Friday, October 7, 2011

Backpacking Day 4 Part 2: Thailand Pasang Foto Raja di Mana-Mana. Indonesia?


Grand Palace baru buka lagi siang, karena pada pukul 12.00-14.00 digunakan untuk ibadah. Harga tiketnya mahal, yakni 400 bath atau Rp 120 ribu per orang. Saya diminta membayar deposit 200 bath untuk selembar kain sarung Thai, karena saya memakai legging (di Thai dibacanya leking) yang dianggap kurang sopan :'(

Satu kata untuk Grand Palace adalah: mewah! Ya iyalah, namanya juga istana raja, hehe.. Grand Palace terdiri dari sejumlah bangunan, layaknya Kesultanan Solo ataupun Yogyakarta. Bedanya, di sini semua bangunannya dilapisi emas asli dan ditaburi kristal warna-warni. Mungkin karena ongkos pembuatannya mahal, turis asing diminta bayar mahal juga. Padahal penduduk lokal dikasih gratis.

Tempat sembayang Biksu di Grand Palace
Bangunan utama. Dijaga tentara di setiap pintunya
Nggak tahu ini patung apa, hehehe..
Saya dan Novi memakai sarung khas Thai
Mengelilingi Grand Palace membutuhkan waktu hampir 2 jam karena memang areanya sangat luas. Kaki rasanya benar-benar pegal. Ah, seandainya ada bule ganteng yang mau menyeret saya, pasti menyenangkan, hehe.. Tapi karena saya hanya 2 hari di Bangkok, saya pun memaksakan diri lanjut berjalan ke Wat Pho, atau Reclining Budha, atau Budha bobok.

Kenapa dinamain itu, karena vihara ini punya simbol berupa patung Buddha raksasa yang sedang leyeh-leyeh. Hehehe.. Mottonya aja lucu, "Calmness is Happiness". Nggak heran, si Buddha posisinya tidur menyamping. Kepalanya disandarin di salah satu tangannya gitu. Lucu deh. Buddha-nya imut banget ekspresinya, hehe..

Wat Pho
Lihatlah jari-jari kakinya, hehe
Setelah puas foto, saya masuk ke salah satu vihara di area itu. Ternyata sedang ada sekelompok bhiksu yang berdoa. Mereka terus mengucapkan mantra-mantra yang sepertinya berisi puja-puji untuk sang Buddha. Saya sempat duduk agak lama di situ, dan ambil nafas panjang setelah lelah berjalan seharian. Wah rasanya damai banget...


Pukul 17.45 kami keluar area Wat Pho. Mall MBK jadi tujuan berikutnya. Setelah tanya bagian informasi di Wat Pho, kami diberi dua pilihan: pakai bus yang sekali jalan sampai MBK, atau naik kapal di Sungai Chaophraya lanjut naik Sky Train (BTS). "I think the second is more exciting," kata si Bapak Bagian Informasi yang nyapa "Assalamualaikum" setelah tahu kami dari Indonesia.

So, dengan sisa tenaga yang ada, kami berjalan ke dermaga atau pier terdekat, menuju Pier Sathorn. Ternyata warna air Sungai Chaophraya coklat tua gitu, hehe.. Ya nggak bagus-bagus amat, lah. Tapi jujur saja, menempuh perjalanan dengan kapal dan menyusuri sungai tersebut sangat mengasyikkan. Apalagi sedang sunset. Sayang, petugas kapalnya agak "kacau", hehe..

Sekitar 20 menit perjalanan, kami sampai juga di Pier Sathorn. Jam menunjukkan pukul 18.15 pada October 3rd. Kami pun membeli tiket sky train seharga 30 baht atau sekitar Rp 9 ribu, dari terminal Saphan Taksin menuju National Stadium. Cuma beberapa menit skytrain jalan, kami sudah sampai. Yaaah.. Sebentar banget naiknya. *ndeso mode on

Akhirnya, sampai juga kami di MBK. Mall ini mirip Tanah Abang, tapi lebih lapang dan nyaman. Bukanya juga sampai jam 22.00, nggak seperti Tenabang yang tutup jam 16.00 sore, wkwkwk. Karena kelaparan stadium 5, saya pun merengek ke Novi dan Wita untuk cari makan dulu. Perut saya naga-naganya maag. Nggak banget kan, kalau shopping dengan perut seperti ini.

Pilihan jatuh ke.... KFC! Hahaha.. Parah banget udah jauh-jauh sampai Bangkok tapi mampirnya ke warungnya kakek asal Kentucky. Tapi biarlah, toh menu KFC Bangkok sangat berbeda dengan di Indonesia. Di sini saya pesan nasi ayam yang dimasak dengan bawang merah dan bawang bombai mentah, dan egg tart. Rasanya? Maknyuuuuus.. Egg tart itu menu wajib coba di KFC sana! Ukurannya memang mini, tapi rasanya maksi :D

Puas jalan-jalan di MBK, kami pun beringsut pulang. Jam sudah menunjukkan pukul 22.00. Hihi.. Penjual di MBK yang kami tanyai menyarankan kami naik taksi saja. Ah tapi kan kami mau ngirit. Nggak patah semangat berhemat, kami pun memilih naik bus no.47 dari depan MBP ke Khao San. Ongkosnya cuma 6,5 baht, lho.

Taksinya pinky. Tapi saya nggak sekalipun naik karena mengirit :D
Nggak lama, kami tiba juga di Khao San. Dan lagi-lagi saya dapat kado dari Tuhan. Hujan dong, Bangkok malam ini.. Mau nggak mau, kami bertiga pun hujan-hujanan dari bus stop ke Kawin Place. Senang sih, terkena air hujan Bangkok. Tapi sampai di penginapan, saya langsung pusing mikir baju basah itu mau diapain. Hiks :'(

Seharian keliling Bangkok, yang melekat di benak saya adalah warga setempat yang ramah dan sangat mencintai rajanya. Nggak tahu deh, kenapa Raja Thai yang mukanya mirip mantan Jaksa Agung Hendarman Supandji itu bisa begitu digilai rakyatnya. Yang jelas, di toko-toko, warung-warung, taksi, jalan raya, foto si Raja Thai selalu terpampang, dengan tulisan "Long Live the King" di atasnya.

Bahkan si bapak tua yang sebelahan sama saya di bus menuju Khao San, secara reflek langsung mengatupkan kedua tangannya dan menundukkan badan, setiap melihat foto Sang Raja. Wah, kenapa ya di Indonesia kita justru malu masang wajah Pak Beye? Hehe.. *pertanyaan retoris*

Biaya hari ke-4 (dalam rupiah):
1. Bus dari Chatuchak ke Khao San: Rp 3900
2. Sewa guest house: Rp 57 ribu
3. Makan siang: Rp 10.500
4. Sewa Tuk-Tuk: Rp 6 ribu
5. Beli minum 3x: Rp 18 ribu
6. Tiket Grand Palace. Rp 120 ribu
7. Tiket Wat Pho: Rp 15 ribu
8. Tiket kapal Chaophraya: Rp 4500
9. Tiket BTS: Rp 9 ribu
10. Makan KFC: Rp 26.400
11. Bus dari MBK ke Khao San: Rp 2100

Total pengeluaran hari ke-4: Rp 272.400

No comments:

Post a Comment