Friday, October 7, 2011

Backpacking Day 5 Part 1: Mencicipi Bangkok dari Darat, Laut, dan Udara


Hari terakhir di Bangkok :'( Ah sedih rasanya harus meninggalkan kota ini. Rasanya belum puas menjelajah wat demi wat, mengamati kehidupan warga lokal di taman kota, mencicipi makanan khas Thai yang kecut dan superpedas, ataupun merasakan nongkrong di bar Khao San Road. Walau kota ini membuat saya nggak merasa sedang di luar negeri (karena mirip dengan Jakarta), saya sebenarnya masih ingin sehari lagi di sini..

Tapi mau gimana lagi. Berhubung tak bisa ambil cuti terlalu banyak, saya pun hanya bisa tinggal di Bangkok 1,5 hari. Sebentar banget, memang. Apalagi sejak semalam hingga pagi tadi, hujan tak berhenti turun. Mau nggak mau, kami nggak bisa nongkrong di Khao San Road, ataupun jalan-jalan pagi di kota. Yah, moga saya masih punya kesempatan lagi mengunjungi Bangkok.

Bangun pukul 06.45, saya bergegas cuci muka dan sikat gigi. Saya sengaja nggak mandi karena air dari shower kamar hotel kami sedang ngadat. Lain kali sepertinya saya nggak akan memilih Kawin Place lagi. Selain nggak terlalu bersih, guesthouse ini juga nggak lancar aliran airnya. Mungkin kesempatan berikutnya saya akan tinggal di daerah Sukhumvit.

Sekitar pukul 08.30, kami check out. 7-11 jadi tujuan berikutnya. Kami memilih makan di sana dengan alasan pengiritan, hehe.. Saya hanya membayar sekitar 33 baht atau Rp 10 ribu untuk segelas besar cappuccino, mie seduh rasa kuning telur, dan segelas air mineral. Lumayan murah kan? Hehehe..

7-11 di Thailand seperti Indomaret di Indonesia. Hampir setiap 50 meter lah, ada 7-11. Bedanya, di Thailand, 7-11 nya nggak dilengkapi meja dan kursi untuk makan. Karena itulah saya, Wita, dan Novi, harus makan ngemper di luar tadi pagi. Tapi karena di situ area backpacker, kami nggak dilihatin aneh. Udah biasa kali ya, lihat orang makan sambil berdiri. Kalau di Indonesia mah pasti kami dibilang nggak sopan :p

Setelah kenyang, kami jalan menuju jalan raya terdekat. Karena jarak Khao San Road hingga Tha Tien Pier lumayan jauh, sementara barang bawaan kami makin berat, kami memilih mencegat tuk-tuk dan membayar 10 baht per orangnya. Perjalanan sekitar 5 menit, tuk-tuk kami sampai juga di Tha Tien Pier.

Demi menghemat waktu, kami pun segera membeli tiket perahu untuk menyeberangi Sungai Chaophraya, menuju Wat Arun, salah satu vihara yang populer di Thailand. Harga tiket perahunya hanya 3 baht atau sekitar Rp 900. Murah memang, karena nyeberangnya juga dekat banget. Hehe.. Bagus deh bisa mengirit.

Tiket masuk ke Wat Arun juga tergolong murah, hanya 50 baht atau Rp 15 ribu. Sementara Novi harus membayar 70 baht karena ia harus membayar uang sewa selendang sebesar 20 baht. Saran saya, kalau memang ingin wisata wat di Thai, lebih baik kita mengenakan pakaian yang sedikit tertutup. Sayang juga kan 20 baht hanya untuk sewa kain..

Wat Arun sedikit beda dengan wat lainnya. Di sini, arsitekturnya justru agak "njawani" dibandingkan dengan sejumlah wat yang sudah kami kunjungi. Indah sih menurut saya. Dan yang paling membekas di ingatan adalah tingkat kecuraman tangga naik di Wat Arun. Kalau saya perkirakan, kemiringan tangganya sekitar 30 derajat. Huhuhu.. Mengerikan banget.

Yang motret ini cewek backpacker dari Cina
Karena pakai maxi dress, saya pun harus ekstra hati-hati agar tidak tergelincir. Wah menegangkan banget deh rasanya menaiki tangga curam itu. Nafas sampai terengah-engah, dan keringat bercucuran. Kayak habis ngapain aja, wkwkwk. Novi bahkan nggak sanggup naik ke atas karena dia takut ketinggian.

Tapi ternyata keringat yang keluar sebanding dengan pemandangan yang saya dapat dari atas. Dari tangga teratas Wat Arun, saya pun bisa merangkum keindahan kota Bangkok siang hari. Saya bisa melihat lalu-lintas perahu di Sungai Chaophraya, gedung-gedung perkantoran yang tinggi menjulang, Grand Palace, hingga pemukiman kumuh di tepi sungai..

Lagi-lagi demi efisiensi waktu, kami pun mengakhiri perjalanan di Bangkok, dan segera memulai perjalanan ke Ho Chi Minh City, Vietnam. Dari dua pilihan moda, bus atau skytrain, kami memilih yang kedua. Alasannya, skytrain "lebih Bangkok", lebih cepat, dan lebih murah tentunya. Ya mau gimana lagi, kami kan memang ngirit mode on. Hehe...

Curam sekali, kan?

Tali maxi dress saya ini akhirnya  putus malam harinya, hehe
Saya sendirian lho, di atas! Hahaha *bangga
Ini nih view Bangkok dari tangga atas Wat Arun. Cantik ya?
Permisi.. Numpang narsis yee...
Wat Arun dan Sungai Chaophraya
Dari Wat Arun, kami kembali menyeberang dengan perahu ke Tha Thien Pier, dengan ongkos 3 baht. Baru setelah itu kami lanjut naik perahu dengan jalur berbeda, menuju Sathorn Pier, dengan membayar 15 baht. Dari Sathorn, kami jalan kaki sekitar 3 menit ke halte skytrain terdekat, yakni Saphan Taksin.

Setelah tanya petugas skytrain bagaimana cara menuju Bandara Svarnabhumi, kami disuruh ambil jalur menuju National Stadium. Rutenya, dari halte Saphan Taksin, kami turun di halte Siam, lalu ganti jalur (transit) menuju halte Phaya Tai. Nah, dari Phaya Tai, kami disuruh naik airport railway menuju Svarnabhumi. Biayanya lebih murah dibanding naik bus. Kalau tarif bus dari Khao San Road ke bandara sekitar 100 baht, dengan skytrain kami hanya mengeluarkan total 80 baht :)

Kesan saya di kereta menuju bandara, Bangkok sangat jauh lebih maju dibandingkan Jakarta. Dan pastinya, kota ini benar-benar tampak siap menjadi destinasi turis asing. Keramahan Bangkok terhadap turis sangat terasa saat kita menjajal aneka moda transportasi di sana. Dari mulai bus kota, tuk-tuk, perahu, taxi meter, skytrain, hingga kereta bawah tanah, saling terintegrasi.

Yah, salah satu contohnya, untuk bisa sampai ke bandara, saya menggunakan tuk-tuk sampai dermaga, dilanjut naik perahu di Sungai Chaophraya, lalu skytrain sampai ke bandara (alhamdulillah kami sekali pun nggak naik taksi selama di Thailand). Ngomong-ngomong soal Chaophraya, sungai ini sebenarnya biasaaaaa banget! Kayak Banjir Kanal lah, di Jakarta. Hehe..

Bedanya, pemerintah Thai berani mengelola sungai yang mereka miliki, hingga menjadi salah satu objek wisata menarik yang layak dikunjungi. Padahal ya, warna air sungai ini nggak kalah keruh dan coklatnya seperti Banjir Kanal Timur. Udah gitu, pemandangan kanan-kirinya juga nggak indah-indah banget. Biasa lah pokoknya. Tapi tetap aja rasanya seru banget ada di dalamnya! Berasa di Venezia gitu, deh..

Sky train menuju bandara
Kami tiba di bandara pukul 12.30, padahal penerbangan ke HCMC-nya pukul 15.50. Karena lapar, kami (lagi-lagi) mencari 7-11 dan makan siang dengan menu semurah mungkin. Setelah kenyang, kami pun segera naik ke lantai 4 untuk check in dll. Wah.. gila.. Ternyata bandaranya keren banget.. Luas dan megah. Bersih, pula!

Yang agak mengganggu adalah saat sedang mengurus keberangkatan di bagian imigrasi. Entah karena saya muslim dan memakai jilbab, atau karena saya dari Indonesia yang baru saja ada peristiwa bom bunuh diri, saya diperiksa lebih ketat dibanding penumpang lain. Bahkan saya disuruh lepas alas kaki gitu. Ah, sebal! So irritating! Rasanya pengin bilang, "My name is Vitri. And i'm not a terrorist!"

Namanya juga hanya 1,5 hari di Bangkok, banyak yang belum sempat saya lakukan di sini. Saya belum ke pasar terapung Damnoen Saduak, belum ke National Museum, belum motret-motret di taman kota dekat Grand Palace, belum nyoba BRT, belum ke Pattaya, Ayutthaya, Madame Tussauds, naik gajah di Chiang Mai, dan belum merasakan dinginnya kota Chiang Rai. Dan pastinya, saya belum nyobain durian Thailand! Huhuhu.. Harus ke Bangkok lagi lah, suatu saat!

Pengeluaran hari ke-5 (dalam rupiah):
1. Sarapan di 7-11: Rp 9900
2. Tuk-tuk: Rp 3 ribu
3. Perahu bolak-balik Wat Arun: Rp 1800
4. Perahu ke Pier Sathorn: Rp 4500
5. BTS ke bandara: Rp 24 ribu
6. Makan siang di 7-11: Rp 12 ribu

Total pengeluaran hari ke-5: Rp 55.200

No comments:

Post a Comment