Tuesday, December 10, 2013

Review Album Banda Neira: Berjalan Lebih Jauh


Dan kawan
Bawaku tersesat ke entah berantah
Tersaru antara nikmat atau lara
Berpeganglah erat, bersiap terhempas
Ke tanda tanya..
(Banda Neira - ke Entah Berantah)

Liriknya puitis, multiinterpretatif, sekaligus manis. Suara legit sang vokalis perempuan, Rara Sekar Larasati, plus genjrengan gitar yang -entah sengaja dibuat sederhana agar makin syahdu, membuat lagu Banda Neira seolah membawa kita kabur sejenak ke dunia antah berantah.

Ya, sekilas Anda mungkin merasa "kenal" dengan gaya bermusik dan resep macam ini. Banda Neira memang kerap disandingkan dengan Payung Teduh, Dialog Dini Hari, Float, juga Endah n Rhesa, karena sama-sama mengandalkan kekuatan lirik puitis cenderung sendu, dibanding pamer kemampuan musikalitas.

"Separuh" dari Banda Neira, Ananda Wardhana Badudu, tak mau berpolemik soal itu. Ananda yang menciptakan melodi lagu-lagu Banda Neira, mengaku bukan pendengar Endah n Rhesa. Ia juga tak tersugesti Payung Teduh hingga bisa menyulam lirik yang sama indahnya. "Puitisnya sih bukan karena terpengaruh band lain, tapi karena mendalami Bahasa Indonesia di Tempo, ha-ha-ha.." guraunya.

Ananda, wartawan Tempo yang sehari-hari meliput berita politik, menyebut Banda Neira semula belaka proyek seru-seruannya dengan Rara, adik kelasnya di Universitas Katolik Parahyangan. Tak ada ekspektasi tinggi dari keduanya, sampai suatu ketika kehadiran empat lagu Banda Neira di situs musik Soundcloud, menggegerkan media sosial seperti Twitter.

Dulu, keduanya kerap menggarap lagu di Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat. Namun setelah Rara pindah kerja ke Ubud, Bali, pengerjaan lagu dilakukan via email. "Begitu ada ide, saya biasanya mengirimkan rekaman genjrengan gitar dan sedikit lirik ke Rara lewat email. Nanti Rara akan menimpa rekaman itu dengan suaranya, sekaligus menyempurnakan liriknya," kata Ananda.

Rencana kepergian Rara ke Balilah yang membuat keduanya tahun lalu nekat membuat album mini Di Paruh Waktu. Respon positif terhadap album berisi empat lagu itu, ditambah sokongan motivasi rekan-rekan sekampus, membuat Banda Neira akhirnya pede merilis album Berjalan Lebih Jauh, yang berisi sepuluh lagu.

Katarsis dari kesibukan keduanya melahirkan lagu-lagu yang oleh kawan Ananda dan Rara disebut beraliran nelangsa pop. Kebanyakan lagu Banda Neira memang melankolik. Sebut saja Di Beranda, yang berkisah soal rindu orang tua pada sang anak. Permainan xylophone Rara dalam lagu ini sukses menyentuh bahkan mengaduk-aduk perasaan mereka yang jauh dari rumah.

Juga lagu Ke Entah Berantah dan Hujan di Mimpi yang ear catching, memantik reaksi banyak pendengar di Soundcloud dan Twitter yang sudah dibuat galau Banda Neira. Begitu pun musikalisasi puisi Subagio Sastrowardoyo berjudul Rindu, yang sepertinya sengaja dibuat untuk menggiring kita menggelisahkan kesunyian.

Emoh melulu melo, Banda Neira mencoba ceria lewat Senja di Jakarta. Di album Berjalan Lebih Jauh, tembang inilah yang paling jauh dari kesan sendu. Harmonisasi petikan gitar Ananda dan manisnya suara Rara, yang terkadang mirip senandung vokalis Ten2Five, Imel, lumayan meredakan ketegangan menghadapi kemacetan Jakarta.

Dengan alat musik yang minimalis, Ananda dan Rara bisa menyuguhi kita sajian mengenyangkan, dan melenakan telinga. Memang yang ditampilkan keduanya tak ada yang baru. Apalagi belakangan gaya folk dan semibalada tengah laris dan disuka. Tapi tetap saja, karya Ananda dan Rara indah dan menenangkan, seperti Pulau Banda Neira di timur nusantara.

Judul: Berjalan Lebih Jauh
Musisi: Banda Neira
Label: Sorge Records dan Koperasi Keluarga Besar Mahasiswa Universitas Parahyangan
Rilis: April 2013

ISMA SAVITRI | sudah dimuat di @korantempo

No comments:

Post a Comment