Wednesday, May 25, 2011

Sebuah Nirwana di Lereng Pegunungan Lawu

 Saat mengetahui rumah kawan yang akan saya kunjungi terletak di Matesih, Karanganyar, saya segera browsing internet. Alasannya, tak banyak yang saya ketahui tentang Karanganyar, kecuali makam mantan presiden Soeharto di Astana Giri Bangun terletak di kabupaten itu.

Dari referensi yang saya peroleh, saya paling tertarik pada objek wisata Candi Ceto. Awalnya, saya agak meragukan objek wisata ini. Saya pikir, mengunjungi candi mungkin kurang menarik dan “kurang menantang”, dibandingkan berwisata ke pantai atau pegunungan. Namun nantinya, dugaan saya terbukti sepenuhnya salah.

Perjalanan dari Solo ke Matesih, Karanganyar menghabiskan waktu sekitar satu setengah jam, menggunakan bus. Jarak yang ditempuh kurang lebih 35 km. Sedangkan dari Matesih ke Candi Ceto, tak memerlukan waktu selama Solo-Matesih. Hanya, kami harus dua kali ganti bus demi bisa mencapai Pasar Kemuning.

Sarana transportasi dari Pasar Kemuning ke Candi Ceto inilah yang belum jelas. Saya sempat berpikir akan jalan kaki saja. Tapi saat sopir bus yang saya naiki mengatakan jalan Pasar Kemuning-Ceto sangat jauh dan menanjak, saya pun urung. “Kalau mau, naik ojek saja, Mbak. Nanti di pasar ada banyak, kok,” saran si sopir bus.

Tak menemukan alat transportasi lain yang lebih capable, saya dan kedua kawan saya pun langsung mencari ojek, sesampainya di Pasar Kemuning. Si sopir bus benar. Tak hanya dua-tiga, ternyata ada banyak sekali ojek di pasar itu. Saya pun sedikit lega.

Biaya ojek sejumlah Rp 20 ribu untuk bolak-balik Pasar Kemuning-Candi Ceto menurut saya tak terlalu mahal. Kawan saya yang asli Matesih mengatakan, penduduk setempat memang tak akan mematok harga yang “mematikan” untuk wisatawan domestik seperti kami.

Saat motor mulai melaju, saya mulai deg-degan. Daerah perkebunan teh Kemuning yang akan saya lewati ini sudah terkenal keindahannya. Nyatanya benar yang dikatakan banyak orang, berada di sini seperti sedang berada di negeri di atas awan. Dari atas ojek, saya bisa menikmati hamparan hijau perkebunan teh yang berbukit-bukit.

Bagi yang pernah melihat acara teve Teletubbies, nah, perkebunan teh yang merupakan bagian dari kompleks Gunung Lawu ini mirip dengan bukit-bukit hijau yang ditinggali Tinky Winky dkk. Rasanya, saya sampai lelah terus menerus memotret karena hampir semua yang terlihat sangat menyejukkan mata dan sayang jika tidak terekam kamera.

Menurut sopir ojek saya, jarak Pasar Kemuning-Candi Ceto sekitar 7 km. Meski sepanjang jalan menuju Candi Ceto sudah beraspal, namun karena jalannya berkelok-kelok dan sangat menanjak, perjalanan jadi tak secepat jika di jalan datar. Sopir ojek saya mengaku, medan Kemuning yang seperti ini sampai membuatnya harus sering menyervis motornya.

Sesampainya di Candi Ceto, udara yang semula sejuk mulai berubah dingin. Kabut tebal jelas terlihat menyelimuti daerah ini. Topografinya yang menanjak sudah membuat saya ngos-ngosan. Padahal, saya baru berjalan dari tempat parkir hingga gerbang candi. Seorang turis Prancis yang sudah nenek-nenek yang saya jumpai, bahkan tak sanggup melanjutkan perjalanan menjelajahi candi. Baru masuk beberapa meter dari pintu candi, ia sudah berbalik pulang.

Secara asministratif, Candi Ceto terletak di Desa Ceto, Kelurahan Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Mayoritas penduduk setempat beragama Hindu. Mungkin, keberadaan umat Hindu di Desa Ceto tak lepas dari filosofi agama Hindu mengenai tempat terbaik untuk beribadah pada Sang Hyang Widi. Umat Hindu percaya, dengan beribadah di tempat yang tinggi, maka doa yang mereka panjatkan pun lebih cepat terkabul karena mereka lebih dekat dengan para leluhur di kahyangan.

Penuh Simbolisasi
Candi Ceto yang terletak di lereng barat Gunung Lawu ini terdiri dari sembilan trap yang ditandai dengan sebuah gapura, mirip dengan pura di Bali. Bentuknya punden berundak-undak, mengingatkan kita akan tempat pemujaan di zaman purba. Dari segi arsitektur, banyak yang mengatakan candi ini menyerupai peninggalan kebudayaan Maya dan Aztec Kuno Amerika Tengah.

Menurut cerita yang berkembang di antara penduduk setempat, di Candi Ceto-lah Raja Brawijaya V (Raja Majapahit) moksa, setelah sebelumnya sang raja menyucikan diri di Candi Sukuh. Cerita ini turut memperkuat aura magis yang kabarnya kental terasa jika Anda menelusuri trap demi trap peninggalan Kerajaan Majapahit pada abad 15 ini.

Jalan masuk dari trap pertama hingga trap terakhir yang semula lebar, semakin menyempit. Ini adalah simbol semakin dekatnya perjalanan manusia menuju surga atau nirvana. Banyaknya simbolisasi bentuk dan arsitektur candi ini, membuat kita seolah sedang menempuh perjalanan spiritual.

Trap pertama setelah gapura masuk merupakan halaman candi. Pada trap kedua, terdapat punden yang merupakan petilasan Ki Ageng Krincing Wesi yang dipercaya sebagai penunggu kawasan Ceto. Tiap enam bulan, pada hari Selasa Kliwon, di halaman punden digelar satu ritus suci upacara Madasiya. Melalui ritual tersebut, warga Desa Ceto dan sekitarnya menyampaikan rasa terima kasih sekaligus memohon agar Ki Ageng Krincing Wesi tetap menjaga keselamatan mereka.

Pada trap ketiga terdapat artefak  memanjang di atas tanah yang menggambarkan nafsu badaniah manusia, berbentuk phallus (alat kelamin laki-laki) sepanjang kurang lebih 2 m. Jika Anda naik satu trap lagi, artefak pada trap ketiga akan tampak lebih mempesona.

Pada trap ini, saya berhenti sejenak, menikmati pemandangan sekitar, sembari merasakan dinginnya pelukan udara pegunungan. Duduk di undakan pada ketinggian 1400 mdpl, mata saya tak henti-hentinya berucap kagum akan keindahan komplek Gunung Lawu ini.

Trap keempat relief pendek, cuplikan kisah “Sudhamala”. Sedangkan pada trap kelima dan keenam, terdapat pendapa yang sering digunakan untuk ritus keagamaan. Pada trap ketujuh, terdapat arca Nayagenggong dan Sabda Palon, dua abdi sekaligus penasehat spiritual Raja Brawijaya V.

Pada trap selanjutnya, terdapat arca phallus dan arca Raja Brawijaya V yang disimbolkan sebagai Mahadewa. Dan di trap terakhir, terdapat bangunan berbentuk nyaris kubus, yang biasanya digunakan untuk bersemedi.

Aura Magis
Di dalam candi, entah mengapa suasana mistis sangat terasa. Tak hanya bau dupa yang amat menyengat. Ada pula bebunyian yang saya duga sebagai doa-doa umat Hindu. Ternyata, lantunan doa yang terdengar dari belakang candi itu berasal dari tape yang dibawa Wayan, kepala keluarga asal Bali, yang datang untuk bersembahyang bersama istri dan kedua anaknya.

Aroma mistis yang lekat dengan Candi Ceto, mungkin pengaruh kebiasaan penduduk setempat yang taat melakukan ritual Kejawen. Di sini, banyak orang yang datang untuk bertirakat, dengan tujuan  selain beribadah.

Pada malam Jumat Kliwon, banyak orang datang ke lokasi ini guna mempersembahkan sesajen sekaligus menjalankan ritual tapa brata. Begitu pula saat hari Nyepi, warga Hindu banyak yang bersemedi di areal candi. Itulah mengapa, akhirnya banyak mitos berkeliaran terkait keangkeran Candi Ceto.

Saat akan pulang, saya kembali bertemu dengan keluarga Wayan. Melihat pria empat puluh tahunan itu, saya pun ingat pertanyaan yang hingga kini belum terjawab, yakni mengapa candi ini dinamakan Candi Ceto. Apanya yang ceto (terlihat), itu yang ada di pikiran saya. Menurut Wayan, ceto di sini berarti bercahaya. “Agar candi ini bisa menjadi cahaya bagi sekitarnya,” jelasnya.
   

2 comments:

  1. Adakah CANDI ISLAM?.......Hipotesanya :ada....yaitu CANDI CETO...
    1) Candi Prambanan ...Candi Hindu
    2) Candi Borobudur ...Candi Budha
    3) Candi Sukuh -Candi Hindu..di buat terburu-buru diakhir masa Mjapahit atau aqal Demak....menggambrkan tiga tahap kehidupan mencapai nirwana diasali dng gerbang lingga dan yoni dan diakhiri lokasi muksa...
    Puncak spiritualitas Hindu
    4) Candi Ceto yang berarti jelas atau bayan . Dibuatv saat Brawijaya V telah masuk Islam dihadapan Sunan Kalijogo jaman Demak.Ada tujuh tahapan atau maqam atau lapis posisi menuju posisi tertinggi alam spirualitas islam...mi'raj ..dan posisi Sidratul Muntaha...
    a. Diawali dari jalan naik 35 tangga (selapan -jlh hari dlm bln jawa...disambut arca yg berposisi duduk taslim...duduk dalam shalat
    b. Unt ke posisi 2.menaiki kl. 25 anak tannga..25 menunjukkan jumlah Rasul...di trap ini ada patung orang posisi berdiri dgn tangan menggenggam dgn jempol terbuka diletakkan diatas jantung...posisi bersahad ..dan ada dua patung orang dgn kedua rangan dilipat didepan ant perut dan dada...posisi shalat..
    dst
    3. Kmdn menuju posisi 3 ssd 19 selalu menapaki 7 anak tangga...7 mencerminkan jlh ayat dalam alfatihah...yg diulang ulang saat shalat atau bilnagan ganjil dan kelipatannya. Bilngan ganjil adalah bilngan witir..bilamham yang disukai Allah.
    Sampai posisi ke lima masih dlm maqam syariat ...pada posisi delpan belas masuk dalam tariqat...diposisi berupa bangunan segi empat yg dpt diputari dua level..
    4. Unt naik posisi terakhir perlu naik anak tangga sejumlah 19 (6+13) jlh hurup dlm bismilahirrahmanirrahim dan bilangan khusus istimewa yg di ciptakan Allah, jhl setiap kata dlm Alquran habis terbagi dg angka 19- jalan masuk pada posisi jlh tertinggi.
    Sampai anak tangga ke ke 6 ada posisi jeda...menggbar adanya 6 rkun iman. Posisi tertinggi yg mampu dicapai malaikat kemudian masuk pintu gerbang yg sempit yg hanya bisa dilewati olh satu orang. penggambaran posisi Sidratul Muntaha pada Isra'Mi'rat Rusulullah dilepas Malaikal Jibril meng hadap Allah swt unt menerima perintah Shalat 5 waktu...disini ada bangunan kubus batu segi empat spt ka'bah dan diatasnya ada pahatan batu bulat berebentak bunga yg tak dpt terjangkau dan tersentuh siapapun...menggambarkan Maqam Allah SWT....Subhanallah walhamdulillahi wallahu akbar.
    Aallahu' alam bishowab.

    ReplyDelete
  2. hanya penafsiran saja anda saja, hindu tetap hindu dan islam tetap islam

    ReplyDelete