Friday, May 27, 2011

Penyakit Lupa Nunun Menular ke Sekretarisnya

Nunun Nurbaetie
Gosh! Hari ini superduper capek sekali tubuh dan pikiran ini. Gimana enggak kalau saya hari ini liputan di tiga tempat sekaligus: KPK, Pengadilan Tipikor, dan Kementerian Hukum dan HAM. Emang sih, ketiga tempat itu masih dalam satu kawasan, yaitu Kuningan. Tapi tetap saja tenaga dan pikiran beda kondisinya dibanding jika hanya jaga di satu atau dua pos sehari. Alhasil, berangkat pukul 08.30, saya baru pulang jam 22.00. Fiuh..

Capeknya badan dibayar banyak hal yang bikin saya tersenyum hari ini. Pertama adalah karena meliput sidang Nunun Nurbaetie. Dia ini sosialita yang akhirnya jadi tersangka kasus suap cek pelawat karena membantu sohib gaulnya, Miranda Swaray Goeltom, nyalon DGS Bank Indonesia. FYI, Nunun adalah istri Adang Darojatun, anggota DPR dari PKS yang dulu sempat jabat Wakapolri.

Soal Nunun sakit lupa, kita semua kayaknya udah tahu. Tapi kalo sekretarisnya juga ikutan amnesia? Hehe.. sidang empat terdakwa dari geng PDIP- Ni Luh Mariani dkk- hari ini menunjukkan itu. Sumarni, sespri Nunun, seriiiiiing banget ngaku lupa saat ditanya hakim.

Misalnya nih, Sumarni ngaku lupa saat ditanya siapa yang nyuruh dia nyairin cek pelawat.
Dia juga ngaku lupa siapa yang merintahin dia transfer miliaran ke rekening Nunun.
Dia juga ngaku lupa siapa saja anggota Dewan yang sering berkunjung ke kantor Nunun.
Plus sederet lupa lainnya.

Bisa dimaklumi kalau yang lupa itu si X atau si Z yang mungkin nggak terlalu sering ada di dekat Nunun. Lha ini? Sekretaris pribadi kok sering bilang nggak tahu saat ditanya siapa saja orang ternama yang dekat dengan bosnya. Dan yang menurut saya aneh, Sumarni lupa siapa yang merintahin duit Rp 1 miliar. Helooo.. itu duit miliaran lho, bukan seribu-dua ribu. Masa lo nggak inget sih siapa yang ngasih instruksi?

Saya jadi ingat sidang kasus mafia pajak Gayus Tambunan di mana antara satu terdakwa dengan terdakwa lain saling melindungi. Ya bukan nggak mungkin kan Bu Sumarni ini memang sengaja melindungi Nunun karena ia merasa berhutang budi pada perempuan yang ternyata aktif di PDIP itu. Apalagi ada selentingan kabar yang menyebut hingga kini Sumarni masih digaji Adang. Padahal si bos alias Nunun yang harusnya dilayani, ada nun jauh di Singapura.

Yah semoga saja penyakit lupa bu Sumarni ini nggak menular lebih luas lagi. Saya ngeri membayangkan banyak orang terjangkit lupa. Bayangkan saja horornya kalau aparat juga jadi ikut lupa harus membela siapa. Jadi sebenernya saya mau cerita apa sih? Jadi ikutan lupa nih!

No comments:

Post a Comment