Thursday, February 19, 2015

Review Kingsman The Secret Service: Spionase Bumbu Cinderella


Ganteng, seksi, tengil, pintar, jago berkelahi, mata-mata pula. Oh ya lupa, punya tatapan dan senyum manis yang bikin perempuan lemah seketika. Itu yang membuat seorang tokoh mata-mata selalu menarik. James Bond? Ah, bosan.

Jagoan kita yang ini masih segar (kata lain dari brondong), urakan, dan badung. Dia pecinta perempuan juga, pula terpesona pada semua yang memompa adrenalinnya. Dia, yang kemudian dicalonkan menjadi agen mata-mata Kingsman teranyar ini, bernama Eggsy Unwin (Taron Edgerton).

Eggsy tak seperti om Bond yang simsalabim keren sejak muncul. Ia semula adalah remaja lelaki kebanyakan, yang gantengnya pas-pasan, enggak punya duit, dikeluarkan dari sekolah marinir, jobless, dan bandel. Semua berubah ketika satu hari ia bertemu Harry Hart (Colin Firth).

Harry yang seorang mata-mata dari Kingsman itu mengajak Eggsy mengikuti seleksi menjadi agen spionase. Musababnya, ada satu lowongan posisi yang ditinggalkan Lancelot, almarhum agen Kingsman. Untuk mendapatkan posisi itu, Eggsy mesti bersaing dengan delapan kandidat lain, termasuk cewek manis bernama Roxy. Proses perekrutan itu ditangani "Pak Kepsek" Merlin (Mark Strong).

Di waktu yang sama, seorang sinting bernama Richmond Valentine (Samuel L Jackson), kian sibuk menggarap proyek "kiamat"-nya. Sebagai "Nabi Nuh", ia membikin bahtera berisi orang-orang terpilih. Sementara manusia yang tidak terpilih, diprogram dengan chip khusus agar saling bunuh secara barbar. Homo homini lupus.

Cerita di atas diadaptasi dari komik Kingsman yang digarap Mark Millar. Ia sebelumnya mengerjakan beberapa seri dari jagoan Marvel seperti Wolverine dan X-Men, serta pahlawan komik DC seperti Superman.

Kalau dibilang ini film tidak serius, memang iya, jika definisi serius adalah yang melulu membuat bibir kita terkatup tak ketawa. Kingsman The Secret Service adalah film yang membuat saya -dan penonton lain- cekakakan semacam lagi nonton Big Hero 6. Kelucuan itu setipe seperti X-Men First Class, The Avengers, maupun Thor -selama ada Loki tentunya.

Namun, dosis kekonyolan Kingsman The Secret Service satu garis di atas film-film tersebut. Asyiknya, sang sutradara, Matthew Vaughn, bisa lancar melucu tanpa membuat film ini jatuh murahan.

Yang segera tersadari saat kita menonton Kingsman The Secret Service adalah, film ini menggabungkan sejumlah bahan menjadi adonan tokcer yang disuka penonton. Ramuan ngepop itu berupa dongeng Cinderella, magis Harry Potter, kisah King Arthur, misteri petualangan spionase, dan kekonyolan ala Loki dan Quicksilver.

Cinderella kita di sini adalah Eggsy. Dari yang sebelumnya cuma cowok biasa dengan tampang yang sangat proletar, ia lalu dijemput "Ibu Peri" -di sini adalah Harry Hart. Eggsy lalu disulap menjadi agen rahasia seksi lengkap dengan sederet senjata yang menyaru peralatan sehari-hari. Terus terang saja, perubahan Eggsy menjadi "mas-mas agen rahasia" cukup dramatis dan sempat membuat saya senyum-senyum sendiri.

Sedangkan ramuan Harry Potter terlihat -lagi-lagi- dari proses dijemputnya Eggsy oleh Harry, yang mengingatkan saya akan hubungan "bapak"-anak antara Albus Dumbledore dan Harry Potter. Juga bagaimana kereta bawah tanah di balik toko jahit jas Kingsman itu melesat bak kilat ke markas mereka nan megah. So Hogwart's Express, eh?



Nama sandi agennya sendiri mengingatkan kita pada kisah King Arthur. Ada Arthur (sang bos Kingsman yang diperankan Michael Caine), Galahad (Colin Firth), juga Lancelot. Ah, pokoknya film ini semacam nostalgia dan memadukan semua hal yang selera pasar banget, deh.

Pun antagonis di sini adalah villain yang "khas" film superhero: jelek, punya logat/cara ngomong yang aneh, nama yang "idih enggak banget", dan kelakuan yang menyebalkan. Sayangnya, menurut saya Samuel L Jackson sebagai Valentine kurang pol. Ibarat dia ngegas dengan gigi 2 di jalan tol, lah. Cemen.

Tatap mata Richmond Valentine kurang membunuh, dan gesture-nya pun kurang "mematikan" sebagai monster yang menganggap matinya seluruh penduduk bumi sebagai acara lawak. Apalah Valentine tanpa asistennya yang berkaki menarik, Gazelle (Sofia Boutella).

Soal ide cerita, Kingsman The Secret Service sebenarnya nyaris biasa. Tapi Vaughn bisa mengeksekusinya jadi atraktif sampai-sampai susah mencari di mana kurangnya. Kuncinya ada pada bagaimana Vaughn berani menutupi kekurangan James Bond yang belakangan menurut saya kurang greget.

Tidak ada penjelasan juga bagaimana kegilaan-kegilaan yang dilakukan Valentine sampai tidak terpecahkan oleh M16 atau pun CIA (atau BIN? Hehehe), dan akhirnya dituntaskan secara ciamik oleh pemuda harapan kita, Eggsy.

Tapi ya sudahlah. Itu tidak lalu menjadikan Kingsman The Secret Service kurang menarik. Apalagi duet Colin Firth dan Taron Edgerton keren pisan. Mereka punya kemistri dan (ternyata) bisa karismatik sebagai agen rahasia, lengkap dengan jas mahal dan kacamata pintarnya. Saya curiga, ini pun adalah taktik Vaughn untuk sama-sama membuat perempuan dari segala usia bahagia. Ha-ha-ha...

Colin Firth
Taron Edgerton

No comments:

Post a Comment