Tuesday, July 5, 2011

Cukuplah dengan Menyayangi, Menyayangilah dengan Cukup

Di mata kedua orang tua saya, mungkin kebiasaan shopping saya sudah berlebihan. Nggak tahu sudah berapa kali bapak dan ibu menyarankan saya untuk menyetop membeli baju-baju yang menurut mereka memboroskan dan nggak penting itu.

Dan saya acap kali tertegun saat mengamati setumpuk baju di lemari. Masih ditambah baju di dalam keresek yang belum dicuci. Atau di jemuran yang belum terangkat. Serta yang ada di boks karena belum sempat terseterika. Kalau baju-baju itu dijadikan satu, saya yakin bapak dan ibu bisa murka saking banyaknya baju itu. wkwkwk

Sebenarnya saya bukan pembelanja yang impulsif. Karena saya pemilih saat membeli baju. Hanya memang saya sering tidak bisa mengontrol keinginan untuk memiliki baju-baju lucu yang tergantung di butik-butik. Ada rasa bersalah yang teramat sangat jika membiarkan baju lucu itu tak terbeli.

Itu cuma penyakit yang menyerang saya seorang, atau mungkin memang pada dasarnya manusia nggak pernah punya rasa puas? Perasaan tidak mudah puas itu kadang mencelakakan saya sendiri. Apalagi untuk hal-hal tertentu yang sifatnya kualitatif.

Sembari hair mask di Jhonny Andrean berlanjut ngulik-ngulik baju di Blok M Square malam ini, saya ngobrol banyak dengan sahabat SMA saya, Nindy. Fyi, dia sedang agak galau karena cowok yang dia sayangi akan menikah lebih dulu dibanding dia. Padahal, Nindy juga sudah punya calon suami yang akan dikawininya akhir tahun ini. Lalu, siapa sebenarnya yang disayangi Nindy? Apakah a) Bowo (nama samaran) calon suami Nindy, atau b) Anto (nama samaran juga) yang mantan gebetannya Nindy? Kirim jawaban beserta identitas lengkap anda ke PO BOX 8989 sekarang juga.

Banyak pertanyaan dan pernyataan yang saya dan Nindy obrolkan malam tadi. Kami mencoba mendedah mengapa si mantan gebetan merasa perlu bilang sama Nindy kalau dia sebenarnya masih sangat sayang pada Nindy, mengapa Nindy mendadak merasa begitu kehilangan dan tidak rela melepas si mantan gebetan menikah duluan, serta apakah benar ada yang namanya cinta romantis dan cinta rasional, seperti halnya ada baju yang kita beli karena butuh dan ada pula yang kita beli karena ingin?

“Kalau seandainya mantan gebetan aku suatu saat pamit akan nikah, kayaknya aku juga bakal kayak si Anto. Aku akan bilang ke dia, kalau sebenarnya aku sayang sama dia. Aku tahu itu tindakan bodoh. Tapi selain untuk melegakan apa yang selama ini tertahan, aku juga punya pikiran nakal bahwa ada peluang dia batal menikah dan akhirnya memilih aku,” kata saya pada Nindy, sembari menerima pijatan kapster salon pada kepala saya. “Jujur aja kamu nggak ingin dia jadi milik orang lain, kan?"
“Iya sih, untuk saat ini aku bahkan berani bilang kalau aku mau ninggalin Bowo demi Anto,” jawab Nindy, yakin.



Dengar jawaban Nindy, saya seperti diajak untuk berkompromi dengan kenyataan, bahwa memang nggak ada yang nggak mungkin terjadi di dunia ini. Bola itu bundar. Bundar itu saya. Jadi saya adalah bola (oke.. stop jayusnya).

Yang ada di kepala saya saat itu adalah, kenapa Nindy tidak mencoba untuk realistis dan meninggalkan peluangnya bersama Anto, dan memilih Bowo saja yang terang-terang akan menjadi suaminya? Kenapa Anto dan Nindy tidak mencoba untuk memadamkan cinta mereka (saya kayaknya kebanyakan dengerin lagu dangdut deh) dan memilih untuk berkomitmen pada pasangan masing-masing? Toh Nindy dan Anto bisa saling menyayangi dengan cara lain? Sebagai sahabat mungkin....?

Saya tahu saran saya mungkin terdengar konyol bagi Nindy. Dan melakukan saran itu sama sulitnya dengan melakukan saran orang tua saya agar saya menghentikan kebiasaan belanja nggak penting. Tapi bukankah tetap saja saran itu ada peluang untuk dilakukan? Dan berhasil?

Sampai sekarang saya masih tidak tahu jawabannya, apakah bisa kita memperlakukan sesuatu, termasuk perasaan, secara proporsional. Dalam arti, kita dengan segenap rasionalitas mencoba mengolah perasaan kita menjadi bentuk yang lain. Seperti halnya kita berubah dari tidak suka menjadi suka pada dia, bukankah kita juga bisa mengubah perasaan suka pada dia menjadi tidak suka? Atau jika itu terlampau sulit, menjadi tidak terlalu suka?

Saya tidak pernah ada di posisi Nindy, karena itu saya tidak tahu seberapa besar tingkat kesulitan untuk menyublimasi perasaan yang mengendap sedemikian lama di pikiran kita. Tapi saya, walau tidak seberapa mirip, juga pernah ada dalam situasi harus mencoba merumuskan ulang bentuk rasa sayang saya pada seseorang. Saya tidak bermaksud sombong, tapi untuk saat ini saya lumayan bisa mengelola perasaan saya.

Bukan saya munafik dengan tidak terus terang dengan hati sendiri, lho. Bukan. Tapi saya sering diingatkan bahwa akan banyak yang dikorbankan- entah orang lain entah sesuatu yang lain- jika saya bersikukuh perasaan saya ini harus tersampaikan. Bagi saya, cukuplah menyayangi dia dengan cara sederhana, yang tidak merepotkan dan membebani dia.

Karena dengan begitu saya mungkin bisa belajar untuk merelakan, dan ikhlas menyayangi tanpa berharap dia akan memberi rasa yang sama pada saya. Biarlah rasa sayang itu tumbuh, mencari bentuk terbaik untuk berkembang, atau suatu ketika layu dengan sendirinya. Saya tidak ingin terlalu keras dengan perasaan saya sendiri.

Di akhir jalan-jalan kami, Nindy menunjuk sebuah dress yang ingin dia beli. Saya sebenarnya menginginkannya juga. Tapi biarlah dress itu menghuni lemari Nindy. Siapa tahu bisa mengurangi kesedihan yang dia rasakan. Jujur saya sebagai sahabat nggak tega dia jadi galau begitu. Lagipula, sepertinya lemari baju saya sudah terlalu penuh. Hehehe..

2 comments:

  1. Hahahaha. Bowo dan Anto?? Oh you made my day.

    Akhirnya setelah ketemu kamu & bercerita, aku merasa lbh baik, merasa lbh damai. Bukan lagi cinta menggebu-gebu, hanya sebatas peduli yg jujur dan tulus.
    Btw, thanks ya Vit.. Buat advice, tulisan, dan dressnya.. Dan ya, kamu kebanyakan dengerin lagu dangdut *kabur*

    ReplyDelete
  2. dan mungkin suatu saat kita tanpa sadar menemui perasaan kita buatnya yang sudah berubah bentuk, atau mungkin bahkan menguap.. hehehe

    Iyo ki koyoke aku kakehan ndangdutan, hahahaha

    ReplyDelete