Sunday, July 3, 2011

Dekati Narasumber, Tapi Tetap Jaga Jarak

Saya, Susno Duadji, dan Wita.. wkwkwk
Itu bukan tulisan di bagian punggung truk pasir, lho. Tapi salah satu yang pernah diwanti-wanti redaktur saya, pada saya. Saya sayangnya lupa, siapa yang ngomong. Weww, saya emang short time memorizer, hehe..

Pertama kali kerja di Tempo, saya liputan untuk desk Metro, dan ditempatkan di Balai Kota DKI. Dari beberapa kasus yang pernah saya angkat selama saya di Metro, ada satu kasus yang menarik perhatian saya. Yakni kasus korupsi dana BOS SMP Terbuka.

Gara-gara tertarik pada kasus itu, saya jadi sering sms narasumber terkait; Bu Ade Pujiati, Kepsek SMP Terbuka, dan Mas Febri Hendri dari ICW. Bisa dibilang saya deket banget sama mereka. Saya sampai sering diledekin wartawan-wartawan Balai Kota. “Cie yang temenan sama Mama Ade.. Cie yang deket sama Mas Febri..”

Saya awalnya biasa aja. Sampai akhirnya, Bu Ade mendadak sering mengintervensi tulisan saya. Dia sering banget tuh, telpon saya nyuruh-nyuruh saya nulis soal A, angle-nya B, kalimat dia nanti C. Awalnya saya masih bisa tolak secara halus. Tapi lama-lama saya ilfil. Saya cuma mikir, “Lo siapa gue? Emak gue bukan, redaktur gue juga bukan. Bisa-bisanya main perintah gue!”

Jengah, saya akhirnya menjauhi dia. Saya jaga jarak. Saya nggak mau jadi alatnya narasumber. Sedekat apapun saya sama dia.

Mei, saya dipindah ke Ekbis, dan ngepos di BUMN. Denger-denger sih, pos itu angin-anginan. Kalo pas sepi, ya sepiiiii banget. Kalo pas rame, gilak, jempol sampe kriting ngetik belasan berita. Nah kalo pas sepi itu, saya suka iseng telpon narsum. Diangkat sukur, nggak diangkat ya nasib.

Nggak tahunya, si Menteri BUMN Mustafa Abubakar, sangat welcome dengan keisengan saya. Dia sering ngabarin saya kalau ada berita, dan sebaliknya, dia juga mau-mau saja saya mintain pernyataan padahal itu udah jam 22.30.

Pak Mustafa di Kementerian BUMN
Saya pun kemudian geser ke desk Nasional. Suatu hari, salah satu redaktur Nasional, Mbak Ninil, sms saya. Dia bilang Pak Mustafa menerima gratifikasi dari seorang pengusaha dan minta tolong saya untuk mengkonfirmasi kabar itu ke Pak Mustafa.

Sesuai perintah, saya pun telepon Pak Mus. Dan berita naik. “Menteri BUMN Terima Gratifikasi”, itu judul beritanya.

Beberapa hari kemudian, Pak Mus saya telepon. Dari nada bicaranya, saya tahu dia menahan amarah pada saya. Dia marah saya tidak “melindunginya”. Padahal dia sudah menganggap saya anaknya, dan dia juga merasa sangat dekat dengan saya. Dia marah, karena saya tak berusaha mencegah redaktur menurunkan berita gratifikasinya.

Dicecar Pak Mustafa, awalnya saya minta maaf. Tapi setelah telepon saya tutup, entah kenapa saya jadi kurang enak badan. Saya merasa marah pada diri saya sendiri, kenapa terlalu lunak padanya. Saya jengkel dengan ketidakmampuan saya untuk berkata pada Pak Mustafa, bahwa memang saya “harus menulis fakta”. Tak peduli fakta itu fakta negatif yang dilakukan narasumber yang sudah kamu anggap kakek kamu sendiri.

Dalam perjalanan pulang, di dalam bus saya ngelamun dan merasa sangat nggak nyaman. Ini mungkin pelajaran buat saya. Saya memang harus dekat dengan narasumber, tapi tetap menyisakan jarak. Ini bukan soal apa-apa, cuma sekadar upaya mengingatkan diri sendiri, bahwa saya itu bekerja untuk Tempo (yang motonya “Untuk Publik, Untuk Republik” hehehe..), bukan untuk narasumber saya.

Kerap kali saya risih dengan kedekatan kawan wartawan lain dengan narasumber, yang mana kedekatan itu bahkan mempengaruhi sudut pandang dia dalam menulis berita. Dengan merasa risih itu saya jadi punya alarm untuk selalu mengingatkan diri saya sendiri, bahwa saya tidak ingin seperti mereka. Saya harus menyediakan jarak profesionalitas (halah) narasumber-wartawan, berapa sentimeter pun itu.

No comments:

Post a Comment