurnya saya merasa butuh seseorang?

Mungkin itu fitrah manusia. Yang dari situ pun saya tidak bisa menghindar. Bahwa akan datang waktu, saya sebagai manusia membutuhkan seseorang untuk dijatuhcintai. Untuk digilai. Dan dengannya, kita manusia pada akhirnya benar-benar menyerah, bahwa memang menikah itu indah.

No comments:

Post a Comment