Sabtu, 21 Mei 2011

Wawancara dengan Sys NS -- Pendiri Partai Demokrat

TEMPO Interaktif, Jakarta - Menjelang Susilo Bambang Yudhoyono melangkah menuju ke kursi presiden pada 2004, Heroe Syswanto Ns., yang akrab disapa Sys Ns, berada di garda depan kampanye presiden 2004. Untuk menggalang massa, dia mendirikan Gerakan Pro SBY. Dia juga turut mendeklarasikan berdirinya Partai Demokrat, tapi kemudian memilih mundur dan meninggalkan Partai Demokrat karena merasa tidak sehaluan lagi dengan sikap politik Susilo Bambang Yudhoyono.

Di tengah kemelut tentang dugaan sejumlah kader Partai Demokrat terlilit kasus korupsi, Sys menguraikan problema partai yang dia dirikan bersama Yudhoyono itu kepada wartawan Tempo Isma Savitri. Berikut petikannya:

Sebenarnya apa yang sedang terjadi di Partai Demokrat sekarang?
Saya menduga ada friksi di dalam fraksi. Kenapa? Karena saya mendengar Angelina Sondakh bilang 'Saya ditusuk dari belakang' atau 'Saya dikhianati'. Itu menunjukkan ada friksi. Namanya dikhianati berarti pelakunya orang dalam kan? Lalu Kastorius Sinaga, yang bilang Nazaruddin harus memilih, dipecat atau mengundurkan diri. Tapi, pernyataan itu dibantah Ruhut, lalu Anas bilang itu sudah seizin SBY. Semua di sini tiba-tiba jadi mengeluarkan suara, merasa yakin benar, dan galak. Jangan menutup-nutupi dirilah, karena memang sudah tampak ada friksi. Jangankan partai, anak kembar pun bisa ribut kan?

SBY seharusnya bersikap bagaimana?
Saya mendukung apa pun sikap SBY. Dia itu punya empat kesaktian. Selain founding father, SBY juga Presiden, Ketua Dewan Kehormatan, dan Ketua Dewan Pembina. Dia tinggal pilih mau madu atau racun. Kalau dia mau madu, maka dia akan menuai madu. Syaratnya, dia harus berani sapu jagat. Bersihkan saja semua!

SBY sudah bilang nggak usah ragu tindak kadernya, apa itu cuma basa-basi?
Tidak, SBY sudah benar. Serahkan saja semua pada aparat. Biar hukum yang bicara. Tapi, hukum sekarang ragu-ragu. Hukum itu akan tegas kalau SBY tegas.

Yang ditunggu SBY sebenarnya apa?
Dia sekarang lagi menunggu bola dan melihat situasi. Yang dia tunggu itu terutama KPK. Tapi, KPK malah bingung. Di sini ibaratnya Pak Busyro (Ketua KPK) sedang uji nyali. Enam bulan terakhirnya ini mau dicatat dengan tinta emas atau dengan kotoran.

Penyebab friksi di Demokrat apa?
Semua punya jabatan, punya kepentingan, semua punya kedekatan. Banyak orang di dalam partai kaget. Karena partai ini tak membutuhkan waktu lama untuk tiba-tiba besar. Tanpa melalui proses yang lama, mereka jadi sesuatu. Ini seperti euforia menjadi partai pemenang. Ada orang-orang di dalam yang berpikir, nggak apa-apa jadi maling. Toh, nggak bakal diutak-atik karena dia berasal dari partai berkuasa.

Sekuat apa Nazaruddin di Partai Demokrat?
Saya nggak kenal sama dia karena dia anak baru. Kalau nggak salah yang membawa dia masuk Anas. Tapi, saat Anas masuk, saya keluar. Tapi, saya lihat memang nggak gampang menindak dia. Karena posisinya di partai ujung tombak. Dia Bendahara Umum yang mencari uang buat partai. Tapi, kan masalahnya uang itu masuk ke partai atau nggak? Nggak apa-apa sebenarnya kader ikut proyek apa gitu. Tapi, kalau ikut tender atas nama partai ya nggak halal.

Apa solusi buat Partai Demokrat?
Keputusan ada di tangan Anas dan Sekjen Ibas. Tapi, keduanya juga harus mendapat izin SBY untuk bisa ambil sikap. Kalau memang partai ini masih mau tanding di Pemilu 2014, Nazaruddin saran saya sebaiknya dinonaktifkan. Tidak usah menunggu dia terindikasi suap. Saat sekarang sudah ramai diberitakan pun seharusnya sudah dinonaktifkan semantara. Nggak perlu opsi berhenti atau mundur karena itu akan jadi jurang buat Demokrat. Menurut saya, bijaksana kalau dia dinonaktifkan sebagai Bendahara Umum dan anggota Dewan. Agar penyidik meriksanya dia juga enak.

Berani nggak Anas nonaktifkan Nazaruddin, padahal mereka kawan dekat?
Saya kira Anas nggak akan berani. Ibas juga nggak berani. Tapi, ini terserah SBY. Kalau SBY berani tegas, Anas dan Ibas juga akan ikut. Tapi, kan SBY juga nunggu KPK.

KPK jangan-jangan juga nunggu SBY?Semua memang ewuh-pakewuh. Kalau KPK berani, dari kemarin-kemarin pasti sudah meriksa Nazaruddin. Semua orang teriak supremasi hukum. Hukum itu sudah tegak. Tapi, keadilan yang belum. Ini kan kelihatan, melibatkan partai berkuasa kok hukum jadi lelet.

Demokrat kan juga bentuk tim pemeriksa Nazaruddin. Bisa nggak tim ini ambil keputusan untuk kadernya?Ya memang ada TPF itu. Tapi kan aneh, kok TPF mencari fakta soal temen-temennya sendiri. Menurut saya, di sini DPP seharusnya manggil semuanya. Panggil Andi, Nazaruddin. Tanyai mereka, bener nggak suap? Kalau perlu minta sumpah.

Kalau cuma dipanggil trus diminta keterangan kan bisa berkelit dan bohong?
Orang memang bisa berkelit. Tapi, air muka nggak bisa bohong. Saya garis bawahi di sini, silakan SBY ambil keputusan: pilih madu atau racun.

SBY akan pilih mana?
Bisa semuanya. Tipe dia juga bisa pilih racun. Mendiamkan itu juga sebuah keputusan loh. Sebuah sikap. Dan itu racun. Tipikal SBY beberapa bulan ke depan kasus ini masih akan didiamkan, sampai orang lupa semuanya. Seperti kasus Century kan? Orang sekarang sudah lupa.

ISMA SAVITRI

PS: Edited by Mas Dwidjo U Maksum :)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar