Friday, October 7, 2011

Backpacking Day 7: Ho Chi Minh, Si Seksi yang Galak dan Tinggi Hati

Iced Vietnamese Milk Coffee, @ VND 10 ribu
Yah.. Hari terakhir main di negeri orang, nih. Awalnya saya mengira saya bakal sedih kembali ke Jakarta. Nggak tahunya saya justru agak bahagia. Alasan pertama, saya sudah nggak punya duit. Hihihi.. Iya lho, di dompet, uang Vietnam Dong saya tinggal 15000 atau Rp 7500. Alasan kedua, saya sudah sangat capek muter-muter 7 hari tanpa henti.

Alasan ketiga? Apalagi kalau bukan masalah makanan. Hehe.. Okelah, makanan Thailand dan Vietnam lumayan enak. Saya lebih cocok dengan makanan Vietnam yang hambar dibanding Thai yang asam. Tapi tetap saja saya amat sangat rindu sekali masakan Indonesia. Ya Tuhan, besok langsung deh saya ke warteg beli balado terong yang pedas dan telur dadar yang asin itu!

Pagi terakhir di HCMC kami awali dengan sarapan di warung pinggir jalan. Selain hemat, kami memang ingin eksplorasi masakan lokal. Pilihan jatuh pada sebuah warung yang letaknya tak jauh dari penginapan kami. Novi dan Wita memilih menu makaroni kuning yang dioseng dengan irisan daging babi. Sementara saya bilang ke penjualnya untuk pakai telur saja, karena nggak ada daging sapi.

Ternyata eh ternyata, saya dibikininnya telur ceplok pakai mie goreng, bukan makaroni. Yah.. Kecewa sih. Tapi ternyata rasanya lumayan juga, hehe.. Dibanding punya Wita dan Novi yang rasanya hambar. Kata Mbak Reda, orang Indonesia yang kami temui di Bandara Than So Nhat, masakan orang Vietnam memang hambar. Hal itu karena mereka memasak tanpa garam, MSG, dan gula. Itulah mengapa cewek Viet kurus-kurus..

Mie goreng telur ceplok ala Chef HCMC, hehe

Saya sih nggak menyesal pesan mie goreng telur. Karena memang enak, hehe.. Harganya juga murah. Cuma VND 10 ribu atau Rp 5 ribu. Yah sama lah ya, dengan harga mie telur di Indonesia. Adapun Ice Vietnamese Coffee seharga VND 10 ribu yang saya pesan rasanya sangat mantap. Pahit, kopinya sedikit "keras", dan saat dicampur dengan susu sekali pun, pahitnya tak mau hilang. Jauh lebih enak lah dibanding Vietnamese Coffee ala Kafe Bengawan Solo. Hehe

Setelah "isi bensin", kami segera menyusuri jalanan kota HCMC. Sejumlah tempat yang rencananya akan kami kunjungi adalah Reunification Palace, Central Post Office, War Remnant Museum, dan Nothre Dame Cathedral. Sebenarnya ada sih paket tur yang menyediakan fasilitas City Tour ke tempat-tempat itu. Harganya mungkin sekitar USD 7. Tapi kami memilih untuk by sikil alias jalan kaki. Selain gratis, kami merasa jalan kaki lebih menantang. Hehe.. *alesan

Kami jalan kaki sampai gempor
Ah, kota ini memang sangat tidak ramah terhadap turis! Entah kenapa, penduduk setempat seperti malas-malasan membantu turis mendapatkan sesuatu. Saya nggak tahu, apa muka saya terlalu eror sampai mereka sepertinya kurang bersahabat. Yang jelas, saya langsung mengambil kesan penduduk Vietnam sedikit angkuh dan kalah ramah dari orang Thai.

Kami sangat merasakan ketidakramahan mereka saat hari ini kami city tour dengan jalan kaki. Berkali-kali kami berhenti dan tanya penduduk setempat soal lokasi objek wisata, mereka berkali-kali pula mengangkat bahu. Kami baru menemukan orang yang menyenangkan saat tiba di salah satu taman dekat Reunification Palace. Sepasang remaja itulah yang kemudian mengarahkan kami mencapai objek tujuan.

Berbekal peta dari si remaja Vietnam yang kami potret dengan kamera, kami bertiga mulai berjalan menuju satu dari empat tempat tujuan. Novi yang paling jago membaca peta, kemudian mengarahkan saya dan Wita untuk mengunjungi War Remnant Museum terlebih dulu. Harga tiket masuk museum yang dibangun untuk mengenang kekejaman tentara Amerika Serikat terhadap penduduk Vietnam tahun 1970-an ini sebesar VND 15 ribu.

2 remaja Vietnam ini yang membantu kami dengan petanya

Foto di lantai 1 War Remnant Museum
Foto di lantai 2 War Remnant Museum

Di dalam museum, saya beberapa kali menarik nafas panjang karena nggak kuat lihat foto-fotonya. Saya nggak bohong, sejumlah foto yang terpampang di museum tiga lantai itu membuat bulu kuduk bergidik. Saya benar-benar lemas membayangkan betapa kejamnya tentara AS dulu. Apalagi saat melihat-lihat foto di lantai 3 yang menunjukkan puluhan jurnalis hilang semasa perang. Aaaah.. Mengerikan sekali..

Pukul 12.00, museum tutup sementara. Kami pun diminta keluar gedung, dan masuk lagi pukul 13.00. Berhubung sudah selesai merinding disko di museum itu, kami pun memutuskan untuk menyeret langkah ke Reunification Palace. Ternyata tempat itu juga sedang tutup sementara. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke Notre Dame Cathedral dan Central Post Office.

Letak keduanya tak jauh dari Reunification Palace. Bisa lah, jalan kaki. Sesampainya di TKP, kami bertiga sempat terkagum-kagum dengan arsitekturnya yang sangat Eropa dan membuat kami seolah sedang berada di benua tersebut. Tapi setelah beberapa waktu, kami tertawa sendiri. Ya elaaaah.. Di Semarang mah yang kayak begini banyak! Hehehe.. Bedanya, di Semarang objek seperti itu nggak diberdayakan dengan optimal :'(

Setelah puas foto-foto di katedral dan kantor pos, kami kembali berjalan ke arah Reunification Palace. Tapi sesampainya di taman seberang tempat tersebut, kami tiba-tiba ragu apakah akan masuk ke dalam atau cukup foto-foto di luar. Maklum, kami kan turis kere, hehe.. Tiket masuknya yang mencapai VND 30 ribu tampak sangat mahal bagi kami yang berduit tipis.

Tapi karena sayang sudah jauh-jauh sampai Vietnam, kami memutuskan masuk ke Reunification Palace. Ya udah deh, mending makan siangnya ngirit. Yang penting bisa menjawab rasa ingin tahu kami, seperti apa bangunan yang dibanggakan Vietnam itu. Setelah membayar dan masuk ke gedungnya, kami langsung bengong. Bukan karena isinya bagus, tapi karena jauh dari kesan keren. Sorry to say..

Central Post Office
Di belakang saya ada sesi foto prewedding
Reunification Palace
Salah satu ruang di Reunification Palace
Selesai mengitari District 1, kami bertiga sepakat men-cap lalu lintas HCMC sangat parah! Astaga, Jakarta kalah ruwet deh, pokoknya. Entahlah apakah lalu lintas HCMC masih kalah parah dibanding India. Yang jelas, pengguna kendaraan bermotor di kota ini sangat egois, nggak sabaran, dan nggak mau ngalah pada pejalan kaki! Rasakan sendiri lah bagaimana egoisnya mereka.

Saya, Wita, dan Novi, sudah tergolong tertib saat di jalan raya. Kami selalu menyeberang pada tempatnya, aka di zebra cross. Tapi tetap saja kami sangat sering hampir terserempet pengendara motor. Nggak heran kalau di mana-mana sering terjadi kemacetan, dan keruwetan di tengah-tengah jalan raya. Sepertinya traffic light di HCMC itu nggak berguna banget, lah. Jakarta masih mending..

Trotoar di District 1
Selesai jalan, kami segera menuju ke Jalan Pham Ngu Lao, area penginapan kami. Kami pun pamit pada bapak pemilik penginapan yang sangat baik hati, untuk setelahnya mengambil tas yang kami titipkan di ruang tamunya selama kami pergi. Karena penerbangan masih pukul 21.10 sementara saat itu masih pukul 16.30, kami bertiga nongkrong dulu di taman Pham Ngu Lao.

Taman adalah hal dari Vietnam yang paling saya sukai. Wah, seandainya Jakarta punya banyak taman seperti HCMC, saya pasti nggak bakal terlalu sering nge-mall. Taman di HCMC ada hampir di tiap area. Hampir semua tamannya bersih, menurut saya. Yang menyenangkan, di beberapa taman kota yang luas, ada kursi taman yang panjang, dan pemandangan berupa hamparan bunga warna-warni yang sangat indah.

Menyenangkan sekali lah, menghabiskan waktu di taman kota HCMC. Kita bisa duduk saja sambil memandangi hilir-mudik aktivitas warga setempat, ataupun berolahraga di trotoar taman yang sangat luas. Sore ini misalnya, saya bisa melihat sekelompok anak bermain sepak takraw, bule break dance (nggak jelas nih orang, wkwkwk), sepasang kakek-nenek yang mengajak jalan kedua anjingnya, sampai remaja ababil pacaran..

Nikmatnya bersantai di taman kota HCMC berbeda 180 derajat dibandingkan suasana Pasar Ben Tanh. Wah, jangan sampai kita tidak menawar sama sekali di sini. Karena yang sudah menawar mati-matian pun kadang masih tertipu. Penjual Pasar Ben Tanh juga sangat tega saat mematok harga awal. Misalnya nih, barang yang harganya VND 50 ribu, ditawarin dengan harga VND 300 ribu. Kalau kita dapat harga murah, siap-siap juga dikasih tampang juteknya! Hiii...

www.tempointeraktif.com, hihihi
Apapun itu, saya sangat senang bisa mengenal Vietnam. Lain kali mugkin saya akan mengunjungi Hanoi, dan membuktikan keindahan Halong Bay. Oh ya, tadi di Bandara Than Son Naht kami bertemu Loody, cewek yang habis backpacking juga ke Thailand dan Vietnam bersama kawannya. Bedanya, dia lebih dulu mengunjungi Kamboja sebelum masuk HCMC. Kata Loody, sekarang Kamboja sudah bebas visa. Asyiiiiiik!

Sekarang saatnya menabung lagi, lah. Siapa tahu tahun depan berkesempatan menjelajah lagi ke negara orang. Saya masih sangat ingin menjejak Kamboja, dan Chiang Mai, bagian utara Thailand. Let my dream comes true, Tuhan! :)

Biaya selama hari ke-7 (dalam rupiah):
1. Sarapan mie telur + kopi: Rp 10 ribu
2. Tiket War Remnants Museum: Rp 7500
3. Tiket Reunification Palace: Rp 15 ribu
4. Beli minum 2 botol: Rp 7 ribu
5. Makan siang nasi ayam + teh: Rp 12 ribu
6. Beli roti sosis: Rp 6500
7. Taksi ke bandara per orang: Rp 20 ribu

Total pengeluaran hari ke-7: Rp 78 ribu

Total pengeluaran di Phuket, Bangkok, HCMC, termasuk airport tax Soetta, makan, hotel, tur-tur, transportasi: Rp 1.646.000

1 comment:

  1. vitriiiiii akuh iriiii sekali!!
    ngebayangin si novi ngerayu tour agent..
    Misteeeerrrrrrr hahaha

    ReplyDelete