Wisata Pangandaran, Day 1: Cagar Alam & Pantai Pasir Putih

Yey!! Akhirnya jadi juga dong, pergi sama "Geng Metro" Tempo! Setelah berkali-kali kami planning pergi ke suatu tempat dan berkali-kali pula gagal, kali ini kami pergi beneran! Tujuannya pun jauh, yakni Pangandaran. Padahal sebelumnya, kami bisa main full team ke Bandung aja nggak pernah bisa kejadian.

Meeting point untuk Jumat malam lalu adalah rumah Muti-Radi di Pal Batu. Adapun rombongan trip kali ini adalah saya, Ririn, Mutia, Pepski, Adis, Dika, Radi, Agam, dan Yogi. Fyi, yang terakhir itu temen kuliah Pepski di Pemerintahan UGM yang sekarang kerja di LIPI.

Oh ya, perkenalkan juga, sopir kami dari Travel Priangan bernama Pak Hadi. Usia doi 46 tahun (kayak nomernya Valentino Rossi, ya!) tapi sudah punya cucu sebiji. Bapak berkulit hitam manis ini juga tampak awet muda. Dia murah senyum, dan suka malu-malu mau kalau kami ajak ngumpul bareng, hehe..

Nah, setelah tim lengkap, kami menuju kos Yogi di daerah Jembatan Merah untuk nitip motor. Baru setelah itu, van Travel Priangan membawa kami ke luar Jakarta. Perjalanan dimulai Jumat dinihari sekitar pukul 00.30.

Btw, saat masih di rumah Muti, saya sudah menenggak racun bernama Antimo. Racun ini ternyata dahsyat abis. Saya sampai nggak berkutik dan mati suri di dalam van, hihi.. Alhasil, saya cuma satu kali ngelilir saat perjalanan, dan baru bangun saat sampai di penginapan pukul 10.00. Itu pun dibangunin Rince, hehe..

Penginapan kami --namanya Mugibis-- bertarif Rp 900 ribu per malam untuk satu bungalownya. Di dalam bungalow ada dua kamar yang masing-masing berisi satu kasur king size, AC, dapur, kulkas, dispenser, TV, dan ruang tamu. Lumayan, ya? Yang kurang dari bungalow ini adalah kamar mandinya yang cuma satu. Tapi itu bukan masalah besar, kok. Soalnya kalau kamu malas antre, bisa pakai kamar mandi umum di luar bungalow.

Travel Priangan parkir di depan bungalow

Kami bersembilan keluar dari penginapan sekitar pukul 11.00. Tujuan pertama kami adalah Cagar Alam dan Pantai Pasir Putih. Berhubung Pantai Barat Pangandaran hanya berjarak 50 meteran dari Mugibis, kami enggak perlu jalan jauh untuk mencapai deretan perahu yang akan membawa kami menuju objek tujuan.

Harga sewa kapalnya sih lumayan mahal. Kalau nggak salah, per orang kena Rp 45 ribu. Tapi itu sudah termasuk biaya kapal ke Cagar Alam, dan peminjaman alat-alat snorkeling di Pantai Pasir Putih (belum termasuk sewa senter di goa Rp 10 ribu/pc). Kalau kamu di Pangandarannya nggak pas long weekend seperti saya, mungkin bisa dapat harga lebih murah lagi.

Setelah deal harga, kami pun duduk manis di perahu. Saya masih bisa ketawa keras dan ngakak-ngikik sebelum perahu berangkat. Sampai akhirnya, ombak laut yang sangat dahsyat 'membungkam' tawa saya.. Yes saudara-saudari, ombak laut di Pangandaran sangat galak, besar, dan masif.


Kebayang nggak, kami naik perahu kecil yang seadanyaaaa banget, sementara ombak yang kami hadapi di tengah laut itu gila-gilaan menghantam dari segala penjuru. That's why, belum sampai ke tekape, baju kami udah basah kuyup duluan. Tapi justru itu sih rasanya jadi menyenangkan. Wkwkwk

Sekitar 45 menit perjalanan, kami akhirnya sampai di Cagar Alam. Di sana, kami bertemu dengan seorang guide lokal yang jayus abis. Dia membawa kami masuk ke sebuah goa yang menyimpan sejumlah batu aneh. Ada yang berbentuk gajah tanpa perut, pocong, kaca benggala, dan... Penis :)

Yes beneran lho ada yang bentuknya kayak si Mr.P. Istilah Jawanya, bentuknya itu 'mbedonggol'. Hihihi.. Mitosnya unik. Misal kamu cewek single, kalau megang batu penis itu, syahdan jodohnya akan dipermudah. Sedangkan kalau laki-laki single, disarankan megang batu bentuk vagina (iyeeeee, ada batu vagina, coba.. Wahahaha)..


Adapun kalau sudah menikah, disarankan untuk megang dua-duanya biar hubungannya makin harmonis. So, dengan cengar-cengir dan semangat 45, saya pun langsung memeluk batu penis menggelantung itu. Hehehe..

Setelah keluar dari goa, kami dibawa keliling cagar alam dengan jalan kaki. Menyenangkan banget. Karena di kanan-kiri kami banyak monyet dan rusa berkeliaran. Dan yang bikin tambah senang, hewan-hewan di sana nggak agresif. Jadi jangan khawatir mereka tiba-tiba menyerang kamu saat kamu berusaha pedekate ke mereka.


Si Bolang versi mesum

Setelah keliling di cagar alam yang anatominya mirip Kebun Raya Bogor, kami sampai juga di Pantai Pasir Putih. Di sana, cuma saya dan Adis yang memilih untuk tidur sore di atas tikar di tepi pantai. Sedangkan tujuh lainnya turun ke laut untuk snorkeling. Dari cerita teman-teman yang turun ke laut sih isinya biasa saja, tak sebagus di pantai lain. Saya jadi nggak terlalu menyesal juga nggak turun. Masih trauma juga karena kejadian di Phi Phi Island dulu -___-

Setelah agak sore, kami memutuskan kembali ke Mugibis. Karokean sebentar, lalu lanjut makan mie goreng bikinan Mutski yang sangat ampuh buat ganjel perut. Baru malamnya, kami keluar cari makan besar. Tiga teman Pepski ikut bergabung di van Pak Hadi.

Ternyata oh ternyata, makan seafood di Pangandaran sangat menguras kantong! Errr.. Atau memang perasaan saya aja yah? Jadi misalnya nih, cumi itu dihargai Rp 80 ribu per kg. Trus udang Rp 80 ribu per kg, dan ikan satunya dihargai Rp 100 ribu. Ampun dah, bener-bener masang harga turis, warung di sini! Rasanya pun nggak spesial.. Hiks

Saran saya, kalau kamu memang niat pesta seafood, banyak riset dulu ke sejumlah tempat makan di sana. Soalnya nih, ternyata harga yang dipatok tiap tempat makan berbeda. Jaraknya nggak main-main, lho. Bisa Rp 10-20 ribu per kilonya. Which is, satu sen itu sangat berarti untuk yang berniat low cost traveling. Hehehe..

Setelah mengenyangkan perut, kami pun balik ke Mugibis. Mandi, istirahat, dan tersenyum membayangkan serunya body rafting besok di Green Canyon. Cekidot in my next article bout Pangandaran :)


Comments

  1. Taman Prasejarah Leang-Leang dengan berbagai peninggalan warisan budaya dari masa pra sejarah, bahkan taman ini tercatat sebagai salah satu World Heritage yang ditetapkan UNESCO ;)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts