Saturday, May 21, 2011

Ketika Ber-Bahasa Indonesia Terasa Aneh..


Banyak remaja sekarang yang menganggap bahasa Indonesia adalah bahasa yang berat. Bahkan, di salah satu majalah remaja yang pernah saya baca, bahasa Indonesia dianggap bahasa dewa, alias bahasa Indonesia hanya milik mereka kaum saatrawan, ataupun yang berpendidikan tinggi. Alih-alih memakai bahasa Indonesia, bahasa persatuan remaja sekarang adalah bahasa “elo-gue” ataupun bahasa “O-M-G”. Bahasa yang tidak terikat pada standar baku kamus bahasa Indonesia, dan mudah dimengerti.

Standar mudah dimengerti memang berbeda bagi tiap pribadi. Tapi yang perlu dicemaskan adalah, kadar pengetahuan dan penguasaan kita terhadap bahasa nasional. Masa sih, kita tidak mengenal bahasa bangsa sendiri? Sebagai bahasa kebangsaan, bahasa Indonesia memang termasuk kaya. Dalam arti, memiliki banyak padanan kata untuk sebagian besar terminologi ilmu pengetahuan.

Hal itu mungkin menjadi salah satu faktor penyebab, warga Indonesia menjadi malas mempelajari, ataupun memakainya dalam percakapan sehari-hari. Belum lagi ragam bahasa daerah yang tak kalah kaya kosakatanya.

Pun bila kita tetap memakai bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam pergaulan keseharian, kita akan diprotes oleh teman-teman kita, “Lo ngomong apaan, sih? Gue nggak ngerti..”, atau “Ah…belagu, lo! Pake bahasa dewa segala…sok tingkat tinggi!”. Sebenarnya, sampai di mana batasan tingkat tinggi bagi bahasa Indonesia?

Bahasa Indonesia, sesuai Sumpah Pemuda 1928, merupakan bahasa persatuan. Bahasa yang dapat merekatkan kita sebagai bangsa Indonesia, sebagai suatu kesatuan historis yang memiliki latar belakang sejarah yang sama. Bahasa yang bertujuan memudahkan penduduk Indonesia dalam berkomunikasi, bukan malah menyulitkan. Serta bahasa yang dapat meningkatkan gairah nasionalisme kita, bukan malah membuat kita malu mengucapkannya (kata teman-teman, “in english, please…”).

Faktanya adalah kita (termasuk saya, hihihi) kadang merasa keren jika sudah memakai bahasa asing selain bahasa Indonesia dalam percakapan ataupun tugas kuliah. Bahkan, jika tidak memakai bahasa asing, akan terasa ada yang kurang atau janggal.

Apa dikata, bahasa Indonesia kini makin asing bagi kita. Tidak sepenuhnya, memang. Karena kita masih (terpaksa) menggunakannya dalam berbagai aktivitas formal, seperti dalam forum, ataupun dalam bahasa buku. Di sekolah, atau di kampus, kita akan dipaksa melahap sebanyak mungkin materi pelajaran berbahasa Indonesia- baik yang mudah dimengerti ataupun yang “tingkat tinggi”, serta tugas yang menuntut kita mengerahkan segala upaya berbahasa Indonesia. Yang sering terjadi, mahasiswa yang sebelumnya cas-cis-cus mengobrol hanya dengan bahasa “elo-gue”, tiba-tiba saja mengenal kosakata “tingkat tinggi”.

Ya, bahasa Indonesia kini hanyalah bahasa sekunder bagi warganya sendiri. Kondisi masyarakat kita-lah, yang perlahan seolah menutup ruang bagi bahasa Indonesia untuk bisa eksis. Karena kenyataannya, bahasa Indonesia tak cukup mampu membuat generasi mudanya bangga menggunakannya. Anak muda sekarang lebih merasa dapat menunjukkan jati dirinya dengan tidak memakai bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Dan yang terpenting adalah, bagaimana membuat bahasa Indonesia menjadi dekat dengan kehidupan kita. Sehingga bahasa Indonesia tidak muncul ketika dalam keadaan terdesak saja (tugas sekolah dan kuliah). Dan jangan sampai, bahasa Indonesia menjadi hal yang dianggap asing di negerinya sendiri.

Saya akui, saya pun tak sanggup lari dari kebiasaan saya bicara sekenanya dengan teman ataupun keluarga. Karena masyarakat kita adalah masyarakat berbahasa “gado-gado” ( “Gue excited banget sama dia. Udah cool, smart, lagi!”). Dan jika saya tetap nekat berbahasa dewa, saya sangsi, teman-teman saya tidak menganggap saya aneh dan sok pintar.

2 comments:

  1. Bukan masalah merasa keren bisa berbahasa asing sih, tapi kadang rasanya, bahasa asing bisa mengakomodir apa yang ingin ditulis.

    Atau itu masalah kebiasaan sih. Terbiasa menggunakan bahasa asing formal dalam kehidupan sehari-hari (apalagi kehidupan akademis) juga berpengaruh banyak dalam pemilihan penggunaan bahasa :)

    ReplyDelete
  2. iya sih.. kayak gini ya misalnya.. Ngomong I MISS U itu lebih elegan dan nggak norak dibanding ngomong Saya rindu kamu. Hahahaha

    ReplyDelete